Sweetly Friendship

he-and-she

Sweetly Friendship

Bae Suzy [MISS A] and Wu Yi Fan || slight!Friendship, Family, Life, Hurt-Comfort || Oneshot ||  PG 13 ||

p.s.:been posted in my personal wp and several suzy’s ff  wp.

Summary :

I like being friend to you. If it means that Ill be by your side. I dont want to forget you. Cuz youre my most important friend.

~Sweetly Friendship~

Seorang gadis terlihat sedang berkutat dengan buku di pangkuannya. Tanpa memperdulikan angin laut yang berhembus kencang yang menerbangkan anak-anak rambutnya, gadis itu enggan bergeming meninggalkan tempat duduk di pinggiran laut kota Vancouver tersebut.

Burung burung laut yang berterbangan di sekitarnya pun merasa diabaikan oleh sang gadis. Kalau saja burung-burung tersebut dapat bicara mungkin mereka akan mengatakan “Hey nona apa kau tak bosan duduk di tepi laut sambil membaca buku setebal batu bata tersebut selama dua jam?”

Mustahil. Di dunia ini tak ada hewan yang dapat berbicara kecuali nanti pada saat kiamat. Seperti yang tertulis di dalam kitab suci. Sayangnya gadis tersebut tak menaruh keyakinan pada hal itukarena dia pun tak percaya adanya Tuhan.

“Ms. Bae? Will you stay still here until the wood’s broke?” ucap seorang pria dengan perawakan tinggi,kurus, dan wajah oriental yang minim ekspresi itu.

“If it coud I would Mister..” kata-kata tersebut langsung meluncur begitu saja dari mulut gadis tersebut tanpa memperhatikan ‘siapa’ lawan bicaranya.

“Pardon me Bae Sooji?

Merasa aneh dengan seorang pria yang mengetahui namanya, Sooji –gadis itu –pun  menoleh. Ekspresi kaget terpancar jelas di wajah kuyu gadis itu setelah mendapati ‘siapa’ yang berbicara kepadanya.

“O o, Mr. Wu!How long you’ve been here eh?”

“Eish jam istirahat sudah lewat satu setengah jam yang lalu,mengapa kau masih di sini?”

“Uh oh aku hanya ingin menikmati pemandangan di sini. Oh iya revisi deadline tanggal sepuluh sudah aku taruh di meja mu. Jadi kau tidak perlu menerorku lagi setiap malam akan hal itu.”

Kris –pria kurus wajah minim ekspresi itu –berubah menjadi agak kikuk karena sebelum ia mengatakan hal tersebut Sooji pun sudah mengatakannya lebih dahulu.

“Baiklah. Kerja bagus Sooji”

“Kau bolos bekerja saja lah hari ini. Kutemani deh,” tawar Kris kepada gadis yang masih diam bercengkerama dengan buku tebal di pangkuannya.

Sooji mengangkat kepalanya lalu memalingkan pandangannya ke arah Kris. Sekilas lalu kembali menatap kembali buku di pangkuannya.

“Baiklah kau yang mau. Aku tidak memintanya.” ucap Sooji pelan masih sambil menatap buku di pangkuannya.

“Ah baik.” ujar Kris sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal

Hening. Keduanya dikuasai oleh keheningan tak bertuan. Kris yang mencoba ingin membuka percakapan  harus menelan kembali ucapanya. Ego. Sebagai pria haruskah ia yang memulainya? Haruskah?

Lalu ada Sooji, gadis introvert yang berstatus sebagai sahabatnya ini sejak 5 tahun yang lalu masih enggan membuka dirinya terhadap Kris. Tetapi sedikit demi sedikit gadis itu mulai membuka dirinya terhadap sahabat satu-satunya di negeri orang ini. Waktu, semuanya memerlukan waktu kan?

Sadar akan atmosfer diantara mereka yang awkward Sooji pun menutup buku tebal di pangkuannya. Lalu menoleh ke arah Kris. Pria itu nampak sedang mengamati lautan di sana dengan pandangan jauh.

“Kris, kau yang mengajakku bolos kerja, belikan aku fish chips kalau begitu.” kata Sooji mengedarkan lamunan Kris pada lautan di depannya.

“Eh kau sudah selesai? Baik, tentu saja, ayo jalan!” jawab Kris sambil berdiri dari duduknya dan menarik pergelangan tangan Sooji. Meninggalkan bangku di pinggiran lautan menuju tempat yang menjual fish chip langganan mereka.

Menikmati seporsi fish chips ditemani dengan segelas cokelat panas di tengah angin dingin kota Vancouver merupakan pilihan yang tepat. Pasalnya wajah Sooji tidak semendung saat masih berada di bangku tepi laut tadi. Sekarang wajah gadis itu dihiasi dengan ekspresi sangat menikmati fish chips gratis di tangan kanannya.

“Wah 5 tahun aku mengenalmu ternyata kau tidak berubah sama sekali ya.” komentar Kris melihat ekspresi wajah Sooji yang terlihat seperti anak kecil dengan fish chips di tangannya.

“People can change except me.” Jawab Sooji pendek sambil menyeruput hot chocolate yang diakhiri dengan erangan dari mulut Sooji karena hot chocolate yang masih panas.

“Ah panas sekali! Lidahku serasa terbakar”

“Nah pelan-pelan Sooji-ya. Namanya juga hot chocolate ya pasti panas lah. Kalau dingin namanya….”

“Iced chocolate. Ya aku sudah tahu kau pikir aku bodoh?” Potong Sooji.

Pria jangkung itu lagi lagi menggaruk tengkuknya yang tak gatal sama sekali. Ia tahu bahwa saat ini Sooji sedang unmood tetapi ia tidak tahu apa penyebabnya. Maka dari itu Kris merasa ada yang aneh pada sahabatnya ini.

Memang benar kalau Sooji adalah pribadi yang cuek, dingin, dan suka bicara blak-blakan tanpa memperhitungkan kondisi tetapi ekspresi mendung yang tercetak jelas di wajah gadis itu tak seperti biasanya. Sebagai seorang sahabat bukankah sudah menjadi kewajiban untuk menghibur  sahabat kita yang sedang murung?

