Six Degrees of Separation

sdos

Six Degrees of Separation

Presented by xianara || Starring : Wu Yi Fan (Kris EXO’s Former Member) / Xianzi (OC)  || Length : Vignette, SongFict  || Genre : Romance, Angst, Sad, Hurt || Rating : PG 15 ||

Disclaimer :

beside the poster and story, i own nothing! the song and lyrics belong to The Script.

Happy Reading!

~Six Degrees Of Separation~

Sama seperti yang dilakukan oleh Yi Fan. Lelaki Tiongkok berkacamata yang bekerja sebagai karyawan swasta ini terkenal dengan hobi membacanya. Namun, kali ini hobi yang selalu dielukan oleh dirinya sendiri bagai sari pati tanaman yang tak ada manfaatnya. Mirip seperti parasit.

Tumpukan buku di sampingnya tak ayal adalah buku-buku yang telah dibaca dari dini hari sampai pagi menjelang seperti sekarang ini. Buku fiksi karangan Sastrawan Russia yang namanya seperti kekurangan huruf vokal menghiasi koleksi buku di perpustakaan mini yang merangkap sebagai kamar tidurnya.

Ia melepas kacamata bacanya, memijit pelipisnya pelan. Lalu pandangannya beralih ke arah televisi yang ia biarkan menyala dalam keadaan bisu. Ia  lalu meraih remote yang berada di bawah tumpukan buku-bukunya untuk membesarkan frekuensi gelombang suara televisi layar datarnya yang terkenal pantless alias tak ada bokongnya seperti telivisi milik kebanyakan orang masa kini.

Sebuah stasiun TV swasta yang menayangkan acara sulap menjadi tontonan Yi Fan saat ini. Ia memang memerhatikan layar namun tidak menaruh fokus terhadap konten yang disuguhkan oleh sang pesulap. Hingga sampai acaranya berakhir, ditutup dengan salam hormat dari sang pesulap beserta staff yang membantunya, ia masih tetap tidak mengerti akan apa yang baru saja ia tonton.

Ibarat di depan ada sebuah gajah namun kau malah melihat semut di bawah kakinya. Saat kau pikir kau tidak menemukan jawaban atau pun alasan yang ada di hidupmu padahal jelas saat itu jawabannya ada di depanmu. Entah kau yang terlalu kalut, sedih, deperesi, buta atau saking bodohnya sampai sampai kau tak bisa melihat gajah yang berdiri dengan gagahnya di depanmu.

Yi Fan bukalah seorang peminum ataupun perokok. Sampai kapan pun ia tak akan pernah. Setiap mencium bau alcohol yang menguar di udara dia langsung menyidak satu-satu mata yang ada di sekitarnya dengan pandangan ‘Siapa yang semalam minum-minum? Berani nya!?’. Ia sangat menyayangi kesehatan jantung dan paru-parunya. Tatkala melihat teman kantornya yang mengepulkan asap rokok bukan ditempatnya ia tak segan-segan akan mengambil paksa puntung rokoknya dan membuangnya tepat di hadapan orang itu lalu menginjaknya dan membuangnya ke tempat sampah. Semua orang tak bisa berkutik saat Yi Fan mulai melancarkan aksi kampanye sehat jantung dan paru-parunya itu.

Akan tetapi, kali ini ia mencoba minuman panas dan benda berbentuk silinder dengan ukuran kecil yang diujungnya harus diadu dengan pemantik api untuk pertama kalinya karena seseorang. Dan juga terakhir kalinya. Catat itu.

Flashback

Yi Fan tersenyum hambar melihat pamandangan di depannya. Mendapati mantan sedang bergelayutan ria di lengan seorang pria merupakan awal yang baik untuk memulai hari. Bisa saja lelaki itu saudaranya, tetapi mana ada saudara yang berkelakuan kelewat mesra terhadap saudaranya sendiri?

Dari lahir, Yi Fan bukanlah pria melankolis yang mampu meratapi nasib percintaanya yang miris ini. Tidak. Ia, tipikal pria yang keep in straight and narrow. Makanya, sekarang ia pun tetap terlihat tegar dan cuek walaupun hatinya berbeda beberapa derajat dari air muka wajahnya itu.

“Selamat pagi Yi Fan! Semoga harimu menyenangkan oke!”

“Ehm, kau juga. Oh ya bagaimana keadaan kantor di Jepang? Baik-baik saja?” balas Yi Fan.

