[Ori-fict] Ketika

landscape-photography-tumblr-nature-Favim.com-853565

original fan-fiction by xianara

Zane and Ale | Fantasy and Surreal |

Kematian dan kehilangan bermula dari ‘ketika’

***

Zane menelurkan kuap dengan kondisi mulut selebar mulut kuda nil. Matanya yang sayu membayangi temaram lilin yang menemani. Dingin merayapi permukaan perut sampai ke lutut, pada marmer yang dijadikan alas olehnya. Api pada lilin yang tinggal setengah itu bergoyang, tertiup angin. Aliansi nyamuk dengan gamblang mendengungkan soneta, ikut mengisi daftar presensi pada malam kali ini.

Kepada jarum jam yang berdetak secara konstan, hal itu seolah menyadarkan tentang masa yang dipinjam secara cuma-cuma dari Tuhan. Makhluk hidup memiliki persamaan dengan makanan kaleng di supermarket ataupun aspirin yang dijual di warung; sama-sama memiliki masa kadaluwarsa.

Zane mengecek masa aktifnya di dunia pada sebuah notes kecil yang selalu dikantonginya. Di sana pun tertulis,

Masa aktifmu berlaku sampai waktu yang cukup panjang. Tenang saja.

Zane memasang senyum kecut lantaran intruksi konyol yang tertulis. Apa yang bisa dirasa cukup tenang? Mengetahui masa aktif kehidupan meskipun itu untuk waktu yang cukup lama tidak akan pernah membuatmu merasa lega.

Beban itu akan selalu ada. Kita semua akan mati, tidak peduli bagaimana caranya. Yang jelas, semua makhluk hidup di jagat raya ini memiliki kodrat yang tidak bisa digubah oleh siapapun, takdir itu; born to die.

“Masih belum tidur?”

Interupsi seorang pria terdengar, membuat Zane menoleh ke asal suara. Dia di sana, Ale yang bersender pada kusen pintu kamar sambil membuang kuap. Zane berhenti menengadah, kembali memusatkan titik pada notes di bawah dagunya.

“Belum.”

“Kau pasti kepanasan.”

Zane mengangguk. Gadis itu memang tidak bisa tidur dalam kondisi kipas angin/pendingin udara yang mati. Kalaupun seperti itu, otomatis keadaan Zane pasti akan bermandikan peluh gara-gara kaos yang basah kuyup karena keringat.

Selanjutnya, Zane pun memilih untuk bangun dari posisi kura-kuranya dan duduk sambil memeluk lutut.

“Apa mati listriknya masih lama, Al?”

Ale mengangkat bahu tidak tahu. Tahu-tahu, dia pun melesat menuju tempat Zane dan ikut duduk sepertinya.

“Mau kukipasi?” tawar Ale tanpa menatap ke manik Zane yang mengamati api biru pada lilin yang ada di depannya.

“Tidak, terima kasih, Al.”

“Zanester?”

Zane menoleh ke samping kirinya, mengikuti panggilan Al kepadanya.

“Apa?”

Ale menjungkitkan kedua ujung bibirnya, dia tersenyum.

“Kenapa aku tidak memiliki notes sepertimu, ya?”

“Maksudmu?”

Al menunjuk notes berwarna kulit pisang yang digenggam Zane sembari tersenyum. Zane melihatnya, otomatis dia pun mengangkat notes itu, agak sangsi. Apa maksud dari Al menunjuk notes-nya itu?

“Rasanya pasti melegakan saat mengetahui masa aktif di dunia ini masih panjang.”

Zane mengekori arah pandang pria yang notabenenya lebih tua darinya dua tahun itu. Pandangannya terasa jauh, tak tergapai dan sulit diraih. Arahan pandang pria itu terlihat hablur. Dalam situasi gelap seperti ini, sulit bagi Zane untuk menerka apa sesungguhnya yang diamati oleh kedua mata hitam Ale.