“Kau ada masalah?” Tanya Kris to the point.

“Tentu saja. Setiap hari aku ada masalah.” Sooji menjawab pertanyaan Kris dengan kalimat sarkatis.

Melihat ada bangku kosong tepat 2 meter di depan mereka, Kris pun menarik Sooji untuk duduk di sana. Lama mereka terdiam sampai akhirnya Kris membuka mulut untuk menyelesaikan ‘masalah’ yang ada pada diri Sooji.

“Sooji, kau anggap aku ini siapa? Teman? Orang asing? Atasanmu? Musuhmu? Eh?”

“Kau adalah Kris Wu. Atasanku yang paling bawel. Boss yang perfeksionis. Pria yang suka menraktirku fish chips. Sahabatku satu-satunya di Vancouver..”

“….”

Hening kembali menghiasi kebersamaan dua perantau Asia ini di tengah hiruk pikuk aktivitas para warga Vancouver di public park tempat mereka berada. Skak mat. Pria kurus itu lagi-lagi kena skak mat karena bingung. Bingung bagaimana mengeluarkan semua hal yang berada di pikirannya satu persatu.

“Eh Kris, do you miss ‘home’?” Tanya Sooji tiba-tiba memecahkan keheningan di antara mereka sekaligus membuyarkan lamunan Kris.

“Tentu saja. Di mana pun aku berada aku selalu merindukan rumah.”

“Mengapa kau selalu merindukan rumah?”

Kris menghirup oksigen yang berkeliaran bebas disekitarnya. Lalu membuangnya melalui mulutnya sehingga keluar kepulan uap berwarna awan. Lalu ia menoleh ke arah Sooji yang membuang pandangannya ke arah anak-anak yang sedang berlarian di tengah taman.

“Karena di rumah ada Ibu dan Kak Jia yang selalu merindukanku dan menantikanku untuk pulang.”

Sooji menatap Kris intens saat pria itu mengatakan alasan ia merindukan rumah. Gadis itu jelas dapat melihat sorot mata penuh kerinduan saat ia mengucapkan kata Ibu dan Kakaknya. Senyum kecil pun tercetak di bibir Sooji saat melihat sorot mata pria tersebut.

“Tidak hanya itu saja sih. Jika aku di rumah aku tidak perlu menjadi pria cool. Aku bebas menjadi diriku yang sebenarnya tanpa harus peduli terhadap orang lain. Di rumah aku bisa makan sebanyak yang kumau, menceritakan lelucon garing, dan suka tertawa dengan keras. Egois? Tidak kok.”

Sooji mengeryit mendengar pernyataan Kris barusan. Menjadi diri sendiri itu egois. Pernyataan logis macam apa itu. Pikir Sooji, menjadi diri sendiri bukan egois melainkan melepaskan ego negative itu sendiri.

Coba bayangkan, kalau kau tidak menjadi dirimu sendiri dan terus mengikuti arahan orang lain yang belum tentu baik untukmu dan orang lain. Ego mu dengan sendirinya akan terbentuk seperti itu, penampilanmu baik di depan orang lain dengan doktrin bahwa kau bisa menjadi lebih baik bila seperti itu. Walaupun, di dalam diri sendiri kau sangat tersiksa . Bukankah itu juga termasuk egois?

“Kalau di Vancouver aku harus bersikap layaknya pria dewasa yang cool. Dan yang lebih parahnya aku semakin kehilangan jati diriku yang sebenarnya.“

“Cih lalu kenapa kau tidak melepaskan topengmu itu? Tidak ada rasa percaya diri Mr. Wu?”

“Ini aku sedang melepaskan topengku Bae Sooji!” jawab Kris tak mau kalah sambil mengacak puncak kepala Sooji lembut.

“Yak hentikan. Rambutku!” umpat Sooji pelan sembari memberi Kris sorotan tajam khasnya.

“Hahahaha.”

“Kalau ingin bersahabat denganku kau harus menjadi dirimu sendiri. Aku tak butuh orang-orang munafik.”

“Bukanya aku tak percaya diri tapi alam bawah sadarku yang memerintahkan seperti itu.” jawab Kris dengan nada skeptis.

“Alam bawah sadarmu itu berarti dirimu. Dari awal kau harus bisa menjadi dirimu sendiri. Nyaman? Tidak nyaman kan menjadi orang lain yang bukan kehendakmu. Just do what makes you happy and be what you want to be. Life is not about  pleasing people!

“Hei nona! Pintar sekali kau menasihati anak orang. Kau sendiri sudah cukup terbuka kepadaku belum? Kalau bukan aku yang mendesak duluan kau pasti tidak akan cerita” sambar Kris.

Sekarang giliran gadis berambut pajang itu yang skak mat. Apa yang baru saja dikatakan oleh pria itu tepat mengenai sasaran.

Mwo? Naega wae?” sambar Sooji pelan dengan ekspresi tenang khas seorang Bae Sooji.

Kalau saja self-improvement Sooji rendah pasti ia akan kepergok oleh Kris kalau perkataannya barusan menohok perasaan gadis itu. Sehingga pria jangkung itu pun akan merasa jumawa karena tahu perkataannya tepat sasaran.

“Berhenti pura-pura tidak tahu Sooji-ya, sekarang aku sedang mendesakmu untuk memberi tahuku.” ujar Kris mantap sambil menatap Sooji intens.

Sooji yang mendapati tatapan seperti itu dari Kris hanya bisa membuang pandanganya ke segala penjuru. Menghindari tatapan interfensi dari Kris.

Sadar bahwa reaksi gadis di sampingnya tidak membuahkan hasil, Kris pun menghadapkan badannya ke arah Sooji. Mengamati sekilas profil samping dari Sooji. Batu di lawan batu? Tidak ada yang mau mengalah pasti. Batu dengan air. Batu sekeras apapun kalau terus ditetesi air tanpa henti pada akhirnya akan mengikis juga.

Sama halnya dengan Sooji. Gadis batu itu harus dihadapi oleh seorang pria air yang mampu mengikis pertahanan kuat gadis  itu perlahan-lahan. Sayangnya air di musim dingin yang mau berakhir ini masih membeku sehingga tak mampu mengikis permukaan batu yang keras itu.

