[The London’s Journal] What About Now

the london’s journal

tlj-wbn

miss A Bae Suzy and Special Guest #3 | Alternate-Universe, Life, Family, Sad, slight!Sport | General | beside the poster and story-line i own nothing!

Seorang Bae Suzy hanya rindu pada apresiasi eomma-nya terhadap kebahagiaan yang direngkuhnya.

JUNE, 2015©

part of THIS

Gwangju, few years ago…

Kalau kau sudah besar, kau bisa menjadi seseorang yang ada di sana.

Abeoji menunjuk seorang pemuda yang tengah mengompres dengkul Beckham di pinggir lapangan. Kedua mata Suzy memicing dan kepalanya dianggukan, tanda setuju.

Aku pasti bisa menjadi seorang fisioterapis terbaik di Inggris dan membanggakan Korea!” ucap Suzy sembari mengepalkan kedua tangannya.

Abeoji tersenyum lalu mengusap puncak kepala putri sulungnya itu. Tangannya yang lain pun terulur untuk mengambil remote teve, memencet tombol daya untuk menonaktifkan teve.

“Kau pasti bisa, Suzy-a!! Abeoji sangat yakin. Eh, eomma-mu datang, ayo cepat buka bukumu!

Suzy mengangguk lalu melempar senyum jahil kepada wanita paruh baya yang memasuki ruang tamu. Sepiring panekuk kimchi yang masih mengepulkan asap tahu-tahu menjajah permukaan meja kayu mahoni di ruang tengah itu. Wanginya yang harum sontak mengalihkan atensi para kaum yang saat itu tengah berdiam diri di ruang keluarga tersebut.

Eomma Suzy menepuk pundak putrinya sambil berkata, “kau sudah belajar sangat keras. ayo, istirahat dulu dan cicipi panekuk kimchi ini.

Suzy yang tadinya sedang asyik berpura-pura melototi ringkasan pada buku catatannya langsung saja menengadah dan mencomot sepotong panekuk itu menggunakan sumpit kayu. Begitu juga dengan abeoji yang langsung menjarah potongan besar kimchi tersebut menggunakan tangan yang dihadiahi tatapan laser dari eomma. Suzy yang melihatnya hanya bisa terkekeh dan langsung melahap makanan sepinggan tersebut.

Terimakasih, Eomma. Panekuk kimchi-mu selalu nikmat seperti biasa.” puji Suzy ketika selesai mengunyah panekuk itu.

Kau bisa saja, Nak. Oh ya, mulai sekarang kau mesti belajar dengan rajin dan tekun. Eomma dengar jurusan matematika dan ilmu alam yang kau pilih itu sangat ketat. Makanya kau harus bisa bersaing dengan yang lain di kelas.” pesan eomma kepada putrinya itu.

Suzy menundukkan kepala sejenak lalu mengangguk patuh.

Kalau saja kau memilih jurusan sosial mungkin kau bisa sedikit santai, Nak. Lalu saat mengikuti ujian masuk universitas untuk jurusan manajemen nanti pasti akan lebih mudah.

Eomma mulai lagi. Mengungkit-ungkit soal dirinya yang mesti kuliah di jurusan manajemen, mengikuti tradisi keluarga. Abeoji yang mendengarnya hanya tersenyum tipis lantas segera beranjak dari sofa krem yang didudukinya, meremas pundak Suzy sebentar sebelum menghilang di balik lawang menuju halaman belakang.

“Iya, Eomma.”

Tapi tidak apa. Setidaknya lulusan jurusan matematika dan ilmu alam bisa menjadi poin plus.”

Suzy tersenyum walau samar dan mengganguk. Kemudian dia pun segera mengalihkan perhatian eomma-nya sebelum memulai kultum mengenai kuliah dan tradisi keluarga dengan menanyakan keberadaan adik lelakinya.

“Eomma, di mana Sungjae? Kok, sedari tadi aku tidak melihatnya.

Oh, itu. Dia di kamarnya. Sedang sakit gigi. Makanya kau jangan berbuat gaduh dulu, ya. Ingatkan juga abeoji-mu supaya tidak heboh saat menonton bola.

Suzy tertawa sebentar sebelum menjungkitkan kepala ke atas dan ke bawah.

Siap, Eomma!