Zane memilih untuk bungkam. Mungkin karena dia tidak begitu mengerti maksud dari pembicaraan Ale. Notes dan masa aktif? Perasaan lega?

Sejujurnya, Zane tidak merasakan itu. Yang ada malah beban yang terus-menerus menghimpit dadanya. Setiap waktu, beban itu terasa makin besar. Dan lebih parahnya lagi, gadis itu tidak tahu harus berbuat apa untuk mengurangi beban yang semakin lama semakin melar seperti karet itu.

“Aku tidak mengerti apa yang kau bicarakan.”

“Tidak apa, Zane. Kau tidak perlu mengerti.”

Ale itu adalah pemuda yang penuh kerancuan. Eksistensi pemuda itu di dalam hidup Zane terasa utopis. Namun hal-hal itu dapat ditampik dengan uluran tangan Ale yang terasa hangat kepada Zane di setiap dirinya membutuhkan pertolongan.

Ale adalah pengisi kehampaan dalam hidupnya yang seingatnya akan menginjak seperempat abad pada tahun ini. Saran yang tak masuk akal, guyonan garing, kekehan menggelikan, serta tatapan yang meneduhkan itu sungguh memikat sekaligus memilukan.

Ada kalanya Zane merasa bahwa itu semua adalah lintas imaji. Dirinya pernah mengalami itu semua dalam dimensi yang berbeda. Yang pasti, sosok Ale itu adalah konseptor dari segala lalu lintas ruang dan waktu dalam hidup Zane di masa kini.

“Aku mengantuk.”

Zane menguap lagi, kali ini seperti kuda nil yang dehidrasi. Kegelapan yang menjerang tak ubahnya selimut hangat bagi gadis itu. Apalagi ketika Ale menawarkan pahanya sebagai bantalan untuk Zane dan ia pun tidak sanggup untuk menolaknya.

***

Kali ini di padang ilalang, goresan pelangi mencuat dari ufuk barat ke ufuk timur. Cahaya sang mentari yang turun di antara titik-titik hujan seperti tangan sang pelukis yang tak terlihat. Awan tipis yang menggantung berbentuk seperti langit yang terbelah. Bulan raya dengan Orion yang sedang bercengkerama nampak mengintip di balik payung langit berwarna jingga tersebut.

Di tengah padang rumput yang asri itu, Zane menggigit roti baguette-nya dengan paksa, sekaligus heran kenapa tekstur roti Prancis ini tak ubahnya batu koral yang dipresto. Surai cokelatnya diikat satu. Sneakers pabrikan Jerman dan baju kedodoran serta celana levis melengkapi penampilan gadis itu.

Di sampingnya, Ale menikmati seruputan es cokelat. Tangannya yang satu dipakai untuk menopang tubuhnya sementara yang satunya lagi digunakan untuk memegan gelas plastik yang berisi setengah es cokelat.

“Al, kenapa pelangi itu memiliki kedua ujung yang berjauhan, ya?”

“Kalau berdekatan namanya bukan pelangi tetapi gelang karet yang putus.”

Zane mengangguk, seolah mengerti. Namun rona ketidakpuasan menggenang di atas wajahnya.

“Pelangi merupakan lukisan Sang Pencipta untuk menghibur siapa saja yang merasa muram karena guyuran hujan atau terjangan badai. Warna-warni, elok dipandang, penyambung garis di langit biru, itulah pelangi. Tetapi apa kau tahu apa rasa dari pelangi?”

Gelas plastik berisi es cokelat itu dilipat menjadi dua dan dilesatkan oleh Ale ke dalam saku celana kargo miliknya. Dia lantas berdiri dan mengamati panorama sore hari menjelang sang surya terbenam. Pawana membawa anak-anak rambut hitamnya menari dan menyanyi. Ale tersenyum gamang.

Zane melahap abis separuh roti baguette-nya, “Memangnya pelangi ada rasanya?”