Semacam Kris terhadap Sooji. Kali ini ia tak mampu membuat gadis itu membuka mulut dalam satu kali percobaan. Butuh minimal dua kali percobaan untuk membuat Sooji menceritakan apa yang sedang terjadi pada diri gadis itu sendiri.

Akhirnya pria itu pun bangkit dari kursi. Menepuk pelan bagian belakang mantelnya yang tak kotor sama sekali. Lalu menatap Sooji yang masih terdiam di bangkunya tanpa mengucapkan kata-kata.

“Sepertinya cukup untuk hari ini Sooji-ya. Maaf aku memaksamu untuk bercerita kepadaku. Lain kali aku tidak akan melakukannya lagi. Ayo.” ucap Kris seraya menepuk pelan pundak sahabatnya itu.

Sooji yang disadarkan oleh tepukan dan perkataan Kris menatap pria itu lalu menundukan pandangannya.

Dalam hati, Sooji merutuki kebodohanya saat ia kepergok sedang bolos kerja oleh Kris. Kalau saja ia tak ketangkap basah oleh Kris mungkin sekarang ia sudah berada di flat sederhananya sembari menonton selusin DVD film Channing Tatum yang ia beli di bazaar dekat flatnya beberapa waktu lalu. Yang belum sempat ia tonton karena harus menyelesaikan deadline buku yang akan turun cetak awal bulan nanti. Bukan berurusan dengan Kris. Pria yang notabenenya adalah sahabat satu-satunya di Vancouver yang kelewat sangat ingin tahu mengenai segala hal yang ada pada dirinya.

Awal yang ragu untuk memberitahu Kris,tetapi pada akhirnya Sooji menyerah dan tetap bercerita kepada Kris.

“Aku tidak punya rumah tapi sungguh aku sangat merindukan rumah!?!” ucap Sooji pelan yang sarat akan nada frustasi.

Kris yang masih belum terlalu jauh melangkah mampu mendengar apa yang baru saja Sooji katakan. Kris mematung di tempat ia berdiri. Mencoba mencerna apa yang Sooji katakan. “Aku tidak punya rumah tapi sungguh aku sangat merindukan rumah!”

“Bae Sooji kau..”

“Kalau kau merindukan rumah apa yang akan kau lakukan?”

Kris mengernyit pelan. “Tentu saja aku akan pulang ke rumah. Melepas kerinduan terhadap orang-orang yang aku sayangi.”

“Lalu kalau tidak mempunyai rumah,bagaimana?” Sooji menatap lurus ke arah Kris.

Kris menggeleng pelan. Bingung akan jawaban apa yang harus ia berikan pada Sooji. 5 tahun Kris mengenal Sooji ternyata ia masih belum mengetahui sisi terdalam dari gadis itu yang sekarang sedang ia keluarkan. Bodoh, sahabat macam apa kau ini Kris! umpat Kris dalam hati.

Sooji sadar bahwa ia sudah membuat sahabatnya ini susah. Melihat ekspresi keras di wajah Kris membuat Sooji merasa bersalah. Alasan, kenapa ia bersikap seperti ini kepada Kris karena ia tak ingin menyusahkan sahabat satu-satunya ini dengan masalahnya. Menjadi pemimpin sebuah perusahaan penerbit di kota ini bukan merupakan pekerjaan yang ringan melainkan sangat berat. Makanya Sooji tak ingin menambahkan beban terhadap Kris atas dirinya.

“Sooji, maaf selama ini aku tidak memperhatikanmu lebih. Sampai-sampai aku tidak sadar bahwa kau sedang ada masalah.”

Sooji mengibaskan tanganya. Seolah mengatakan “itu bukan apa-apa”. Sooji bangkit dari kursinya lalu mendahului Kris yang terdiam di tempatnya.

“Yak! Hey! Bae Sooji mau kemana kau? Urusan kita belum selesai.  Jangan kabur!” seru Kris. akan tetapi, Sooji yang diteriaki oleh Kris tidak bergeming terhadap seruan pria itu dan tetap melangkah pelan menjauhinya.

Melihat Sooji yang makin menjauh, ia pun menyusulnya. Setelah sejajar dengan Sooji, lelaki itu menggiring Sooji ke arah parkiran di luar public park tersebut. Mendorong gadis itu masuk ke dalam mobilnya ke kursi di sebelah pengemudi.

“Kau pikir kau bisa kabur begitu saja? Urusan kita belum selesai. Dan kau harus menyelesaikannya denganku, sekarang.”

“Dasar Mr. Want To Know it All Very Much!” ucap Sooji sambil memejamkan matanya. Mencoba untuk terlelap agar ia tak diganggu oleh pertanyaan-pertanyaan menyelidik lelaki itu.

“Benar itu aku, Ms. Want To Keep it All Very Much!

Selama perjalanan menuju ke flat milik Kris, Sooji tertidur dengan kepala yang terantuk-antuk kesana kemari. Kris yang focus mengemudi sesekali mencoba membenarkan posisi tidur Sooji namun setelah itu posisinya kembali tidak benar dan seterusnya.

Kris mendesah, “Kenapa kau baru bercerita tentang rumahmu kepadaku sekarang?”

Flashback.

Vancouver Intnl’ Airport, February 2009

Hiruk pikuk bandara Vancouver kalah dengan kehebohan yang dibuat oleh dua manusia di salah satu sudut bandara tersibuk di kota itu. Sang wanita terlihat sedang memarahi sang pria lengkap dengan cubitan yang didaratkan di lengan pria itu.

“Yak! Dasar adik lamban! Mengapa lama sekali kau menjemput kakakmu yang jauh-jauh datang dari benua lain ini hoh!” teriak Jia.

Yang dicubiti dan dimarahi tidak melakukan perlawanan apapun. Terlihat pasrah malah.

“Maaf, aku aku lupa. Lain kali ini tidak akan terjadi, aku berjanji. Yak lepaskan, ini bandara Kak,” Jia pun melepaskan cubitan di lengan Kris dan masih memberikan tatapan laser kepada adik laki-lakinya itu.

