Fallen

fallen

A special short-clip from KSF 2nd Anniversary’s Project,

Fallen

xianara | Lee Jongsuk | Adventure, AU, Friendship, Fluff | Ficlet | Teen and up | disclaimer: beside the poster and story i own Nothing!!!

Bukan jatuh terhadap soal cinta, tapi arti jatuh secara harfiah.

Jongsuk terjatuh.

Terjatuh?

Yap, ia terjatuh dari pesawat pribadi milik kantor berita tempatnya bernaung yang mengangkut dirinya dan beberapa orang lainnya. Pesawat jenis sukhoi buatan Soviet tersebut mengalami kerusakan mesin di sayap sehingga mengakibatkan crash. Sementara saat itu, pesawat masih berada di ketinggian hampir mencapai 30.000 kaki di atas permukaan samudera pasifik. Otomatis kalau mereka terjatuh, lautan lepas siap menelan mereka bulat-bulat.

Entah ini dibilang naas atau suatu keberuntungan belaka. Para penumpang yang telah diberikan pemberitahuan dari kokpit bahwa pesawat akan mengalami crash sudah mempersiapkan diri baik-baik. Mereka diberi pelampung yang lengkap dengan parasut.

Ya. Mereka akan dipaksa untuk terjun payung dari ketinggian yang mampu membuat kakek-kakek melakukan ajojing tak terkendali.

“KAU GILA?!” teriak Jongsuk kepada pramugara di depannya kala itu. “KAMI INI HANYA SEKUMPULAN JURNALIS! JURNALIS! BUKAN ANGGOTA KOPASUS YANG BISA TERJUN SESUKA HATI KAMI!”

“Maafkan kami. Tetapi ini perintah dari pilot. Lagipula ini lebih baik daripada kita, “ si pramugara menghentikan ucapannya. Tenggorokannya seperti tercekat.

“Toh kita juga akan mati semua.”

Waktu pendaratan darurat 3 menit lagi,

“Jurnalis Lee? Kita tidak ada waktu lagi, “ seru seorang wanita sembari meremas ujung kemeja pria itu. “Intuisiku mengatakan ini akan sulit. Kau, lebih baik kau saja yang pegang rekaman ini. USB ini kedap air, anti ledakan dan anti peluru. Kuyakin kau akan selamat!”

Seorang wanita dengan wajah yang imut itu pun segera menarik pergelangan tangan kiri Jongsuk. Sebuah gelang berwarna merah menyala yang diketahui sebagai kamuflase dari USB itu pun melingkar dengan manis di lengan pria berwarna putih pucat itu. Sungguh sebuah perpaduan yang kontras sekali.

“Park Shinye, hentikan omong kosongmu itu! Tidak akan ada yang selamat! Kita semua akan mati!”

‘Buk!’

Jongsuk meninju wajah pria berparas ayu khas seorang wanita tersebut.

“Jaga ucapanmu! Jurnalis Lu!”

Luhan yang mendapat bogeman mentah dari rekan sejawatnya itu tidak diam saja. Lantas ia pun membalas dengan meninju rusuk pria itu. “Ohya? Aku pasti akan mati duluan! Kita semua akan mati! Gara-gara apa? Bukan karena kecelakaan pesawat! Tapi karena rekaman konyol itu!”

Keduanya pun saling melemparkan tatapan sengit. Shinye yang melihatnya lantas menghentikan aksi tonjok dua rekannya itu. Pramugara dan pramugari yang berada di sana hanya bisa menontonnya dengan pandangan yang tertunduk. Jemari mereka pun mengerat memegang pelampung yang membetot tubuh semampai mereka itu.

“Waktu pendaratan darurat 2 menit lagi, “

“Kalian dengar!? 2 menit lagi dan kalian masih bertengkar seperti, “ ucapan Shinye terputus.

‘Kyaaaaa!!!’

Pesawat tiba-tiba mengalami guncangan yang dahsyat. Mereka yang berada di dalam pesawat model sukhoi itu merasa tertarik ke dalam inti bumi. Tubuh mereka pun bergoyang kesana-kemari tak tentu arah. Jongsuk dengan sigap menarik pergelangan tangan Luhan dan Shinhye sebelum mereka terhempas bersamaan.

“Pegangan yang kuat!”

Shinhye menggeleng. Aneh. Ia berusaha melepas cengkeraman pria itu padanya. Jongsuk menyadarinya dan melebarkan kedua bola matanya.

“KAU GILA JUGA?!!!!”

“Jongsuk, kumohon. Rekaman ini harus sampai ke tangan pimpinan. Biarkan masyarakat tahu! Hanya kau satu-satunya harapan kami!”

“Tapi, a-aku, “ sergah Jongsuk.

“Lee Jongsuk, kau itu mantan instruktur paralayang di Jeju-do. Kau bisa menggunakan parasut, ” Luhan berkata kepadanya dengan nada yang mantap. “Gadis ini benar. Fungsi PERS sebagai kontrol sosial harus dijalankan!”

“Paralayang dan parasut itu berbeda!” protes Jongsuk.

Baik Luhan maupun Shinye mengacuhkan protes pria itu. “Cepat buka pintu daruratnya! Sekarang!” perintah Luhan kepada salah satu pramugara yang berdiri di dekat pintu darurat tersebut.

Sang pramugara mengangguk mengerti. Susah payah ia menyeimbangkan tubuhnya dan dalam sekali gerakan ia menarik tuas berwarna oranye itu ke bawah.

‘Woosssh!!’

Pintu terbuka. Udara yang saling berdesakan masuk menelusup. Sang pramugara pun segera menjauh dari sana supaya tidak tersedot dan terpelanting bebas ke udara. Jongsuk melihatnya. Ia mendesis. Kedua temannya ternyata mengalami degradasi fungsi lobus frontal. Mereka ingin dirinya mati konyol di usia muda.

“KAU?!!”

“Sudah jangan banyak bicara!” bentak Shinhye. Luhan dan Shinhye pun segera mendorong tubuh Jongsuk.

“Kau pernah bilang, kau rela menukar nyawamu demi sebuah berita yang berisi kebenaran kan?”

“Aku menarik ucapanku itu!” elak Jongsuk sambil berusaha menahan dorongan dari kedua temannya itu.

Cih, bodoh. Kenapa orang tolol sepertimu diterima sebagai jurnalis senior di CNN sih?!” cibir Luhan.

Jongsuk menusuk pria itu dengan tatapan berangnya. Enak saja kalau bicara! Aku ini berintelegensi setara lumba-lumba! Aku ini cerdas! Begitulah kira-kira isi dari sorot pria itu. Luhan memicingkan matanya lantas seulas senyum tipis terkembang di bibir. Ia berhasil menyulut amarah Jongsuk.

“Ya sudah kalau begitu loncat sana!”

“Baik! Aku akan loncat! Shinhye lepaskan! Aku bisa loncat sendiri!” Gertak pria itu sambil melepas kasar cengkeraman Shinhye. Ia pun berjalan mendekati pintu darurat yang terbuka itu. Sebelum ia menamatkan langkahnya, ia pun berbalik.

“Luhan, kuharap ucapanmu benar. Kau akan mati duluan. Bye!

END

Advertisements

2 comments

Escape your thoughts!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s