Setelah susah payah menelan, dia pun ikut berdiri seperti Ale. Tangan pria itu terjulur ke puncak kepala Zane, menepuknya pelan.

“Mau coba?”

Dalam sekejap, Ale membawa Zane ke dalam genggamannya. Tak ada waktu untuk terkesiap, begitupula Zane yang mengalami koma lobus ketika kakinya tidak lagi menapakki rerumputan. Angin yang menerpa wajahnya, diikuti kehangatan yang menjalar dari telapak tangannya mengaktifkan segala kelenjar kebahagian di seluruh tubuhnya.

Kedua insan itu melayang di udara, mengikuti kumpulan kupu-kupu renda yang menari salsa di atas gumpalan kapas yang tipis. Hingga sampailah keduanya di atas spektrum pelangi itu. Tanpa tendeng dan aling-aling, Ale meloloskan genggaman pada jemari gadis itu dan membiarkannya meluncur di atas pelangi.

“Kyaaaa! Ale!!!!!”

Gadis itu tidak bisa menahan teriakan dan segera berteriak sekencang-kencangnya. Menyalurkan adrenalin yang bercampur dengan rasa penasaran dan luapan kebahagian yang tidak terkira dengan berseru sekuat tenaga sambil mengangkat kedua tangannya. Urat-urat di sekitar mulutnya tertarik ke atas karena senyuman yang terkembang terlalu lebar. Zane merentangkan kedua tangannya. Sensasi menggelitik memadati seluruh sel dalam tubuhnya.

Zane baru saja bermain perosotan di atas pelangi, catat itu. Selang beberapa detik, pupil milik Zane mengalami pembesaran karena menemukan ujung dari pelangi yang diseluncuri. Di mana ujung tersebut terdapat sebuah gentong yang besar. Dari kejauhan pun konten dari gentong itu menyilaukan mata.

Satu, dua, tiga. . .

Zane mengira dirinya akan jatuh terhempas ke dalam gentong tersebut. Namun ternyata, dirinya terjatuh di atas gumpalan kapas berwarna merah jambu. Diikuti oleh Ale yang menyusulnya selang beberapa detik.

Gumpalan kapas atau lebih tepatnya awan bergerak itu perlahan menipis. Ale pun mengulurkan tangannya untuk meraih Zane yang terjerembap di antara kapas merah jambu yang menahannya, seolah tak ingin lepas dari gadis mungil itu.

Tawa yang agak terlambat pun keluar dari labium milik Zane beserta pekikan girang lainnya. Matanya tidak berhenti mengerjap geli serta rahangnya yang terasa mau copot. Juga kedua matanya yang melengkung seperti potongan bulan sabit karena sensasi itu masih tersisa di berbagai sudut syaraf tepi di tubuhnya. Kini, senyuman bak permen kapas itu terkembang di atas wajah Zane yang memerah.

Tangan yang kokoh itu pun memeluk bahu Zane dan membawanya ke dalam dekapan hangat sembari merajut langkah meninggalkan gentong besar berwarna emas tersebut.

“Al, itu, tadi sangat mengagumkan!! Aku dapat merasakan angin yang menggelitik wajahku!! Tungkaiku seperti ada sayapnya, punggungku juga!”

Pria berahang kukuh itu pun dengan santai mendengar celotehan Zane. Senyum semanis nektar pun terjulur di atas bibirnya yang tipis.

“Pelangi itu terasa lembut dan nampak sangat, ah tidak, sejuta kali lebih indah setelah dilihat dari jarak sedekat tadi!! Dan, aku juga bermain seluncuran di atas pelangi, Al! Catat itu!! Ah, ini menyenangkan sekali!!”

“Apa kau bahagia?”

“Tentu saja!!”

Saku celana kargo selutut itu pun dirogoh oleh Ale, kemudian keluarlah sepasang botol minuman berisi jus jeruk dan bulir-bulir di dalamnya. Ale memberikan satu botol tersebut kepada Zane.