Setelah itu ia menghilang di balik lautan calon penumpang yang sedang berlalu lalang. Kris yang mendapati kakak perempuanya hilang begitu saja panic seketika. Baru setengah jam tiba di Vancouver kakaknya itu langsung hilang. Bisa dipanggang oleh ibunya kalau beliau mendengar kabar ini.

Saat membalikan badan, ia mendapati sosok gadis asing yang tak lebih tinggi darinya. Gadis itu memiliki rambut hitam lebat panjang ditambah dengan kulit putih susu yang serupa dengan sang kakak. Wajahnya pun kentara sekali kalau dia ini berasal dari Asia.

“Untung saja ada Sooji yang bersedia menemaniku tadi. Coba kalau tak ada Sooji aku pasti akan diusir oleh petugas bandara karena aku berbicara dengan bahasa alien kepada mereka. Bisa kau bayangkan itu! Adik bodoh!” ucap Jia dengan hadiah pukulan kecil ke kepala Kris.

“Kalau kau bisa berbahasa inggris kau pasti tidak akan diusir.” tandas Kris sambil mengelus kepalanya yang dihadiahi jitakan maut oleh Jia.

Melihat situasi panas di hadapannya, Sooji hanya bisa menggeleng lemah memperhatikan kedua kakak-beradik ini. Seperti dianggap angin lalu, Sooji pun akhirnya memutuskan untuk pergi.

Di Vancouver, aku tidak boleh mambuang waktuku secara percuma.

“Maaf, sepertinya aku menggangu kalian. Aku pergi saja ya kalau begitu. Permisi.” Pamit Sooji kepada Jia dan Kris sambil membungkukan badan.

“Ya Sooji-ya tunggu dulu jangan pergi! Kembali, mari kita pergi bersama!” teriak Jia sambil menatap ngeri para calon penumpang yang menghadiahi Jia dengan tatapan seolah-olah Jia ini Tarzan.

Sooji membalikan badannya dan menggeleng sopan sebagai tanda penolakan. Namun Jia tidak menyerah dan terus meminta Sooji untuk ikut bersama mereka. Hitung-hitung sebagai ucapan terima kasih atas kesediaan Sooji menemaninya selagi ia menunggu Kris.

Akhirnya, Jia, Kris, dan Sooji berada di satu mobil menuju ke flat Kris di pusat kota Vancouver. Situasi canggung ketiganya kentara sekali, begitu juga dengan Jia yang berusaha mencairkan suasana.

“Sungguh kau tidak merepotkan kami sama sekali. Aku malah sangat gembira kau bisa ikut dengan kami.” Ucap Jia sembari menatap kaca spion dan tersenyum ke arah Sooji di kursi belakang.

Sooji pun membalas ucapan Jia dengan menyunggingkan senyum tipis. Gadis itu tidak bisa menolak permintaan Jia untuk menginap di flat milik Kris karena sedari tadi Jia memohon-mohon kepada Sooji sampai gadis itu mau dan tunduk terhadap permintaannya.

“Lagi pula kau kan belum dapat flat atau aparte di sini. Nah lebih baik jika kau menginap dulu bersama kami. Nanti adikku yang bodoh ini akan membantumu menemukan flat yang cocok untukmu”

“Aku dapat mendengarnya Kak!” tukas Kris dengan nada kesal yang masih fokus meliukkan kendaraannya di tengah hiruk pikuk jalanan kota.

“Terima kasih banyak Kak Jia. Aku tidak akan melupakan bantuanmu kali ini” Setelah mengatakan itu Sooji kembali tersenyum dan langsung memalingkan pandangannya menyusuri jalanan kota Vancouver yang asing baginya.

Membalas ucapan terima kasih Sooji, Jia pun mengacungkan jempolnya sambil mengedipkan matanya ke arah Sooji melalui kaca spion. Kris yang fokus mengemudi di sampingnya bergidik ngeri melihat tingkah laku kakak perempuannya yang seperti anak smp tersebut.

“Oh iya Sooji-ya aku belum mengenalkanmu kepada adikku ini. Hehe, Sooji-ya ini Kris, Kris ini Sooji, Bae Sooji.”

Nice to meet you Kris.” ucap Sooji pelan sambil melirik sekilas ke arah kaca spion di depannya.

“Eh nice to meet you too Sooji. Yaa! Kak berhenti mengobrol. Biarkan aku fokus menyetir!” ucap Kris masih dengan kemudi di tangannya dengan wajah yang super ditekuk karena dari tadi Jia menyebut dirinya sebagai adik bodoh.

“Dasar adik tak asyik!” balas Jia tak mau kalah.

Kris’ Flat.

Mereka bertiga pun akhirnya tiba di flat minimalis milik Kris. Kesan yang didapati Sooji akan flat milik Kris adalah, MEWAH!!! Ini flat macam hotel bintang lima. Kesan minimalis yang dipadukan dengan perabotan modern yang tertata rapi di setiap sudut ruangan membuktikan bahwa flat ini kalau dikalkulasikan ke dalam Won pasti mencapai jutaan Won.

Mereka pasti orang kaya, pasti.

Jia berdecak kagum mengamati setiap sudut ruangan flat milik adiknya ini. Selain kesan minimalis, flat tersebut juga terkesan bersih dan rapi  untuk ukuran lelaki yang tinggal sendiri di luar negri.

“Ternyata sekarang adikku sudah benar-benar dewasa yah. Ibu tidak bergurau rupanya, ckck.” gumam Jia pelan masih mengamati setiap detail di flat milik Kris.

Sedangkan Sooji? Gadis itu hanya terdiam duduk di sofa empuk yang berada di tengah ruangan tempat mereka berada. Sambil menghitung-hitung kira-kira berapa biaya hidup per bulan di Vancouver. Ia harus mencari flat yang jauh berbeda dari milik Kris ini jika ia ingin tetap bertahan di Vancouver.

