[Ori-Fict] Malaikat Kolong Jembatan

298270_620

credit to Tempo

Panasnya matahari yang seperti neraka bocor halus di ibukota tidak menyurutkan semangat anak-anak pinggiran yang sedang mendengarkan penjelasan mengenai gaya gravitasi lengkap dengan contoh riilnya. Antusiasme terpancar jelas di mimik wajah mereka.

Tak ada satupun dari mereka yang berani melewatkan moment-moment penjelasan mengenai gaya yang dipatenkan oleh Isaac Newton saat beliau pertama kali melihat apel yang ranum dan jatuh dari tangkainya di kebun apel belakang rumahnya pada saat itu.

Anak-anak pinggiran yang usianya sekitar kelas 4 sampai 5 sekolah dasar ini tak ayal mencatat point-point penting yang dijelaskan oleh seorang perempuan yang rupanya ditaksir masih sekitar dua puluhan ke atas buku masing-masing. Dan bila sempat, di akhir pelajaran mereka akan menanyakanya langsung.

Tempat belajar mereka cukup  teduh walaupun hanya beratapkan triplek dan terpal serta hanya beralaskan tikar. Ruangan kelas ini juga cukup untuk menampung 30 murid setiap waktunya.

Kelas Pinggiran ini merupakan prakarsa dari dua mahasiswa perguruan tinggi semester akhir yang tinggal menunggu wisuda. Prihatin melihat anak-anak yang terpaksa harus mencari nafkah di jalanan dan kehilangan hak mereka untuk mendapatkan pendidikan yang layak  padahal dalam Undang Undang Negara ini dengan gamblang berbunyi bahwa pendidikan itu wajib dipenuhi oleh pemerintah dan merupakan tanggungan Negara. Namun apa daya, pada kenyataanya masih sulit menemukan pemerataan pendidikan di sebuah daerah di Negeri ini.

Kembali ke Kelas Pinggiran, saat waktu hampir menunjukan pukul 12 siang, kegiatan belajar pun dihentikan dan mereka pun mengambil break sejenak.

Mala, mahasiswi tingkat akhir fakultas MIPA ini pun meregangkan otot-ototnya sehabis mengajar 5 jam nonstop. Dia memerhatikan anak-anak didiknya yang asyik berdiskusi mengenai gaya gravitasi yang baru saja  dijelaskan. Raut wajah mereka terlihat sangat serius. Tiba-tiba Abdul, bocah lelaki berkepala pelontos itu pun menghampiri Mala.

“Kak Mala, apa bahasa inggrisnya ‘Aku Cinta Kamu’ ?” tanya Abdul.

“Eh iya? I Love You.” jawab Mala sambil memasang wajah bingung.

Sejurus kemudian, wajah bingung itu berubah menjadi sumringah. Kentara menahan tawa saat Abdul menanggapi jawaban Mala.

I Love You Too, Kak Mala!”

Mala tak bisa menahan senyum. Anak-anak yang melihat pun sontak bersiul-siul kegirangan menyiasati aksi kelewat romantis Abdul kepada Mala.

“Aiihhh, susah suit susah suit!!!”

“Ciyeeeee, Kak Malaa! Prikitiiwwwww!”

“Abdul, kenapa kamu nyuri start aku? Yang suka duluan sama Kak Mala ‘kan Aku!”

Berbagai reaksi bermunculan. Dan itu semua membuat Mala menyunggingkan senyuman manisnya kepada anak-anak di hadapanya yang sudah ia anggap sebagai adik kandungnya sendiri. Mereka itu sudah menjadi keluarga tersendiri bagi Mala. Kasih sayang dan perhatian yang ia curahkan kepada mereka itu tanpa pamrih. Tanpa mempermasalahkan latar belakang mereka masing-masing Mala dan Keluarganya sangat menyayangi mereka, ga peduli miskin atau sederhana, pintar atau malas, seorang pengamen atau penjual cangcimen, kita semua adalah saudara.

Kita yang di dunia ini bergelimangan harta kenyataanya kita akan bertelanjang tanpa memakai sehelai benang pun di hadapan Sang Pencipta saat Hari Pembalasan datang. Mala pun sadar betul akan hal itu. Beruntung keluarga Mala telah menanamkan pemikiran itu kepada Mala sejak dini. Tak ayal Mala tumbuh menjadi pribadi yang baik, peka, suka tolong menolong terhadap sesame, berbuat ikhlas, dsb. Ia memang tak sempurna layaknya malaikat. Namun bagi anak-anak Kelas Pinggiran, Mala merupakan wujud nyata dari seoang Malaikat Tanpa Sayap di bumi pertiwi ini.

Tamat.


cerita pendek yang saya buat tahun lalu, baru berani saya post sekarang. haha.

Advertisements

3 comments

  1. Aduh, lucu dan sedih juga liat anak-anak kayak gini. Polos tiada terkira :”
    Ceritanya bagus banget deh. Nadia suka :””)

    Like

  2. Eonni suka cerita yg ada anak2nya, nyentuh xia mskpn eonni yakin yg namanya ngumpulin anak2 jalanan buat skdr mau ndengerin kita ngmg tu susah aplg ngajak bljr, blm lg berurusan sm yg punya ‘otoritas’ atas anak2 ini

    Salut deh sm kaum muda, tua yg mau ngluangkan wktunya buat mrk
    Eh iya ada satu klmt yg menggeltik
    Part abdul nyuri start, pertanyaannya siapa AKu ini? Kkk..nanya ga pntg scr tmnya mala ga dijelasin cowok apa cwek

    Liked by 1 person

Escape your thoughts!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s