The Explanation (Sequel Break Even)

The Explanation (Sequel Break Even)

Bae Suzy, Kris Wu, and others

Author: xianara

Genre: Angst, Sad

Length: One Shoot

 

 

 

 

A clear sky who has an explanation better than my heart(?)

Musim dingin sudah mau berakhir namun cuaca dingin dan hujan salju masih terjadi di Seoul. Angin malam semilir yang mampu membuat bulu kuduk berdiri karena hawa dingin yang dibawa nya namun tidak berpengaruh pada seorang gadis yang tengah berjalan menyusuri  trotoar di sekitar Incheon Street.

Waktu sudah menunjukan pukul 7 malam KST namun langit masih menampakan barisan cahaya yang memang hanya ditemukan pada saat musim dingin. Namun, lagi-lagi keindahan langit tersebut tidak membuat gadis yang tengah berjalan gontai itu menyapukan pandangan nya yang sedari tadi bertumpu pada jalan yang Ia tapaki.

Gadis itu mengenakan mantel bulu angsa berwarna cokelat,lengkap dengan shawl abu-abu dan kupluk dengan warna yang senada dengan mantelnya.

Melamun. Itu lah yang ia lakukan sambil menyusuri trotoar di sekitar Incheon berharap menemukan tempat yang ia bisa datangi. Café-café di sekitar Incheon Street pun sudah mulai di penuhi oleh para pengunjung yang ingin sekedar mengahangatkan badan dengan meminum segelas hot chocolate ataupun moccachino dsb.

Setelah menemukan tempat yang ia rasa cocok untuk dituju, ia pun memasuki sebuah café dengan interior klasik minimalis namun terlihat modern. Setelah memesan satu gelas hot chocolate dan satu porsi cheesecake ia memilih tempat duduk yang kosong.

Tempat duduknya pun cukup nyaman dan strategis. Persis dekat dengan jendela yang transparan. Dimana satu sisi ia bisa melihat pemandangan di jalan dan pemandangan keseluruhan café yang minimalis ini.

Pesanan gadis itu pun akhirnya datang. Setelah mengucapkan terima kasih kepada pelayan tersebut, ia mulai menyesapi hot chocolate nya yang jelas-jelas masih mengepulkan asap. Panas. Itulah yang gadis itu rasakan saat pertama kali menyesap hot chocolate itu.

Yah, lebih baik rasa panas yang menjalar di lidahku ini dari pada rasa dingin yang menyelubungi hati ku ini!

Gadis itu –Bae Suzy- kembali termenung mengingat tentang peristiwa yang baru saja terjadi beberapa jam yang lalu di salah satu tempat client nya. Bertemu dengan orang yang berasal dari masa lalu nya. Lalu mengetahui fakta yang mampu membuat Suzy spot jantung saat mendengarnya.

Bodoh! Katanya kau sudah tidak mencintainya lagi?! Untuk apa kau bersedih seperti ini? Eyy sia-sia sudah perjuangan mu selama 3 tahun ini Suzy-ah!

Suzy pun hanya bisa merutuk dalam hati mengenai kebodohanya. Yaitu, masih sedikit mencintai Kris –pria masa lalu nya- yang sudah meninggalkanya tanpa alasan yang jelas tepat di perayaan 3 tahun mereka.

Hentikan suzy! Kau harus menghentikan kebodohan mu ini! Sekarang juga.

-The Explanation-

Suzy POV

Bodoh sekali kau Suzy! Kalau tujuan kau ke café ini untuk bergalau ria tentang Kris lebih baik kau pulang ke gwangju dan memanen tteok bersama nenek di musim dingin ekstrim seperti ini!

Aku pun menghela nafas atas kebodohan ku ini. Benar-benar hati ini tak bisa di ajak kerja sama dengan otak, sampai kapanpun. Tak peduli berapa banyak dan panjangnya doktrin Soojung tentang Brengseknya Kris kepada diriku, otaku dapat menerimanya, tetapi hatiku. Uh jangan Tanya, tidak sama sekali.

Flashback

Eurongi Resto

“Suzy-ah kau masih single?” Tanya Jia eonnie tadi siang di resto miliknya.

Aku yang tergugup dengan pertanyaan yang menurutku sangan sensitive itu hanya bisa menjawabnya dengan anggukan pelan dan senyum tipis yang ambigu. Bagaimana bisa aku tidak tergugup? Orang yang berjanji hanya akan menikah dnegan ku sekarang telah berisitri dan orang itu adalah Kris, suami Jia eonnie.

