[FICTION] The Days We Were Happy

the-days-we-were-happy-rev-3Presented by xianara || Starring : Wu Yi Fans as Robin Hood / Darren, Bae Suzy [miss A] as Srikandi / Suez, Shaheer Syeikh, Vin Ranna, Pooja Sharma, etc. || Genre : AU, Fantasy, Little Bit Action || Length : Oneshot || Rate : PG ||

disclaimer :

The story is purely mine. Idols/Actress, Actors that used in this story belongs to their parents and agency. As an author I only borrow their name but not own them literally. This is a fiction, not a real story. If you find a similarity in reality, it’s just a coincidental.

Summary :

I said it to you in a time. A long time ago. If we met again, the first one who would recognize you first is only me.

 

~The days We Were Happy~

Seorang bocah laki-laki terlihat gusar sambil berjalan mondar mandir di depan sebuah pohon rindang. Keringat dingin pun mengucur deras dari pelipis sang bocah. Jelas sekali, bocah laki-laki itu ketakutan. Kedua tangan mungilnya saling bertautan, berusaha meredam rasa takut yang sedari tadi bersemayam di dalam dirinya.

‘Jika dia tahu, apakah aku akan dimarahinya? Oh tidak. Pasti aku akan langsung dilempar ke Sungai Gangga dan berakhir menjadi santapan ikan peliharaan Raja Khamsa..’

Bocah laki-laki itu malah bergidik ngeri sambil menggelengkan kepalanya cepat. Tak ingin monolognya itu menjadi sebuah kenyataan.

‘Seorang laki-laki tak  boleh takut. Walaupun dia lebih tua dariku, tapi dia itu kan perempuan. Aku pasti bisa mengatasinya!’

Dengan sugesti seperti itu, bocah laki-laki itu mulai mengendurkan syaraf wajahnya dan menghembuskan nafas pelan. Badai bukan harus ditunggu sampai berlalu, tetapi harus dilewati.

Langkah mantap tercetak jelas dalam derap langkah bocah lelaki tersebut meninggalkan pohon rindang di belakangnya. Saat bocah lelaki itu sudah jauh dari pohon rindang tersebut, sebuah siluet merangsek cepat. Dalam sekejap mata, siluet yang diterpa sinar matahari sore itu berubah menjadi sosok seseorang yang membawa busur di punggungnya dan menggenggam panah di tangan kanannya.

Sosok itu menatap lurus kepergian bocah laki-laki itu dengan seulas senyum tipis yang terlukis di bibirnya. Tanpa bocah laki-laki itu sadari dan ketahui, sosok tersebut melihat dan bahkan mendengar suara hatinya sedari tadi.

Saat sedang menikmati matahari sore di sisi barat Sungai Gangga di atas sebuah pohon, Srikandi dikagetkan dengan kedatangan Robin dengan tampang ketakutan sekaligus khawatir. Mengenali siapa sosok bocah itu yang ternyata ialah Robin Hood, ia memilih diam dan mengamati gerak-gerik adiknya tersebut.

Adiknya itu terlihat sangat gusar,takut, sekaligus khawatir. Srikandi mencoba mendalami pikiran Robin untuk mencari tahu apa yang membuat adiknya menjadi gusar seperti itu. Dan, bingo! Srikandi menemukan jawabannya.

Robin masih belum bisa menemukan Kitab Keluarga Ra. Sebuah kitab yang berisikan ilmu pengetahuan dan rahasia seluruh jagat raya. Di dalamnya terdapat semua jawaban atas segala hal yang kau ingin tanyakan kelak. Konon, kitab itu terdapat di Indraprasta, Kerajaan milik Pandawa, saudara sekaligus adik-adik iparnya. Namun, saat Robin mencarinya secara konvensional, nihil. Dibantu dengan bantuan Basuhdewa pun, tetap ia tak berhasil menemukannya.

Leluhur mengatakan bahwa Kitab Keluarga Ra tidak bisa ditemukan dengan cara bertapa ataupun berpuasa putih selama seratus hari sambil terus berbuat kebajikan saja, melainkan sebuah pengorbanan. Entah dalam bentuk apa pun itu, tetapi sampai sekarang belum ada satu orang pun yang mampu memboyong Kitab Keluarga Ra dari tempat persembunyiannya.

Sementara itu, Srikandi menatap ke bawah, memperhatikan Robin, adik angkatnya. Ia memejamkan kedua kelopak matanya lalu membukanya kembali sembari menarik dan menghembuskan nafas pelan. Tak dapat dipungkiri, ia sangat tak ingin kehilangan Robin di sisinya.

