[Special-Fict] Chasing The Sun

CTS

@xianara presents

Catching the Sun

BTS’ V / Kim Taehyung, Sun (OC), BTS’ Jimin and Seokjin || AU, Fluff, Romance, School-life || One-shot || Teen and up (warning of harsh words) || disclaimer: beside the poster and story I own nothing!!

Special made for my beloved sister fyomi288

mungkin inilah perasaan yang dialami Kikio saat pertama kali bertemu dengan Inuyasha.


Taehyung meraba kolong laci mejanya, seakan mencari sesuatu yang dikiranya berguna untuk keperluan ujian hari ini. Nihil.  Tangannya tidak menemukan apa-apa di dalam sana. Lantas, pemuda berambut hitam itu pun menarik kembali tangannya.

“Biasanya ada kertas penyemangat di laci mejaku tapi kenapa sekarang tidak ada, ya?” Taehyung berbicara pada dirinya sendiri.

Kelas terlihat masih sepi, maklum jam baru menunjukkan pukul setengah tujuh pagi. Dan orang yang rajin datang pagi ke sekolah hanyalah dia, Kim Taehyung. Seraya menelungkupkan kepala di atas meja, Taehyung memandang ke luar jendela yang menampilkan atap-atap rumah penduduk sekitar yang berselimut kabut tipis di dekat sekolahnya. Rasa kantuk yang tiba-tiba menerjang, tak ayal membuat Taehyung memilih untuk tidur – kegiatan rutinnya selain makan di kantin dan duduk di kursi kelas.

Belajar bukan prioritasnya sebagai siswa kelas dua SMA. Memang begitulah perkara seorang Taehyung yang tidak begitu dikenal guru kalau bukan karena absensi kelas dan teman-teman sekelasnya.

***

“Dia sudah tertidur.” Terdengar gumaman seorang gadis di balik pintu kelas Taehyung.

Gadis itu berambut ikal dan menyandang ransel hijau lemon di punggungnya. Name-tag pada seragamnya tertulis Go Sun Hee, atau dia yang lebih dikenal sebagai Sun.

Sun kembali mengintip suasana kelas Taehyung yang hanya diisi oleh presensi pemuda yang sudah tertidur itu. Beruntung, Taehyung yang sedang tidur itu menghadap ke jendela sehingga membelakangi pintu kelas yang terbuka itu.

Dari balik saku blazernya, Sun mengambil sebuah bungkusan berwarna hitam berukuran sepuluh kali lima sentimeter dengan ornamen pita putih yang membungkusnya. Sun menghitung sampai tiga. Dan dalam hitungan ketiga, Sun melempar bungkusan itu. Lemparan gadis itu pun mengenai tepat bagian belakang kepala Taehyun. Sontak membuat pemuda itu terbangun. Sejurus kemudian, Sun pun segera melarikan diri dan meninggalkan Taehyung yang keheranan sendiri saat mendapati sebuah bungkusan yang tergeletak di dekat kaki mejanya.

***

‘Semangat untuk ujian hari ini, Taehyungie! Kau pasti tidak membawa alat tulis, nah, makanya kuberikan alat tulis ini untukmu. Gunakan dengan baik, oke?!’

Morning Sunshine

Setelah membaca pesan yang tersemat pada secarik kertas berwarna biru muda itu, Taehyung pun mengernyit. Taehyung  menimang-nimang spidol dan pensil pemberian orang misterius tersebut. Ini bukan pertama kalinya Taehyung mendapatkan seperangkat alat tulis ataupun secarik kertas penyemangat dari seseorang dengan inisial nama Morning Sunshine itu.

Seseorang yang mengaku sebagai cahaya matahari pagi, Morning Sunshine, apa pasti seorang perempuan? Uh, pemuda itu tidak bisa membayangkan kalau yang mengiriminya pesan-pesan manis itu adalah seorang lelaki. Bayangan Park Jimin yang suka menggodanya karena terlalu cantik melintasi imajerinya dan membuatnya mual seketika. Tidak, pelakunya bukan Park Jimin, tentu saja.

“Pagi!” sapa Jimin dengan ceria, membuyarkan lamunan Taehyung pada sosok misterius yang selama ini menghantui pikirannya.

Pemuda berlesung pipi dalam itu pun merangkul pundak Taehyung yang dibalas tatapan horor Taehyung seolah mengatakan ‘Turunkan tanganmu!’ itu. Taehyung pun tak urung membalas sapaan ceria oknum yang duduk di kursi sebelahnya itu.

“Kenapa dengan wajahmu?” tanya Jimin, melepaskan rangkulan pada pundak Taehyung dan beralih menuju kursinya sendiri.

“Tidak kenapa-kenapa.” balas Taehyung tak acuh. “Oi, Jimin-a, aku mau tanya sesuatu.”

“Eh, tumben. Ada apa? Silakan, tanyakan saja. Apa-apa?” cerocos Jimin.

“Benar kau tidak tahu siapa orang di kelas kita yang memakai username Sunsnhine atau Morning?”

“Yah, soal itu lagi.” Jimin pun menghela napas kecewa. Dia pikir Taehyung akan bertanya soal yang penting, seperti apa Jimin mengecat rambutnya? Karena, hari ini Jimin tampil dengan rambut yang dicat ungu seperti luka lebam akibat habis dipukul.

