[Special-Fict] Sister, Help Me to Tidy Up My Room, Please!

xianaraposter

Sister, Help Me to Tidy Up My Room, Please!

thank you so much, Leonahardt. at Chionee Art Poster

Jung Soyeon / Jessica and f(x) Jung Soojung / Krystal | AU, Family, Life | Vignette (1527 words count) | General |

May, 2015©

Disclaimer: beside the story-line I own nothing!

Jung Soojung, selamat ya! Kau berhasil membuat kakak perempuanmu, saudara sedarah satu-satunya yang kau punya meninggalkanmu karena dirimu sendiri.

Enjoy Reading!

Soyeon tidak suka melihat adiknya – Soojung yang tidak mengindahkan kerapihan dan kebersihan kamarnya sendiri.

Seragam sekolah yang digantung asal, buku-buku pelajaran yang berceceran sampai ke kolong kasur, hingga kaus kaki yang tak pernah absen menggantung di kenop pintu. Apakah itu deskripsi dari kamar seorang anak gadis?

Padahal, Soyeon sudah menasihati Soojung agar bersikap lebih acuh terhadap perkara yang satu itu. Tapi apa mau dikata? Soojung terlalu sungkan untuk mengikuti nasihatnya. Makanya tak jarang kalau sifat cuek adik satu-satunya itu kerap kali membuat Soyeon naik pitam. Lantaran cewek berdahi lapangan golf itu yang terkesan tidak menghargai Soyeon, yang diam-diam berakhir merapikan kamarnya setiap hari.

“Soojung, sebelum berangkat ke sekolah, pastikan kamarmu sudah rapi. Kumohon, ya?”

“Baik, Kak.”

Soojung memang mengiakan permohonan kakaknya namun tidak melaksanakannya secara riil. Alias ucapan Soojung hanya sampai di bibir saja. Toh, setelah itu, Soojung tetap meninggalkan kamarnya dalam keadaan seperti kapal pecah.

Soyeon membatin. Apa susahnya sih menggantung seragam dengan rapi? Apa sebegitu sulitnya melipat selimut, menempatkannya di atas kasur? Apa Soojung merasa mual kalau melihat kamarnya nampak rapi?

Manusia itu tidak mungkin bisa bersabar untuk selamanya. Ada kalanya Soyeon merasa dirinya sudah mencapai batas terakhir dari sabar-meter miliknya namun ia tidak bisa berbuat apa-apa.

***

Pukul empat sore, Soojung sudah tiba di rumah. Dia pun meninggalkan sneakers ungunya secara asal di atas rak sepatu.

“Aku pulang!”

Satu, dua menit berlalu dan tidak ada yang menyahut salamnya. Kenapa tidak ada yang menjawab? Apa Kak Soyeon tidak ada di rumah? Soojung melontarkan tanya dalam hati.

Sesampainya di ruang tengah, Soojung hanya mendapati keberadaan ondol dan televisi di atas meja tanpa eksistensi Soyeon yang biasanya menongkrong di depan layar, menonton program musik mingguan. Di dapur, Soojung juga tidak melihat batang hidung Soyeon. Di halaman belakang pun demikian. Iseng, gadis berwajah agak kebarat-baratan itu pun melipir ke kamar Soyeon untuk memeriksa. Lagi-lagi, nihil.

Soojung pun merasa khawatir, mengingat tidak biasanya Soyeon meninggalkan rumah pada sore hari.  Terlebih mendapati keadaan pintu rumah yang tak terkunci. Soyeon tidak pernah seceroboh itu, dia yakin betul.

Ah, hubungi ponsel Soyeon!

Soojung pun segera mengambil ponsel yang tercelup di saku roknya, lantas segera menghubungi Soyeon. Sembari menunggu nada sambung, Soojung menggigiti kuku-kuku jarinya yang nampak tidak rata. Samar-samar, gadis itu mendengar dering ponsel. Dan itu berasal dari ponsel Soyeon yang terletak di atas meja dekat telivisi. Bagus, Kak Soyeon tidak membawa ponsel.

“Jangan bilang kalau kakak pergi karena – “

Mungkin ini terlihat agak berlebihan. Soojung mendaur ulang ingatannya ke beberapa waktu yang lalu. Gadis itu pun berasumsi  kalau Soyeon pergi meninggalkan rumah karena tidak sanggup lagi menghadapi kelakuan adik semata wayangnya itu. Masuk akal, memang.

Percuma gadis itu menyangkalnya. Nyatanya memang begitu. Soojung pun tiba-tiba merasakan sesak di ulu hatinya. Kalau benar Soyeon pergi meninggalkannya karena dia sendiri, Soojung mengaku telak kalau dirinya memang adik yang bodoh.

Akan tetapi, Soojung pun segera mengusir persepsi negatif yang menggandrungi kepalanya. Kak Soyeon tak mungkin melakukan hal yang dangkal macam itu karena Kak Soyeon adalah seorang wanita yang intelektual. Dia selalu berpikir rasional dan realistis; tak pernah menyelesaikan masalah dengan kepala panas yang berbanding terbalik dengan Soojung.