“Nah, sekarang kau sudah tahu apa rasa dari pelangi, Zanester.”

“Maksdumu?”

Jus jeruk yang dingin tersebut tidak jadi ditenggak oleh Zane. Dia pun memusatkan titik pada pria jangkung di sebelahnya yang sedari tadi lebih banyak diam dan tersenyum: bukan seperti Ale biasanya. Terlebih, mengenai maksud dari perkataan pria manis barusan.

“Pelangi itu penuh dengan kebahagian, bahagia itu adalah rasanya. Jikalau kau juga merasakan sensasi manis, hangat, dan menyegarkan itu adalah poin tambahan. Tapi kalau kau sudah merasa bahagia, itu adalah rasa sejati dari sebuah pelangi.”

Kebahagiaan itu dianalogikan sebagai pelangi. Berbagai warna yang menyatu itu adalah komponen yang akan menghasilkan setitik kebahagian nantinya. Sesungguhnya, warna-warni pelangi itu berasal dari warna tunggal yang selama ini digunakan para prajurit sebagai simbol untuk menyerah kepada sekutu di medan pertempuran. Putih adalah lambang kesucian. Sesuatu yang baik pasti berasal dari sesuatu yang baik pula, bersih, dan suci. Begitu juga dengan kebahagian yang dialami oleh Zane selama ini.

Kebahagiaan itu sesungguhnya berasal dari satu orang dan itu adalah dirinya sendiri. Selama ini, Zane selalu mengira bahwa kebahagian itu tidak bisa dihasilkan dari satu orang saja. Mustahil, katanya. Apalagi, ketika gadis itu menyadari bahwa kebahagian di dalam hidupnya bersumber bukan dari dirinya sendiri melainkan pemuda berahang kukuh dengan sorotan mata yang lembut itu, Ale.

Ale, pemuda yang selalu ada untuknya. Pemuda yang kerap menghadirkan kejutan manis sehingga membuat hari-hari gadis itu menjadi indah dan luar biasa. Ale adalah kebahagian sejati bagi Zane. Namun dia sendiri terlalu takut untuk mengatakannya langsung kepada Ale.

“Masih banyak hal di dunia ini yang perlu kaujelajahi, Zane.”

Dendangan pemuda itu meruntuhkan lamunan tersier – sekarang mendekati primer – Zane di siang hari bolong kala itu. Sebotol jus jeruk di tangannya sudah habis isinya, Ale pun kembali melipatnya menjadi dua bagian dan menyentakkannya ke dalam kantung belakang celananya.

Lengannya yang panjang dan kokoh itu kembali merangkul bahu Zane, lalu menuntun gadis itu untuk melangkah lebih jauh lagi. Membiarkan gadis itu melihat apa yang tidak bisa ia lihat di realita yang sebentar lagi akan mengepungnya dari segala penjuru arah.

‘Sebelum terlambat.‘ gumam Ale di dalam hatinya.

“Aku mau menjelajahi itu semua asalkan itu bersamamu.”

Zane tersenyum semanis gula batu lantas membebaskan rangkulan Ale, membiarkan dirinya mempersembahkan tarian kepada peri angin yang sedari tadi mengajaknya untuk menari.

Masa bodoh dengan masa aktif yang masih panjang. Tetapi semua hal yang ada di dalam benak gadis itu mulai terasa kontradiktif kecuali sentuhan dan perhatian Ale kepadanya, tentu. Di samping itu semua, Zane mulai merasakan ada bahaya yang mengancam. Namun anehnya bahaya itu tak terlihat sama sekali. Meskipun begitu, ia hanya ingin menikmati hidupnya yang terasa hidup ini bersama Ale.

“Zane, perjalananmu dimulai sekarang… “

***

***

Lorong rumah sakit kota itu nampak dipenuhi beberapa orang dengan raut wajah yang serupa. Sedih yang tak berkesudahan serta rasa kehilangan kentara sekali terpatri di atas paras mereka. Rentetan kata berisi ucapan belasungkawa dan penguatan pun terdengar santer diucapkan.

