[Birthday-Fic] Blue Moon

(late) Birthday Fict for Hyeokjae and Siwon

Blue Moon

@xianara | Choi Siwon as Won and Lee Hyeokjae as Jewel | AU, Adventure, Fantasy, Fluff, Friendship | Vignette | General | beside the plot, story line, and poster, i own nothing!!

Petikan suara gitar mendengung di udara malam. Desing angin yang berhembus dari selatan menerpa dua pemuda bertubuh ringkih yang kurang asupan gizi. Sinar rembulan yang temaram bersembunyi di balik gumpalan awan malam yang tipis. Gesekan yang terjadi antara alas sepatu dengan akar ilalang-ilalang di sekitar terdengar merdu di telingaku.

Aku menggeleng ketika aku masih mendengar bunyi petikan gitar yang menyenandungkan himne kebangsaan Kaum Mugs. Kelas elit dari segala bangsawan. Kaum yang memiliki sejuta pesona. Tampang yang di atas rata-rata sampai keahlian bertarung yang mumpuni. Benar-benar klan impian semua makhluk yang ada di Glesik.

Jewel, pemuda kurus yang di bahunya tersampir gitar dan jarinya asyik memetik dawai gitar itu pun tidak memerdulikan ekspresi dinginku. Pasalnya, telingaku hampir tuli karena sepanjang perjalanan menuju ke pusat kota Glesik, dia tidak berhenti menggores melodi di atas senar gitar kayu warisan dari kakeknya. Jika kalian pikir permainan gitar Jewel buruk, tidak bukan seperti itu. Justru permainan gitar bocah bersurai putih itu sungguh ciamik. Akan tetapi, malam ini aku sedang tidak dalam kondisi yang baik untuk menikmati permainan gitarnya.

“Kalau kau tidak bisa berhenti, siap-siap membeli gitar baru!!” gertakku kepada Jewel secara halus.

“Tidak apa. Toh, kakek telah mewariskan dua lusin gitar untukku. Jadi, tak masalah.” jawab Jewel. Ia pun menyeringai tipis kepadaku.

Ingin kuhapus seringaian itu dengan mengoles racun kepik sawit yang terkenal mematikan itu pada bibir Jewel. Sungguh, aku menyesal telah memberikan peringatan empuk kepada pemuda yang terkenal pintar membalikkan perkataan ini.

“Oh, begitu. Baik, kalau begitu bagaimana kalau kau pergi ke pusat kota sendirian saja? Soalnya, aku ingin berduaan dengan Bugsy – “

Jewel menghentikan petikan pada gitarnya. Lantas segera menyamakan langkah denganku yang sengaja kupercepat. Berhasil, ancamanku cukup ampuh ternyata. Jewel tidak suka dengan Bugsy – kangguru hitam – peliharaan Cheol yang sangat akrab denganku. Katanya, bau nafas Bugsy seperti kaus kaki milik Si Kaki Jahe yang tidak pernah dicuci semenjak abad ke-250 SM.

“Bagus, kau menang. Sudah kubilang jangan sebut nama kangguru jorok itu di depanku. Menggelikan sekali. Memangnya apa bagusnya dia, sih? Jangan-jangan kau sedang pendekatan dengan saudari Cheol yang bernama Fei, ya?”

“Ha? Kau berbicara seperti itu karena kau kalah tampan daripada Bugsy. Kau dan Eden sama saja. Anti-Bugsy nomor satu. Dan, pendekatan dengan Fei? Perempuan manis itu adalah saudari iparku! Bukankah pada dua gerhana bulan yang lalu kau dan aku pergi menghadiri penikahan Fei dan Zhou? Duh, kau ini!”

Kebiasaan Jewel yang paling buruk. Terlalu cepat menyimpulkan keadaan sehingga konklusi yang didapat bersifat kontradiktif. Aku tahu benar kerangka sifat Jewel yang satu itu. Maka dari itu, aku pun langsung menegaskan yang sebenarnya. Lalu, tanpa banyak berbicara lagi aku segera menambah kecepatan berjalanku. Meninggalkan Jewel yang kehilangan akal dan pikiran karena pesona Bugsy.

“Won!”