Flashback

Seorang penumpang gelap terlihat keluar dari kapal amunisi milik Kapten Thomas yang saat itu sedang singgah di Pelabuhan Panchala untuk memasok senjata rahasia keluaran terbaru untuk pasukan Kerajaan Panchala. Robin, bocah laki-laki yang kelihatanya lugu itu mampu menarik perhatian Srikandi saat itu. Bagaimana tidak? Srikandi dibuat terpana dengan kemampuan memanah bocah kecil itu saat melindungi dirinya dari serangan para awak kepal yang geram akan ulah Robin selama ia berada di atas Kapal.

“Kemari kau pencuri!”

“Tangkap bocah tengik itu!”

“Kalian tak akan bisa menangkapku. Walaupun kalian orang dewasa, tetapi kalian tidak bisa mengalahkanku!” ujar Robin sambil berlarian di atas dek kapal

“Bodoh! Kenapa bisa ada penyusup di kapal! Dan kalian semua baru menyadarinya?! Cepat tangkap dia!” seru Kapten Thomas geram sambil mengepalkan tanganya

“Jangan tangkap bocah itu. Berikan dia kepadaku. Berapa gulden yang perlu ku bayar untuk bisa memboyongnya?”

“Uh oh, Tuan Putri hanya perlu memberikan 500 keping. Saya rasa itu sudah cukup menggantikan kerugian bahan makanan kami.” Ujar Kapten Thomas

“Pengawal, berikan Kapten Thomas 2000 keping gulden.” Perintah Srikandi masih sambil mengamati gerak-gerik Robin Hood yang lincah di atas kapal

2000 keping gulden pun diberikan kepada Kapten Thomas. Campuran antara kaget, senang,dan takjub, Kapten Thomas menerima ribuan keeping gulden tersebut dengan mata yang berbinar-binar.

“Terima kasih banyak Tuan Putri.” Ucap Kapten Thomas sambil membungkukan badannya dengan hormat

“Hei,kalian lepaskan bocah itu! Keping gulden ini lebih berharga dari pada seonggok daging yang membawa busur dan panah itu!”

Bocah kecil itu dengan lihai memainkan busur dan anak panahnya untuk melawan para awak kapal yang badan dan kekuatannya tiga kali lebih besar dari pada dia. Kemampuan dan kecerdasan digabungkan jadi satu, Robin Hood lah hasilnya. Akhirnya, pada saat itu juga, Srikandi berinisiatif mengambil Robin dan mengangkatnya menjadi adik angkatnya.

“Selamat datang di Panchala, aku Srikandi, siapa nama mu?” tanya Srikandi

“Robin Hood”

Flashback end.

Kerajaan Indraprasta.

Robin mencari sosok Srikandi yang sedari tadi siang belum ia temui. Mereka sepakat untuk kembali bertemu di dalam kerajaan saat makan malam, Srikandi ingin pergi ke suatu tempat namun ia tidak bisa mengajak Robin. Sementara, dia pun bersikeras ingin tetap ikut Srikandi.

“Kau tidak bosan bersama ku terus menerus?” tembak Srikandi saat itu

“Tidak. Aku malah sangat senang.”

“Lebih baik kau berlatih bersama Arjuna. Kemampuanmu itu perlu diasah secara terus menerus agar menjadi lebih baik dari ke hari”

“Tetapi, Arjuna itu..”

“Aku tidak menerima bantahan atau penolakan, temui aku lagi saat makan malam bersama Pandawa.”

“Baik, Tuan Putri” jawab Robin dengan penekanan pada kata ‘Tuan Putri’

Namun, sampai saat ini Robin masih belum melihat batang hidung Srikandi.

‘haruskah aku menjemput dia di kamarnya?‘

Robin menggeleng cepat, Srikandi bukan tipe wanita yang suka bersolek sebelum makan malam. Sampai saat ia ingin melangkah, bahunya sudah ditepuk pelan oleh seseorang.

“Ruang makan ke arah sini, kau mau kemana?”

“Balkon. Untuk mencari mu” jawab Robin

Srikandi mengangkat bahu sambil menatap Robin. Bocah laki-laki bermata biru itu hanya menatap bingung ke arah Srikandi. Keduanya saling diam sambil bertatap satu sama lain. Robin tahu, Srikandi pasti sedang menerawang pikirannya. Di dalam pikirannya berkecamuk berbagai macam pikiran yang saling berdesak-desakan. Ia pun berusaha berpikir lebih jernih supaya Srikandi tidak curiga, namun di saat seperti ini, sangat susah untuk dilakukan.

Srikandi menepuk bahu Robin pelan.

