Things You Can Forget

Things-you-cant-forget

Things You Can Forget

Presented by @xianara || Bae Suzy [miss A], Choi Minho [SHINee], and others || AU, Life, Fluff  || 2000 words ++  || General

 

Disclaimer :

Beside the story and the poster I own nothing. Please don’t leave any bashful comments. Plagiarism is forbidden!  This is a fiction, not a real story. If you find a similarity in reality, it’s just a coincidence.

Summary:

Kalau hari ini kamu dibuat merasa kecewa oleh orang lain itu tandanya kamu juga sudah mengecewakan orang lain, kemarin.

Things You Can Forget

 

Suzy merasa harinya selalu dipenuhi kesialan. Tak ada satupun hal yang sekiranya mampu membuat seorang Suzy menyunggingkan senyum barang sedikit. Berlebihan? Sedikit sih, tapi cukup masuk akal kok. Pasalnya, gadis berambut sebahu itu membenarkan kalau hari rabu masuk ke dalam daftar hari yang ingin ia loncati dalam seminggu. Alias, hari rabu adalah hari terburuk dari yang paling terburuk. Dalam hari itu, ia selalu saja ditimpa kemalangan.

Pada hari Rabu di bulan Desember menjelang natal, ia dilimpahi tugas presentasi secara sepihak oleh Dosen Pengantar Linguistik Umumnya untuk menggantikan temannya yang mangkir. Padahal, ia sudah mempresentasikan bagian fonetik dan fonemik sendirian. Ya, sendirian. Walaupun tugasnya dibagi jatah perkelompok, tetapi yang aktif dikelompoknya hanya dia. Suzy yang malang. Sedangkan, teman sekelompoknya, lelaki yang lebih tinggi 0,9 mm dari Justin Bieber tapi sepantaran dengan Ryeowook SUPER JUNIOR a.k.a. Si Junmyeon, itu lebih pasif. Lelaki itu malah menyodorkan alibi yang mampu membuat Suzy ingin terjun ke Sungai Han sesaat setelah mendengarnya.

“Maaf ya kalau aku menyusahkanmu alias demam panggung. Tapi, ini baru pertama kali aku presentasi. Di SMA aku tidak melakukannya.”

Astaga! Dia bersekolah di belahan dunia sebelah mana sih? Masa tidak pernah presentasi. Bahkan, sekolah-sekolah kumuh di daerah Tibet dekat Pegununggan Himalaya saja, anak-anaknya bisa berbicara tanpa gugup didepan turis asing yang berwisata. Itu yang Suzy tonton saat ia tak sengaja memindahkan channel ke BBC Korea.

Kembali ke saat ia merasa jadi mahasiswi semester jagung yang cukup miris nasibnya. Mau tak mau, (memang ia bisa menolak titah seorang Maha Dosen?) ia menerima titahan Dosen yang merangkap KAPRODI Sastra  tersebut. Lenyap sudah rencana menikmati liburan natal dan tahun baru dengan menonton Gayeo Daejun di beberapa stasiun televisi nasional korea bersama Jiyeon. Semua itu harus disubstitusikan dengan menelaah setumpuk jurnal usang yang hampir punah di perpustakaan kampusnya. Hah, nasib-nasib. But, it will be alright, nasib masih bisa diubah. Kecuali, sebuah takdir yang mustahil untuk diintervensi.

# # #

Sepertinya pepatah habis jatuh tertimpa tangga itu tengah menimpa Suzy. Kala itu tanpa sadar, dia menginjak kulit pisang yang dibuang sembarangan oleh oknum yang punya nenek moyang seperti yang dituturkan Charles Darwin itu. Sudah tahu kan apa kejadian selanjutnya? Yup, dia terpeleset dan terjatuh.

Buk!

Bunyi hempasan bokong Suzy dengan tanah yang beralaskan sedikit salju itu terdengar cukup nyaring. Lalu, entah dari mana sebuah mainan milik seorang anak kecil yang anehnya tiba-tiba mendarat diatas dahi gadis itu cukup keras. Yakni, sebuah miniature tangga berwarna jeruk lemon. Dan membuat Suzy memekik kegirangan. Eh revisi. Maksudnya, Suzy memekik kesakitan. Habis jatuh tertimpa tangga, secara harfiah.