Jimin pun sebenarnya mengetahui perihal Taehyung yang setiap pagi mendapatkan penyemangat dari pesan-pesan yang ditemukan di kolong meja. Dia pun juga sama butanya dengan Taehyung, tidak tahu siapa dalang di balik semua ini.

“Memangnya kau tidak tahu siapa?”

“Kalau aku tahu aku tidak akan bertanya, “ Taehyung menjawab dengan malas. “Kali ini orang itu juga memberiku alat tulis. Ck, aku terlihat seperti fakir miskin saja.”

Jimin menaruh tangan di bawah dagunya, terlihat seperti sedang menganalisis.

“Dia, Si Morning Sunshine ini benar-benar misterius. Siapa dia sebenarnya? Eh, tunggu.” Jimin pun menggebrak mejanya, menatap Taehyung dengan sorot yang serius. “Apa kau sebelumnya pernah berhubungan dengan seorang gadis? Seperti menolong gadis yang terjatuh? Mengambilkan buku yang sulit diraih untuk seorang gadis di perpustakaan?” lanjutnya.

Rentetan adegan khas drama sekolahan yang disebutkan Jimin sontak membuat rasa mual di lambung Taehyung muncul lagi. Masih pagi tetapi dia sudah dibuat mual dua kali. Oh, apakah dia harus berhenti datang pagi-pagi sehingga kemungkinan untuk menderita asam lambung terhindari?

“Kau gila?” sembur Taehyung sambil menatap Jimin tak percaya. “Memangnya siapa gadis yang sukarela menjatuhkan diri di depanku? Memangnya aku sekeren Kim Tan!? Lalu, aku juga tidak pernah ada di perpustakaan selama aku bersekolah di sini.”

“Ah, iya kau benar. Aku lupa soal itu, hee.” Jimin meringis.

“Ya sudahlah. Siapapun Sunshine itu aku tak peduli. Yang penting dia tidak menyukaiku saja.” ucap Taehyung enteng. “Soalnya aku tidak tahu harus melakukan apa kalau dia menyukaiku.”

Jimin yang mendengarnya sontak memasang ekspresi ingin sekresi di kursi sekarang juga. Walaupun terkesan cuek, perkataan Taehyung yang sangat percaya diri barusan membuat Jimin sedikit risih karena ternyata ada yang lebih percaya diri darinya.

“Ya, ya, terserahmulah, Kim Taehyung! Sudah, sana pergi tidur lagi!”

***

Lorong kelas yang nampak dipenuhi gerombolan murid-murid yang segera ingin pergi ke kantin itu pun dilewati dengan paksa oleh Taehyung. Pemuda itu justru memilih berjalan pada arah yang berlawanan dengan kantin karena dia harus pergi menemui seseorang di kelas sebelah. Dalam ujian Bahasa Inggris tadi, pemuda itu diamanatkan Guru Jung untuk memanggil ketua kelas 2-3, untuk menghadap beliau saat istirahat.

Pintu kelas 2-3 pun digeser oleh Taehyung. Dia pun melongokkan kepala. Lalu, mata-mata yang tadinya sibuk dengan urusan sendiri-sendiri yang ada di dalam kelas itu pun menghampiri Taehyung dan kembali berpaling pada kegiatannya masing-masing.

“Go Sun Hee – ketua kelas! Apa hari ini dia masuk?” seru Taehyung.

Kali ini, dia pun memasuki kelas tersebut. Lantas memandang ke seluruh penjuru kelas.

“Ya! Itu orangnya yang sedang membaca komik, yang duduk di depanmu!” celetuk salah seorang bocah lelaki berambut seperti landak.

Taehyung mengangguk lantas mengetuk permukaan meja seseorang yang menutupi wajahnya dengan komik Inuyasha itu.

“Go Sun Hee?”

Seseorang itu pun enggan bergeming. Tidak menjawab panggilan Taehyung. Lantas,  Taehyung menarik komik yang dibacanya itu sehingga menampilkan wajah seorang gadis yang terlihat khusyuk mengikuti cerita siluman anjing tampan itu.

“Go Sun Hee, kau dipanggil – “

“Apa-apaan – “ ucapan Sun terputus kala maniknya menangkap seorang Taehyung yang mengganggu kegiatan menamatkan Inuyasha volume terbaru miliknya itu.

Sepasang headset bertengger di kedua telinga Sun. Pantas saja gadis itu tidak menjawab panggilan Taehyung. Sun memasang wajah normalnya, berdehem pelan guna mengusir rasa gugup. Seorang Kim Taehyung kini berdiri di hadapannya, catat itu.

Ekspresi kaget yang terpancar pada wajah gadis di hadapannya sontak membuat Taehyung merasa tak enak. Tunggu, wajah gadis itu pun seperti tidak asing baginya. Sontak Taehyung meluncurkan kedua telapak tangannya ke dalam saku celananya, mundur satu langkah ke samping.

“Oh, maaf. Ada apa?” cicit Sun. Dia pun menarik kedua headset yang menyumpalnya dengan lagu-lagu milik ONE OK ROCK bervolume super kencang itu.

“Kau Go Sun Hee, ‘kan?” tanya Taehyung memastikan.