“Tak usah khawatir, semua pasti akan menjadi baik-baik saja.” Ucap Srikandi

“Ku harap seperti itu..”

Meninggalkan Robin yang masih terpaku dalam diam, Srikandi sesekali memejamkan mata dan membukanya kembali. Berusaha mengusir segala gundah yang 17 hari belakangan ini diam-diam menyeruak masuk dan bersarang di hatinya. Tanpa seorang pun ketahui, Ia merasakan ‘firasat’ itu. Semakin lama semakin dekat. Tinggal menghitung mundur waktu yang telah ditentukan dan bagaikan bom waktu, itu akan meledak saat waktunya telah habis.

“Apa kakak benar tidak bisa tinggal di sini untuk satu hari lagi?” tanya Drupadi di tengah acara makan malam yang dihadiri Pandawa, Srikandi, dan Robin.

“Dilarang berbicara saat makan, adik ku”

“Atau kau akan ter,sdh uhuk uhuk” sambung Bima namun naas, di saat itu juga ia tersedak.

“Itu contohnya, Ratu Drupadi” jawab Robin

Drupadi memberikan segelas air kepada Bima yang berada tepat di sebelahnya.

“Astaga, tuan ku,ini minumlah”

Bima pun menerima gelas air itu lalu menegak habis isinya.

“Ah, terima kasih Panchali”

Suasana makan menjadi hening kembali. Entah apa yang ada di pikiran mereka. Karena mereka semua pun telah menutup jalan pikiran mereka sendiri agar tak seorang pun dapat mengetahuinya. Keadaan berbanding terbalik dengan Srikandi. Dia membiarkan pikirannya menajdi transparan sehingga semua orang bisa mengerti, ah tidak maksudnya, bisa menerima. Terkadang kita mencoba untuk mengerti ssesuatu tetapi tidak semua hal bisa untuk dimengerti, lebih baik mencoba menerimanya saja..

Srikandi dan Robin Hood berjalan menyusuri jalan setapak di tengah hutan menuju Panchala. Sambil berceloteh ria keduanya terlihat sangat menikmati waktu yang berjalan di sekitar mereka, sambil terus mengawasi keadaan sekitar. Takut, kalau ada musuh menyerang.

Drupadi dan Pandawa tak dapat menahan Srikandi untuk tetap tinggal di Indraprasta. Tanpa maksud ingin menghina keinginan sang kakak, Drupadi pun akhirnya membiarkan keputusan Srikandi untuk pergi kembali menuju Panchala bersama Robin. Begitu juga dengan Srikandi. Dalam hati, ia merasa kurang nyaman karena harus terus-terusan berada di Indraprasta selama hampir 18 hari di sana pasca Perang Bharatayuda, sementara ia merupakan panglima perang di Panchala. Tatkala, ia pun harus selalu siap siaga di Panchala dalam keadaan apapun. Hal itu semua juga tak lepas dari tanggung jawab Srikandi atas tanah kelahirannya.

Di tengah malam yang saat itu cukup cerah. Bintang-bintang melahap habis kelamnya langit dengan cahanyanya yang temaram diimbangi dengan pancaran bulan sabit di tengah-tengahnya. Sungguh sempurna.

“Robin, kau tak rindu kampung halaman mu?” tanya Srikandi di sela-sela celotehan mereka.

“Tidak” Robin menjawab singkat pertanyaan Srikandi dengan senyum tipis yang misterius

“Baik. Aku tak akan bertanya lagi”

“Aku sedang berada di samping mu kak. Mana mungkin aku merindukannya. Bagi ku, Indraprasta, Panchala, semua daerah Arya adalah kampung halaman ku. Termasuk kau, kak Srikandi.”

Srikandi ingin sekali memeluk Robin saat itu juga. Namun bocah lelaki itu telah terdahulu memeluk Srikandi. Walaupun Robin sedikit lebih muda beberapa tahun tetapi tak dapat dipungkiri tinggi bocah lelaki itu yang memang memiliki perawakan lebih tinggi daripada Srikandi, membawa gadis itu kedalam pelukannya dan menyandarkannya di dada bidangnya.

“Kak, kau tau kan kalau kau adalah satu-satunya keluarga ku?:”

“Iya”

“Dan selamanya, kau tetap menjadi keluarga ku.”

“Walaupun aku sudah tiada aku tetap kakak mu”

Robin malah semakin mengeratkan pelukannya terhadap Srikandi. Seolah tak ingin ada satupun orang yang boleh mengambil Srikandi dari rengkuhannya. Begitu pula Srikandi, yang tidak memberikan penolakan atas perlakuan Robin.