Untung suasana di taman – tempat kejadian perkara – itu sedang sepi (eh, sudah terjatuh masih bilang untung? Dasar manusia..) dan Minho yang kebetulan sedang bersamanya langsung membantu Suzy untuk berdiri. Si ibu dari anak kecil yang rupanya tak sengaja melempar mainannya itu segera meminta maaf kepada Suzy karena mainannya telah mencium dahinya tanpa izin.

“Aww, Minho, sakit sekali…” rintih Suzy tiba-tiba sambil memijit bagian pahanya yang terbalut jeans dengan bahan yang cukup tebal.

“Kenapa? Kakimu terkilir? Kubawa ke klinik ya?”

“Bukan.”

“Lalu? Tunggu.” Minho memindahkan telapak tangannya ke atas dahi Suzy, mengecek apakah suhu tubuh teman sekelasnya itu tinggi. Ayolah, apa korelasi kepeleset kulit pisang dengan suhu tubuh, Minho?

“Normal. Ah, jangan-jangan kau mengalami pendarahan dalam?!” simpul Minho dengan mata yang terbelalak.

“Err, kau hiperbolis. Sejak kapan kepeleset kulit pisang dan tertimpa mainan anak-anak bisa berkahir seperti itu.” Protes Suzy masih sambil memijit pangkal pahanya. “Aduh, sakitnya.”

“Lalu apa yang sakit?”

“Sakitnya tuh disini.” Akhirnya, Suzy menunjuk pada bokongnya yang tadi mendarat duluan. “Nyeri dan agak nyut-nyutan. Terus, aku juga tidak kuat untuk berjalan lagi. Tolong gendong aku.”

Ingin rasanya Minho melakukan adegan gigit jari mendengar alasan Suzy yang terlalu blak-blakan itu. Namun, pada akhirnya ia tetap menggendong Suzy. Dengan gaya seorang kuli memanggul karung di punggungnya. Fix, sehabis menggendong Suzy, pria berkulit sawo matang itu pasti akan meminum pil flu tulang milik Ayahnya.

# # #

Sehari menjelang akhir pekan merupakan periode dimana semua orang merasa gembira bukan main. Sama halnya dengan Suzy. Beruntung, kampus tempatnya mengais ilmu itu memberlakukan sistem perkulilahan dari hari Senin sampai Kamis. Otomatis, akhir pekan yang ia dapat, lebih banyak satu hari dari pada milik para pekerja kantoran.

Akhir pekan, Suzy jarang dikecewakan. Lho? Memangnya pada hari-hari biasa ia dikecewakan? Bagaimana bisa? Oleh siapa? Karena apa? Lalu? Tunggu, haruskah aku menjawab pertanyaan itu semua?

Dia selalu marah pada setiap ketidakberuntungan yang menimpanya. Entah itu di rumah, di jalan, ataupun di kampus. Di rumah dia tidak bisa bebas menonton Running Man. Kau, bisakah kau tanpa tertawa terbahak-bahak melihat  wajah (maaf) abstrak Haha saat ia menjulingkan matanya yang menghiasi layar televisimu? Atau, hanya menatap datar tanpa ekpresi terhadap aksi konyol nan memalukan Lee Kwangsoo?

Suzy harus membekap mulutnya keras supaya ia tidak mengundang sang ibu ke kamarnya dengan membawa tutup panci. Mengancam akan membuat Suzy berhenti tertawa selamanya. Astaga, sadis sekali bukan?