Maklum, Sooji berasal dari keluarga yang dibilang sederhana. Terlebih bertahun-tahun lamanya ia tinggal sendiri di Seoul. Biaya perjalanan dan administrasi ke Vancouver ia dapatkan melalui jalur rekomendasi pekerjaan kampusnya yang memiliki jaringan dengan University of British Columbia yang berdomisili di Vancouver, Canada. Beruntung seorang Bae Sooji dikarunia otak yang di atas rata-rata sehingga ia pun mampu mendapat kemudahan untuk urusan seperti ini.

“Sooji, kamarmu di sebelah sini.” tunjuk Kris kepada sebuah pintu persis di belakang Sooji yang sedang duduk.

“Baik, terima kasih Kris.” balas Sooji sambil membungkukan badannya kepada Kris.

Roda koper milik Sooji tiba-tiba macet sehingga membuat gadis itu kesusahan memindahkan kopernya ke dalam kamar. Melihat hal itu buru-buru Kris menghampiri Sooji dan membantu mengangkatnya ke kamar Sooji.

“Biar ku bantu,kau tak mungkin mengangkat koper ini ke punggungmu kan”

Terdengar erangan keluar dari mulut Kris saat mengangkat koper cokelat mahoni tersebut. Ia membantu mengangkat koper Sooji ke dalam kamar gadis itu bukan untuk mencari perhatian melainkan ia tidak tega melihat gadis itu kesusahan memindahkan kopernya.

Begitu sampai di dalam kamar, Kris meletakan koper milik gadis itu dengan hati-hati. Setelah dikiranya semua selesai Kris pun pamit dari kamar Sooji. Tak lupa Sooji pun juga mengucapkan terima kasih atas bantuan pria itu.

“Terima kasih, maaf merepotkan.”

“Tidak merepotkan kok.” Kris mengibaskan tangan sambil menyunggingkan senyum tipis.

“Kalau ada perlu sesuatu tinggal panggil aku atau Kak Jia ya,”

“Baik.” balas Sooji.

BLAAM!

Tiba-tiba penerangan di sekitar mereka mati. Gelap. Pandangan berubah menjadi gelap. Kris yang belum sempat melangkah keluar dari kamar Sooji terdiam di tempatnya berdiri.

“Huwaaaaaa! Eommeonim dowa juseyo!!!” teriak Sooji sejadinya saat lampu mati.

Gadis itu panik sejadi-jadinya. Tahu bahwa ia tak bisa melihat apa-apa Sooji berjongkok di tempat ia berdiri. Kris yang mendapati teriakan Sooji langsung menyalakan senter di handphonenya lalu segera menghampiri Sooji yang sedang terisak.

“Ssh, Sooji it’s okay.” terang Kris membawa Sooji ke dalam pelukannya berusaha meredakan tangis Sooji.

“Gelap, aku takut!! Kris tolong aku! Aku ingin ke tempat yang ada cahayanya. Kris,hiks hiks hiks…” cerocos Sooji dalam tangisannya dan masih dalam pelukan Kris sambil  menyembunyikan wajahnya di balik dada bidang Kris.

“Iya iya. Kau tak usah khawatir. Aku akan mengeceknya dulu.” ucap Kris sambil sesekali mengusap pelan punggung Sooji.

“Wu Yi Fan! Kenapa lampunya mati hoh?! Kau belum bayar tagihan listrik ya!!”

Flashback ends.

Selama di perjalanan Kris kembali mengingat pertemuan pertamanya dengan Sooji. Yaitu saat menjemput kakaknya di bandara. Kakaknya yang kesal setengah mati menunggu dirinya berkenalan dengan Sooji dan memintanya untuk menemani dirinya menunggu Kris.

Kejadiaan saat listrik padam di flatnya juga masih membekas di benak pria itu. Setelah kejadian itu keduanya pun menjadi canggung karena sebelumnya Kris memeluk gadis itu untuk menenangkannya.

Namun sehabis kejadian tersebut, intensitas pertemuan Kris dan Sooji justru semakin bertambah. Sooji yang mengantongi ijazah S2 Jurusan Sastra dengan predikat Cum-laude dari Universitas Seoul ini diterima bekerja di kantor penerbitan milik Kris sebagai editor utama.

Mereka berdua yang sama-sama perantauan Asia pun akhirnya menjalin pertemanan. Sooji yang memang tidak punya kenalan di Vancouver pun menerima ajakan Kris untuk berteman. Selain itu, ia juga melihat bahwa Kris juga tidak mempunyai teman dekat di kantornya.

Sesampainya di flat minimalis milik Kris yang tidak berubah sejak 5 tahun yang lalu, Sooji menduduki sofa empuk di ruang tengah flat tersebut. Diikuti juga oleh pria itu yang langsung menuju kamarnya. Sooji merenggangkan tubuhnya yang terasa kaku karena selama perjalanan ia tidur dengan posisi yang tidak bagus.

Kris keluar dari kamarnya dengan pakaian santai khas di dalam rumah. Black long-sleeve HBA plus celana training dan slipper spongebob yang tak cocok dengan image coolnya di kantor.

“Tsk, slippermu seperti milik Tobby. Tetanggaku yang berusia 5 tahun.” komentar Sooji setelah melihat setelan rumah ala Kris tersebut.

“Kenapa? Slipper ini lucu. Kau pasti ingin memilikinya juga kan?” kelakar Kris sambil berlalu menuju dapur.

“Dunia pasti kiamat kalau aku memakai slipper konyol itu.” Balas Sooji mengikuti Kris yang sedang berkutat di dapur untuk membuat dua gelas hot chocolate.

“Kau memang tidak bisa diajak bercanda” ucap Kris sambil menuang air panas ke dalam dua gelas yang berisi bubuk hot chocolate instan tersebut.

“Yup that’s me.”

Percakapan mereka berlanjut di ruang tamu dengan secangkir hot chocolate panas di tangan. Sooji yang bingung kenapa ia dibawa paksa oleh Kris ke flatnya ini hanya bisa menyeruput pelan hot chocolatenya yang masih mengepulkan asap. Begitu juga Kris yang memainkan game di ponselnya sambil duduk di bawah sofa dekat kaki Sooji.