“omo, kau pasti bercanda Suzy. Mana mungkin gadis manis sepertimu betah menjomblo di usiamu yang sekarang ini?” ucap Jia eonnie sambil menggodaku

“apa kau tidak kesepian menjomblo Suzy?”

Aku mengehentikan kegiatan ku mengeliminasi design yang kurang di sukai oleh Jia eonnie untuk café nya ini. Lalu aku pun mencobamencari jawaban terbaik ku,

“well, tentu saja tidak eonnie. Aku masih punya sahabat yang setia menemaniku, lalu Damon, belahan jiwa ku yang tidak bisa berbicara, serta pekerjaan ku yang menurutku sangan menyenangkan ini,hehe”

“benarkah?? Tapi, siapa Damon itu? Belahan jiwa mu yang tidak bisa berbicara?” jia eonnie pun kebingungan mengenai julukan yang aku berikan kepada Damon ku ini.

Aku pun terkikik pelan saat menanggapi pertanyaan Jia eonnie yang menggelikan bagi ku, karena ia berhasil aku kerjai. “hihihi, sebenarnya, Damon it..” Tetapi saat aku ingin menjelaskan siapa Damon itu tiba-tiba suara baritone yang sangat familiar  bagi ku itu menyelak pembicaraan ku.

“Damon ialah nama anjing kesayangan dia. Suzy mempunyai anjing jantan dan sekarang mungkin sudah berumur 5 tahun, benarkan Suzy?”

“Eh iya benar Kris-ssi.” Jawabku dengan nada yang terkesan tenang, padahal dalam hati aku merutuki perkataan Kris barusan yang menjurus ke arah, DIA MENGENALKU!

“woah bagaimana kau bisa tahu yeobo? Kau pernah satu sekolah dengan Suzy?” Tanya Jia

“Lebih tepatnya, satu universitas yeobo. Dia adik kelas ku dulu.”

Mati kau! Untuk apa Kris mengungkap masa lalu nya kepada Jia eonnie. Itu sama saja dengan menggali lobang kuburan ku sendiri.

“benarkah? Suzy?”

Aku yang merasa di pojoki oleh pertanyaan Jia eonnie dan pernyataan Kris pun hanya bisa menjawab sejujurmya dan berharap agar pembicaraan mengenai hal yang berbau kehidupan pribadi ku berhenti sampai disini.

“Sepertinya benar eonnie. Soalnya wajah Kris-ssi terasa familiar. Dan sepertinya dulu dia pernah menjadi asisten dosen yang mengajar di kelas ku. Awalnya aku tidak yakin kalau Ia benar-benar sunbae ku”

“Wah menyenangkan sekali ya. Kalau begitu design untuk resto ku ini bisa kau selesaikan kapan saja, sekarang adalah waktunya kau menceritakan kepadaku mengenai Kris saat ia kuliah, ya ya?”

Aku menelan ludah ku seperti menelan batu kerikil yang melukai keorngkongan ku. Baiklah, ini benar-benar mimpi buruk!

“ta tapi aku tidak begitu kenal dekat dengan Kris-ssi,

Kris menanggapi permintaan konyol istrinya dengan gelengan kepala sambil tertawa kecil. Benar-benar! Pria ini memang tidak bisa bertanggung jawa atas perbuatanya, entah di masa lalu atau pun sekarang.

“Lalu mengapa Kris mengetahui tentang Damon mu itu huh?”

Jia eonnie pun memburui ku dengan pertanyaan yang sukses membuat ku tercekeat untuk menjawabnya. Sial! Kenapa kau harus menjawab tentang Damon ku sih!

“uh itu, karena Kris-ssi pernah menemukan Damon ku yang hilang waktu itu eonnie,iya benar kan, kau masih ingat kan Kris-ssi?” Tanya ku mengalihkan pertanyaan yang sepertinya sudah siap Jia eonnie akan lontarkan

“Iya benar Suzy,wah ternyata kau masih ingat ya.”

Aku pun hanya tersenyum kikuk menanggapi pernyataan Kris barusan. Berusaha menutupi rasa jengah yang dari tadi ku rasakan, aku pun mencoba membereskan beberapa contoh sketsa design yang aku buat secara abstrak semalam untuk resto Jia eonnie ini. Saat akan mengambil lembar terkahir yang terletak tepat diatas meja di depan Kris, aku pun mencoba bersikap biasa saja. Walaupun aku tahu pasti aku kentara sekali bahwa aku merasa tidak nyaman berada di dekatnya kembali.

