[Ori-Fict] College’s Life: Hukuman atau Hiburan?

10954263_818349061570968_1033957211_n
College’s Life: Hukuman atau Hiburan? 

photo by skuukzy on instagram

selingan di kala gundah gegara titah dosen yang makin ngga masuk akal

Selamat membaca!

Ketika dikasih tugas atau perintah dari seorang dosen, apakah ada opsi bisa nolak? Ada, ngga? Bisa, ngga?

Tidak, ‘kan.

Nah, kira-kira begitulah yang dialami oleh Gera. Cewek mungil penggemar sweter rajut dan kemeja flannel ini tidak bisa menolak perintah dari dosennya yang terkenal killer. Dia dapet perintah untuk mengurus pembuatan ISBN buku di Perpusnas. Dan tempo untuk mengurusnya jatuh tepat menjelang puasa. Duh, kebayang ngga tuh mager-nya? Iya, males, emang. Tapi sekali lagi, emang dia bisa nolak? Dan sayangnya ngga bisa…

“Jadi untuk pengurusan ISBN ini siapa yang mau ambil inisiatif?” Bu Kiren mengedarkan pandang ke seluruh penjuru kelas 02 SINPA. Seketika suasana berubah mendung. Para mata mahasiswa memandang ogah. Tentulah ngga ada yang mau.

Begitu juga dengan Gera. Seperangkat novel karya Pramodya Ananta Toer yang baru dipinjamnya dari Bagas seketika ditutup rapat olehnya, yang baru dibaca bagian daftar isinya itu.

Loni, teman sebelahnya menengok ke Gera sambil berkomat-kamit. Tampangnya yang seperti anak kecil kebelet pipis itu menyiratkan bahwa dia tidak mau jadi jongos kelas lagi. Ya, Gera tahu itu. Dulu, Loni pernah jadi korban pengurusan cerpen sekelas yang amburegeul. Di saat itu pun, Gera juga kebagian mentahnya; dia ikut mengedit beberapa naskah yang rusak dan sebagainya.

“Ra, gue harap gue ngga kena apes lagi.” Loni berbisik kepada Gera.

Tiba-tiba, ketegangan kelas pun dipecahkan oleh nada final yang agak memaksa seorang wanita paruh baya. Sontak seluruh mata yang tadinya menjerang kini jadi lega namun tidak semua seperti itu. Ada pula sepasang mata yang tercekat, ingin lari dari sarangnya.

“Geranisa? Kamu bisa mengurus itu, ‘kan.” Itu kalimat pernyataan bukan pertanyaan. Jawabannya pun hanya dua: Ya atau Tidak. Ya, Gera wajib bilang Ya. Tidak, kata yang pantang diucapkan kepada Dosen atau siapapun itu yang stratanya di atas kita. Rezim diktator yang masih membekas.

“I-itu…” Gera tergagap di kursi. Dia pun menampakkan kegamangan di atas raut wajahnya. Sepersekian detik kemudian, Gera mengangguk dengan intensitas rendah berlagak pasrah.

“Iya, Bu. Saya siap..”

Selanjutnya, angan Gera untuk melahap habis semua novel karya Pramoedya dan satu novel terjemahan dari Jepang membuyar seketika. Digantikan oleh prakiraan pemandangan dirinya yang panas-panasan di tengah ibukota pas puasa pula, terus ribet-ribet ngurus ISBN yang masih belum jelas juntrungannya. Oh, salah nenek moyang Gera di zaman dahulu apa sih? Sampe sekarang harus Gera yang nanggung.

Tiba-tiba, pundak yang merosot itu ditepuk dari arah belakang. Bagas, si oknum penepuk tahu-tahu menyongsong  seulas senyuman yang cengangas-cengenges. Diikuti telapak tangannya yang terangkat ke udara.

“Saya siap juga, Bu! Saya siap pasang badan untuk kelas ini!!”

Bagas mulai mengobral layaknya tukang minyak di Kwitang. Gayanya yang bebas itu sontak mengundang koor cemoohan dan beberapa gelak tawa. Bu Kiren yang hapal betul perangai anak didiknya itu malah tersenyum kerontang.

“Okay, Bagas kalau gitu kamu bisa temenin Gera ke sana.”

Gera menggeleng lemah. Oh well, Bagas emang cowok yang asyik dan menyenangkan. Tapi jangan lupakan sisi konyol dan tak terbaca pemuda asli tanah Jawa itu.

Bagas suka ceplas-ceplos: kebanyakan itu hal yang ngga penting-penting. Tingkahnya mirip anak TK: dia pernah berhentiin motor vespa-nya di pinggir jalan, berhentiin anak SD yang lagi jalan terus dengan polosnya, dia bertanya “Dik, rumah kakak di mana, ya? Kakak lupa, nih.” Asal tahu aja, saat itu Gera sedang bersama Bagas. Di jok motor Gera cuman geleng-geleng kepala sambil menyuruh pria jangkung itu untuk kembali menyetir. Oh meskipun begitu, Bagas adalah cowok yang baik: buktinya dia mau meminjamkan bacaan karya Pramoedya yang dipinjamnya dari Oom-nya yang tinggal di Cengkareng kepada Gera. Yap, bocah agak sinting itu bela-belain bawa vespa ke Cengkareng untuk ambil tuh novel.

Jadi, ngebayangin perjalanan ke Perpusnas bersama bagas di awal Puasa bukan hal yang keren. Gera harus ekstra sabar menghadapinya. Ngga mungkin ‘kan dia nanti lagi-lagi kena jebakan spiderman Bagas untuk berdiri di trotar yang ada di tengah-tengah lot parkir Perpusnas kaya llama bego. Bukan cuman Gera yang dikerjai seperti itu tapi hampir teman sekelasnya waktu kunjungan ke Perpusnas sebulan yang lalu. Bagas gila!

