Untitled

hm, hello everyone, firstly i want to say thank you to my self that finally i could write something about my desires or my dreams here, so without increasing my praises for my god, i proudly present my first story and it’s pure mine, not plagiarism from any ff, so i hope you enjoy, happy reading(?)

Disaat dunia membebani mu dengan masalah masalah yang klise tapi sukses membuat mu pusing tujuh keliling hingga terbesit keinginan untuk bunuh diri……

Sabar, sabar, sabar! Orang sabar disayng TUHAN!!!!! Jangan ambil pusing perlakuan mereka yang brainless itu. Anggap mereka fans! Anggap mereka admire! Dunia ini Cuma milik gue, mereka mereka bukan siapa. They are just ashes in the ground of mine!

Penguatan hati! Raya selalu melafalkan dalam dalam penguatan hati yang Ia buat sendiri saat masih di Jakarta. Rentetan kalimat diatas adalah penguatan hati Raya yang selalu digunakan apabila dia menemukan kerikil yang sebesar batu kali yang menghadang dirinya selama berada di Negeri Orang, ah tidak soh, tetapi di kampung halaman ayahnya yang berdarah asli Korea. Dia harus tidak boleh menyesal keputusanya untuk ikut ayahnya ke kampung halamanya. Otomatis, Raya harus pindah sekolah, adaptasi dengan lingkungan yang asing baginya, intinya Raya harus pandai pandai menyesuaikan diri dengan lingkunganya yang baru ini. Dia tidak boleh komplen didepan ayahnya, dia berfikir bahwa dia tidak boleh memmbebani ayahnya karena dirinya itu.

Sulit baginya untuk memilih diantara kedua insan yang paling Raya cintai di dunia ini, Mama dan Ayahnya. Galau. Gamblang pun juga. Raya dengan gamblang memilih ikut Ayahnya, alasanya? Dia tidak ingin menyusahkan Mama di jakarta. Mama memang tidak banyak berbicara kepadanya mengenai beban yang Ia pikul selama ini. Beban menjalani kehidupan single parent yang ditinggal pergi suami yang lebih memilih keluarga yang di Korea dari pada istrinya sendiri yang tengah hamil muda. Lalu setelah 17 tahun berlalu, Ayah kembali ke Jakarta. Mengajukan surat cerai kepada Mama dan meminta hak asuh ku.

Dan dengan santai Mama meng-iyakan segala permintaan Ayah yang gila tersebut. Lalu dengan gambling Raya memilih untuk ikut dengan Ayah ke Korea. Ironis,memang. Saat kau dengan mudahnya memilih orang yang telah meninggalkanmu di masa lalu untuk bersama dengan dirimu sekarang dan di masa depan. Tapi itu bukan karena intuisi Raya semata, melainkan nasihat Mama untuk Raya di sela-sela keberangkatan Raya ke Seoul.

“Rayana Yoo, kamu harus nurut sama Ayah disana ya. Jangan nyusahin Ayah, jangan bikin Ayah repot, terus kamu jangan sembarangan bergaul disana. Berteman disana pilih-pilih, jangan nge-genk, Mama ga suka soalnya itu tuh konotasi nya negative karena Mama sering ngeliat di drama korea tentang itu,”

“Itu kan drama ma, setting-ngan”

Arrayo, tapi awas sampai kamu kaya begitu. Mama hukum kamu pokoknya kalau ketauan”

Mau ga mau Raya tersenyum tipis mendengar wejangan Mama yang dramaqueen itu, terlihat banget kekhawatiran dan keraguan mama untuk melepas Raya ke Seoul, suatu bentuk rasa saying Ibu kepada anak secara verbal.

“Keputusan kamu Mama dukung buat ikut sama Ayah supaya masa depan kamu terjamin disana. Jujur,disini Mama ga bias menjamin masa depan kamu, sebagai Ibu mama akan merasa gagal apabila kamu gagal, makanya kamu disana harus tetep rajin belajar ya, rajin beribadah juga oke, kalau bias tunjukin sama anak- anak disana kalau kamu itu reinkarnasi nya Eisntein! Kamu baru boleh balik kesini kalau kamu udah lulus dari SNU!!!,

“Mamaa….

“Kamu ga salah dan jangan pernah ngerasa bersalah ya, yang salah itu Mama sama Ayah, Mama sayang kamu, hati hati disana”

Mama mengecup kening Raya lama, lalu memeluk anak semata wayangnya itu yang akan pergi jauh untuk waktu yang tak bisa diprediksi. Mereka akan dipisahkan oleh jarak, Negara, lautan, tetapi rasa cinta mereka tak akan terpisahkan. Rasa cinta Mama kepada Raya ga akan pernah berkurang walaupun Raya ga ada di sampingnya.

“Sampai jumpa ma, assalamualaikum” ucap Raya sambil mencium tangan Mama lama di Soetta sesaat setelah pengemumuan keberangkatan pesawat menuju Seoul di dengugkan.