-The Explanation-

Author POV

Setelah mengingat beberapa potongan peristiwa yang mengganjal hati Suzy hari ini, gadis itu pun kembali membuang nafas dengan kasar. Entah sudah berapa lama ia bertahan di café klasik minimalis tersebut, namun keadaan di café itu berbanding terbalik dengan keadaan hati Suzy yang sepi. Nyatanya, café itu pun semakin ramai oleh pengunjung yang sekedar ingin menghangatkan badan atau melepas penat setelah bekerja seharian.

Tanpa Suzy sadari muncul sosok tegap dari arah pintu café yang sedang mencari-cari seseorang. Setelah menemukan focus yang di cari nya, sosok itu mendekati Suzy dengan langkah besar dan tegapnya.

Dap, dap, dap, dap.

Langkah kaki itu pun akhirnya berhenti tepat di depan meja Suzy. Sadar akan orang yang sedang berhenti di depan mejanya, Suzy mengalihkan pandangan dari jalanan yang sedari tadi ia perhatikan. Duar! Bagaikan terkena tembakan tepat di jantung nya, mata Suzy terbelalak melihat sosok yang sudah berdiri di depan mejanya. Kris. Dia masih setia berdiri tepat di hadapan meja Suzy dan menatap Suzy dengan intens.

“Suzy, boleh aku duduk disini?” tawar Kris kepada Suzy.

Tanpa menunggu jawaban dari Suzy, pria itu sudah menduduki kursi yang berada di depan Suzy, sehingga posisi nya dan Suzy saling berhadapan. Terlihat bahwa permintaan Kris tadi hanya formalitas. Atau kata lain dari sapaan yang ia berikan terhadap Suzy.

Suzy yang masih terpaku terhadap sosok yang duduk persis di hadapanya ini tersadar dari keterkejutanya dan kembali memasang wajah poker face nya. Yaa kalau kau ingin mengatakan sesuatu cepat katakan, lalu cepat-cepat pergi kau dari hadapan ku!

Gadis itu pun kembali merutuki pria yang kini masih sibuk memandangi dirinya secara intens. Sadar karena ia di perhatikan, akhirnya Suzy pun membuka percakapan dengan nada yang terdengar dingin.

“ada perlu apa kau dengan ku? Urusan design kan sudah ku berikan kepada Naeun –asisten ku- jadi kau tidak perlu susah-susah lagi dengan ku.”

“tidak,bukan mengenai itu. Tetapi mengenai kita, di masa lalu..” jawab Kris tanpa basa-basi. Ya, memang itulah Kris. To the point man. Seseorang yang tidak pernah berbasa-basi terhadap apapun dan lebih suka untuk langsung ke pokok perkaranya.

Dia belum berubah.

Kalimat kris yang menggantung membuat Suzy jadi sedikit tertarik untuk menggali lebih dalam mengenai hal yang akan Kris beritahukan kepadanya. Suzy pun meluruskan posisi duduknya. Mencoba bersikap serius mengenai hal yang akan Kris katakan padanya. Oh jadi ia kesini ingin membicarakan hal itu.

Terdengar helaan nafas dari Kris. Kentara sekali helaan nafas tadi adalah bentuk penguatan diri untuk memberitahukan secuil rahasia dari masa lalunya. Kali ini, atau tidak sama sekali.!

“bagaimana keadaan ayah mu?” Tanya Kris

“uhm, dia cukup baik. Beberapa waktu lalu beliau keluar dari rumah sakit untuk perawatan cuci darah nya. Kenapa memang?”

“ah tidak apa-apa. Hanya ingin mengetahui nya saja. Lagi pula, syukurlah kalau keadaan tayah baik-baik saja. Jadi, aku tidak perlu mengkhawatirkanya. Lalu bagaimana kabar kakak mu? Bae Yoobi nuna? Dia baik-baik saja?”

“tentu saja. Dia sekarang sudah menikah. Yaa, untuk apa kau menanyai kabar anggota keluarga ku?”

“kenapa memang?”

“ya aneh saja menurutku” gumam Suzy

Lagi, keheningan mendominasi diantara mereka. Suara bising café tidak menyurutkan keheningan yang menjadi tuan rumah pada diri mereka. Sadar, hening ini tidak membantu Suzy pun akhirnya bergumam pelan.