Kemudian, di kampus. Suzy selalu terjebak ke dalam lubang bersama satuan makhluk yang tidak keren. Maksudnya, Suzy kerap dipasangkan dengan orang-orang yang kurang kompeten dalam mengerjakan tugas dengan asas kebersamaan. Kasus Junmyeon bisa jadi bukti hidupnya. Di jalan, ia sering disangka orang lain yang parasnya mirip dengan anak perempuan teman dari teman saudaranya, teman SMP di Alaska (ini lebih tidak masuk akal. Seumur hidup, Suzy tidak pernah menginjakan kaki barang sejengkal pun diluar Korea), bahkan instruktur senam zumba di daerah Apgujeong.

“Apa kau Cheol Soo? Putri dari Yeong Soo? Teman dari Byul Hwa saudaranya Gaeun?” tanya seorang wanita paruh baya yang wajahnya dibanjiri peluh yang bercucuran. Saat itu Suzy sedang naik gunung bersama Minho dua bulan lalu.

Tentu saja langsung dijawab tidak dengan tegas oleh Suzy. Walaupun si Ibu yang lebih pantas menyandang status sebagai neneknya itu bersikeras menganggap ia Cheol Soo putri dari si A teman dari si B saudaranya si C. “Bukan. Saya Bae SUZY.”

Ketika Suzy mengeluh akan absurdnya hidup yang ia jalani, Minho pasti dengan sabar menguatkan Suzy agar berhenti mengeluh. Toh, mengeluh apalagi menggerutu itu tidak merubah keadaan kan? Agak berlebihan memang. Suzy tidak bisa menerima semua itu dengan pikiran yang matang. Makanya ia mudah kecewa terlebih kepada dirinya sendiri. Ketidakberuntungan, kesialan, ataupun kebetulan yang merugikan dirinya secara sepihak sering membuat Suzy jadi depresi.

“Kenapa ya aku sering merasa kecewa? Terlebih kepada diriku sendiri. Padahal aku sudah melakukan semua pekerjaan dengan maksimal melebihi batasku. Yah, kuakui aku ini termasuk tipe gadis yang kurang cakap dalam mengerjakan sesuatu.” Keluh Suzy saat ia dan Minho sedang bersantai di ruang jurnalistik yang kebetulan kosong di gedung fakultasnya.

“Kenapa? Kenapa setiap orang selalu bertanya dengan ‘KENAPA’?” Minho justru balik bertanya. Sontak, membuat Suzy jadi menegakan duduknya.

“Kenapa kau malah balik bertanya?”

“Tuh kan. Kau bertanya dengan ‘KENAPA’ lagi.” Tukas Minho cepat.

“Eyyyy. Kau ini sedang membuat lelucon ya? Tidak lucu tahu.” Suzy berkata dengan sebal. Tak lupa ia melempari Minho dengan notes kecil berisi diktat pentingnya itu.

Pluk!

Timpukannya tepat kena sasaran di dahi lebar Minho. “Hahaha. Kalau kau bertanya kenapa kau sering merasa kecewa kepada dirimu sendiri, harusnya kau tahu jawabannya ada di dalam dirimu sendiri. Kenapa tanya aku?”

“Kau barusan bertanya ‘KENAPA’ juga Minho.” balas Suzy polos.

Senjata makan tuan. Minho dibuat terhenyak oleh respon temannya itu yang kelewat polos. Akan tetapi seulas senyum malah terkembang di bibir pria penyuka makanan miskin orang Italia itu. Lalu dia pun menghampiri Suzy yang jarak duduknya kurang lebih dua meter darinya.

“Kau ini polos sekali sih.” Ucap Minho seraya mengacak surai Suzy sehingga membuat beberapa helainya agak kusut. “Kalau hari ini kamu dibuat merasa kecewa itu tandanya kamu juga sudah mengecewakan orang lain, kemarin.”

Suzy membulatkan matanya. Perasaanya seperti dikelitik oleh deretan frasa yang barusan Minho ucap. Lalu, dia pun menggaruk kulit kepalanya yang sama sekali tak gatal. “Eh, aku-aku juga merasa begitu.”