“Yoo Sang Hyun, jaga Raya. Jaga dia baik-baik, kalau sampe dia kenapa-kenapa nyawa kamu taruhanya”

“NE, ARRASEO YUNA-ya” ucap Ayah Raya sembari member hormat kepada Mama, mau tak mau Mama menyunggingkan senyum tipisnya atas tingkah laku konyol mantan suaminya tersebut.

Annyeonghagiseyo~”

-Untitled-

Lamunan saat Mama melepas Raya kembali terngiang di benak Raya. Parahnya lamunan ini punya efek negative. Karena dari tadi Raya ngelamun saat pelajaran Lee Saem, guru yang terkenal killer  ini ga kenal kata toleransi soal murid-murid yang mengabaikan pelajaran Kewarganegaraan ini,mau tuh murid lagi sakit juga Lee Saem sebodo amat. Gak peduli. Mati lah Raya kali ini, dia mengabaikan panggilan Lee Saem yang lagi menjelaskan tentang system pemerintahan Korsel yang menganut system unicameral, dan saat itu juga mata Lee Saem menangkap Raya yang lagi asyik ngelamun sambil menghadap ke jendela kelas nya. Murid-murid kelas 12-F itu juga udah was was takut terjadi hal hal yang ekstrem apalagi kalau menyangkut Lee saem.

Perlahan tapi pasti Lee Saem mendekati meja Raya, Eun Gyul –teman sebangku Raya, yang dari tadi mencolek colek pinggang Raya tapi ga berhasil buat Raya sadar dari lamunan hanya bisa pasrah saat Lee Saem udah ada di samping dia.

Suara deheman bergema di ruang kelas 12-F, tapi Raya tetap asyik dengan lamunan masa lalunya. Raya itu ndableg banget.

“Rayana Yoo, sudah selesai melamunya?!” ucap Lee Saem dengan nada yang tinggi.

“Heol, eung, eh, yaa! Eoh, joesonghamnida  Saem. Sudah sudah..” Raya merutuki kebodohanya menjawab pertanyaan Saem itu dengan jawaban yang paling bodoh.

“Eoh kalau begitu coba kau jelaskan tentang system pemerintahan Negara kita yang menganut system presidensil campuran ini,”

“Arrseo Saem,  Korea Selatan menagnut system pemerintahan Presidensil Campuran dimana kekuasaanya dibagi kedalam 3 kekuasaan diantaranya, Eksekutif, Legislatif dan Yudikatif. Presiden dan Perdana Menteri yang berada di kekuasaan Eksekutif. Presiden bertugas memimpin Negara dan sesuai dengan amandemen UUD 1987 dimana kedudukan Presiden tidak hanya sebagai Kepala Negara etapi sebagai Panglima Tertinggi Angkatan Bersenjata.  Presiden di bantu oleh Perdana Menteri………”

Raya menjelaskan dengan panjang lebar system pemerintahan Negara korea selatan lengkap dengan s egala tetek bengeknya, sampai sampai Lee Saem tak tega buat nyetopin penjelasan Raya. Mungkin beliau pikir Raya yang notabenenya murid transfer dari luar negeri ga akan terlalu paham tentang seluk beluk Negara ini, tapi ternyata persepsi beliau salah besar. Buktinya dengan santai Raya menjelaskan system pemerintahan Korea dengan lancer tanpa ada kesalahan setitik pun.

“Rayana Yoo, walaupun kamu itu adalah murid transfer dari luar negri saya harap kamu tidak menyepelekan pelajaran Kewarganegaraan saya ini, arraseo?”

Algetseumnida saem.”

 Fiuhh, untung gue udah baca-baca sedikit tentang pelajaran yang bakal Lee Saem jelasin hari ini, amannnn.

Well, ini bukan pencitraan untuk jadi murid yang cerdas, tetapi responsibility Raya untuk tidak membuat Ayahnya kecewa. Sampai saat ini walaupun dia masih membenci Ayahnya karena memilih berpisah dengan Mama, tetapi akal sehat raya berkata bahwa ia sudah dewas dan sudah seharusnya Raya bisa menerima keadaan dari orang tua nya dan sekali lagi, mensikapi nya dengan dewasa…

-Untitled-

“Raya-ya, ternyata kau itu cerdas. Kemana saja kau saat ujian matematika kemarin? Kenapa kau malah dapat nilai 3 eoh?” Eun Gyul-teman sebangku Raya- yang mencibir tingkah laku Raya tadi saat pelajaran Lee Saem

“Ehm, tentu saja aku ada di kelas,memangnya kau ada dimana? Eoh, dasar kau Cha Eun Gyul yang “pintar”!

“Eyy, bukan itu maksudku! Tetapi kenapa tadi kau dengan lancer bisa menjelaskan system pemerintahan Negara ini dengan lancar, tanpa ada kesalahan setitik pun. Tapi kena[a saat ujian matematika kau jadi tidak berbeda jauh dengan Jae Suk itu eoh? Ah jinjja, apakah kau tau? Aku saja yang sudah 18 tahun tinggal disini masih tidak tahu apa fungsi dari Gokhoe itu.”