Waktu saat itu seperti terhenti. Detik demi detik dibungkam oleh kesunyian tak bertuan namun memancarkan sebuah kasih dan sayang yang tak kasat mata di sekitar mereka. Keduanya, baik Robin dan Srikandi membunuh sang Waktu. Tak ingin rasanya mereka beranjak dari keintiman kakak-beradik yang menjadi tali penyambung mereka selama ini. Walaupun, ada satu sisi di mana mereka menuntut untuk melepas tali penyambung tersebut dan kembali mengutasnya dengan sebuah tali baru bernama, Cinta.

Terlalu menikmati moment diantara mereka, jelas, kewaspadaan diri mereka menjadi mengendur. Tanpa mereka sadari terdapat beberapa pasang mata yang mengintai mereka. Perhatian para pemilik pasang mata tersebut juga dialihkan oleh moment Srikandi – Robin. Namun, tidak bagi satu pasang mata yang jelas memancarkan kilat amarah dan kebencian yang kuat. Memanfaatkan kesempatan yang ada, dia pun menarik pelatuk senjata yang diarahkan tepat kepada Srikandi. Saat hitungan ketiga tepat pelatuk akan dilepas, Robin mengurai pelukannya terhadap Srikandi. Menggandeng tanganya dan kembali berjalan menapaki hutan dan menjauh dari kumpulan pasang mata yang mengincar mereka di belakang.

‘Sial! Kita kehilangan peluang emas!’

Setelah menapaki hutan dalam kurun waktu tiga jam, Srikandi dan Robin memutuskan untuk beristirahat di sebuah goa yang di dekatnya terdapat sebuah sungai mata air. Kembali keheningan menyeruak di antara mereka. Srikandi dengan posisi duduk membelakangi Robin sambil merendamkan kedua kakinya di sungai mata air itu sementara Robin yang berada di belakangnya mengelap busur dan panahnya dengan kain yang sudah dicelup kedalam air sebelumnya dalam diam. Tak ada satupun dari mereka yang ingin memulai pembicaraan hingga akhirnya Robin berinisiatif menyuruh Srikandi untuk istirahat.

“Kak ada baiknya kau istirahat. Biar aku yang akan menjagamu. Kau tak usah khawatir” pesan Robin kepada Srikandi

“Aku tidak bisa tidur”

“Kenapa? Sedang memikirkan sesuatu?”

Srikandi menggelengkan kepalanya pelan. “Tidak”

“Lalu?” Robin kebingungan

“Sudah kau jangan terlalu banyak bertanya kenapa, lalu, ini, itu – “

Robin yang merasa terpancing karena jawaban dari Srikandi yang terkesan meremehkan dirinya, maju mendekati Srikandi dan beralih untuk duduk di sampingnya. Mengikutinya mencelupkan kedua kakinya ke dalam air sungai yang dingin.

“Memangnya tidak boleh?” desak Robin

Srikandi tertawa dalam suku kata mendengar desakan tak terima Robin. Ia pun menoleh ke arah Robin.

“Ha ha ha. Kau sadar atau tidak, kalau kau ini cerewet. Sekali”

“Cerewet itu banyak bicara. Apa aku terlalu banyak bicara? Tidak” balas Robin tak terima lalu melayangpandangkan kedua matanya dari Srikandi dan berpura-pura marah.

“Dan sekarang kau sedang memainkan drama, adegan marah. Kau pernah bermain drama ya di Britania dulu?”

Robin menyerah. Ia tak bisa membalas setiap rentetan kata yang meluncur deras dari mulut Srikandi. Ia terlalu lemah dalam hal berdebat dengan Srikandi. Ia lelaki yang lemah, menurutnya, di mata Srikandi.

Sedangkan Srikandi hanya tersenyum geli melihat mimic wajah Robin yang jelas menahan amarah itu. Ia pasti akan merindukan wajah menyebalkan itu. Bibir tipis yang mengerucut itu. Perlakuan manis dan perlindungan terhadapnya. Ia pasti akan melewatkan kelakaran dan guyonan garing Robin dalam waktu yang lama. Merindukan setiap ukiran senyum yang ditujukan untuknya. Ia pasti akan merindukan segala hal yang ada pada Robin.

“Robin, jika aku pergi menghadap Yang Maha Kuasa, kau harus kembali ke Britania.” pesan Srikandi kepada Robin yang saat itu sedang menatap bulan yang mengalung di atas awan.

“Itu tidak mungkin” Robin menjawab cepat

“Itu mungkin. Tidak ada hal yang tidak mungkin di dunia ini – “

 “ – dan berhentilah berbicara mengenai kepergianmu menuju Yang Maha Kuasa” potong Robin, memotong ucapan Srikandi.

