[Ori-Fict] Bitterly

tumblr_mavgpic6Qg1r363pgo1_500

Bitterly – Pahitnya!

Karakter tokoh yang terdapat di dalam karya ini hanyalah fiksi belaka. plot, alur dan cerita sepenuhnya milik saya. saya tidak menarik kepentingan komersial apapun dari penulisan cerita ini. fiksi ini dibuat bukan untuk menyindir siapapun!

Selamat membaca


Kata siapa berduaan dengan cowok yang tampan itu menyenangkan? Kata siapa?! Ren sangat tidak setuju dengan itu. tunggu dulu, cowok tampan?! Siapa bilang begitu?

Oh tidak, dunia kayanya emang ngga berpihak sama cewe mungil yang satu itu. setiap hari, dunia hanya menawarkan ketidakberuntungan padanya. Mulai dari selalu kena masalah dengan chef killer, kerjaannya yang ngga pernah berada di ambang fokus, sampai pada saat di mana dia mau minum sedrum minyak zaitun langsung, gara-gara kepalanya yang mau meledak.

Ren, gadis mungil itu sedang mendapatkan hukuman dari kepala chef di tempatnya bekerja yang terkenal galak. Chef Juna, everybody knows him. Secara, dia itu sering didapuk jadi role model di program memasak miliknya di sebuah stasiun televisi ataupun sebagai panelis kompetisi memasak. Tetapi, sekarang bukan saatnya ngomongin kiprah chef sangar itu melainkan bagaimana seorang Ren yang merasa disiksa oleh atasannya itu.

Ren heran bukan main. Pasalnya, dia cuma menjabat sebagai cooking helper, bukan juru masak. Tapi kenapa dia musti stay sampai larut malam begini, bersama Juna pula. Untung dia masih ingat kalau pisau yang dipakai untuk mencacah sebaskom penuh bawang merah itu tajam, kalau ngga? Wah, bisa-bisa pisau itu udah berubah haluan untuk mencincang mulut Juno yang terkenal suka melontarkan kata-kata yang pedas bahkan melebihi cabai jalapeno.

Chef, I think I didn’t something wrong.” Ujar Ren di tengah acara kupas bawang sambil menahan rasa menyengat pada kedua matanya.

“Yup.” Jawab Juna pendek.

Ren mendelik kepada Juna, diam-diam tentunya. Oke sabar, Ren! Lo, musti sabar ngehadepin monster bertato ini!

Juna berdiri di samping Ren. Matanya pun tidak kecolongan untuk memastikan gadis itu tidak berhenti mencacah bawang merah barang sedetik. Di tengah kegiatannya mengawasi Ren, Juna juga menyempatkan diri untuk menguliti apel merah dan memotongnya menjadi bagian yang kecil-kecil.

So, kenapa saya masih berada di sini? Pakai mengupas bawang segala lagi. Chef, I’m sorry for saying this but I think I’m just a cooking helper her, so it doesn’t mean that I –

Shut up, can you?”

Ren tidak merasa terintimidasi oleh perkataan Juna yang kasar itu. Meskipun keduanya terpaut jarak usia yang lumayan besar, Ren tidak gentar menghadapi kepala chef yang usianya di atas tujuh tahun darinya itu. Malahan, cewek itu sengaja mengentakkan pisau ke atas talenan dengan kencang, yang sontak membuat Juna menelengkan kepala ke arahnya.

“Lo, ngga suka gue suruh untuk ngupasin bawang?!” tembak Juna langsung.

Ren terdiam tidak menjawab namun bukan berarti takut. Ren tersadar, bahwa dia memang ngga bisa mengalahkan chef si kepala batu itu tetapi dia yakin kalau dia masih bisa untuk melawan Juna. Seperti,

“Iya, Chef! Saya ngga suka!”