“Kau tidak menanyakan kabarku? Dasar. Haha, kantor baik-baik saja. Semuanya berjalan dengan baik. Kan aku ini bisa diandalkan selama aku di sana, kau tahu kan?” Xianzi – gadis itu, mantan Yi Fan- menjawabnya dengan guyonan khas dirinya

Melihat gadis ini tertawa lepas tanpa beban didepannya tidak mungkin bisa membuat ia membencinya. Sampai kapanpun itu.

Dengan menyimpulakn senyuman tipis Yi Fan pun berkata kepada Xianzi,”You seem better now than ever, and your life’s oke, Xianzi.”

Flashback end.

Seperti yang sudah disebutkan diatas, Yi Fan bukan pria melankolis yang setiap malam mampu menangisi figura berisi fotonya bersama dengan Xianzi sambil meracau tak keruan. Ia bukan pria yang mampu menegak minuman alkohol sebagai pelampiasan atas sakit hatinya.

Dalamnya laut bisa dikira, tetapi isi hati manusia siapa yang tahu?

Teman-teman kantornya yang mengetahui kandasnya hubungan Yi Fan – Xianzi pun bersikap tidak tahu menahu, karena mereka tidak ingin dianggap sok tahu. Di satu sisi mereka menyayangkan hal yang terjadi diantara keduanya, tetapi apa yang mereka bisa lakukan? Hati kan tak bisa dipaksa.

Lee Joon, sahabat karib Yi Fan pun sampai dibuat heran oleh sikap Yi Fan. Bagaimana tidak? Ia bisa dengan santainya menyikapi permintaan putus dari Xianzi tanpa bertanya babibu dan langsung menyetujui untuk berakhir sampai disini.

“Teman, kau tahu kartu tarot?” tanya Lee Joon menghampiri meja kerja Yi Fan.

“Ya. Kenapa?” balas Yi Fan tak acuh sibuk memeriksa laporan di layar komputernya.

“Aku punya kenalan peramal, dia bisa membaca kartu tarot. Barangkali, kau tertarik, untuk menanyakan tentang hubunganmu dengan ehm, Xian.. bagaimana?” tawar Lee Joon.

Yi Fan mengangkat pandanganya dari layar komputernya dan memberikan pandangan ‘Bicara apa kau?’ kepada Lee Joon.

“Sudah selesai bicaranya? Cepat kembali ke mejamu, Teman!”

“Bagaimana? Tertarik? Aku bisa mengatur pertemuannya lho.” Lee Joon mengabaikan pandangan dan gertakan halus Yi Fan barusan.

Namun, bukan Yi Fan namanya kalau ia tak bisa mengatasi temannya ini. Dengan sekali gerakan ia menggiring Lee Joon menuju mejanya. Lalu mendudukanya. Sebelum meninggalkan meja Lee Joon, ia pun meninggalkan peringatan garis keras kepada Lee Joon untuk tidak mengurusi hal yang tidak penting dalam hidupnya.

“Tarot cards, gems and stones, believing all that shit’s not gonna heal your soul.”

Nyatanya memang begitu. Lee Joon pun hanya terdiam di meja kerjanya dan mengamati Yi Fan dari meja kerjanya. Lalu menggeleng tidak percaya dan berakhir dengan cekikikan geli yang disambut timpukan kertas oleh karyawan lain di sampingnya.

“Dasar manusia kutub.”

Pertama kalinya, Yi Fan berfikir bahwa hati yang rusak adalah yang paling buruk. Hati yang rusak dalam konteks akibat putus cinta, bukan sakit liver. Yi Fan mengira bahwa tak ada hal yang lebih buruk daripada keadaan kantor yang kacau balau. Namun kondisi putus cinta yang dialaminya sekaan mematahkan persepsinya selama ini. Apa yang akan membunuhmu adalah hal nomor dua dari sekian tahapan perpisahan itu.

Merokok dan meminum minuman keras bersamaan dalam dosis yang tak terkira jelas akan mengantarkanmu menuju tempat persemayaman terakhir yang temaram menghadap Tuhan. Berharap amal dan ibadahmu itu mencukupi sebagai akses agar bebas dari ancaman siksa neraka. Yi Fan yang memang sejak awal ialah hamba Tuhan yang taat patuh pada perintahNya dan menjauhi segala laranganNya dikaruniai nalar yang selalu berkembang. Kesehatan merupakan prioritas utama baginya. Tak mungkin ia melanggar janjinya kepada Tuhan untuk menjadi drinker atau smoker.