“Aku sering membuat Ibu naik darah acap kali aku berbuat sesuatu yang kusuka, tapi justru itu sangat dibencinya. Aku juga kurang fokus dalam mengerjakan sesuatu dan cenderung selalu menyerah sebelum mengangkat senjata. Kau tau kan maksudnya? Terus, aku selalu membuat kecewa banyak orang terdekatku. Apalagi kau Minho. Merepotkanmu lahir batin yang berakhir membuatmu sering kesal ya.”

“Kalau sudah seperti itu tak baik menyalahkan diri sendiri. Aku tahu dosamu itu menggunung oleh karena itu senantiasa lah intropeksi diri. Oke?” Minho berkata dengan nada prihatin sembari mengusap pelan punggung Suzy.

Gendang telinga gadis itu serasa disengat lebah tatkala menangkap klausa yang menohok harga dirinya. Langsung saja Suzy menepis tangan lelaki itu yang singgah di punggungnya. Dan menghadiahi Minho dengan tatapan yang mampu menghaluskan buah pisang menjadi smoothies.

Sembarangan saja kalau berbicara. Dia pribadi memang mengakui bahwa dosanya itu tak bisa dibilang sedikit, tapi tetap saja kan tidak perlu untuk menegaskannya secara jelas. Maklum, gadis berzodiak Libra itu berkepribadian agak sensitif dan cenderung temperamental.

“Sembarangan kau! Mentang-mentang kau sahabatku kau bisa seenaknya menilaiku selebar jidatmu. Hei, Tuan Choi sepertinya dosameter kita setimpal.”

“Sembarangan berarti memang benar kan? Hehe.” Minho membalasnya dengan tawa yang meluncur dari mulutnya. Membuat Suzy langsung menyumpal mulut laki-laki itu dengan kertas pengumuman seminar di tangannya. “Sesuatu dibilang baik itu karena ada yang menilai. Begitu sebaliknya.”

“Ah berbicara denganmu membuatku menua sepuluh tahun lebih cepat. Kau tahu? Kau lebih menyebalkan dari diriku.”

# # #

Pandangan mata Suzy mengabur. Ya, ada seberkas cahaya yang menghalangi gadis itu melihat dengan jelas deretan kata pada selembar halaman koran pagi kenamaan Seoul itu. Suzy hampir menangis. Perasaan berdebar dan senang yang membuncah menguasai relung hati gadis itu. Sobekan halaman lanjutan sebuah koran harian pagi yang berada di tangannya berisikan sebuah opini publik. Opini public yang ia buat sendiri. Dan berhasil diterbitkan.

Suzy sungguh tak menyangka bahwa hasil dari perjuangannya untuk menerbitkan sebuah artikel di koran terbayar sudah. Pengorbanannya untuk absent menonton secara langsung acara musik dengan idolanya yang saat itu tengah melancarkan aksi come back dibayar mahal dengan opini publiknya yang menghiasi rubrik utama.

Akhirnya cairan bening bernama air mata itu mengalir juga di pipi agak tembam miliknya. Sungguh, ia sendiri tak dapat memercayainya. Dari hasil 10 kali ditolak mentah-mentah oleh koran berskala regional untuk menerbitkan artikelnya, justru dalam sekali percobaan mengirim ke Seoul Post ia langsung sukses. Padahal, ia sudah menaruh Seoul Post ke dalam daftar buncit redaksi yang bakal menjadi destinasi pengiriman artikelnya. Ya, asal kalian tahu, Seoul Post itu koran berskala nasional. Suzy yang masih seorang amateur dalam hal tulis-menulis tentu merasa jiper duluan untuk mengirim karyanya ke sana.

“Selamat ya Temanku!” Minho memberi ucapan kepada Suzy yang segera menghapus jejak air mata di pipinya. “Kau pantas menerimanya. Jadi, sepertinya kau tidak perlu mengikuti Mid Test dan Final test ya? Enaknya.”

“Terima kasih Kawan! Hei, aku harus mengirim minimal sepuluh artikel dulu baru bisa tidak perlu mengikuti itu semua. Ini kan aku baru mengirim satu. Ah kau ini.”