Sesal di dalam hati gadis cilik itu mulai berbicara. Apa kau baru menyesal karena terlanjur malas untuk membereskan kamar tidur? Kau menyalahkan dirimu sendiri yang selalu kesiangan hingga menggunakannya sebagai alibi kau tidak sempat bersih-bersih? Tentunya kau sangat menyesal karena tidak menuruti apa kata Soyeon. Jung Soojung, selamat ya! Kau berhasil membuat kakak perempuanmu, saudara sedarah satu-satunya yang kau punya meninggalkanmu karena dirimu sendiri.

Tanpa aling-aling, lutut gadis itu melemas sehingga Soojung terduduk di ruang tengah dengan ransel marunnya yang terhempas begitu saja. Kedua tangannya gemetaran, lalu terangkat untuk menyentuh rongga dadanya. Debaran jantung gadis itu pun menggila.

“Kak Soyeon tidak mungkin seperti itu padaku. Dia adalah kakakku dan aku adalah adiknya. Jadi, itu tidak mungkin.”

Satu tetes, dua tetes air mata berguguran dari pelupuk Soojung. Dia pun mendapuk kerah blazernya untuk mengusap lelehan emosinya itu. Di saat seperti ini memang sulit untuk menahan sisi emosional – menangis – agar tetap berdiam diri. Namanya juga perempuan, cengeng bukan hal yang tabu.

Di tengah-tengah penyesalannya yang semakin lama semakin dalam, lamat-lamat dapat didengar suara lawang yang berderik dan gaung pintu yang tertutup. Lambat laun, terdengar pula suara sepatu yang dilepaskan dan diganti dengan sandal rumah. Keheningan yang diciptakan Soojung pun dipecahkan oleh gesekkan antara lapik kaki dengan lantai kayu rumahnya.

Petir pun menyambar kedua iris Soojung manakala dirinya menemukan sepasang kaki jenjang yang terbungkus rok landung berwarna krem dengan dua jinjingan plastik di kedua tangan. Alangkah terkejutnya Soojung ketika menyadari siapa empunya sepasang kaki yang berdiri di depannya itu.

***

***

“Soojung? Kau sedang apa?”

***

***

Soyeon mengamati adiknya itu dengan pandangan yang bertanya-tanya. Raut kebingungan pun seperti hujan lebat yang turun, Soyeon tidak bisa menyembunyikan ekspresi hilang akalnya saat mendapat adiknya yang terkulai lemas di atas lantai dengan jejak air mata di kedua pipinya.

Soojung refleks mengucek kedua matanya dengan punggung tangannya. Apakah barusan ia berdelusi? Mendengar suara nyaring Soyeon tak pelak membangkitkan Soojung dan tidak berhenti untuk menerjang Soyeon, memeluknya erat. Saking eratnya dekapan yang tiba-tiba itu, jinjingan yang dibawa Soyeon pun terjatuh ke atas lantai.

“Kakak!! Ha, syukurlah kau masih ada!! Kukira Kakak kabur dan pergi entah ke mana lalu takkan kembali lagi!! Kak, apakah Kakak tahu kalau aku sangat khawatir, eo?”

Yaa? Jung Soojung, ada apa denganmu ini? Apa kau baru saja menangis? Soojung, apa yang ter – “

“Kak Soyeon, maafkan aku, kumohon? Aku berjanji aku akan selalu membereskan kamar setiap pagi. Aku akan berusaha untuk bangun lebih awal dan membantumu menyelesaikan pekerjaan rumah. Aku juga akan menjaga kerapihan dan kebersihan kamarku sendiri, aku berjanji, Kak!! Sungguh!! Kumohon, jangan pergi lagi, ya, Kak?! Eo?” Soojung menyerocos seperti selongsong peluru yang berceloteh dengan riang karena ditarik pelatuknya.

Soyeon masih dalam keadaan memproses makna dari rentetan kalimat adik perempuannya itu. Sementara, Soojung tidak mengangkat hulunya dari atas bahu Soyeon sembari menahan sedu sedan yang membara.

“Kak, ayo katakan sesuatu! Jangan diam saja!” ujar Soojung diselingi isakan.

Ah, Soyeon kini mengerti. Dia pun menarik kedua ujung bibirnya membentuk sebuah kurvalinier. Soyeon juga menghendaki dirinya membalas serangan pelukan Soojung, mengusap punggung adik kesayangannya itu. Jadi, adik cantiknya itu mengira ia kabur dari rumah karena gaSoojung?

“Astaga! Aku tidak kabur dari rumah!! Aku hanya mampir ke minimarket di depan gang. Kenapa kau bisa berpikir seperti itu, eo?”

“Lho, memangnya bukan, ya?” Soojung melonggarkan dekapan pada Soyeon, “tapi Kakak ‘kan – “

“Tapi aku?”