“Kris kau masih ingat kan perkataanku di taman tadi? Tentang rumah itu?” tanya Sooji.

Kris menghentikan aplikasi permainan di ponselnya setelah ditanya seperti itu oleh Sooji. Lalu ia menengadahkan kepalanya dan mengangguk.

“Iya aku ingat. Kau kenapa? Masih tidak mau cerita?” selidik Kris.

“Itu bukannya aku tidak mau cerita! Tapi, tapi, aishhh! Bagaimana menjelaskanya ya.” ucap Sooji sambil menggaruk kepalanya pelan.

“Tapi?”

“Aku tidak mau menyusahkanmu karena diriku sendiri. Itu saja.” Akhir ucapan itu yang lolos dari bibir gadis itu. “Jujur, aku bukan tipe orang yang suka berbagi mengenai perasaanku kepada orang lain. Apalagi kepada dirimu. Kau sahabatku satu-satunya di sini dan mungkin di dunia adalah bos besar usaha penerbitan di sini. Aku tahu tugas dan tanggung jawabmu itu besar. Maka dari itu aku tak ingin membebanimu. Kau mengerti kan?”

“Astaga Bae Sooji! Kenapa kau mempunyai pikiran seperti itu? Sungguh! K au sama sekali tidak merepotkan apalagi menyusahkanku. Justru aku merasa senang bisa meringankan masalah sahabatku. Kau. Bae Sooji.”

Sooji mencari dusta atas jawaban yang diberikan Kris barusan. Bukannya menemukan kebohongan, Sooji justru dapat melihat ketulusan yang dipancarkan manik tajam pria itu. Menyadari hal tersebut, Sooji pun menyunggingkan satu senyum tulus.

“Terima kasih.” gumam Sooji masih tetap menyunggingkan senyum manisnya tersebut.

“Simpan dulu ucapan terima kasihmu. Yang aku butuh kan sekarang bukan itu. Melainkan penjelasanmu mengenai hal yang sedang menimpa sahabatku ini.”

Sooji menyimpan kembali senyum manisnya rapat-rapat. Setelah terdiam cukup lama akhirnya gadis itu membuka suara.

“Di saat aku merindukan rumah aku sadar aku sudah tidak mempunyai apa-apa. Ironis.” tutur Sooji pelan.

Selesai mengatakan hal tersebut, Sooji mengikuti Kris yang duduk selonjoran di karpet sambil bersender di pinggiran sofa. Setelah merasa nyaman dengan posisinya, ia kembali melanjutkan penuturanya.

“Dulu, saat aku masih sekolah dasar aku adalah gadis yang ceria dan terkesan hiperaktif. Aku suka bermain bersama teman sebayaku di lapangan dekat rumahku. Kalau aku belum dijemput oleh Ibu, aku pasti akan terus bermain sampai hari berubah menjadi malam. Lalu saat aku sampai di rumah Ibu pasti akan menyuruhku untuk mandi secepat kilat dan makan malam bersama beliau, Ayah, dan aku.” jelas Sooji sambil menerawang ke masa kanak-kanaknya yang sangat ia rindukan.

Kris yang mendengar cerita Sooji hanya bisa menjadi pendengar yang baik. Di mana ia tidak memberikan interupsi sebelum disuruh dan mencoba memahami setiap tutur kata yang diceritakan oleh Sooji.

“Kau pasti tidak percaya kalau aku ini dulunya adalah gadis yang ceria kan? Hahahahaha.” setelah mengatakan hal tersebut  Sooji pun mengeluarkan tawa dalam bentuk suku kata.

Kris yang mendengarnya hanya merespon gurauan Sooji dengan gelengan kepala. Selanjutnya, lelaki itu pun menghadap Sooji dan memperhatikan raut wajahnya. Setelah puas mengamati wajah kuyu Sooji yang dihiasi senyum tipis, ia kembali menyandarkan punggungnya di pinggiran sofa.

“Aku percaya. Kau kan tidak pernah bohong. Lagi pula yang tidak aku percaya itu adalah kenapa kau berubah menjadi gadis yang pemurung? Uh?’ tanya Kris.

“Eh, aku juga tidak tahu.” jawab Sooji sekenanya.

“Pasti ada alasannya. Ya kan?”

“Alasan? Hm, apakah bisa ya disebut sebagai alasan?”

“Sooji….”

“Hm?” Sooji kembali bungkam dan berpikir apakah ia sudah tepat menceritakanya kepada Kris, sahabatnya. Mengenai masa lalunya. Mengingatnya saja sangat menyakitkan bagi Sooji. Karena bukan memori manis yang terkenang. Melainkan kesedihan yang benar-benar pahit.

Flashback, Summer in Seoul, 2005.

Seorang gadis terlihat sedang asyik mendendangkan lagu Miracle milik SUPER JUNIOR dari Walkman keluaran terbaru di kantong jaketnya. Kentara sekali bahwa gadis itu sangat menikmati lagu tersebut. Tanpa memperdulikan tatapan para pejalan kaki yang memberikan tatapan “Apa-apaan sih anak ini?” gadis tersebut tetap melanjutkan mini-intern concert nya.

 

Life could get better (hey~)

nan nol pume ango nara

purun darul hyanghe nara (ho~)

jamdun noui ib machul koya

life could get better (hey~)

 

“Ah musim panas yang indah!” seru sang gadis sambil merentangkan kedua tangannya dan menghirup udara segar khas musim panas dan menyunggingkan senyum termanisnya.

Tetapi hal tersebut tidak bertahan lama saat ada seseorang yang mencengkeram kuat bahu gadis itu dari belakang dan membuat gadis itu menengok ke belakang.

 

“Bae Sooji!! kukira kau masih di sekolah. Ayo cepat kembali ke rumah! Sesuatu terjadi pada ayahmu!” seru seseorang tersebut yang ternyata adalah Bibi Ahn ,tetangga Sooji.

“Bibi Ahn! Kau mengagetkanku tahu. Apa? Apa yang terjadi pada Ayahku?”

“Aku juga tidak tahu. Sohee barusan menghubungiku. Kalau begitu, ayo cepat pulang!” jelas Bibi Ahn.