Ren melempar pisaunya ke atas counter, menantang Juna yang menatapnya dengan tatapan horror. Meskipun matanya terasa sangat perih akibat mengiris bawang merah, Ren berusaha mati-matian menahan airmata supaya tidak tumpah. Jangan lupakan juga, perlakuan Juna sebagai kepala chef yang semena-mena padanya jufa menjadi faktor x penyebab mata dan hatinya yang terasa sangat perih.

Juna pun tahu-tahu menambatkan langkah, mendekat ke arah Ren. Akibatnya, gadis itu jadi sedikit tersisih ke pinggiran counter, tempat dia menaruh irisan bawang. Tatapan Juna pun masuk dan menghunjam tepat di atas manik Ren lekat-lekat. Juna mencoba untuk menipiskan jarak dengan gadis mungil itu. Pemuda bermata setajam elang itu pun mengunci rapat-rapat manik soklat kepunyaan Ren lalu ia juga menunduk dan berbicara dengan suara yang pelan tepat di hadapan paras gadis itu.

Well, kalau kamu ngga suka, just feel free to say that you quit from this job. Then I will tell your father about this, that you couldn’t really change. You were the same, poor Ren, poor daughter. Deal?

Setelah mengatakan itu, tak lupa Juna untuk mengimbuhkan sebuah seringai tipis di atas bibir.

Menyeramkan, batin Ren. Apalagi menyaksikan bagaimana seringai itu tercipta dari jarak yang cukup dekat. Sungguh menyeramkan!

Ya, Juna memang sengaja berbicara tepat di depan hidung Ren. Bahkan, karena ulahnya itu, Ren pun sampai merasakan udara yang menyapu pori-pori kulit wajahnya saat ia tidak dapat berkutik untuk menatapnya.

“Skak mat?”

Juna menjauhkan wajahnya dari Ren namun kedua tangannya masih mencengkeram ujung counter. Otomatis, keadaan Ren masih berada di dalam kungkungan cowok judes itu.

“Anda suka mengancam dan menjatuhkan seseorang ya, Chef?” balas Ren tak mau kalah dengan penekanan pada kata ‘chef’.

Ren tahu betul kenapa dia selalu berakhir dalam keadaan begini kalau berhadapan dengan Juna. Chef judes itu selalu menggunakan ancaman akan memberitahu ayahnya kalau dia ngga bisa bekerja dengan baik-baik. Mentang-mentang Juna diberikan kuasa oleh ayah Ren untuk mengawasinya bukan berarti Juna dapat mengekang dan menyiksanya, ‘kan? Well, bukannya sudah dibilang tadi? Juna itu adalah seorang atasan yang suka berbuat semena-mena. Dasar chef otoriter! Titisan komunis! ceplos Ren dalam hati.

“Ya, kalau kamu berpikir seperti itu, “ Juna mencomot potongan apel di atas pinggan ceper dan melahapnya. “I don’t know. you know? I just don’t give a damn.

Ren mendesis pelan. Seketika, dia pun lolos dari kurungan cowok nyebelin yang kurang mendapatkan ajaran sopan santun itu.

Pinggiran counter di dekatnya pun dipegang dan dibuat oleh Ren sebagai tumpuan. Tangannya yang satu lagi pun dipakai untuk mengipasi wajahnya. Dia kesal, marah, panas, dan jangan lupakan matanya yang keperihan.

“Wow, that is so kind of you, Chef!!

Thanks.” tukas Juna cepat.

Selanjutnya, kejadian terjadi begitu cepat. Seperti sinar matahari yang turun ke bumi. Sejemang kemudian, pria yang masih memiliki darah Tionghoa itu mendorong Ren agar balik menghadap counter yang di atasnya terdapat sebaskom bawang merah kupas yang belum kelar dipotong oleh Ren.

Ren yang terperangah hanya bisa pasrah dan saat merasakan telapak tangan pria itu menuntun jemarinya untuk mengambil pisau iris yang menganggur, guna melanjutkan aksi cacah bawangnya yang sempat tertunda. Ren pun mencoba melawan dengan membebaskan pelukan pria itu namun tenaganya terlampau jauh dibandingkan tenaga Juna yang besar.

