[COLORS’ Series] Only You

cover

COLORSSeries

Only You

Previous track: One Step

Jia and William Jo (OC) | AU, School-life, Fluff, Romance | Teen and up | Vignette | disclaimer: beside the plot and story line i own nothing!!

Only you for me and only me for you.

Musim semi siap menanti di awal bulan April. Biasanya, setiap memasuki bulan keempat berdasarkan kalender matahari tersebut, orang-orang akan membuat lelucon yang kerap dilontarkan kepada orang terdekat. Kegiatan itu biasa dikenal dengan nama, ‘April Mop!’.

***

Seorang siswi murid SMP terlihat keluar dari sebuah mini market. Di tangannya terdapat kantong plastik hitam yang menyembunyikan sebungkus cokelat Swiss buatan pabrik di Hunan. Langkahnya tidak terlihat semangat ataupun gontai namun terkesan statis dan ringan. Cengiran kuda Australia pun merekah di atas bibir tipis miliknya, diikuti dengan hidung bangir yang kempas-kempis.

Jadi, rencana yang sudah lama bersarang di tempurung gadis itu akan dijalankan hari ini. tepat tanggal 1 April. Di saat semua orang menyelebrasikan ‘April Mop!’ dengan lelucon dan candaan yang tak dimasukkan ke hati, dia justru akan membuat candaan yang wajib dimasukkan ke dalam hati. Dia akan membuat suatu lelucon berasaskan perasaan suka kepada satu pemuda yang satu kelas dengannya.  Apabila si pemuda nanti menolak – oh, mudah-mudahnjangan – Jia akan beralibi kalau dia hanya bercanda.

“Jia!!”

“Ya? Jo?”

Jo, pemuda tiang berkulit pucat seperti mayat itu berlari menghampiri Jia – gadis yang menenteng kantong plastik. Dia pun memberikan tatapan malas kepada gadis berkepang dua di sebelahnya, yang menatap Jo seolah-olah pemuda itu adalah adik tiri dari Usain Bolt yang depresi ingin berlari.

“Ada apa sih? Pakai lari-larian segala.”

“Ah, aku haus.” Jo menduakan kuesioner Jia sambil menegakkan tubuh. “Kau membawa minuman di kantong plastik, ya?”

Tanpa aling-aling, Jo merebut plastik yang berada di genggaman Jia. Sontak membuat gadis itu memekik tak terima dan segera merebut kembali barangnya.

“Kembalikan!!”

“Apa ini?”

“Jo, cepat kembalikan!!”

“Berisik!!”

Tangan panjang pria itu pun menahan pergerakan Jia yang mencoba mengambil kantong miliknya. Sengaja Jo menaikkan kantongnya sehingga mencapai titik yang tidak bisa diraih gadis mungil itu. Jo terkikik geli melihat ekspresi gemas Jia. Mata sipit yang menjadi segaris, bibir yang mengerucut sebal macam ikan lohan peliharaan Chen – kawan asramanya, serta buntut kepang gadis itu yang bergoyang ke sana – ke mari.

“Ayolah, ini tidak lucu! Cepat kembalikan!!”

“Cokelat?!! Waw!”

Rupanya, pemuda bipolar itu sudah melupakan afek haus yang dirasakan. Dia pun beralih mengaggumi sebatang cokelat impor buatan China itu. Jia yang kesal pun akhirnya menendang tulang kering pemuda itu dengan keras.

‘PAK!’

“Meng Jia!!!!”

Berhasil. Jo berteriak kesakitan karena tulang keringnya yang ‘dicium’ manja oleh murid wushu terbaik Guru Hwang. Cokelat yang tadinya ada di tangan Jo pun meluncur bebas seiring dengan rintihan yang keluar dari mulutnya. Jia pun segera menangkapnya sebelum cokelat yang lumayan mahal itu tidak mencium permukaan tanah.

“Rasakan sensasinya!” ejek Jia sambil menjulurkan lidah.

Jo pun hanya bisa mengerutkan bibir layaknya kura-kura Brazil yang biasa ia lihat dalam acara National Geographic. Setelah mengatakan itu, Jia pun segera menebar langkah menjauhi pemuda iseng yang berstatus sebagai sahabat sekaligus tetangga sejak orok itu.

“Hei! Mau ke mana?! Tanggung jawab dulu atas perbuatanmu dong!”

Rasa sakit yang melingkupi tulang kering Jo pun mereda. Pemuda itu pun segera berjalan agak tertatih menyusul Jia yang jauh di depan.