Sun mengangguk.

“Kau dipanggil Guru Jung untuk menemuinya di ruang guru sekarang.”

“Oh, i-iya. Terima kasih.”

Taehyung mengangguk lantas berbalik meninggalkan kelas Sun. Tak lama kemudian, Sun merasakan jantungnya sudah tergeletak di lantai. Sun seperti habis ditabrak truk. Semua tubuhnya kaku, tidak bisa digerakkan. Dia pun berpikir betapa anehnya ekspresi dirinya saat melihat Taehyung berdiri di hadapannya tadi.

“Ya Tuhan, dia terlihat lebih manis saat dilihat dari dekat!”

***

Kali ini, Taehyung sedang berjalan seorang diri tanpa Jimin di sampingnya karena dia langsung melejit ke luar kelas saat bel berdering untuk mengikuti sparring futsal bersama kelas sebelah. Sementara, Taehyung yang dikenal sebagai orang yang bego olahraga memilih untuk pulang ke rumah atau mampir sebentar ke warung rental komik milik kakak sepupunya.

Ah, benar. Lebih baik mampir ke warung rental komik milik Seokjin Hyung daripada pulang ke rumah yang jelas-jelas tak ada siapa-siapa selain dirinya.

Taehyung tinggal sendiri di Seoul karena ibunya sudah meninggal semenjak dia bayi. Sementara ayahnya bekerja di luar Seoul, sehingga beliau hanya pulang ke Seoul setiap beberapa bulan sekali.

Di perjalanan Taehyung kembali memikirkan siapa Morning Sunshine itu. Dia sungguh penasaran. Bagaimana bisa seseorang memberinya paket semangat di awal hari dalam kurun waktu hampir dua bulan secara berturut-turut. Seingat Taehyung, dia tidak pernah berurusan dengan satu gadis pun di sekolah. Ya, kecuali guru perempuannya. Itupun, mereka semua sudah bukan gadis lagi alias sudah berstatus.

“Morning Sunshine, siapa sih kau sebenarnya?”

***

Hongdae, 60 hari yang lalu.

Warung rental komik yang terletak di ujung persimpangan jalan itu terlihat ramai. Ruangan yang luasnya tidak lebih dari lima belas meter kali sepuluh meter itu dipenuhi oleh para siswa, baik berseragam SMP maupun SMA. Nampak juga beberapa orang dewasa yang memilah-milah komik favorit mereka di sana.

Sun, salah satu gadis berseragam SMA yang dibalut dengan jaket baseball LA Dodgers itu berdiri di depan rak komik yang dijejali dengan jejeran komik Inuyasha dari volume satu sampai volume terbaru. Matanya, sibuk menjelajahi tiap-tiap kover yang menampilkan wajah manis Inuyasha ataupun wajah sangarnya. Kedua tangannya pun memeluk tiga komik Black Butler pesanan sepupunya.

“Ah, volume 143! Aku belum sempat membaca yang satu itu! Keburu dihilangkan oleh Jungkook. Ah, menyebalkan!” Sun menyebutkan salah satu adik sepupunya yang juga menggemari serial Inuyasha itu.

Setelah diberitahu oleh Seokjin Oppa – pemilik warung rental komik yang masih kuliah, Sun pun langsung menuju salah satu rak yang terletak di lorong tengah, yang ternyata cukup sepi. Kemudian, Sun menemukan Inusyasha volume 143 yang dicari-carinya.

Tetapi naas bagi Sun yang tinggi badannya hanya menyentuh angka 160 senti saja. Sun membenci kenyataan yang merujuk bahwa dia pendek! Sun tidak bisa menjangkau komik yang terletak di bagian paling atas tersebut. Kakinya sudah jinjit bahkan sampai pada batas maksimal yang meyebabkan jari-jari kakinya serasa mau patah.

“Ah, tinggi sekali!”

Sun tidak kehilangan akal. Dia menaruh komik yang dipegangnya dan mengambil tumpukan komik lainnya yang ada di rak bagian bawah. Sun bermaksud untuk menyusun komik tersebut sebagai undakan untuk mencapai bagian yang tinggi. Namun, Sun mengurungkan niatnya. Dia tidak tega menginjakkan alas sepatunya di atas wajah tampan Inuyasha itu. Apalagi kalau dia sampai ketahuan Seokjin Oppa karena merusak komik-komiknya. Habislah dia.

Sun memandang sekeliling yang sudah mulai agak sepi. Dia melirik arlojinya, pukul setengah tujuh malam. Wah, sudah lama juga dia bercokol di warung rental ini ternyata. Lagipula dia juga tidak menemukan kehadiaran bangku ataupun tangga yang bisa digunakan untuk mempermudah jalannya mengambil komik yang diincarnya itu.

Opsi memanjat rak pun segera ditepis jauh-jauh oleh Sun. Ayolah, dia tidak ingin terlihat konyol apabila rak yang dipanjatnya itu tiba-tiba oleng karena bobot tubuhnya dan menimpanya. Di mana sih Seokjin Oppa? Sun membatin kesal, dia tidak melihat batang hidung mancung oppa yang cukup manis itu.

“Hah, ini menjengkelkan.” keluh Sun.