Konklusinya: siap-siap menanggung sesuatu yang tak terduga aja. Mau Bagas ikut menemani atau dia yang melancong sendiri, Gera mesti siap.

Helaan napas itu makin berat, seakan Gera melupakan cara untuk bernapas.

***

“Ra, “

 Ada suara lain yang menginterupsi saat Gera sedang menggulung kabel adaptor netbook-nya.. Kali ini Fikri yang memanggil Gera. Pemuda jangkung yang lain yang bersemayam di dalam kelas. Wajahnya kalem namun pancaran matanya itu sungguh kuat. Indo: ayahnya berasal dari Turkmenistan sedang ibunya dari Semarang.

“Oi, apaan, Fik?”

“Nanti kita urus sendiri aja. Kalo bisa puasa udah beres. Lo ngga usah kuatir, nanti gue juga temenin ke sana.”

Gera mengangguk penuh terima kasih, temannya yang satu itu memang sigap dan bisa diandalkan banget.

“Gampanglah, Fik. Gue sih siap-siap aja. Mau sendiri juga nggak apa-apa.”

Fikri pun menyampirkan ransel di punggungnya, lalu berjongkok di depan Gera.

“Tapi kita juga mesti cepet-cepet ngurus akte kelahirannya, “

“Akte pendirian, Fik.” ralat Gera sambil memasukkan adaptor yang sudah digulung rapi itu ke dalam plastik lalu beranjak menuju kursinya.

“Astaga! Iya itu maksud gue! Duh, “ ceplos Fikri sambil menepuk jidatnya dan ikutan beranjak dari jongkoknya.

“PR banget sih lo. Gitu aja lupa, “ komentar Gera sambil geleng-geleng.

“Hee, sori.” ringis cowok beralis tebal itu. Lalu Fikri menambahkan, “Loni! Lo nanti juga ikut aja! Kita jalan-jalan lagi!”

Yang disebut namanya pun mengangguk namun anggukan itu terasa antusias. Yeah, giliran Bu Kiren yang bilang tadi tampang Loni udah kaya disuruh nelen pil  segede pesawat aja. Sekarang, giliran Fikri yang bilang, antusiasme setingkat perlombaan kelereng tujuh belasan itu terpeta di atas wajah bundarnya.

“Siap, Fik!! Asal jangan lo tinggal gue lagi aja di halte Harmoni, kaya waktu itu!”

Sontak, Gera dan Fikri menyemburkan tawa secara bersamaan. Yap, mereka pernah tidak sengaja ‘ninggalin’ Loni yang mirip anak ayam di tengah hiruk pikuk penumpang Transjakarta saat transit. Perasaan bersalah itu pun masih bersarang di dalam hati mereka sampai sekarang.

“Asli, itu gue ngerasa guilty banget selama perjalanan ke Blok M, Lon! Gue sama Fikri ngga bisa diem, nyalahin satu sama lain. Sampai-sampai, penjaga pintu TJ-nya ikut nyalahin kita. Bener deh, Lon.”

“Fix, hari Selasa kita ke sana, mumpung gue lagi off kerja, nih.” potong Fikri.

Loni dan Gera mengangguk setuju.

“Sipp!”

Si pemuda pun tersenyum lalu menepuk pelan puncak kepala Gera dan beralih menepuk pundak Loni. Cewek berhijab itu pun menahan girang bukan main saat Fikri meninju pelan pundaknya. Yap, rahasia umum kali, Loni yang naksir sama Fikri. Sementara itu, Gera pun balas melototi Fikri. Ngga suka ada orang yang megang-megang puncak kepalanya.

“Rese banget, sih, Fikri!!”

Sekarang, Gera ngga sendirian. Ada Loni dan Fikri yang siap menemaninya juga, ditambah Bagas yang eksentrik. Well, sepertinya perjalanan kali ini ngga buruk-buruk amat. Cukup, persiapkan niat yang baik aja, niscaya hasilnya akan baik juga. Ngga peduli seperti apa hasilnya nanti, yang penting nikmati dulu prosesnya.

TAMAT.

Advertisements

2 comments

  1. Yap biasanya nih kl sst yg dirasa berat trs ‘brusaha’ dijalanin mlh bs jd menyenangkan loh, stdknya akan ada bagas yg bs ngilnangin kejengkelan yg sumpah kyknya eonni bakal kesel bin seneng temenan sm anak aneh mcm ini
    Trs ditemenin fikri yg ganteng sm loni yg ehem ada rasa gt bs jd bhn candaan
    Ah krg satu lg, kyknya tmbh afdol kl gebetan (bkn pcr) ikutan #eeh!! kkk….

    Krasa bgt friendshipnya mskpn trs trg eonni kaget sm posternya T.T
    Knp jg pas buka tengah malem kmrn? Alhasil baru bc hari ini duh xia sukses bikin hamoir jntgn!

    Ringan, ngefeel, suka 😉

    Liked by 1 person

    1. ayayaya, dina-eonni mampir deui :”D
      hehe, yess, seneng sih emg kalo kita temenan sama orang yang modelnya kaya bagas cuma kita siapin mental ama muka tembok aja gegara tingkahnya yang absurd en mendekati abnormal itu,huhu…soalnya, karakter bagas itu terinspirasi dari salah satu temen di kelas yg tingkahnya absrudeu gituu~ heee, sayangnya di sini, gera ga punya cememew, haha 😀

      aduh, kenapa sama posternya eon??serem, yah?haha~sekali lagi, makasih syudah sempetin mampir ke sini ❤

      love, xx 🙂 🙂

      Like

Escape your thoughts!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s