Meet The Cute Guy in The Green Bus

mwtcgitgb

xianara presents:

Meet The Cute Guy in The Green Bus

Featuring Baek Yerin and Lee Seunghoon

| Fluff, Romance, slight!, School Life, AU | Teen and Up | Ficlet |

Ketika cowok menggemaskan menanyakan namamu di bis berwarna hijau lumut.

Pohon-pohon terlihat seperti bergerak mengikuti bis yang sedang kutumpangi. Dapat kulihat banyak citizen yang berlalu lalang di pedestrian yang sengaja dibuat asri dengan pohon maple yang ditanam di setiap sisi jalan. Dedaunan berbentuk unik itu pun mulai berguguran. Sudah masuk musim gugur rupanya.

Aku menyudahi observasiku pada jalanan yang dilewati bis besar bernomor 5008 yang mengantarku menuju halte dekat rumahku.  Tiba-tiba kantukku datang. Kulirik arloji berwarna cokelat cengkih pemberian Jaebum di ulang tahunku yang ke-17 tahun lalu. Aku pun juga menyempatkan membobok netraku pada jalanan yang sedang kulewati ini.

Aku masih ada di Yeouido. Kira-kira sampai halte dekat rumah butuh waktu sekitar 15 menit lagi. Aku tersenyum senang. Cukuplah waktu seperempat jam itu untuk menandaskan hasrat melelapkan jiwa dan raga.

Rambut yang kuikat asal-asalan ini rupanya menganggu kegiatanku untuk terlelap di birai jendela bis. Beberapa helai sukses berkeliaran di sekitar leherku. Membuatku merasakan sensasi menggelitik kala aku menyinggungkan kepalaku pada kaca jendela bis yang sedikit beruap itu.

‘Cittt!’

‘Dap!’

Bis berhenti tiba-tiba. Membuat dahi lapangan tennisku mencium bagian belakang kursi penumpang depanku. Bukannya mengusap dahiku yang sedikit memerah aku malah memukul kursi penumpang itu dengan kesal.

See? Waktuku untuk terlelap sudah terkikis satu menit. Gara-gara paman supir bis yang mengerem mendadak tadi.

‘Sial!’

Aku mengumpat dalam hati kala menyadari sneakers kebesaranku yang menyangkut di celah kursi penumpang. Tungkaiku hampir merasakan kram berkepanjangan. Satu menit usahaku untuk meloloskan kakiku. See? Aku kembali membuang-buang waktuku untuk hal yang tidak penting ini.

Bagus. Sisa waktuku untuk membobok-cantikkan diriku hanya tinggal 13 menit. Aku melirik sekilas jalanan kota yang saat ini cukup lengang. Tidak biasanya jalan protokol di pusat kota Seoul ini lancar.

Kalau begini jadinya, aku bisa-bisa tidak tidur di bus ini. Aku pun melepas kancing blazer seragam berwarna sapphire blue yang kukenakan dengan gerakan kasar.

‘Cittttt!’

‘Dap!’

Lagi-lagi bis berhenti mendadak. Namun, aku tersenyum mengejek pada sisi belakang kursi di depanku. Sebelumnya, aku berhasil berpegangan pada penyangga jendela sehingga dahiku yang sudah diasuransikan ibu ini tidak terantuk lagi.

‘Woosh!’

Pintu bis terbuka. Digantikan seorang siswa SMA dengan wajah yang super duper cute to the max. Langkahnya terhenti di samping kursi yang terletak di depanku.

Aku memeriksa degup jantungku. Ada yang aneh? Kenapa degup jantungku ini kencang sekali ya? Tunggu, aku juga dapat merasakan milyaran kupu-kupu Cethosia myrina sedang menari tango di perutku. Apa karena tatapan matanya yang bersobok denganku selama beberapa detik tadi ya?

Oh tidak mungkin. Masa iya aku terkena sindrom sejuta umat itu? Cinta pada pandangan pertama. Ayolah!

Milyaran sel kelabu di kediaman otakku sibuk berpencar mencari informasi mengenai getaran yang dirasakan hatiku. Aku mengolok-olok mereka. Percuma saja. Toh, mereka tidak akan menemukan jawabannya.

Karena, ya karena, hanya hatiku sendiri dan jutaan pasang orang yang sedang kasmaranlah yang tahu apa.

Ingin rasanya aku menampar wajahku dengan buku paket Astronomi pinjaman Youngjae. See? Waktuku kembali terbuang percuma selama – ah! Aku juga lupa menghitungnya. Ini semua gara-gara pemuda manis yang minta digigit olehku yang menyumpal telinganya dengan earset berwarna putih pucat itu.

‘Dap!’

‘Citttt!’

‘Dap!’

Sepertinya paman supir bis ini sedang PMS. Ini sudah ketiga kalinya bis berwarna hijau lumut dan putih gading mengerem mendadak.  Tanganku pun berusaha menggapai pegangan pada kursi berselimut beludru berwarna hitam. Namun pada akhirnya, tetap saja dahiku terantuk juga. Sudah dua kali pula jidatku ini terantuk.

Uh kenapa peganganya terasa geli ya? Berbulu lagi. Astaga! Apa ini!?

Kelereng yang bersarang di tengkorakku tiba-tiba ingin melarikan diri sekarang juga. Begitu juga dengan si empunya tengkorak. Aku.

Aku segera menarik tanganku yang menjambak sejumput surai hitam legam milik pemuda itu. Wajahnya mengisyaratkan sekelumit keheranan karena aku yang baru saja menggunakan rambutnya sebagai pegangan. Ia pun menoleh ke belakang dan menatapku lekat.

“Maafkan aku. Maaf!”

Aku pun menundukkan kepalaku, tidak berani bersua dengan tatapannya. Tak kupedulikan wajahku yang mungkin sudah semerah Red Velvet yang biasa kucolong dari cafe pastry kepunyaan Kakak Suzy. Ah rasanya aku ingin menyusul bola mataku yang sudah melarikan diri duluan.

Lupakan soal tidur di birai jendela.

“Hei tidak apa kok. Hm, Seunghoon di sini. Siapa di sana?”

Aku tidak salah dengar kan? Dia tidak mempermasalahkan soal jambakanku tadi, dia malah memperkenalkan dirinya padaku?

“Oh benarkah?”

“Tentu. Jadi siapa namamu?” tukas pemuda itu cepat dengan lampiran senyum semanis permen kapas yang kentara di kedua mata yang sipit unyu itu.

“Oh, Ye-yerin di sini.”

Oh, oke mari lupakan hasrat bobok cantikku. Mengobrol dengan pemuda bertingkah jenaka dan menggemaskan ini sukses menghilangkan kantukku. Bye!

END.

Advertisements

One comment

Escape your thoughts!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s