Sekali lagi, gadis itu pun berjinjit, meregangkan pergelangan kakinya semaksimal mungkin. Anggap saja keajaiban akan terjadi. Semisal, dia berubah menjadi Luffy dan bisa memanjangkan seluruh anggota tubuh sesukanya.

Tiba-tiba, sebuah tangan terulur dari arah samping Sun, mengambil komik Inuyasha yang diinginkan Sun. Gadis itu pun mendapati sebuah seragam yang sama persis dengan sekolahnya. Dengan name-tag yang tertulis Kim Taehyung. Sun mendongak kepada si empunya tangan yang tahu-tahu menyodorkan komik favoritnya itu. Kedua mata Sun terkesiap, secara impulsif tangannya pun tergerak untuk menerima sodoran komik tersebut.

“Lain kali jangan malu untuk meminta bantuan.” pesan Taehyung sambil meletakkan beberapa komik pada rak di depannya.

“T-terima kasih.” gumam Sun tanpa berani memandang Taehyung yang sibuk mengatur tata letak komik tersebut.

“Sama-sama.” balas Taehyung sambil berlalu. “Hyeong!? Seokjin Hyeong, kalau komik Candy di mana tempatnya?” teriaknya, meninggalkan Sun yang masih berdiam diri memandangi komik Inuyasha yang kini berada di genggamannya.

Rasa-rasanya, jutaan kupu-kupu sayap renda berterbangan di dalam perut Sun. Perasaan ini, apa namanya, ya? Kira-kira, mungkin inilah perasaan yang dialami Kikio saat pertama kali bertemu dengan Inuyasha. Parahnya lagi, rasanya Sun ingin segera berlari ke rumah Jungkook untuk berterima kasih kepada adik sepupunya yang sudah menghilangkan komiknya itu.

***

Malam minggu, waktu favorit para kaula muda menghabiskan waktu di sekitaran Hongdae yang dikenal sebagai Youngstreet-nya Seoul. Hongdae didapuk sebagai kawasan anak muda Seoul berkumpul karena di sana terdapat salah satu universitas terbesar di Seoul, Universitas Hongik. Selain itu, daerah yang terletak di distrik Mapo-gu itu merupakan daerah yang mudah diakses dari mana saja. Jadi, tak pelak banyak berdiri guest house ataupun hostel di sana.

Taehyung memilih untuk membantu hyung-nya menjaga warung rental komik yang sudah berdiri selama hampir  setahun. Kali ini dia tidak sendiri, tentu saja ada Jimin yang siap membantu sambil mencuci mata pada setiap pengunjung wanita yang datang.

“Aku bawa tteokboki! Siapa yang mau?!” seru Seokjin sesaat dia sampai dan meletakkannya di atas meja dekat pintu masuk.

“Aku mau! Wah, Hyeong kau tahu sekali gayaku! Terima kasih!” Jimin mengangkat telapak tangannya antusias.

“Seokjin gitu. Hee.” cengir Seokjin sambil membuka bungkusan tteokboki yang dibelinya di pojamangcha yang berjejer rapi di sekitar Hongdae.

“Kenapa sudah pulang? Tidak jadi kencan?” Taehyung mengecek arloji hitam yang melingkar di pergelangan tangan kirinya.

Eo, jadi kok. Siapa bilang tidak jadi. Tadi Ye Eun ada urusan mendadak jadi kami hanya berjalan sebentar di Seoul Forest saja.” jelas Seokjin sambil menusuk satu potong kue beras yang besar dan melahapnya.

Hyeong, tidak ada odeng, ya?” Jimin menggumam di saat mulutnya sudah penuh oleh beberapa potong tteokboki.

“Ada, kok. Ini, makanlah yang banyak.” Seokjin memberikan bungkusan lain yang berisi beberapa tusuk odeng dan membukakan penutup mangkuk pada kuah kaldu yang mengepulkan asap.

Taehyung menggeleng sangsi melihat kelakuan Jimin yang gelap mata kalau melihat makanan. Dia pun hanya memakan satu potong kue beras yang dibumbui dengan gochujang itu tak berselera.

“Sebenarnya adikmu itu aku atau dia, sih?”

“Kalian berdua.” Seokijn tertawa menanggapi pertanyaan retoris Taehyung. “Kenapa kau sensi sekali, sih? Ada apa, eo?”

“Itwu, kawrena dia sedwangw gwalaw.” tukas Jimin dengan mulut yang belepotan saus tteokboki.

“Diam! Kalau sedang makan jangan berbicara, bersihkan juga mulutmu itu!”

Taehyung melotot pada Jimin dan melemparkan tisu padanya. Jimin membersihkan mulutnya dengan tisu yang disodorkan Taehyung tadi.

“Ha? Galau?” jawab Seokjin tak percaya. “Seorang Kim Taehyung sedang galau. Wah, apa dia sedang PMS?” tanya Seokjin pada Jimin sambil mengerling kepada adik sepupunya itu.

Hyeong, hentikan! Tidak lucu!”

“Lebih tepatnya, dia galau karena seorang wanita. Kau percaya itu, Hyeong? Aku sendiri, teman sekelasnya saja tidak percaya.”

“Benarkah? Yaa, Taehyung-a, kau tidak pernah bercerita tentang ini kepadaku. Apa yang sebenarnya terjadi?”