Soojung membulatkan mulut seperti ikan lohan tersedak lotte peppero dan mengerdip tak percaya. “Tapi ‘kan Kakak tidak pernah pergi ke luar di waktu sore-sore begini.”

“Siapa bilang begitu?”

Soyeon tidak bisa menimbun gelak terlalu lama. Dia tergelak ringan seraya memunguti jinjingan berisi bahan-bahan makanan yang dibeli di minimarket, yang tercecer di atas lantai dan berjalan ke dapur, meninggalkan Soojung dalam keadaan terperangah yang bersifat statis.

“Lalu kenapa pintu rumah tidak dikunci?”

“Oh itu, aku lupa menguncinya. Semua orang bisa lupa ‘kan?”

Lantaran Soojung yang terlalu berlebihan serta bersikap apriori dan apatis kepada Soyeon, ia pun jadi merasa bersalah.

“Sudah, tidak apa-apa. Mendingan, sekarang kamu ganti pakaian dan mandi. Lalu bantu aku memasak makan malam, ayo cepat!”

“Benar, tidak apa-apa?” Soojung pun mengikuti Soyeon, memandangnya penuh tanya. “Apa benar Kakak tidak marah?”

“Tidak.”

Soyeon pun memanfaatkan Soojung yang masih terdiam seperti arca, mendorongnya ke kamarnya sendiri. Setelah itu, ia pun kembali ke dapur. Menyibukkan diri dengan bahan-bahan makanan yang tersedia di atas konter.

Soojung masih mematung di depan lawang soklat kamarnya. Bahunya masih merosot, mengikuti kodrat gravitasi bumi. Tiba-tiba, cewek sekolahan itu pun berbalik dan menilik Soyeon lekat-lekat. Soojung kadang masih sukar percaya pada sikap kakaknya yang begitu pemaaf, begitu lembut, begitu sangat keibuan hingga sangat sabar dalam menghadapinya. Tetapi apa benar, Soyeon merasa tidak apa-apa terhadap beban yang mesti dipikulnya seorang diri? Mengingat, kedua orangtua mereka yang telah menghadap Sang Pencipta semenjak Soojung mengenyam bangku sekolah dasar kelas dua.

“Soojung-a, aku baik-baik saja di sini. Aku serius.” ujar Soyeon. Dia pun membalas memandang adiknya itu, “aku tidak bisa marah padamu. Kau adalah Jung Soojung, satu-satunya adik kesayangan yang paling cantik dan manis yang  pernah kupunya di dunia ini. Mana bisa aku marah padamu, eo?”

“Kakak..”

Soojung kehabisan prakata. Ia pun tidak dapat menahan bulir-bulir air mata yang meleleh dari sepasang soca beningnya untuk sesaat. Sejurus kemudian, Soyeon pun membawa adiknya ke dalam dekapannya. Di dalam hati Soyeon, Soojung tetaplah Soojung – adiknya.

Di balik sikap Soojung yang agak malas, cuek, dan tidak tahu aturan itu, Soyeon harus bisa memakluminya. Malahan sebagai seorang kakak, Soyeon pun dituntut untuk mengarahkannya menuju ke jalan yang benar. Dan itu semua butuh proses. Anggaplah, saat ini mereka berdua tengah menjalani runtutan perubahan itu untuk perkembangan Soojung yang lebih baik.

“Sudah-sudah, berhenti menangisnya. Cepat mandi sana!”

“Kakak, a-aku minta maaf. Maafkan aku, ya?”

“Aku sudah memafkanmu sejak kau berada di dalam kandungan ibu, Soojung-a. Lagipula tak ada yang perlu dimaafkan. Asal, kau mau berjanji satu hal padaku. Bisa, ‘kan?”

Soojung menyingsing cairan kental dari hidungnya dan mengangguk. “Pasti, Kak! Apa itu?”

Soyeon tersenyum manis, “jangan lupa untuk selalu menjaga kebersihan dan kerapihan kamarmu. Jadilah, seorang gadis yang baik untuk dirimu sendiri, Jung Soojung!”

Eo, pasti!!” Soojung mengangguk dengan semangat. “Aku akan menjadi satu-satunya adik yang baik dan manis untukmu, kakak terbaik yang pernah aku punya! Jung Soyeon!”

TAMAT.


Ff jung-sist perdana!!! Wahahaahahaha, L O L…… dan mohon disungkemkan diriku ini karena berani-beraninya memuat ff seperti ini.hadeh-_,-  betewe, kejadian yang dialami sica juga sering saya alami…. Di mana saya selalu jdi pihak yang tersiksa; beresin kamar adik yang ngga pernah rapi, hiksss, jadi curhat kan gue? Okelah. Abaikan. Tinggalkan. Bye. 😀

Last but not least, terima kasih juga buat temen2 yang nyempetin menengok nih tulisan receh, I appreciate you gaes!!! 😀

Advertisements

Escape your thoughts!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s