“Kenapa? Toh, semua makhluk hidup diciptakan untuk kembali mengahadapNya. Kita terlahir untuk mati kan? Apa aku salah?”

“Mudah sekali kau membicarakan kematian.”

“Aku tidak takut mati, Robin. Kematian itu sudah menjadi teman bagiku sejak kecil.”

Perbincangan pun terhenti. Keduanya mencoba untuk mendinginkan pikiran dan hatinya masing-masing. Lalu, dengan sekali tarikan nafas, Srikandi menoleh ke arah Robin, lalu menggenggam kedua tanganya.

“Kau percaya takdir Robin?”

Mendapat perlakuan seperti itu Robin pun membalas menguatkan genggamanya. Lalu ia pun menganggukan kepalanya tanda ia percaya terhadap takdir.

“Akupun begitu memercayai takdir, hingga sampai pada taraf mengimani takdir. Aku percaya bahwa setiap hal yang terjadi baik di masa sekarang, masa depan, atau masa lalu, adalah alasan kenapa kita bisa bertemu. Takdir yang mempertemukan kita. Takdir juga yang akan memisahkan kita. Jadi, aku mohon, saat aku tiada, jangan salahkan takdir. Cukup doakan saja agar aku bisa bahagia di nirwana tanpa kehadiranmu di sampingku. Aku, Srikandi, Putri Drupada, sangat bahagia sekali bisa mempunyai Adik sepertimu, Robin Hood.”

Srikandi tak dapat menahan air mata yang berlinang di kedua matanya. Ia biarkan air matanya turun melewati pipinya. Ia biarkan dirinya terisak di depan Robin. Lelaki itu langsung membawa Srikandi ke dalam dekapannya. Ia mengeratkan pelukannya kepada Srikandi. Ia pun membenamkan wajahnya di samping tengkuk gadis itu.

“Sang Pencipta pasti akan mempertemukan kita kembali. Di waktu yang berbeda, dimensi yang berbeda. Aku percaya takdir kak. Kelak kita akan bisa menyatu dalam sebuah ikatan. Ada kalanya cinta tidak mesti bersatu. Namun rasa cinta kasih dan sayangku padamu akan terus ada dan menguatkanku.”

Srikandi menyimak baik-baik perkataan Robin barusan. Ia pun menangguk mengerti. Tetapi.. ada sepasang mata yang menyaksikan kejadian roman diantara mereka berdua lalu ia mendecakan lidahnya. Di satu sisi, ia berhasil tidak dirasakan kehadirannya baik oleh Srikandi atau Robin. Kembali, memanfaatkan kesempatan yang ada yang sebelumnya ia lewatkan begitu saja, kali ini ia telah menarik pelatuk dari senjata api yang berada di genggamannya.

“Aku berjanji Kak Srikandi, kelak di masa depan jika kita ditakdirkan untuk bertemu lagi orang yang pertama kali akan mengenalimu adalah aku. Ingat itu baik-baik” pesan Robin kepada Srikandi diakhiri dengan mendaratkan sebuah kecupan hangat di kening Srikandi.

Srikandi dan Robin terbuai dalam moment dimana mereka tidak merasakan ada bahaya yang mendekat. Bahkan angin yang berusaha memberitahu Srikandi dihiraukannya. Tak ayal, sang pemilik sepasang mata tersebut memicingkan matanya untuk mengunci focus yang dibidiknya. Setelah berhasil membidikan fokusnya, pelatuk yang telah ditarik dilepaskan dari sarangnya. Dalam sekejap mata, senjata api tersebut meluncurkan pelurunya tepat menuju kearah salah satu dari mereka.

“DORRRRRRRRR!!”

Suara tembakan terdengar menggema di dalam hutan. Membuat burung-burung yang bersarang di atas pohon berterbangan ke berbagai arah. Para penghuni hutan terbangun dari tidurnya. Hewan-hewan nocturnal seperti burung hantu justru terlihat menikmati bunyi letusan tersebut. Si penembak berhasil melepaskan pelurunya. Akhirnya peluru itu pun menghujam perut bagian kiri Srikandi. Timah panas pun bersarang di dalamnya. Membuat Srikandi merintih kesakitan sambil meracau nama-nama dari orang yang disayanginya sehingga ia merapatkan kedua matanya.

“Tidak!! Srikandi!!! Tuan Putri! Kumohon sadarlah!”