Taehyung seperti seorang terdakwa yang jelas-jelas bersalah di tengah persidangan dan disudutkan oleh dua jaksa penuntut yang kejam; hyeong-nya dan si bocah bermulut besar itu. Dia memang tidak menceritakan soal Si Cahaya Matahari Pagi pada Seokjin sebab Taehyung merasa jengah untuk menceritakannya. Ayolah, dia ‘kan seorang pria bukan seroang wanita yang dengan gampangnya kecolongan curhat di sana-sini. Taehyung yang tidak bisa mengelak dari Seokjin karena persuasi sialan Park Jimin pun akhirnya menceritakan kepada Seokjin perihal Morning Sunshine yang gemar mengiriminya sepucuk pesan di pagi hari.

“Oh, jadi begitu. Wah, ternyata kau keren juga, Taehyung-a. Kau memiliki pengagum rahasia.” Seokjin berkata sambil menangkupkan kedua tangannya di pipi.

“Keren apanya? Kalau misalnya yang mengagumiku seorang pria, bagaimana?” Taehyung bergidik ngeri.

“Demi Tuhan, kau tidak peka sekali sih jadi pria! Sudah pasti si Morning Sunshine itu wanita! Dari namanya saja, sudah jelas sekali. Mana ada pria yang mau menggunakan Morning Sunshine sebagai identitasnya?! Dia menyukaimu, itu intinya!” Jimin pun menjatuhkan khotbah kepada teman sekelasnya yang agak lambat tersebut.

“Kau mungkin akan memakai nama itu, secara kau itu ‘kan..” ceplos Taehyung cepat, membuat tanda kutip dengan kedua tangannya yang dihadiahi toyoran oleh Jimin.

“Jimin benar. Aku yakin seratus persen, Si Morning Sunshine ini wanita. Aku juga merasakannya dari nada pesan yang dia kirim kepadamu itu.”

Taehyung memilih untuk bungkam. Tidak membalas hipotesa Seokjin barusan. Setusuk odeng yang tersisa pun dicomot Taehyung, melahapnya dan meninggalkan tusukannya di atas meja. Taehyung lantas bangkit dan meninggalkan dua pria yang menatapnya dengan intens. Seakan menunggu konklusi darinya.

“Entahlah, aku hanya penasaran siapa dia sebenarnya.” ucap Taehyung sambil berjalan menuju meja depan yang berfungsi sebagai tempat peminjaman dan pengembalian komik.

Tiba-tiba, lonceng yang dipasang Seokjin di atas pintu masuk berbunyi. Memunculkan sesosok gadis dengan sepatu converse dan balutan celana jins panjang beserta jaket baseball LA Dodgers yang membungkus badannya.

“Ketua Go?”

Sun yang tidak melihat Taehyung yang berdiri di balik meja besar itu pun terkejut saat mendengar seseorang memanggilnya. Terlebih setelah mengetahui siapa penyerunya itu. Ya, siapa lagi kalau bukan Kim Taehyung.

“Sedang apa kau di sini?”

Sun mencoba menetralisir desakan kepingan hemoglobin yang berlomba-lomba menuju pipinya. Dia pun berusaha sekuat tenaga menyembunyikan rona pada pipinya.

“Meminjam dan mengembalikan komik, tentu.” jawab Sun kalem.

“Oh, iya benar.” Taehyung mengangguk. “Kalau begitu, siapa nama pelangganmu?”

“Sunshine.”

Taehyung mendongak dari layar komputernya dan menatap Sun. Sun yang ditatapi seperti itu pun menelengkan kepala, menekan rasa gugup melihat Taehyun yang intens memandanginya. Dia pun meletakkan tiga buah komik Gundam yang dipinjamnya. Taehyung tersadar dari keterdiamannya selama beberapa detik tadi. Mendengar kata-kata yang berkonotasi pada matahari membuatnya agak sensitif.

“Tiga komik Gundam volume 234, 235, dan 236. Tanggal kembalinya 23 Mei.” Taehyung membaca keterangan yang ada pada kolom tersebut.

“Aku tidak telat mengembalikannya, ‘kan?” Sun pun memberanikan diri bersuara.

Taehyung mengalihkan fokusnya dari layar dan mengangguk kepada Sun.

“Aku mau meminjam komik lagi, permisi.”

Buru-buru, Sun meninggalkan Taehyung yang mengangkat bahu melihat tingkah laku gadis itu. Jimin dan Seokjin yang memerhatikan dalam diam sedari tadi pun menuntut penjelasan pada Taehyung.

“Dia anak kelas sebelah.” hanya itu yang dapat Taehyung berikan.

Sun mengambil secara acak komik Black Butler dari tempatnya. Pikirannya saat ini kacau, apalagi kalau bukan karena melihat Taehyung di sini. Uh, dia lupa kalau setiap Sabtu, Taehyung akan berada di sini untuk membantu Seokjin. Sun juga menyesal tidak langsung kabur dari sini. Dia malah memilih menggelamkan diri pada tumpukan komik Black Butler; bersembunyi dari Taehyung.

“Kau suka Black Butler?”