“Kris, kalau kau sudah tidak ada urusan lagi dengan ku, aku pamit pulang dulu. Permisi.”

Merasa gumaman pelan Suzy itu ditujukan kepada diri nya, Kris pun dengan sigap menahan Suzy.

“Jangan pergi dulu, aku belum selesai bicara…”

“Yaa! Kalau begitu cepat selesaikan urusanmu! Kau pikir aku sudi berlama-lama dengan mu kembali hah!!” tanpa sadar Suzy membentak Kris dengan intonasi suara yang cukup pelan sehingga tidak dapat didengar oleh seluruh pengunjung café, namun cukup membuat Kris terhenyak di tempat duduk nya.

“Maaf, maaf kan aku Suzy, sungguh….”

Maaf yang terucap dari bibir Kris membuat hati Suzy merasa bergetar. Bagaimana tidak bergetar kalau Kris mengucapkan nya dengan suara yang agak serak. Berusaha mati-matian agar suaranya tidak berubah seperti orang yang menangis.

“Kris kau,” gumam Suzy pelan

“Sungguh, maafkan aku. Maaf kan aku yang bodoh ini Suzy, ku mohon maafkan aku… aku, aku sudah lelah hidup selama 3 tahun dengan perasaan bersalah yang menghantui ku ini, sungguh..”

Rentetan kata yang diucapkan Kris sukses membuat Suzy terpaku. Kata-kata yang barusan diucapkan oleh lelaki itu sarat sekali akan penyesalan yang dalam.

“Apa maksud mu? Cepat katakan! Berikan penjelasan yang jelas Kris, ku mohon. A.. aku bersedia mendengar penjelasan mu itu, ku mohon….” Pinta Suzy tiba-tiba dengan suara yang tak kalah serak dengan suara Kris sebelumnya.

“Hwang Nichkhun. Masih ingat kan dengan sahabat ku itu?”

“Nichkhun Sunbae? Teman satu kelas mu saat di universitas? Tentu saja aku ingat. Lalu?”

“Dia… uh Nichkhun, dia. Dia.” Ucap Kris tak jelas.

“Kenapa dengan Nichkhun sunbae?”

“…….”

”Yaa! Tolong katakan yang jelas Kris. Bukan kah sudah ku bilang tadi untuk menjelaskanya secara jelas… why cant you do this properly? Huh.” Ucap Suzy tak sabaran

Kris tak bisa membalas ucapan Suzy yang terkesan menuntut barusan. Pria itu merasa bahwa Suzy pun pantas menuntutnya seperti itu. Karena, menurut Kris kesalahan itu sepenuhnya adalah miliknya, bukan milik Suzy.

“Dia.. dia sudah meninggal 3 tahun yang lalu..”

Kris berhenti sejenak untuk mengatur nafas nya yang tercekat karena harus kembali mengingat kematian sang sahabat yang bagi pria itu sudah Ia anggap sebagai saudara kandung.

“……” Suzy pun tak bisa merespon pernyataan Kris barusan. Jujur, dalam hati, gadis itu merasa bingung apa sebenarnya yang terjadi.

“Suzy, ku mohon agar kau mendengar penjelasan ku ini. Setelah selesai kau berhak untuk menuntut apa pun kepada ku, mengerti?”

Mendengar permintaan pria itu, Suzy pun mengangguk tanda mengerti akan permintaan Kris tersebut. Yakin gadis itu telah memberikan lampu hijau terhadapnya untuk memberikan kesempatan baginya, Kris pun menarik nafas dalam-dalam lalu membuang nya secara perlahan. Berusaha untuk menghilangkan rasa sesak di dadanya yang ia pendam selama 3 tahun..

“Nichkhun meninggal dalam kecelakaan saat menuju ke Busan, 3 tahun yang lalu… tepat di saat hari jadi kita yang ke-3. Dia, dia yang baru kembali dari China, rencananya ingin memberikan kejutan kepada kita, dengan menyusul ke Busan sekaligus memperkenalkan istrinya kepada kita. Namun naas, maut telah merengut nyawa Nichkhun terlebih dahulu. Tetapi beruntung istri Nichkhun masih hidup, dan ia pun bersama kita sekarang. Hwang Jia….

Bagaikan di sambar petir Suzy terdiam di bangkunya. Berbagai rasa berkecamuk di dalam tubuhnya, terlebih hatinya. Berjuta pertanyaan yang selama 3 tahun hanya menjadi monolog bagi dirinya kini sudah terjawab dengan jawaban yang benar-benar di luar dugaan gadis itu. Unexpected answer….