Kadang, aku lebih suka tak mengacuhkan panggilan bernada sebal dan ketus Jewel kepadaku. Lebih baik memberikan abai kepada pemuda yang satu tahun di atasku usianya itu. Orang seperti Jewel akan selalu berhasil menguasaimu kalau kau mengikuti permainan katanya. Seperti yang tengah diterapkan Jewel kepadaku. Namun, untuk diriku pengecualian. Jewel tidak pernah menang perdebatan denganku.

“Won! Kenapa kau berjalan cepat sekali? Santai saja!”

“Kau lelah?”

“Menurutmu?!”

Napas Jewel mulai tersengal. Keringat pun mengucur di pelipisnya. Meskipun sisa udara dari musim dingin masih membumi, kalor yang mengendap di dalam tubuh tak bisa berkompromi. Kaus yang kukenakan sebagai dalaman sudah mulai terasa lepek. Begitu juga dengan rambutku yang basah karena peluh.

Di bahuku terdapat dua kantung tas berisi roti gandum untuk perbekalan kami berdua. Sedangkan Jewel, ia menggendong sekarung besar pakaian bekas yang akan disumbangkan beserta gitar yang menggantung di bahunya. Walaupun ia sempat kesusahan untuk mengangkutnya, ia menolak untuk kubawakan gitarnya. Alasannya, ia takut aku akan mematahkan gitarnya menjadi dua bagian.

“Kau ingin istirahat?” tawarku.

“Kau pikir?!”

Aku tersenyum datar tanpa melihat wajah Jewel yang ditekuk dalam-dalam seperti lipatan kerah Jenderal Teuk. Menjahili sahabat itu nikmatnya melebihi menyantap roti isi kentang buatan ibuku. Tetapi aku tidak akan mengerjai Jewel yang temperamen namun agak cengeng itu. Tidak, aku tidak ingin dicap sebagai sahabat yang kurang ajar, untuk Jewel.

Padang ilalang yang kulewati bersama Jewel sudah mencapai ujungnya. Mataku pun menjelajahi padang savana yang sunyi dan sepi. Hamparan rumput bergoyang ditiup angin. Gugusan bintang yang menyebar rata di angkasa mengajakku untuk menatap mereka lama-lama. Tak butuh waktu lama, Jewel tiba-tiba menidurkan dirinya di atas hamparan rumput hijau yang wangi tersebut.

Kedua tangannya terbentang. Gendongan yang mengganjal di punggungnya sudah lenyap. Berpindah posisi di samping pemuda yang tengah tersenyum congkak kepadaku.

“Jewel, apa yang sedang kau lakukan?”

“Menatap bintang biru.”

Aku menaikkan kedua alisku. “Kau ingin sampai di Glesik besok pagi ‘kan?”

“Ya, “

“Lalu?”

“Apa?”

Aku melipat kedua tanganku. Punggungku mulai terasa kebas karena kelehan dan sekarang ditambah oleh tingkah pemuda eksentrik yang menggerakan kaki dan tangannya berlawanan arah sambil tertawa. Aku tidak akan banyak berbicara kali ini. Kubiarkan, mataku menatap Jewel dengan tajam.

“Won, coba kau tengok bintang safir yang berada di pinggir bintang nila itu!” pinta Jewel dengan telunjuknya yang terangkat ke langit.

Mataku mengikuti arah yang ditunjuk Jewel.

“Yang mana? Ada ribuan, tidak, maksudku jutaan bintang nila dan bintang safir di atas sana!”

Jewel memadangku dengan tatapan yang remeh. Aku pun mendekati pemuda itu dan meletakkan bokongku di atas rumput yang terasa lembut. Kantung perbekalan yang menempel di bahuku segera kulepas. Baiklah, sepertinya kami akan tiba di Glesik tidak tepat pada waktunya karena aku pun memutuskan untuk bermalam di padang savana ini.

“Aduh, maafkan aku, Kawan, hehe.” kekehan meluncur dari bibir Jewel. “Maksudku yang itu. Bintang safir spesial. Di samping rembulan itu.”

Aku memeluk kedua lututku. Kembali aku mendongakan kepalaku. Aku melihat setitik noktah berwarna safir di samping bulan raya yang mengambil titik sentral di langit gelap itu.