Tiba-tiba, Taehyung muncul di samping Sun. Sontak membuatnya terperanjat dan hampir menjatuhkan komik yang dipegangnya. Uh, beruntung sekali, Sun. Kau tidak jadi dicap gadis yang ceroboh oleh Taehyung.

“Ups, maaf. Aku mengagetkanmu.”

“Tidak-tidak.” Sun menggeleng. “Kau tidak mengagetkanku, sungguh.”

“Benarkah? Uhm, kau sudah menonton Black Butler 2?” Taehyun menunjuk komik yang ada di tangan Sun.

Sun mengangguk.

“Jadi, siapa butler yang kau suka di Kuroshitsuji 2?”

“Eh, itu aku suka dengan Sebastian. Kau sendiri?” Sun menyuarakan karakter pelayan dalam serial anime Black Butler bernama Sebastian Michaelis yang terkenal karena ketampanan dan karismanya itu.

Taehyung mengerutkan dahi, terlihat seperti berpikir keras. Mau tak mau, Sun tidak bisa tersenyum melihat ekspresi Taehyung yang terlihat lucu itu. Ternyata, memilih di antara ketiga Black Butler lebih sulit dibanding mengerjakan soal ujian.

“Tidak ada.” Bocah itu pun melirik Sun yang terlihat bingung mendengar jawabannya. “Jangan tanya kenapa karena aku juga tidak tahu.”

Kepolosan yang tersirat pada ucapan Taehyung barusan membuat Sun semakin tersenyum lebar.

“Kau aneh dan lucu.”

Taehyung membalas dengan menyunggingkan senyuman kecil yang sukses membuat Sun jadi salah tingkah. Taehyung pun merasa familiar dengan jaket baseball yang dipakai Sun. Taehyung seperti pernah melihat Sun memakai jaket itu sebelumnya.

“Tetapi aku suka dengan karakter Ciel. Dia jauh lebih baik dibandingkan Si Trancy itu.” sambung Taehyung. “Oh ya, Ketua Go, apa kau sering datang ke sini?”

Sun sekali lagi mengangguk. Nah, sekarang Taehyung ingat. Dulu, dia pernah mengambilkan komik Inuyasha dan memberikannya kepada Sun. Pada saat itu, Sun memang memakai jaket baseball itu.

“Oh, kau! Kau bukannya siswi yang saat itu kesusahan untuk mengambil komik Inuyasha itu ‘kan?” tanya Taehyung memastikan. “Ah, itu kau! Ya, aku ingat sekarang itu kau.”

Kedua bola mata Sun hampir saja keluar dari sarangnya. Taehyung mengingatnya. Ya ampun! Sun rasanya ingin melaksanakan sujud sembah kepada dewa matahari. Namun dia mengurungkan niat konyolnya itu. Sun memilih menggaruk tengkuknya yang tak gatal, mengangguk samar.

Eo, kau benar.”

Taehyung seperti habis menebak lotre dengan tebakan yang jitu. Namun sedetik kemudian, Taehyung menepuk jidatnya. Karena terlalu asyik mengobrol dengan Sun, dia sampai tidak memberitahukan siapa namanya. Pantas saja, gadis itu terlihat agak kikuk saat mengobrol dengannya. Sedari tadi pun Taehyung hanya mendengar Sun memanggil dirinya dengan sebutan ‘kau’.

“Aku Kim Taehyung, murid kelas 2-2.”

“Aku su – “ Sun memotong ucapannya, menjengit dan tersenyum kikuk. “Kau sudah tahu namaku ‘kan?”

“Go Sun Hee. Ketua kelas 2-3. Ya, aku tahu.”

“Panggil aku Sun saja.”

Hampir saja Sun ketahuan. Bagaimana mungkin dia bilang ‘aku sudah tahu, ‘kan kau adalah orang kusukai’ kepada Taehyung? Itu sama saja dengan Sun menggali lubang kuburannya sendiri. Cari mati.Sun, lagi-lagi kau beruntung kali ini. Semoga saja, dia juga tidak curiga kepadamu kalau orang yang selama ini meninggalkan notes kepadanya adalah kau, Go Sun Hee.

“Kukira kau hanya menyukai Inuyasha saja.” Taehyung kembali membuka percakapan di antara mereka.

“Kukira kau juga tidak menyukai komik atau anime dan semacamnya.”

Taehyung yang sedang mengisi data di komputer pun memandang Sun heran. “Eh, maksudnya?”

Sun tersadar. Buru-buru ia pun melanjutkan. “Eo, itu habis kau tidak bergabung dengan komunitas anime di sekolah. Jadi, ya, kukira begitu.”

Lagi-lagi Sun menggali kuburannya sendiri. Dia kembali hampir keceplosan membeberkan bahwa dirinya selama ini memerhatikan Taehyung diam-diam. Beruntung, Taehyung tidak curiga dan kembali melanjutkan kegiatan mengisi data peminjaman di komputer.

Eo, aku mengerti. Sun, nomor kartu pelajarmu?”

“Tunggu sebentar, “

Sun tidak bisa mengingat sembilan digit nomor kartu pelajarnya sendiri. Dia pun buru-buru mengeluarkan dompet di dalam tas selempangnya. Bahkan sampai mengeluarkan seluruh isi tasnya yang terdiri dari dompet, headset, dan buku catatan berwarna biru muda.