Robin pun memeluk Srikandi, melepaskannya dan mulai mengguncang-guncang tubuhnya pelan. Ia dilanda rasa ketakutan hebat yang menjalar di sekujur tubuhnya. Sementara itu cairan kental berwarna merah pekat merembes di sekitar perut Srikandi dan ia pun jadi tak sadarkan diri.

Robin yang saat itu sedang kalap pun baru menyadari kalau sedari tadi  mereka berdua telah diikuti oleh para penguntit yang siap kapan saja untuk menghabisinya. Selanjutnya ia pun menarik busur dan anak panahnya setelah sebelumnya berdoa kepada Sang Maha Kuasa agar orang yang telah melukai Srikandi jiwanya terbakar di neraka jahanam. Robin mengarahkan busur beserta anak panahnya menghadap langit dan bulan sabit. Tepat setelah itu ia melepaskan anak panahnya dan anak panah tersebut melesat ke angkasa lalu ajaibnya anak panah tersebut menjadi banyak. Disertai kilatan api biru di angkasa serbuan anak panah tersebut menghujam sekujur tubuh para penguntit yang bersembunyi di balik semak-semak. Mereka pun meninggal di tempat saat itu juga.

“Nyawa kalian pun tak pantas membayar nyawa Srikandi! Penjahat busuk!!!!!”

Kelalaian mereka ialah mengendurkan proteksi diri. Walaupun dalam Barathayuda mereka meraih sebuah kemenangan atas kebenaran dan berhasil memusnahkan Dinasti Kuru, tak berarti para anteknya menyerahkan diri secara sukarela ke Pandawa. Mereka yang berhasil selamat dari perang kebenaran tersebut pun membentuk union untuk membalaskan dendam mereka. Srikandi lah yang menajdi sasaran pertama dalam operasi mereka.

Robin pun kembali menghampiri Srikandi dalam derap langkah goyah. Ia sekali lagi membangunkan Srikandi. Sadar bahwa usahanya tak membuahi hasil. Robin pun menggendong Srikandi. Tepat saat ia akan mengangkat tubuhnya, Srikandi siuman.

“Robin… A-aku…” Srikandi berujar sembari mengusap pipi tirus Robin. Kentara sekali ia bersusah payah menahan nyeri yang menggerogoti sekitaran perut sampai sekujur tubuhnya. Keringat dingin pun membajiri pelipis Srikandi.

“Ssstt…. Jangan terlalu banyak bicara dan bergerak. Lukamu”

Srikandi tak bergeming. Ia sudah pasrah bila Sang Kuasa memang menakdirkan dirinya harus kembali ke pangkuanNya. Toh, memang takdir dirinya sudah seperti itu.

“Kumohon, penuhilah permintaan terakhirku. Kembalilah ke Britania..”

Robin mengeleng kuat. Ia pun mengusap pipi Srikandi yang pucat sekali itu.

“Tidak akan.. Aku tidak bisa meninggalkanmu. Kau tahu itu kan!”

“Robin, aku sekarat. Aku, aku pasti akan mati. Ku mohon. Pergilah, kembalilah ke Britania, kepada Paman dan Bibimu”

Srikandi pun menurunkan tanganya dari pipi Robin. Ia menatap bulan sabit di langit dan bintang-bintang yang dengan setia menemani. Lalu ia tersenyum lemah kepada Robin. Sesudahnya ia pun merintih kesakitan. Tahu bahwa waktunya di dunia hampir mendekati batas.

“Srikandii!” pekik Robin tertahan

“Aku pergi. Terima kasih. Aku menyayangimu. Mencintaimu. Robin Hood..”

Srikandi pun menghembuskan nafas terakhirnya. Diikuti teriakan Robin yang menggema di hutan dan diakhiri dengan tangisan tertahan yang  amat memilukan hati siapa saja yang mendengarnya. Robin menelusuri wajah damai Srikandi dengan telunjuk dan ibu jarinya. Menekuri garis wajahnya untuk yang terakhir  kali, bagi Robin. Lalu ia pun menutup kedua mata Srikandi dan mengecup dahinya, kedua matanya, hidungnya, kedua pipi pucatnya, dagunya, dan, bibirnya pelan kelewat sangat pelan. Seakan-akan bibir itu sangat rapuh dan mudah pecah.

Robin pun mengadahkan kepalanya ke langit. Ia menyimpan visualisasi langit saat itu. Menyimpannya di dalam memorinya.

“Aku pun menyayangimu. Dan sangat mencintaimu. Srikandi.”