“Makanya cepat buat sembilan artikel lagi! Semangat! Hahaha.” Minho berhenti tertawa. Ia menaruh fokus pada paras Suzy yang kentara habis menangis. Selanjutnya, lelaki itu pun mengusap pelan pipi gadis itu. “Kau menangis.”

“Ya, memang. Aku menangis bukan karena senang, tapi karena tidak percaya. Seseorang yang doyan menggerutu tak jelas sepertiku ternyata mampu menerbitkan opini public di Seoul Post dalam sekali percobaan. Sedangkan aku sudah ditolak sepuluh kali oleh koran-koran dari daerah. Aku bisa membuat hal yang tidak mungkin jadi mungkin. Hebat bukan?”

“Aduh, kau itu.” Minho justru mendorong dahi Suzy pelan. Kemudian, seulas senyum tipis terlukis di bibir pria itu. “Setiap kekurangan yang ada pada dirimu tanpa kau sadari, semuanya berpotensi menjadi kekuatan dan kelebihanmu.”

Benar, kekurangan pada diri Suzy justru harus dimanfaatkan menjadi cambuk agar dirinya mampu mengeksplorasi potensi lain dalam dirinya. Sekecil apapun itu, kalau dikembangkan pasti akan jadi berkembang kan? Intinya, jangan perlu takut untuk berkembang.

“Kau memang benar. Ah aku lupa menghubungi Ibu soal ini!” Suzy tersenyum senang akan kelupaanya. Ponsel di saku mantel hitamnya ia ambil. Ia pun mengotak-atik ponselnya sehingga menampilkan layar yang bertuliskan dialling.

“Minho, kau tahu apa? Aku bisa menggunakan ini supaya ibu tidak menyidakku dengan tutup panci setiap aku menonton Running Man. Ahaha, ideku brilliant kan?”

Minho segera merebut gulungan koran yang ada ditangan Suzy lalu memukulkannya ke ujung hidung gadis itu. Suzy yang menempelkan ponselnya di telinganya hanya bereaksi menjulurkan lidahnya mengejek Minho. Ia tahu sebenarnya intelegensi yang dimilikinya satu level di atas pria itu, makanya gerakan menebas ujung hidungnya tadi ia anggap sebagai aksi protes dan iri pria itu kepadanya.

“Hehehe. Aku kan sudah membuat diriku bangga dan merasa tidak kecewa lagi kepada diriku. Wajar kan kalau aku juga mengharapkan sebuah apresiasi.”

Alih-alih menjustifikasikan pernyataan Suzy, Minho lebih memilih diam tak mau mengambil komentar. Membiarkan Suzy menikmati waktunya sendiri yang sedang bertukar kata kepada sang ibu via gelombang suara yang dipancarkan dari ponsel mereka. Binar kebahagiaan terpancar jelas dari setiap inci paras ayu gadis itu.

Ia tahu, setiap orang bisa melupakan segala sesuatu yang mendasar pada hidupnya. Entah itu jadwal check up ke dokter. Lupa mengunci pintu. Lupa memberi makan hewan peliharaan. Lupa mengerjakan tugas. Lupa telah berbuat dosa. Bahkan, lupa sudah mengecewakan orang lain di masa lalu.

Tapi satu yang perlu kau ketahui. Ada sesuatu yang tidak dapat tidak dilupakan. Kemunculannya yang tiba-tiba dan kadang mewaktu. Kekuatan magisnya yang tiada tara. Tak berbentuk alias kasat mata. Entahlah, justru si dia ini termasuk ke dalam hal asbtrak yang bersifat riil dan absolut. Sesuatu yang hanya bisa kau rasakan di dalam hati melalui aksi dan perkataan.

Uh, dia itu cint*?

