[Flash-Fict/Ori-Fict] Pesanan

kfc9

Pikiran stereotip Airin: semua pegawai restoran ayam cepat saji adalah jelmaan Ale, mantannya yang membuat dia ogah jatuh cinta lagi.

“Rin, yang semangat, ya!”

Jessi memberikan semangat yang tidak jelas dan dimaksudkan kepadaku. Dibalas gelenganku.

“Yang ini jangan ditolak lagi!”

Kali ini, si Rusli, bocah berkepala pelontos yang ikut ngeluyur bersama Jessi keluar dari GOR tempat kami bermain bulu tangkis. Matanya yang agak sipit dan mendekati segaris itu mengerling kepadaku.

Aku bersikap masa bodoh. Aku tidak mengerti dengan kedua sahabatku barusan. Mengapa mereka memberiku semangat sesaat aku sudah selesai bermain? Mengapa tidak saat aku sedang mengoper bulu angsa tadi. Mengapa pula Rusli pakai mewanti-wantiku untk tidak menolaknya, ditambah adverbial ‘lagi’. Ah, mengapa-mengapa di atas sungguh membingungkan.

Duh,tiba-tiba intuisiku merasa tidak enak.

Ale, ini semua salahmu! aku memaki dalam hati.

Decit lawang besi yang agak karatan tiba-tiba terdengar. Aku menoleh ke asal suara dan menemukan seorang lelaki yang memakai topi hampir menutupi wajah dengan pakaian serba hitam. Ditangannya tergenggam plastik berwarna merah transparan yang entah apa isinya.

Lelaki asing itu tersenyum. Astaga, ini mengerikan!!

Belum sempat aku meraih raket pabrikan lokal yang tergeletak sembarangan di dekatku, lelaki asing itu mendekat ke arahku.

“Airin.”

Aku membatu seperti arca Buddha di Borobudur. Ini lebih mengerikan, Kawan. Lelaki asing itu tahu namaku. Atau, jagan-jangan intuisi tidak enak yang sempat kurasakan itu benar adanya. Oh, lelaki sialan!

Aku memekik sambil mengayunkan raketku ke hadapannya, “jangan mendekat!!! Atau kuhajar dengan ini!!”

Lelaki itu tersentak dan segera mengangkat topinya sehingga menampakkan raut wajah keheranan. Dia pun lekas membebaskan jaket hitam yang membungkus tubuhnya. Sehingga menampilkan –

Mataku terbelalak, menandakan kedua bola mataku ingin mengikuti lari marathon. Aku tersenyum kecut.

– seragam restoran ayam goreng cepat saji asal California. Selanjutnya, dapat ditebak bahwa aku langsung tengsin. Kuyakin, aku dapat membawa rasa malu ini sampai turunan kedelapanku!

“Pesanan atas nama Airin, satu paket ayam original dan burger.” Tukas lelaki itu cepat dengan secercah senyum di bibir.

Oh jadi, maksud Jessi dan Rusli itu adalah, semangat ya, Airin untuk membayar ayam gorengnya dan jangan ditolak lagi!

(Hivi – Siapkah Kau Tuk Jatuh Cinta Lagi)

Flash Fiction ini ditulis untuk mengikuti program dari di Facebook dan Twitter

Advertisements

3 comments

Escape your thoughts!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s