London, Februari 2014

Meskipun bulan Februari sudah masuk siklus musim semi di Britania, tapi nyatanya udara dingin masih saja menyelimuti kota London saat itu. Kebanyakan penduduknya masih mengenakan mantel atau shawl untuk mengahalau udara dingin yang menyergap. Coffee shop di pinggiran kota London pun tak pernah sepi dari serbuan para pengunjungnya. Kebanyakan dari mereka memilih coffee shop sebagai tempat menghangatkan diri dan bersantai atau sekedar duduk-duduk dan menikmati pemandangan hiruk pikuk kota London di sore menjelang malam hari.

Persis sekali seperti yang dilakukan oleh seorang eksekutif muda yang sedang menyesap arabika coffee dari cangkirnya. Sesekali ia mengecek arloji yang melingkar di tangan kirinya. Setelah itu ia pun membuang pandangan keluar jendela coffee shop dan memandangi warga London yang berlalu lalang di jalanan kota London saat itu.

Setelah menandaskan secangkir kopi arabika dan tidak menghabiskan sepotong croissant di pinggan, esmud tersebut pun meninggalkan selembar uang pecahan poundsterling yang tertera di bill di atas mejanya dan beranjak pergi dari kursinya. Sebelum ia pergi meninggalkan coffee shopnya tak jarang sang pemilik coffee shop memberikan senyum kepadanya, tak heran sih. Si esmud ini ternyata pelanggan tetap coffee shop tersebut.

Setelah berjalan tanpa arah si esmud ini sampai di sebuah taman yang tidak terlalu ramai. Mungkin dikarenakan langit sudah berubah warna dan udara dingin mereka akan berpikir dua kali untuk duduk di ruangan terbuka seperti itu. Setelah menemukan bangku kosong, ia menghempaskan bokongnya lalu merogoh sakunya untuk mengambil ponselnya. Ia mendapati email dari Shaheer dan Vin, rekan kerjanya yang berasal dari India. Mereka berdua mengirimi sebuah sales report dan design promo perusahaanya. Di akhir email tersebut mereka berdua kompakan sekali meminta izin untuk off sehari untuk menghadiri Festival Warna di Konsulat India lusa. Tentu saja ia tak bisa tak memberikan izin tersebut kepada mereka.

Matanya pun melebar membaca sebaris kalimat di akhir paragraf email dari Vin. Lalu ia pun hanya menggelengkan kepalanya pelan sambil tersenyum.

Kawan, bagaimana kalau kau off juga? Ayo rayakan Festival Warna bersama kami. Dijamin seru! Hehe!

Darren – si esmud – kini sudah berada di halaman Kantor Konsulat India. Ia menyetujui ajakan Vin untuk mengikuti festival warna. Sesampainya di sana ternyata ia tak hanya menemukan warga India yang menetap di London tetapi ada juga beberapa warga London, Indonesia, China, bahkan Korea yang ikut memeriahkan festival ini. Festival Warna pun secara resmi dibuka oleh Dubes India untuk Inggris di siang hari. Setelah melaksanakan ritual khusus persembahan kepada dewa dan dewi mereka, acara inti pun dimulai. Mereka akan saling melempar bubuk warna warni. Mereka yang mengikuti festival ini wajib mengenakan pakaian berwarna putih. Darren tak bisa mengelak bahwa festival ini sangat menyenangkan. Ia dan Shaheer beserta Vin menjadi semakin dekat satu sama lain. Mereka tertawa bersama mendapati kondisi mereka yang penuh dengan corak bubuk warna. Music khas India yang menghentak seperti suntikan bagi para mereka yang  sangat menikmati festival ini meskipun mereka melaksanakannya di tanah orang. Menari dan bernyanyi disertai dengan senyuman tanda luapan kebahagian pun menjadi poin penting perayaan ini.

Tak peduli dengan hawa dingin yang menusuk, acara dilanjutkan hingga malam hari. Di malam hari mereka disuguhkan makanan khas India yang identic dengan bumbu rempah yang kuat di setiap masakannya. Sementara itu Darren, Shaheer, dan Vin menikmati makan malam bersama keluarga mereka masing-masing. Darren pun tak merasa sungkan ketika diajak untuk makan bersama keluarga Shaheer dan Vin. Karena sebelumnya Darren, Vin, dan Shaheer merupakan teman satu kampus di Oxford. Jadi mereka pun sudah menganggap seperti saudara sendiri satu sama lain.

“Aku tak menyesal off hari ini, terima kasih kawan!” ucap Darren berterima kasih kepada kedua sahabatnya ini.

“My pleasure bro. It’s very good to see you seems relax and often show a smile all day long.” Jawab Vin

“That’s what’s friends are supposed to do.”

“Thanks a lot brothers!”