# # #

END

Advertisements

22 comments

    1. haii sondakh 😀
      waduh kamu bisa aja, padahal menurutku susunan kalimatnya masih ada yg kurang padu lho, but thanks anyway 😉
      ahli sastra?wahhh aminnn XD
      eh kamu jd kesusahan nangkepnya ya.duh maaf 😦 ga maksud kok.hehe
      but thx for reading and appreciating this fiction yah 😉

      Like

  1. hey xianaraa!!!! *manggil dari goa lol
    jarang2 aku nemuin ff suzy yang bener2 berdiksi indah, dan kamu bilang belajar dari aku?? are you kidding me??
    boleh ku tebak klo kamu anak jurusan sastra , krn kyknya g cuma di ff ini kamu nyinggung kata pengantar linguistik lol
    klo bener aku harus manggil kamu eonni dong XD
    atau kalau salah sekalipun aku mau manggil kamu eonni aja #plak minta di tabok nih bocahh
    nah terus, terus itu minho pengertian banget sihhh, care banget ama suzy, aku jugaa mau hahaha

    Liked by 1 person

    1. halo miss! or halo danii XD *bukan ahmad dani…* (namamu ardani kan? :D) hahaaa,yeah aku belajar dari banyak orang termasuk kamu Miss.seriously 😀

      noo dont call me Kak. soalnya aku justru younger than you tahuu. aku angkatan 97 :p
      hehe, obviously bgt yah? iya, aku anak sastra(baru SMT 1 kook :p)..tapi tulisanku ga mencerminankan anak sastra banget T.T haha.

      diksi ind*h? ah kamu bisa aja dan 😀 (aku manggil kamu dan aja ya, lebih enak itu sih :D) justru aku merasa pilihan kataku itu terbatas bgt….sumpehh.but still, i’m learning 😀

      sebenernya, cerita di atas itu aku perwakilan dari kehidupan perkuliahanku yang rada errr-_- dan sayangnya ga ada sosok seperti minho yg carenya selangit itu di kehidupanku hua T_T *curhat*

      hehe, thanks for reading and appreciating this fiction yow XD

      Like

  2. “Dan membuat Suzy memekik kegirangan. Eh revisi. Maksudnya, Suzy memekik kesakitan. Habis jatuh tertimpa tangga, secara harfiah.” Revisi 2 : Sudah jatuh menimpa tangga. Bukan tertimpa.

    “Sakitnya tuh disini.” >>> alright, rupanya lagu itu sampai ke Korea juga.

    “memanggul karung di punggungnya…” Alternatif word-nya, “Kuli panggul CPU di glodok”.

    “Apa kau Cheol Soo? Putri dari Yeong Soo? Teman dari Byul Hwa saudaranya Gaeun?” I know this, ini pertanyaan Ahjumma saat Running Man menjalankan misi pekerja kantoran. LOL.

    “Gila, gw jatuh cinta sama yang nulis!” Bahasa Sastranya dikemas apik dan tidak berat. Penggambaran hal kecil pun berasa dramatis dikarenakan penyampaiannya yang berbeda!

    Nice… and tunggu hujan komen berikutnya di post berbeda.!!!

    Like

    1. waduh kakak beneran melipir ke blog receh ini ternyata….
      eh berarti kalau sudah jatuh menimpa tangga, makna secara leksikal (tata bahasa): suzy jatuh terus menindih tangga?
      gimana??
      sayang sekali di glodok yang cakep2 itu hanya engkoh2nya saja yang jaga toko bukan kuli panggulnya kakk T_T
      wkwkwk, bingoo!! 😀
      dramatis sama lebay bedanya tipis kan ya?haha

      duh kak, makasih banget atas reviewnya!! apalagi kaka udah sukarela menggunakan waktu berharganya untuk ngreview ff receh ini! thank you so much kak!!
      review ini bermanfaat bgtz!
      HCITH-nya ditunggu selalu!!! 😀

      Like

      1. ohalah kirain T_T syukur deh masih lama kak. satu lagii, dongjess kapel mesti bersatu!!! nggak banget soalnya kalo krystal yg nanti sama dongwuk, cukup dia sama Bi aja lah 😦

        Like

      2. ㅋㅋㅋㅋ Rahasia ya soal couple yang jelas akan ada karakter cowok berikutnya koq haha.. masih muda namun sikapnya jelas lebih tegas dari mas dongwuk~

        Like

Escape your thoughts!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s