“Maaf, aku tidak mengingatnya. Nah, ini.”

Sun mengulurkan seonggok kartu pelajar berwarna silver kepada pemuda itu.

“Tidak apa.” Taehyung memaklumi.

Ponsel yang tersimpan di dalam saku jaket Sun tiba-tiba bergetar. Buru-buru, Sun mengangkat panggilan yang berasal dari sepupunya itu.

“Halo? Astaga, aku lupa! Maafkan aku!! Ya, aku segera ke sana. Kau tunggu saja, oke?”

Taehyung pun memberikan komik yang sudah didata tersebut kepada Sun yang diterimanya dengan gerakan yang buru-buru. Begitu juga dengan Sun yang memasukan barang-barangnya yang masih tercecer di atas meja dengan gerakan yang agak rusuh.

“Taehyung, terima kasih, ya! Aku pamit dulu, bye!”

Setelah memastikan semua barang-barang sudah dimasukkan, Sun pun menyambar komik yang dipinjammnya dan buru-buru melesat ke rumah Jungkook yang sudah menunggunya itu. Akan tetapi Sun melupakan sesuatu.

Mata lelaki itu menangkap sebuah notes yang tertinggal di atas meja. Taehyung pun langsung menyambarnya dan segera menyusul Sun yang dikiranya belum terlalu jauh. Tak ketinggalan, dia juga menyerukan nama Sun dengan kencang.

“Sun!! Ketua Go!! Notes-mu ketinggalan! Yaa!

Namun ternyata Sun sudah menghilang, ditelan taksi yang langsung berhenti di depannya. Gadis itu seperti pasukan kamikaze, cepat sekali jalannya, batin Taehyung. Notes yang ada di genggamannya pun dimainkan oleh Taehyung. Menyebabkannya sedikit terbuka. Kertas notes itu mirip seperti pesan berisi penyemangat Si Morning Sunshine. Taehyung tahu ia sudah lancang, membuka notes milik Sun tanpa seizin pemiliknya.

Setelah mengeceknya secara asal-asalan, Taehyung menutup notes itu. Isinya pun hanya rangkaian tugas sekolah yang tidak begitu penting. Tunggu dulu, tulisan tangannya nampak tidak asing bagi Taehyung. Beruntung, di dalam saku jaketnya, Taehyung menyimpan kertas yang diberikan Si Morning kemarin. Dia pun mencoba menyocokkan tulisan yang ada di kertas itu dengan yang ada di notes punya Sun itu.

“Tidak mungkin..”

Betapa terkejutnya Taehyung ketika mengetahui bahwa tulisan tangan Sun ternyata sama persis dengan tulisan seseorang yang selama ini selalu menyemangatinya. Taehyung menatap tidak percaya kepergian gadis itu beberapa menit yang lalu. Sun memang pergi tetapi dia meninggalkan sebuah jejak menuju harta karun yang selama ini dicari-cari Taehyung.

“Kau, rupanya. Sun si Matahari.”

***

Sun mengintip ke dalam kelas Taehyung. Dia menemukan sosok Taehyung yang menelungkupkan kepala dan menghadap jendela. Sun tersenyum senang. Dia pun langsung merogoh bungkusan berwarna hijau muda yang ada di dalam kantong blazer sebelah kirinya. Lantas mengecupnya pelan. Kali ini, dia memberikan sebuah hadiah kecil berupa penghapus. Kemarin, saat sepulang sekolah, Taehyung sempat mengeluh karena penghapusnya yang dihilangkan oleh Jimin. Ya, gadis itu dan Taehyung kemarin pulang bersama, catat itu! Sun terkikik geli tanpa bersuara. Dia memang agak gila. Kertas saja pakai dicium.

Setelah memastikan Taehyung masih terlelap di tempatnya, Sun kembali menghitung sampai tiga dalam hati. Dan, pada hitungan ketiga,

“Ketua Go? Apa yang kau lakukan?”

Gerakan tangan Sun yang mengayun terhenti di udara. Dia menatap Taehyung yang berdiri di depannya, yang memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya. Sun membeku di tempat. Matilah kau, Sun!

Mata Taehyung menyipit melihat bungkusan yang ada di genggaman Sun. Belum sempat Sun menarik tangannya itu, Taehyung keburu merebut bungkusan itu dan menggoyangkannya di depan wajah Sun yang memucat.

“Apa ini?”

“T-taehyung?”

Lalu, yang tidur di tempat Taehyung siapa? Sun menengok ke tempat duduk Taehyung. Tahu-tahu, dia melihat Jimin yang melambai ke arahnya sambil tersenyum jenaka. Taehyung merobek bungkusan yang ada di tangannya itu. Dia pun menemukan sebatang penghapus dan secarik kertas yang sudah ia tahu pasti apa isinya.

‘Jangan sampai Jimin meminjamnya! Jaga baik-baik, oke? Satu lagi, semangat untuk pelajaran olahraga hari ini! fighting!!’

Morning Sunshine

Sun seperti terdakwa yang divonis hukuman nomor satu oleh hakim. Dia tidak bisa berbuat apa-apa. Dia mau kabur tetapi tidak bisa. Sementara Taehyung tidak dapat menyembunyikan senyumannya, membaca tulisan Sun di situ. Dia pun melihat Sun yang tidak berani mengangkat pandangannya.