“Jia!!”

“Apa lagi?!!!”

“Tuggu aku! Kenapa kau jadi seperti nenek sihir begini, sih? Cruel.”

Jia berhenti di tempat, lantas berbalik. Dengan langkah yang diseret ia pun menghampiri Jo yang tercecar di belakangnya.

“Me-nye-bal-kan!”

Jo tersenyum senang melihat teman gadisnya yang masih kebal hati untuk menghampirinya. Dia pun tak segan menepuk pipi Jia yang memerah karena terpaan sadis sinar UV yang merajalela.

Sesungguhnya, goresan cat pada lukisan Michelangelo tidak bisa disandingkan dengan goresan tangan-Nya pada sepasang pipi seorang gadis yang merona. Kerlingan antara bulu mata bawah dan atas yang melebihi milyaran kubik pasir pada gurun sahara. Ataupun, decakan marah yang levelnya sejuta kali di atas suara falsetto milik Beyonce.

“Oh, tidak! Jo, lihat apa yang kau lakukan pada cokelatnya?!” Jia mengacungkan sebungkus cokelat rendah gula di hadapannya yang teksturnya menjadi lembek. “Kau mencairkan cokelatnya!”

“Ya, siapa suruh tidak memasukan cokelatnya ke dalam toples berisi es batu? Ha?”

“Ya, kau pikir cokelat ini es krim!! Berlebihan sekali.”

“Tunggu? Berlebihan? Wah, apa aku tidak alah dengar? Aku berlebihan?” tantang Jo balik sambil menunjuk dadanya.

“Iya!”

“Justru yang berlebihan itu dirimu! Kau melampiaskan kekesalanmu kepadaku melaului cokelat sialan yang akan kau berikan pada Yang!”

“Aku kesal karena kau, William Jo!”

“Argh!!” geram Jo kesal.

Jia, memang gadis yang tidak dapat dipredeksi. Diraba pun sangat sulit. Kesalahan sekecil apapun bisa dideteksi oleh mata elangnya. Isntingnya sebagai wanita terhitung cukup kuat. Dia pun sudah hapal betul dengan tabiat Jo yang tidak pernah mau mengakui kesalahannya. Tetapi di satu sisi, Jia juga harus mengakui kesalahannya. Ya, dia membeli cokelat itu untuk diberikan kepada kapten voli sekolahnya, Yang.

“Dengar, ya, Temanku, kalau kau ingin menarik hati Yang kau harusnya memberikan cokelat buatanmu sendiri. Jangan beli di mini market seperti ini!” cecar Jo.

“Bicara apa kau? Setiap aku membahas Yang di depanmu, kau selalu merehmakn danmmengabikanku. Tanggapanmu selalu tidak masuk akal. Nah, sekarang kenapa tiba-tiba jadi begini?!”

“Lho, aku serius!”

“Aku juga serius! No, I mean, I’m so serious! Kalau kau serius, coba buktikan kepadaku, Teman!”

“Apa kau bilang? Ha?”

“Jo, kau sudah menjual gendang telingamu dan kehilang saraf sensorikmu, ya?”

“Membuktikan? Ba-bagaimana?”

Jo menyesal dalam hati karena telah menyulut api pada si Ratu Kompor Gas – Jia. Pasti gadis yang sekarang sedang tersenyum menang sambil menaikkan kedua alisnya itu sudah memersiapkan rencana menyedihkan nan memalukan padanya.

“Nah, William Jo, coba kau – “

***

“Cokelat dari siapa ini?! Ha?! Valentine saja sudah lewat dan aku masih menerima cokelat busuk ini dari penggemar sampahmu?! Oh my God! Yang, you-you that  – “

Pertengkaran antara Victoria – kekasih Yang, dan kekasihnya sendiri menjadi tontonan gratis sesaat setelah bel istirahat berbunyi. Jia, gadis itu terlihat shock berat. Ia pun segera mengadu pandang dengan Jo yang duduk tiga samping di arahnya. Jo sendiri memasang ekspresi wajah biasa-biasa saja. Berbeda dengan Jia. Di seluruh permukaan wajahnya seperti terdapat tulisan ‘aku bersalah! matilah!’, ‘Yang, aku salah!’, ‘Ups, Vict marah!’, dsb.

Jo yang tiba-tiba sudah berada di samping Jia pun segera merapatkan tubuh dengan Jia guna membisikkan sesuatu di cuping telinga gadis itu.