“Aku melihatnya. Bintang safir itu.”

“Indah, ya.”

“Sama saja dengan bintang lainnya, menurutku.”

“Won, kau tidak asyik!”

Aku mengabaikan hujatan Jewel padaku. Kubiarkan dia melampiaskan kekesalannya dengan mencabuti rumput di sampingnya lalu membuangnya kepadaku. Sebenarnya, aku setuju dengan Jewel. Bintang safir yang hanya muncul bila memasuki fase bulan penuh itu sangat indah. Legenda mengatakan, bintang safir dan bulan purnama adalah jelmaan dari sepasang sahabat yang mengorbankan jiwa mereka untuk menyelamatkan Glesik dari amukan Sang Hitam. Karena ketulusan tiada akhir dan hati seputih salju abadi yang dimiliki, kekuatan hitam dapat diluluhlantakan. Meskipun pada akhirnya mereka harus meninggalkan dunia fana ini,  persahabatan mereka tak lekang digerogoti ruang dan waktu. Di mana ada bulan purnama, di situ ada bulan safir.

Jewel merubah posisi berbaringnya. Ia pun duduk bersila di sampingku. Mulut ikan koinya pun terbuka. Pertanda ia akan mengatakan sesuatu.

“Aku tahu kau ingin bercerita dengan Legenda Bulan Biru, ‘kan?” potongku cepat.

“Ka-kau tahu?” jawabnya takjub kepadaku.

“Tentulah.”

Aku mendecakan bibir. Dia pikir aku tidak tahu semua kebiasaannya. Setiap fase bulan purnama datang, dia pasti akan menyeretku keluar dari gubuk, menemaninya duduk di atas balkon atap rumahnya dan menatap bulan dan bintang dengan semangkuk kacang goreng buatan Jewel.

“Oke. Karena kau sudah tahu inti dari Legenda Bulan Biru, kali ini akua  hanyakan memberikan highlight-nya.” tawar Jewel tanpa meminta persetujuan dariku pasti.

Yakinlah, berteman dnegan Jewel memang terlihat sederhana. Namun tidak sesederhana itu. Kadang, kau harus bisa bersikap ekstra sabar dalam menghadapi sejuta lagak nyentrik dan menyebalkan ala Jewel. Beruntung, aku diberkahi kemahiran dalam memperlakukan seorang berkepribadian macam pemuda keramat itu.

“Kau belum pernah mendengar highlight-ku yang satu ini. jadi persiapkan telingamu baik-baik, Kawan!”

Dagu yang mulai ditumbuhi janggut-janggut halus pada wajahku kuraba. Aku pun menuruti Jewel. Aku mempersiapkan telingaku dan mencegah gangguan akustis yang akan menghambat proses penyampaian highlight padaku.

“Silakan dimulai. Highlight-mu, Jewel.”

***

“Apa aku pernah memberitahumu sebelumnya? Kau dan aku seperti dua sahabat Legenda Bulan Biru. Kau, bintang safir dan aku bulan purnama.”

“Sesusah apapun keadaan, kita pasti selalu bersama. Kau adalah seseorang yang terlebih dahulu mengulurkan tanganmu padaku.”

“Di balik sifat dingin dan kaku kau adalah pemuda berhati putih dan hangat.”

“Aku tak ingin berpisah denganmu. Perjalanan menuju Glesik akan menjadi akhir dari segalanya. Ketika kau resmi dinobatkan sebagai bagian dari Kaum Mugs, kita tidak akan bertemu lagi. Itulah sebabnya aku ingin menikmati perjalanan kita yang terakhir. Melawan waktu.”

“Won, kau tahu kenapa bintang safir itu spesial? Karena menurut ilmu astronomi, bintang berwarna biru itu lebih panas daripada bintang berwarna nila dan marun.”

“Ah, aku tahu kau pasti akan mual mendengarnya. Tetapi, aku menyayangimu, Won! Sangat menyayangimu! Yakinlah, kau akan selalu menjadi bintang safirku! Bersama sampai akhir!”

***

END.

Advertisements

Escape your thoughts!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s