First, you think the worst is the broken heart

What’s gonna kill you is the second part

And the third is when your world splits down the middle

And fourth you gonna think that you fixed your self

Fifth, you see them out with someone else

And the sixth is when you admit that you may have fucked up a little.

Kalau diibaratkan sebuah tahapan. Yi Fan telah melewati 6 tahapan dari sebuah perpisahan. Ia pun mengakuinya. Dalam diamnya. Tidak dengan bercerita kepada Lee Joon ataupun orang – orang yang akan melampirkan tangan kepadanya.

No no there ain’t no help it’s everyman for himself.

Kalau seorang pria sedang depresi hal yang paling mendasar adalah ia tidak mau membantu dirinya sendiri. Yi Fan sadar ia harus mau membantunya sendiri karena takkan ada seorang pun yang mau membantu kalau dirinya sendiri enggan membantu. Sejatinya memang tak ada bantuan itupun setiap pria untuk dirinya sendiri.

Menemukan akhir dari suatu babak tanpa memulainya itu hal yang tidak mungkin. Tidak ada sebuah awal yang berakhir tanpa menemukan sebuah pengakhiran. Berfikir mengenai suatu hubungan yang dimulai tanpa menemukan sebuah akhir, kemungkinan hubungan itu menjurus kepada sebuah kelanggengan. Akan tetapi  bila dari awal kau sudah ragu, semua perjalanan yang akan kau tempuh nantinya akan bermuara pada sebuah pengakhiran.

Di dalam proses menuju perpisahan ketika kau mengambil semuanya kembali tanpa keraguan sedikit pun. Itu lah saat kau tahu dirimu telah mencapai 6 tahapan dari perpisahan. Semuanya berakhir, sampai tepat di mana itu memang harus berakhir.

Oh, no there’s no starting over

Without finding closure

You take them back, no hesitation

That’s when you know you’ve reached six degrees of separation..

Dalam akhir dari sebuah hubungan yang tersisa hanyalah kenangan. Kenangan manis yang tersimpan dalam sebuah memori. Masih jelas dalam ingatan pria Tiongkok itu saat ia dan Xianzi pergi berlibur bersama pertama kalinya. Mereka pergi ke Jeju-do di musim panas. Udara hangat khas Jeju-do menerpa wajah mereka kala itu. Menghabiskan waktu bersama yang memang jarang dilakukan karena kesibukan mereka masing-masing.

Flashback.

Yi Fan yang mengendarai Jeep terbuka bersama Xianzi menyusuri jalanan di Jeju-do yang tidak terlalu padat seperti di Seoul sambil menikmati pemandangan lautan yang terbentang luas. Anak-anak rambut Xianzi yang berterbangan ditiup angin tak mengganggu sama sekali. Rona ceria di wajah gadis itu terlukis dengan jelas. Begitu juga dengan Yi Fan, sambil mengemudi ia menikmati moment bahagianya bersama Xianzi.

Xianzi pun berdiri di atas Jeep sambil membentangkan kedua tangannya. Membiarkan angin melawannya.

“Xian, hati-hati!” Yi Fan memperingati gadisnya untuk tidak terlalu kesenangan, karena ia sedang menyetir

“Ahhh! Senangnya! Yi Fan, aku sangat senang sekali bisa berlibur bersamamu. Terima kasih.” ucap Xianzi lalu mencium sekilas pipi Yi Fan, sehingga muncul semburat murah muda di kedua pipinya begitu juga dengan Yi Fan.

“Moment ini untuk selamanya, Xian. Ingat itu.”

Ketika doa-doa syahdu terpanjatkan menuju cakrawala dan mampu melukiskan setiap kata-katanya di atas awan, Tuhan pun berjanji kepada setiap umatNya. Tak ada satupun yang dapat mengalahkan mereka, yang mau membantu diri sendiri dan berusaha atas diri sendiri. Perpisahan itu wajar terjadi. Perpisahan bukanlah sebuah akhir melainkan sebuah awal dari masa depan yang akan datang. Jangan pernah kita terpuruk pada sebuah akhir, karena nyatanya perpisahan bukanlah sebuah akhir bagi mereka, yang ingin maju..

FIN.

Advertisements

Escape your thoughts!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s