See, aku sudah membuktikan kepadamu. Hubungan mereka pecah gara-gara cokelat rendah gulamu. Jadi, sekarang lebih baik kau membuat cokelat untuk orang lain saja, jangan dia lagi. Coba kau buatkan aku sekotak cokelat!”

“Kau, satu-satunya bocah kurang waras yang pernah kukenal!” balas Jia sambil berbisik.

Jo menyukainya. Ekspresi unta yang mewarnai wajah Jia seperti film komedi terlucu yang pernah ia tonton. Benar-benar gadis yang polos.

“Jia, kau tahu tidak?”

“Apa lagi? Eo?”

“Soal yang buatkan aku cokelat itu, aku serius. Mulai sekarang, satu-satunya orang yang boleh kau beri pemberian, apapun itu, hanya aku seorang. Got it?

“WILLIAM JO! GILA KAU!”

Seisi kelas mengalihkan mata dari pasangan Yang dan Victoria yang tengah berkonsolidasi. Jia yang sadar pun merutuki kebodohannya. Ia pun mendorong tubuh Jo yang menghalangi jalan dengan kasar.

“Sialan kau, Jo! Kau lagi-lagi menjebloskanku ke dalam situasi sulit!”

Terlambat. Jo telah mengunci tangan Jia yang mendorong tubuhnya itu sehingga jarak di antara mereka berdua hanya sepanjang tunas bakung. Para siswa yang berada di kelas pun serentak menahan napas tatkala Jo mulai memiringkan kepala. Tadi hanya tangan Jia saja yang dikunci oleh Jo namun sekarang tubuh Jia juga ikut terkunci. Oh, Tuhan, tolonglah hamba!!!

“Jia, “ panggil Jo dengan suara yang lantang namun membawa sensasi manis pada zona akustis yang melingkupi.

“Jo, lepaskan! Kumohon!”

“Saat kubilang, kau hanya boleh membuat cokelat buatanmu dan memberikannya hanya untukku, aku serius. Aku egois dan yang mengerti itu hanya kau seorang. Jadi, apakah sudah jelas?”

Jia menjauhkan tubuhnya dengan paksa dari cengkeraman Jo. Para siswi yang melihatnya jelas-jelas sedang mebayangkan adegan roman picisan percintaan anak sekolah yang biasa mereka tonton dari drama kini sedang berlangsung di depan hidung mereka sendiri.

“Kau tahu ‘kan aku ini berbeda dari yang lain. Aku sangat spesial. Sekarang, kumohon berhentilah membuntuti kapten voli bodoh itu dan cobalah melihat diriku, William Jo-mu yang menyebalkan tetapi tampan.”

‘Hoo!’

Koor kompak terdengar nyaring dari seluruh kelas. Jia yang menyadarinya pun sibuk mengatur ekspresi wajahnya. Hati beserta komponen-kompen penting milik Jia seperti mengalami disfungsi. Sebuah confession yang tiba-tiba menamparnya adalah pemicunya. Dia pun mencoba menjahit asa yang selama ini menggumpal di setiap sudut hatinya.

“Terima! Terima!”

“Hei! Jo belum menembaknya! Jadi, tembak! Tembak! Jiayou!!”

Koor penonton semakin riuh. Mereka bahkan sampai melupakan jam istirahat mereka yang sudah terkikis lima menit gara-gara proposal dadakan yang digagas oleh Jo sepihak.

“Mari akhiri sampai di sini, dengan gayaku, William Jo.”

‘Cup!’

Jo pun melepaskan ciuman ringan pada pipi Jia. Para penonton yang terdiri dari dua gender itu tak dapat menutup rasa suka cita. Mereka pun dengan kompak berseru senang. Bahkan pasangan Yang dan Vict yang sebelumnya tengah berkonfrontasi pun terlihat sudah berdamai. Buktinya, mereka berpelukan satu sama lain.

Gadis itu sendiri masih membeku di tempat setelah mengalami kejadian yang membuatnya kehilangan harapan usia hidup sebanyak sepuluh tahun tersebut.

So, is it only me or only you?

Suara parau Jia tiba-tiba membelah sorak sorai teman-teman sekelasnya. Jo, pemuda itu tersenyum manis penuh arti. Ia tahu, gadis itu pasti tidak akan berlaku gampang padanya. Karena, tipikal gadis yang mengaggumkan dan menggemaskan macam Jia itu one in a million.

Only you for me and only me for you.” jawab Jo pasti.

TAMAT

Advertisements

4 comments

Escape your thoughts!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s