“Kris….” Berlian di mata indah Suzy pun akhirnya meluncur dengan bebas di pipi putih gadis itu. Terkejut, kecewa, namun rasa empati yang sarat akan perhatian perlahan menjalar di hati Suzy.

Speechless. Itulah yang sekarang gadis itu rasakan. Sungguh, ia benar-benar tidak tahu harus berbicara dan berbuat apa-apa

“don’t cry Suzy. You’re not a baby anymore..” ucap Kris sembari mengusap pelan pipi manis gadis itu dengan pelan, terlanjur sangat pelan. Pria itu melakukan hal itu seakan pipi Suzy itu fragile. Yah, mudah pecah dan rapuh….

“Jadi, sebelum Nichkhun sempat dinyatakan meninggal ia menitipkan pesan untuk ku agar menjaga Jia untuk dirinya. Dan, dan aku tak kuasa untuk menolaknya. Di satu sisi sangat berat bagi ku untuk meninggalkan dan melepas mu. Jika kau fikir selama 3 tahun ini aku benar-benar melupakan mu, kau salah besar. Setiap malam, kesakitan yang aku rasakan saat melepasmu, membiarkan mu menangis seorang diri di dermaga sangat terasa hingga ke tulang rusuk ku. Sakit, sungguh sangat sakit…”

Suzy pun hanya mampu menangis dalam diam. Tak peduli dengan tatapan para pengunjung café yang memperhatikan diri nya, ia masih terus tenggelam dalam tangisan nya.

“Tetapi kau tetap jahat Kris, kenapa kau tidak memberitahuku dulu. Setidaknya kan kita masih bisa mencari jalan keluarnya bersama. Kau tidak berfikir mengenai itu?”

“Ah berarti selama ini bukan hanya aku yang merasa egois. Kau tau dengan kau seperti ini kau jauh lebih egois dari pada diri ku.”

“Suzy……”

“Kau tau? Saat kau mencampakan aku saat itu, kau telah menggores luka hati yang dalam di hati ku. Setiap hari aku selalu berharap bisa bersama kembali dengan dirimu. Nyatanya, aku tau aku tidak bisa. Karena apa? Karena tiba-tiba kau pergi menghilang begitu saja. Bagai hilang di telan bumi.” Ucap Suzy dengan suara yang tertahan. Setelah berhenti sejenak guna merangkum  unek-unek yang selama ini selalu mengganjal hatinya, Suzy pun melanjutkan perkataan nya yang terputus tadi.

“I got frustrated almost every day! You know that Kris? I’ve been living in desperation for 3 years so far.! Tetapi setelah aku mendengar penjelasan mu itu, aku, aku merasa empati. Aku bisa merasakan apa yang kau rasakan.”

Keheningan kembali mendominasi. Tak ada kata yang terucap. Lelah hati ingin bicara, akhirnya mereka pun menggunakan hati mereka sebagai media komunikasi mereka. Koneksi hati mereka pun akhirnya terjalin kembali. Mencoba untuk menguraikan benang kusut yang selama ini di biarkan begitu saja.

Pada akhirnya, Suzy sadar bahwa kutipan Cinta Tak Harus Memiliki itu memang benar adanya. Kalau pun Ia memang benar-benar mencintai Kris, bukan kah Ia sadar kalau ia harus ikhlas bila disakiti oleh pria itu juga? Ikhlas untuk melepasnya bersama orang lain demi kebahagian pria itu sendiri?

Jalan terbaik telah di tentukan oleh Suzy melalui hatinya. Let it go. Ikhlas kan hatimu, walaupun rasanya sakit.

“Lagi pula jika sekarang aku meminta kepada mu untuk kembali kepadaku, mustahil kau akan menurutinya tanpa berfikir panjang mengenai Jia eonnie. Sekarang pun sudah tak tersisa ide seperti itu di otak ku.” Ucap Suzy samba menatap Kris dengan intens.

Lagi, hening menguasai kedua insane tersebut. Suzy yang merasa selama ini jawabanya sudah terjawab merasa energy nya terkuras habis karena gadis itu juga mengeluarkan unek-unek hati nya kepada Kris selama 3 tahun ini. Sedangkan Kris, pria itu lebih memilih membuang pandangan nya ke jendela, memandang hiruk pikuk orang-orang yang berjalan di sekitar Incheon Street.