Sooji yang merasa was-was setelah mendengar kabar tersebut langsung berlari seribu langkah menuju rumahnya. Tanpa memperdulikan seruan dari Bibi Ahn, ia terus berlari sampai ke rumahnya. Setibanya di sana ia mendapati halaman rumahnya penuh sesak oleh kerumunan orang.

Perasaan gadis itu pun menjadi lebih tidak enak setelah melihat mobil polisi dan ambulance yang terpakir di depan rumah Bibi Ahn. Tanpa membuang waktu lagi, Sooji menyeruak membelah kerumunan di depan rumahnya.

“Permisi, permisi! Biarkan aku lewat. Aku anak pemilik rumah ini, tolong permisi!” ucap Sooji.

Para kerumunan itu pun akhirnya memberikan jalan kepada Sooji. Terdengar beberapa orang sedang membicarakan Sooji dan ibunya. Tetapi setelah Sooji menyeruak untuk masuk ke dalam rumahnya yang di depannya sudah dipasang garis polisi, kasak kusuk menjadi semakin heboh.

“Nah, lihat, dia itu anaknya.” seru seorang ibu  dengan gulungan rol besar di rambutnya.

“Kasihan ya dia, pasti berat sekali menerima kenyataan ini.”

“Pasti! Kalau aku jadi dia aku tidak akan mengakui seorang pembunuh itu adalah ibuku!”

Ibu? Pembunuh? Maksudnya? Berbagai macam pikiran bersarang di benak Sooji. Membuat gadis itu semakin penasaran dan terus merangsek ke depan yang semakin disesaki orang-orang. Apa yang sebenarnya terjadi dengan Ayah dan Ibu ku? Batin Sooji

Pertanyaan Sooji akhirnya terjawab sudah. Setelah memaksa masuk ke dalam rumahnya sendiri yang dihadang oleh petugas kepolisian, Sooji menemukan Ibunya yang terduduk dengan wajah pucat menghadap ke Ayahnya yang terbaring tak bernyawa dengan noda darah di sekitar perutnya.

“AYAAAH!!!!!” teriak Sooji menghambur ke sang Ayah.

Sooji pun menangis sejadinya saat memeluk ayahnya. Tak ada lagi sosok yang memarahinya bila ia nakal, tak ada lagi sosok yang akan sering mentraktirnya odeng setiap akhir pekan di musim dingin. Sungguh berat bagi gadis itu untuk kehilangan sosok ayahnya itu.

Sementara ibu Sooji di sampingnya diam tak berkutik saat polisi tiba-tiba membawanya paksa. Namun Sooji menahannya dan mengucapkan kata-kata yang menusuk hati ibunya tersebut.

“Kau bukan ibuku. Kau adalah orang asing yang hidup di keluargaku dan membunuh ayahku! Pergi dari hadapanku sekarang! Pak polisi cepat bawa pendosa ini dan hukum dia seberat-beratnya!”

Sooji yang tidak dapat berpikir jenih pun akhirnya mengusir sendiri Ibunya. Ibu Sooji pun hanya membalasanya dengan isakan kecil tertahan yang memilukan.

“Sooji-ya maafkan ibu, kau pantas membenciku nak”

Setelah peristiwa tersebut Sooji lebih memilih tinggal sendiri di Seoul dan menolak untuk tinggal di panti asuhan. Tak ada satupun saudara dari almarhum Ayah Sooji yang menjemputnya dan mengajaknya untuk tinggal bersama, karena mereka pun berpikir bahwa Sooji juga bersalah.

Lalu ada ibu Sooji yang mendapat hukuman kurungan penjara seumur hidup karena perbuatannya tersebut. Dan selama ia berada di penjara, Sooji tak kunjung mengunjunginya. Ia beranggapan bahwa kedua orang tuanya sudah meninggal. Sehingga sampai kelulusan universitas pun ia tidak membawa orang tua. Kesendirian sudah menjadi teman sejati Sooji saat itu.

Flashback end.

Kris yang mendengar cerita pahit Sooji dengan seksama kini memahami segala hal misterius yang ada pada diri Sooji. Semua sikap tesebut hanyalah tameng belaka untuk melindungi jiwa yang rapuh. Kini dari dalam hati Kris muncul sebersit perasaan bersalah karena selalu mendesak gadis tersebut untuk selalu terbuka kepadanya. Dalam hati pria itu tumbuh sebersit perasaan empati yang mendalam sehingga ia pun bertekad akan melindungi Sooji dari segala hal-hal yang mebawa efek trauma bagi diri Sooji dari masa lalunya.

Setelah menceritakan kisah kelam masa lalunya, Sooji tak dapat menahan tangisnya lebih lama lagi. Tangis sooji pun pecah. Diikuti isakan kecil gadis itu masih menangis. Kris yang melihatnya pun tak urung menghamburkan pelukan kepada sahabatnya tersebut. Sambil menepuk-nepuk lembut pundak Sooji, ia menenangkan sahabatnya tersebut.

“Menangislah sepuasnya, keluarkan segala emosimu kali ini, semuanya. Karena sehabis ini tak akan ada lagi tangis kesedihan melainkan kebahagiaan” ucap Kris sambil mengusap pundak Sooji untuk menenangkannya.

“Hiks hikss hiks, terima kasih Kris, sungguh. Sekarang aku merasa sedikit lega setelah membagi cerita pahit ini kepadamu”

“Kau sekarang kalau ada hal apapun yang mengganjal hatimu segera beritahu kepadaku. Aku pasti akan membantumu. Termasuk membuatmu damai dengan masa lalumu. Bermusuhan dengan masa lalu itu bukan hal yang baik Sooji”

“Kris..”

“Masa lalu biar lah berlalu. Yang kau jalani sekarang adalah hidupmu dan bersiaplah menghadapi masa depan. Kau pasti bisa Sooji. Aku tahu kau bukan gadis yang lemah” ucap Kris sambil tersenyum penuh arti kepada Sooji.

Seperti mendapat suntikan vitamin Sooji memasang ekspresi yang lebih cerah dan menghapus kasar air matanya.