Di depan kamar jenazah itu, nampak seorang wanita paruh baya yang berusaha seribu kali lebih tegar dibandingkan siapa pun di sana. Dia memang kehilangan putrinya akan tetapi ia tidak boleh kehilangan kendali atas emosinya. Meskipun bumi sudah runtuh, wanita bertatus ibu tunggal itu tidak boleh lepas harapan. Toh, putrinya yang ceria itu juga tidak akan senang melihatnya bersedih seperti ini, terlebih sang ibu bersedih karenanya.

Mum, mulai sekarang jangan pernah bersedih. Ingat saja diriku yang manis ini, kujamin kesedihanmu akan lenyap seketika.”

Namun tetap saja, wanita itu tidak bisa menahan bendungan airmata di pelupuk matanya yang mengucur dengan deras seperti air terjun Niagara di Amerika Latin sana. Nyatanya, kehilangan itu adalah hal terparah dan sulit untuk ditangani ketimbang kematian itu sendiri.

***

***

Lapisan kaca bening pembatas antara kamar jenazah dan ruang tunggu keluarga itu berembun. Ada Ale yang menghembuskan udara ke atasnya. Wajahnya nampak tenang seakan tak pernah ada badai yang menerjang. Rambut panjang hitam sebahunya pun bergerak-gerak, sengaja dimainkan oleh para peri angin yang selalu mengikuti.

“Kau memang benar, semua hal yang kaurasakan saat itu adalah kontradiksi dari kenyataan. Akan tetapi, masih ada hal konkrit yang lain, seperti aku misalnya.”

Bahu pemuda kokoh itu tiba-tiba direcoki dengan sensasi dingin yang menenangkan. Saat Ale menoleh, dia pun menemukan Zane mengusap bahunya. Senyuman gula batu yang merindu itu kini kembali terpeta di atas wajah manisnya.

“Al, bawa aku ke dunia yang belum pernah kujelajahi sekarang, bersamamu.”

Ale menyambut uluran gadis itu dan membawa raga yang tubuhnya sudah terbujur kaku itu ke dalam rengkuhannya. Dan dekapan kedua makhluk itu pun memancarkan kehangatan seperti sinar mentari pagi yang selalu menyinari dunia.

“Tentu saja, sekarang kau tak perlu cemas. Aku akan selalu bersamamu, selamanya.”

TAMAT

2015/06/07 3:42 PM

Advertisements

2 comments

  1. Jadi akhirnya?? Ale lbh dulu ga ada trs disusul zane
    Begitukah?
    Sedih tp ga tw kenapa ada perasaan haru dn tenang bc part endingnya mskpn mungkinkah itu terjadi di khdpn stlh dunia?

    Ja inget lirik lagu om eric clapton
    Would you know my name? If a saw you in heaven?

    Liked by 1 person

    1. kak dinaaaa *teary eyes*
      aku terhura banget, ini seriuz, ternyata ada juga yang berkenan baca ori-fict abal-abal punyaku ini, huhu, *gruphugz*
      thanksomacheee ❤

      ehm, jadi akhrinya, Ale dan Zani bersama di 'dunia' itu. yes, tadinya aku pengen buat Ale itu pacarnya Zani yang udh ngedahuluin dia, but, kupikir, itu terlalu meinstrim dan jadinya, Ale ini adalah fiksional karakter yang ada di dalam benak Zani saat dia sedang koma..hehehehe…

      aw, aku ga nyangka lagi kalau setelah baca ff yang masih di bawah mutu ini kak dina bisa merasa haru setelah bacanya, :"""
      nahm, that's what surrealism is~~mungkin ga mungkin.hehe
      eh lagunya??hemm
      anyway, thanks sudah sempetin baca ^^ ❤ 😀

      Like

Escape your thoughts!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s