Tak ingin waktu terbuang sia-sia, Kris pun mengalihkan pandangan nya dari jendela dan menghadap ke Suzy.

“Suzy, maaf kan aku. Sungguh maaf kan aku….”

“maaf….”

“Hentikan permohonan maaf mu itu, aku muak mendengar nya. Kau fikir permintaan maaf mu itu bisa di kumpulkan untuk ku beli kan iPad hah? Tidak kan.” Ucap gadis itu sarkatis

“Ah baiklah. Lalu apa kau memaafkan ku Suzy?” gumam Kris dengan mimik wajah harap-harap cemas.

“Kris,jauh saat kau tiba-tiba hilang di telan bumi dan jauh sebelum kau kembali ke Korea, aku telah memaafkan mu. Hati kecil ku berkata, aku harus memaafkan mu. And I have followed my heart to forgave you.”

“Sungguh?”

“Tentu saja.” Gumam Suzy sambil menunjukan senyum termanis nya yang dulu sangat di gilai oleh Kris.

Kris yang seperti mendapat mukjizat dari langit pun berdiri dari duduknya untuk menghampiri Suzy dan memeluk gadis itu, sekali lagi. Pelukan yang singkat namun sarat akan ketulusan.

“Terima kasih kau sudah memaafkan ku ya.”

“Ya ya, kau membuatku malu Kris.” Dumel Suzy yang di iringi kikikan kecil.

“Tetapi kau harus berjanji satu hal kepada ku Kris”

“Hm, aku akan berusaha, apa itu?”

“Kau harus berbahagia dengan Jia eonnie. Jangan tinggalkan dia. Jagalah Jia eonnie baik-baik, laksanakan amanat Nichkhun Sunbae dengan benar. Kalau bisa segerlah punya momongan Kris!”

“Tanpa kau suruh aku pasti akan melakukanya. Dan yang perlu kau lakukan kepada kami adalah mendukung kami. Kau harus selalu mendukung dan menyayangi kami Suzy.”

“Tentu saja Kris. Jia eonnie, Kris, berbahagialah untuk ku!” ucap Suzy

“Bae Suzy cepat lah menikah!” teriak Kris.

“Yaa kau keterlaluan Kris.” Gumam Suzy dengan raut wajah yang ditekuk

“Tidak juga. Memang kau  harus menikah. Di usia mu yang sudah cukup matang ini, kau pun harus menikah. Agar menjadi lebih sempurna.”

“Tidak terima kasih. Dan, sungguh hentikan topic ini Kris. Kau menyebalkan.” Suzy pun mengerucutkan bibirnya karena kesal. Pria yang beberapa menit yang lalu menjadi antidote abgi Suzy ini pun berubah menajdi sosok yang menyenangkan dan jahil kepada Suzy.

“Ku kenalkan dengan salah satu pegawai ku ya? Hwang Zi Tao? Pemuda china yang sangat pekerja keras tetapi memiliki hati yang lembut. Kedengaranya cocok untuk mu kan. Hehe”

“Tidak mauuuuuuu”

Mereka pun akhirnya menghabiskan malam di café itu dengan senda gurau dan tawa yang membuat hati mereka menjadi hangat kembali. Lalu membentuk satu tali pengikat yang baru. Kekeluargaan. Tak ada lagi dendam, kecewa, dan sakit hati yang dirasakan. Semua rasa sakit itu menguap menjadi empati.

Tanpa di sadari, ada sosok yang mengawasi Suzy dan Kris saat pria itu memasuki café. Sosok dengan tatapan yang penuh akan kebahagiaan. Tak ada pancaran rasa tidak senang dari kedua mata sosok itu melihat kehangatan dari Suzy dan Kris. Kelegaan yang terpancar jelas dari kedua manik mata Jia –sosok itu- yang diikuti dengan senyuman tulus yang sarat akan pengertian.

-The Explanation-

Sekali pun rasa sakit hati bisa di redam dengan penjelasan bak air terjun yang turun dengan derasnya dan berakhir di dasar yang dalam dan riak yang di tempa bias sinar matahari. Biarkan hati bicara dan ikuti kata hati mu!

-END-

 

xoxo!

Advertisements

5 comments

  1. baru aja baca break even dan setelahnya ada banyak rasa penasaran…ternyata semuanya terjawab disini…ternyata ada sequelnya…gumawo eonnie…aq pikir suzy bakal kembali sama kris setelah tau alasan kris keekeke…

    Like

Escape your thoughts!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s