Now, let’s get back to work.

Us? I think I’m the only one who cut a large amount of onion here. Please remember that, Chef!!

Shut up, I said!

Sensasi perih kembali menyngat kedua mata Ren saat dia harus berhadapan lagi dengan koloni bawang merah yang kurang ajar seperti chef-nya itu. Dia pun mengentakkan tangannya untuk melepaskan tautan Juna padanya. Walaupun demikian, punggungnya masih dapat merasakan tubuh pria itu yang menempel padanya. Tiba-tiba, insting terliarnya pun menuntunnya ke jalan yang teramat gelap dan panjang.

Please, let go out of me, Chef!” pinta Ren.

Namun, Juna bergeming.

Ah, sial! Mata gue pakai perih banget lagi. Juna, lo bener-bener, ya!! kalau membunuh orang berapa lama sih hukuman yang harus ditanggung?!

Berbagai macam pikiran berkecamuk di dalam benak Ren. Namun itu semua tidak mengubah fokusnya untuk menuntaskan misi pencacahan bawang merah menyebalkan ini secepat mungkin.

Ada yang lebih parah, pasalnya Ren tak kunjung merasakan kebebasan pada punggungnya dari kungkungan Juna. Padahal gadis itu sudah memintanya untuk melepaskannya namun enggan untuk memberontak karena percuma. Toh, cewek yang ngga pernah menyambangi gym mustahil bisa menang atas cowok judes yang gemar angkat barbel macam Juna.

Selanjutnya, Ren tiba-tiba merasakan sesuatu yang menyentuh permukaan bibirnya, kegiatan membebaskan diri dari kungkungan Juna yang diusahakan oleh cewek itu pun terhenti. Apalagi, ketika menyadari sesuatu yang menempel di atas bibirnya itu adalah sepotong apel dan jemari Juna yang sekilas menyentuh bibir tipisnya.

Ren seperti orang bodoh ketika merasakan jemari seorang pria yang tanpa sengaja menyentuh bibirnya. Ren seperti disiram oleh setruk es batu, otaknya membeku dan tidak dapat digunakan untuk merespon suatu ransangan. Well, sepertinya syaraf impulsif cewek itu sudah kabur.

When you are cutting onions, you may consume bubble gum or apple to prevent the eyes-sting. Tapi karena saya ngga punya permen karet, try this.

Juna pun menekankan apel pada mulut Ren supaya cewek itu membuka mulut. Ren yang merasa tidak punya opsi untuk menolak terpaksa membuka mulut dan membiarkan Juna menyuapinya. Lalu Juna pun segea menjauh dari punggung Ren, membiarkan si gadis untuk cepat-cepat menyelesaikan pekerjaannya.

“Ren, “

Ren mendongak, “ya, Chef?”

“Uhm, just get it done fastly. I don’t like waiting.” ketus Juna dengan tatapannya yang dingin kepada Ren.

Yes, Chef!!” Ren menghela napas pasrah, mengangguk.

Kalau saja, Juna bukan chef dan atasannya, Ren pasti sudah membanting Juna ke lantai dan memiting leher pria kolot itu dengan teknik judonya. Kalau saja ayahnya juga tidak memberikan hukuman padanya dengan menyuruhnya untuk bekerja di restaurant hotel ayahnya, Ren pasti tidak harus mengalami perlakuan menyebalkan dari Juna ini. Andai saja seperti itu, sudah dipastikan hidup Ren akan merasa beruntung. Namun kenyataannya? Pahit sekali, melebih rasa dari jamu godok.

TAMAT.


hei-hei, saya senang nge-spam nih, maklum menjelang libur puasa, jadi euforianya menular ke bidang menulis, haaha.*apaan sih nih*

betewe, Ren adalah tokoh rekaan cewek indonesia favorit saya. jadi, saya lebih suka menulis yang latar belakangnya itu serba indonesia, biar ngga kagok.hahaha.

Advertisements

2 comments

Escape your thoughts!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s