“Cha Eun Gyul, temanku yang baik, bisa memahami dan menjelaskan system pemerintahan Korea selatan dalam pelajaran kewarganegaraan dengan baik bukan berarti aku mampu mengerjakan matematika integral yang soalnya mungkin bisa bikin orang jadi botak? Setiap kemampuan manusia itu berbeda-beda.”

“Heung, begitu ya… ehehe, mian aku tidak tahu Raya-ya.”

Raya merangkul bahu teman sebangkunya yang sudah dekat denganya sejak Ia pertama kali datang ke sekolah ini dengan erat sambil berkata “Cha, makanya kita harus rajin belajar, supaya kita tidak sperti Jae Suk, dan kau, Eun Gyul-ah kurangi jatah dating mu dengan namja chingu-mu itu.”

“Ah kau itu..”

“Eun Gyul-ah !!! Rayana-ya!! Chamkkamanyo!

“Kyaaaaa, Minhwan Oppa, panjang umur sekali ya, baru saja Raya menyebut nama mu dan sekarang kau sudah ada disini. Ahh”

“Ah, jinjjayeo? Geurae, sepertinya kita memang jodoh Eun Gyul-ah” jawab Minhwan sambil menjentik pelan hidung mancung Eun Gyul.

Raya hanya berdesis sebal sambil memerhatikan tingkah laku kedua teman nya itu sambil menggeleng-geleng kepala. Tapi mau tak mau Raya juga tertawa kecil melihat Eun Gyul yang pipi nya merona merah akibat perlakuan Minhwan tadi. Dasar anak abg Seoul, kalo di Jakarta mah kalian udah dibilang norak kali. Ucap Raya dalam hati nya sambil terkekeh lagi, melihat aksi Minhwan yang makin jadi menggoda yeoja chingu-nya yang blushing akibat perbuatanya tadi.

Tetapi kelucuan tingkah laku MinGyul couple tidak bertahan lama sampai  terdengar suara berat yang menghentikan kekehan Raya, suara berat dengan intonasi datar tetapi emngandung nada yang sangat otoriter.

“Rayana, ayo pulang.” ucap seorang laki laki yang diketahui bernama Seungri, ini.

“Ne.” balas Raya dengan nada yang datar.

“Eun Gyul-ah, Minhwan-as, aku pulang duluan. Kalian berdua hati-hati dijalan. See you!”

“Ne, kau juga.”

Setelah mendapat jawaban dari kedua temanya itu, Rayana langsung bergegas meninggalkan area gerbang sekolahnya menuju halte bus yang jaraknya 100 meter dari sekolahnya tersebut tanpa memedulikan Seungri, yang notabenenya mengajak dia pulang bersama. Sesampainya di halte bus tsb yang sudah lumayan ramai oleh murid-murid yang satu sekolah denganya, Rayana langsung menerobos dengan santai gerombolan murid-murid yang sedang menunggu bus tujuan mereka,untuk berada di barisan paling depan. Atau lebih tepatnya berada jauh-jauh dari Seungri yang dari tadi hanya bisa menatap punggung Rayana tersebut. Sadar sedari tadi dia ditatap oleh Seungri, Rayana sengaja tidak menoleh ataupun melancarkan tatapan kea rah Seungri, karena Ia tidak ingin berhubungan dengan Seungri, dalam hal apapun.

Hingga bus yang mereka tunggu tiba Rayana tetap melancarkan aksi dia sejuta bahasa terhadap Seungri yang sedari tadi masih tetap lekat menatapi Rayana, seolah-olah Ia adalah barang antic yang langka dan sangat rapuh jadi Seungri membutuhkan perhatian ekstra untuk menjaganya tetap utuh.

Setibanya mereka berdua di halte tujuan mereka pun Rayana dan Seungri masih tetap tidak berbicara sedikitpun. Sadar aksinya ini tidak akan membuahkan hasil apapun akhirnya Seungri meraih tangan Rayana.

Grep,

“Sampai kapan kau akan bersikap dingin kepadaku? Sampai kapan kau akan berpura-pura ramah kepadaku saat berada di hadapan Appa?”

“Cih, lepaskan tanganmu itu.”

Rayana hanya membalas pertanyaan Seungri itu dengan jawaban yang bisa di bilang bukan jawaban melainkan permintaan untuk melepaskan genggaman tangan Seungri dengan paksa.

“Kau, lepaskan tanganmu itu, dan tolong dengarkan baik-baik, jangan harap aku akan bersikap manis kepadamu selayaknya seorang dongsaeng . karena kita bukan keluarga!”

Dengan kasar Rayana menghempaskan tangan Seungri yang berhasil terlepas sambil berlalu dengan cepat dan menghilang dibalik pagar kayu di depanya.

“Kenapa kau sulit sekali menerimaku sebagai Oppa mu?”

TBC.

 

Advertisements

2 comments

Escape your thoughts!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s