“Ini buatku?” tanya Taehyung, terdengar retoris.

“I-iya.” Sun yang tidak bisa mengelak pun membenarkan.

Sun sudah ketangkap basah oleh Taehyung kali ini.

“Terima kasih, Sun – “ Taehyung sengaja melambatkan ucapannya. Jarak yang tadinya tercipta di antaranya dan Sun pun perlahan terkikis. “ shine. Morning Sunshine.”

Sun mendongak. Tuh ‘kan, bocah itu sudah tahu. Tamatlah riwayatmu, Go Sun Hee. Hari ini, Sun tidak akan melupakan hari di mana dia merasa sangat malu. Dia berharap dirinya segera menghilang dari hadapan Taehyung sekarang juga, memohon kepada bumi untuk menelannya bulat-bulat. Kerongkongan gadis itu terasa kering. Sun tidak bisa mengucapkan apa-apa selain meloloskan udara dengan pasrah.

“I-itu, aku bisa menjelaskan, aku – “

Taehyung meletakkan telunjuknya di atas bibir Sun yang terasa lembut. Perlakuan bocah itu pun sukses membungkam Sun dan membuatnya seperti terkena efek melihat Basilisk pada serial Harry Potter ke-dua. Dia membatu. Sun berdoa dalam hati, semoga sehabis ini dia masih bisa melanjutkan hidup dengan seluruh organ vitalnya yang melemah karena sentuhan Taehyung itu.

“Tidak perlu.”

“Apa?” Sun mengatakannya sambil membelalakkan kedua matanya. Apa Taehyung marah?

“Aku tidak marah.” seolah-olah Taehyung bisa menerawang pikiran gadis itu. “Aku justru, senang.”

“Apa?”

“Aku menyukainya, semuanya.”

“Apa?”

“Astaga, Ketua Go! Kau kehabisan kosakata? Daritadi hanya berkata ‘apa’ dan ‘apa’.” cibir Taehyung yang diimbuhi dengan tawa yang meluncur deras dari bibirnya.

Sun menunduk malu. Saat ia mengangkat kepalanya, Sun melihat Jimin yang tahu-tahu sudah berdiri di sampingnya.

“Selesaikanlah kalian berdua, oke?! Fighting!

Selanjutnya, pria komik itu pun melesat meninggalkan Taehyung dan Sun berdua. Membiarkan keduanya mengakhiri atau mengawalinya dengan manis.

“Apa maksudnya tadi?” gumam Sun yang dapat didengar oleh Taehyung.

Taehyung pun menarik napas dalam-dalam lalu menghembuskannya dengan kencang.

“Sun, karena aku sudah menemukan Si Cahaya Matahari Pagi, yaitu kau sendiri maka aku, a-aku –  “

“Aku menyukaimu, Taehyung!” tukas Sun.

Sial. Masa seorang pria kecolongan start untuk bilang suka duluan. Sun langsung menunduk dalam-dalam setelah menyatakan perasannya pada Taehyung. Mengubur dalam-dalam dirinya dalam lubang kuburan yang tahu-tahu sudah siap sedia. Dan tanpa ba bi bu lagi, Taehyung pun membalasnya dengan mendekat ke wajah Sun, berbisik tepat di depan manik gadis itu.

“Aku juga menyukaimu, Cahaya Matahari Pagi.”

CUT.


a/n:

aduhh, shel, maafin kakak yang udah ngelewatin deadline ff yang kaka janjiin sama kamu..untuk sementara ff itu ditangguhkan dulu, ya? gapapa kan? sebagai gantinya, kaka persembahin nih ff betees pertama kaka, sepesial kaya martabak telor dengan cast si alien, semoga kamu suka ya ❤ kalo ga suka, bye aja kalo main ke rumah, h3h3h3h3

betewe, kalo kamu tanya kaka dapet inspirasi dari mana saat buat ff ini, jawabannya adalah kemenangan bts di music show kemaren ditambah nonton mphi di MV I Need U yang emesh-emesh itu,hehe^^

with love,

xianara-sign

Advertisements

5 comments

  1. well, aku suka sama alur bahasamu anak sekolahan yg rada beda.
    ni sunhee otaku nya agak ga nyante ya,, aq langsung gubrak pas kmu nulis kamikaze,,wkwk
    wah samaan, aq juga paling suka sebastian,
    eh ntr klo ada konser OOR bisa kali kita nonton bareng, Sun, hhe

    holla xian, hbs baca deskripsi karakter oc-mu aq maen ke sini

    Like

  2. hola xian, habis baca karakter oc mu aq jd main kesini.

    sun!! aq otaku juga lho,, kapan2 ajak maen ke rental komik nya abang seokjin donk,, kan pengen tepe2 jg ke abang,, asseek /dilempar sandal sama ye eun/
    smpet gubrak aq pas baca ada kamikaze segala,, wkwkwk

    Like

    1. Ayooo Kak Fafa kita serbu warung komik rental Kak Seokjin :O aku juga ingin membagi ‘harta karun’-ku dgn KakFafa :3 :3

      Hahshaha! Kamikaze itu disponsori oleh naruto! Wkekekeee

      Like

Escape your thoughts!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s