“Terima kasih banyak Kris, sahabatku” ucap Sooji sambil menyunggingkan senyum termanis yang menggambarkan kelegaan di hatinya.

“Itu lah gunanya Sahabat, Bae Sooji”

Waktu sudah menunjukan pukul 7 malam di flat Kris.

Saatnya makan malam. Kris yang menyiapkan makan malam kali ini menyiapkannya dalam diam. Ia pun urung meminta bantuan Sooji untuk menyiapkan malam ini saat menyadari sahabatnya itu tertidur di sofa. Setelah berbagi rahasia kepada Kris, seluruh energi Sooji seperti terkuras habis. Makanya ia pun sampai tertidur.

Setelah persiapan makan malam selesai, Kris membangunkan Sooji.

“Eiii puteri tidur bangun, waktunya makan malam” seru Kris sambil menepuk-nepuk pipi Sooji.

Merasa ada sesuatu yang menyentuh pipinya, Sooji mengerjapkan mata lucu. Lalu tersentak saat melihat Kris yang berjongkok di hadapannya. Terlebih dengan wajahnya yang berada dalam radius sedekat itu.

“Yaa! Apa-apaan kau Kris!”

“Kau tertidur di sini lebih dari dua jam tahu tidak? Ayo bangun dan cuci muka dulu sana, baru kita makan malam, lihat kau membasahi sofaku dengan air liurmu! Hih!” ucap Kris sambil menunjuk asal bantalan sofa yang ditiduri Sooji.

“Hei sembarangan kau!” dengus Sooji sebal.

Akhirnya makan malam pun dimulai dengan khidmat. Kris memasak kari ayam yang memang pas disantap saat musim dingin seperti ini. Saat makan malam pun hanya terdengar dentingan sendok garpu yang beradu dengan piring. Keduanya sibuk dengan makanan di piring mereka dan pikiran mereka masing-masing.

Hanya Sooji yang sesekali bergumam masakan Kris ini lumayan nikmat untuk ukuran laki-laki yang jarang memasak.

Selesai makan malam Sooji pun membantu Kris membereskan peralatan makan dan memasak mereka di dapur. Sekitar pukul 8 malam Sooji dan Kris selesai dengan urusan bersih-bersih mereka. Saat melihat jam di dinding Kris pun beralih ke arah Sooji yang sedang berjalan ke arah kulkas.

“Yaa, Sooji hari ini kau menginap saja ya. Lagi pula besok libur kan? Malam di akhir musim dingin ini cuacanya sangat ekstrim, takutnya nanti kau malah sakit” ucap Kris

“Eung. Awas kalau kau berani macam-macam!” ancam Sooji sekembalinya dari arah dapur sambil membawa beberapa bungkus makanan ringan.

“Tenang saja lagi pula kau bukan tipeku.” Balas Kris sekenanya.

Mendapat jawaban seperti itu, Sooji membalasnya dengan melempar beberapa snack di tangannya kepada Kris diikuti tatapan laser yang terpancar dari kedua bola mata hazel miliknya.

“Tipeku itu macam model Miranda Kerr yang cantik dan ceria bukan gadis pemurung yang doyan makan odeng sepertimu. Hahaha”

“Krisssss! Mau mati?!” balas Sooji tak mau kalah.

Malam di flat Kris pun dihabiskan dengan candaan keduanya. Kadang Sooji yang memborbardir Kris dengan kelitikan maut di perut laki-laki itu dan sebaliknya. Keduanya seperti mengalami masa kecil kurang bahagia yang baru tersalurkan di saat dewasa. Tetapi setidaknya Kris masih bisa bernafas lega karena Sooji tak separah pikirannya.

Ia pikir Sooji akan selamanya menutup diri darinya. Nyatanya, malam ini Sooji membagi rahasianya kepada Kris. Dari situ ia dapat mengetahui bahwa selama ini Sooji sudah mengalami hal-hal berat dalam hidupnya sehingga muncul pribadi Sooji yang sekarang.

Kris pun bertekad akan mengembalikan diri Sooji yang sebenarnya bagaimana pun caranya. Sama halnya dengan Sooji, ia pun bertekad mejadi pribadi yang lebih baik dari sebelumnya. Banyak hal berat yang telah dilalui akan menjadi modal Sooji untuk berubah. Berubah ke arah yang lebih baik.

People change, life also. Why don’t we get our selves much better than before while we have a great chance to do it?.

Seperti habis mengeluarkan batu besar yang selama ini mengganjal jalannya, Sooji terlihat lebih relax. Walaupun ia masih dingin, tetapi setidaknya ia sudah tak se-introvert seperti dulu terhadap Kris. Lain halnya dengan Kris yang mendapat dorongan dari Sooji untuk menjadi dirinya sendiri di lingkungan kantor. Lelaki itu awalnya ragu, tetapi setelah dipengaruhi oleh Sooji, Kris pun mulai terpengaruh dan berusaha untuk melakukannya.

Sooji benar, menjadi diri sendiri di hadapan orang lain itu bukan tindakan egois. Melainkan, tindakan yang mencerminkan sikap percaya terhadap diri sendiri. Remember, life is not about pleasing people.

Dan bermusuhan dengan masa lalu juga bukan hal yang baik. Coba lah berdamai dengan masa lalu dan kau akan menemukan diri mu siap untuk menghadapi masa depan. Takut? Jangan takut, karena kau pun akan menghadapinya bersama. Bersama, sahabat!

-END-

Advertisements

16 comments

  1. Itu bru j nama’a sahabat sejati…
    Ada d saat sedih / senang..dan slalu berusaha utk membuat qta tersenyum..
    Suka suka suka..

    Like

  2. oho! i like Vancouver and also univ. of british columbiaaaa~ *peluknara hihihii baca ini tuh kayak dream come true gitu (berasa aura western).. suka suzy n kris, juga ceritanya hehe setiap ingat kris langsung ingat kanada haha kris itu kanada sebelah mana ya, nara? baiklahh.. ditunggu cerita kriszy lainnya ya kalo bisa yang sweet sampe bikin seret (?) kekekee~

    Liked by 1 person

Escape your thoughts!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s