Darren pun pamit undur diri dari sana dan memeilih menepi ke taman yang masih berada di area kantor konsulat. Taman itu cukup luas dilengkapi dnegan air mancur di tengahnya dan penerangan yang tidak terlalu terang dan tidak terlalu gelap. Darren memilih bangku kosong di dekat sebuah pohon ek yang cukup rindang karena dedaunan yang sudah memenuhi sebagian ranting. Ia pun duduk di sana dan memandang ke langit malam yang dihiasi bintang-bintang dan bulan sabit dengan cahayanya yang terpancar hingga bias ke dalam kedua matanya.

Ia merasa sangat familiar dengan visualisasi seperti ini. Setiap kali bulan sabit muncul dengan bintang-bintang dari berbagai galaksi mengitarinya, ia merasa pernah berada di dalam suatu moment itu tapi ia juga tidak tahu mengenai konteks apa. Tiba-tiba terdengar bunyi kresek dari atas pohon. Menghentikan Darren yang sedang melamun dan melihat ke arah pohon di belakangnya. Ia bukan penakut kok.

Darren pun bangun dari kursinya lalu mendekati pohon yang ada di belakangnya. Ia berdiri tepat dibawah pohon itu dan tiba-tiba sesosok manusia terjatuh dari atas pohon itu. Dengan cepat Darren menangkapnya.

HAP!

Darren mengamati seorang gadis yang berada di dalam dekapanya. Kulit seputih susu dengan rambut hitam legam yang menjuntai kebawah. Setelah beberapa detik telrewatkan sang gadis pun membuka kedua matanya yang tertutup sebelumnya. Kedua bola mata hazel berwarna cokelat muda menyapa Darren. BLAM!

Darren kembali merasa familiar dengan kedua bola mata itu. Darren pun mendongakan kepalanya ke atas memastikan bulan sabit dan koloni bintang yang bersinar masih berada di tempatnya. Lalu ia menurunkan pandangannya kepada gadis yang ada di dekapannya.

“Srikandi?”

Suara lelaki itu terdengar sangat pelan. Ia pun merasa semua keanehan yang melanda dirinya kini terjawab sudah oleh gadis yang di hadapannya.

Sementara itu, sang gadis merasa tercekat.

“Bagaimana kau bisa tahu nama ku? Apa kita pernah bertemu sebelumnya?”

Darren pun menurunkan gadis di dekapannya degan hati-hati. Ia pun menjawab pertanyaan gadis yang diketahui bernama Srikandi itu dengan gelengan.

“Hi, I’m Darren. Darren Robinson Hood”

“Ah hello. I’m, I’m Suez.. but Srikandi is my Hindi’s name. How would you know?” tanya Suez kebingungan.

Darren sendiri pun merasa kesadarannya hilang dibawa kemana. Ia tak sadar dengan jawaban yang ia paprkan kepada gadis yang baru beberapa menit ia temui ini.

“I said it to you in a time. A long time ago. If we met again, the first one who would recognize you first is only me”

Suez tak mengerti maksud dari perkataan Darre barusan. Sementara itu Darren membuang pandang ke arah bulan sabit yang menggantung di langit yang gelap kontras sekali dengan cahayanya yang membuatnya lebih mencolok dibanding koloni bintang di sekitarnya.

“Thus time, the days we were happy…..”

FIN.

MIND TO LEAVE REVIEW? 😉 thanks!

p.s.: been posted in fanficofmissasuzy too 🙂

Advertisements

6 comments

  1. Yeah, ini kerennn sumpah
    Ini berasa keliling dunia (?) Gegara tokohnya dari macem2 negara, meskipun aku g ngerti cerita mahabrata kyk apa tapi tetep enjoy bacanya
    Dan plusssnya getaran gu family book disini ituloh yg bikin gimana gituuuuu lol
    Oke, sebenernya aku g ngerti ngomong apa eh maksudnya nulis komen apa, yg pasti ff ini keren XD

    Like

    1. miss!!!!aduh kamu bisa aja T_T makasih banget atas reviewnya 😀
      padahal msh buanyak bgt spot yg menurutku masih kuranggg gitu, but after reading ur comments that always completely made me smile like crazy, ahhhh i feel something that ‘oh ini toh rasanya karya kita diapresiasi’ 😀 thanks a lot missss!! #CHU

      yeah! gfb-feels nya aku taro di cerita ini!haha, ga kreatip amat emg aku nih smpe harus ngambil moment gfb, tapi yah hasilnya greget bgt kan(?) ahaha

      ehehe, terima kasih, xiexie, gracias, merci, arigatou miss 😀

      Like

Escape your thoughts!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s