***

Suasana ruang tengah saat itu terasa dingin. Raut wajah eomma terlihat kaku begitu juga dengan abeoji yang terdiam di tempatnya. Sementara itu, Suzy terlihat menundukkan kepala dalam-dalam. Enggan memiliki kontak mata dengan eomma-nya yang sedari tadi terus memicing ke arah putri sulungnya itu. Sungjae yang duduk di sebelah Suzy pun nampak heran dengan situasi di atas. Lagipula apa yang bisa diperbuat bocah berusia dua belas tahun itu mengenai keinginan dan keharusan, sih?

“Eomma, “ suara Suzy terdengar lemah.

“Bae Suzy.” tandas eomma cepat.

Selembar kertas yang agak lecak pun diremas oleh eomma kuat-kuat. Seolah menyalurkan emosi yang terpendam di dalam hatinya.

Maafkan aku…

Eomma memilih mode bisu, tak mau merespon perkataan putrinya. Sementara abeoji menghela napas, berusaha melonggarkan sesak yang membabat paru-parunya.

Dengarlah penjelasannya dulu baru kita –

“ – apa yang mau dijelaskan lagi, eo!! dia yang diam-diam mengikuti ujian perguruan tinggi di Amerika dan membatalkan ujian masuknya ke SNU!?! Dia yang selama ini selalu memilih belajar denganmu ketimbang aku karena selama ini pula kaulah yang mendorongnya agar memilih jurusan bukan manajemen dan malah ilmu fisioterapi!?!! Begitu?!! Mau jadi apa dia nanti? Mau jadi dokter? Tukang pijit!?!

Napas eomma memburu ketika dirinya selesai memuntahkan peluru kata-kata kepada semua orang di ruangan itu. Abeoji memilih diam meskipun di dalam, ia merasa tertohok karena istrinya yang meragukan posisinya sebagai seorang ayah dalam mengarahkan putrinya. Meski begitu, abeoji tidak merasa sakit hati atas perkataan eomma.

Kepala gadis itu pun semakin tertunduk dalam. Ia pun tahu kalau akhirnya akan seperti ini: eomma yang menentang habis-habisan – malah membenci – keputusannya untuk menolak berkuliah di Seoul dan memilih berkuliah di luar negeri.

Lagipula, keinginann Suzy untuk berkuliah di jurusan ilmu fisioterapi bukan semata-mata karena dorongan dari abeoji melainkan kata hatinya selama ini. Abeoji hanya kebetulan berperan sebagai pihak yang pro akan keputusan Suzy dan beliau seratus persen mendukung keinginannya.

Pantas saja, dari awal dia menolak untuk bersekolah di SMA dengan jurusan sosial!! Pantas saja dia selalu kelihatan menolak ketika aku mulai berbicara dengan manajemen! Rupanya dia tidak ingin melanjutkan tradisi keluarga. Menjadi lulusan manajemen terbaik di negeri ini!

Abeoji meremas pundak eomma yang naik turun. Pandangan mata wanita paruh baya itu terlihat berapi-api namun di satu sisi juga rapuh dan terluka.

Kau itu anak eomma, Suzy-a. Mengapa kau tidak mengerti?!

“Choi Jiwoo, berhenti menyudutkan Suzy seperti itu! Dia tidak sepenuhnya salah.

Eomma menoleh kepada abeoji, lantas mengusung secercah senyum tak terima.

“Suzy tetap salah! Tidak seharusnya dia seperti itu! bagaimanapun juga –

“ – apa Eomma akan mendengarkanku ketika aku berbicara mengenai mimpiku? Apa Eomma akan mendukung keputusan dan keinginanku kala aku memilih untuk jurusan bukan pilihan eomma?”

Bagaimanpun juga menyalahkan anak bukanlah perbuatan yang bijak.

Apa maksudmu…

“Eomma memang peduli pada kebahagian kami tetapi Eomma lupa dan tidak tahu apa dan bagaimana kebahagiaan itu tercipta untuk kami.

Abeoji melihat putri sulungnya dengan tatapan tidak percaya. Begitu juga dengan Sungjae yang menatap nuna-nya heran.

“Bae Suzy!! Kau!!

Apa aku salah untuk memilih jalanku sendiri? Eomma, tolong jawab!! Apa aku salah?!

Eomma merasa tak terima dibentak oleh putrinya sendiri oleh karenanya dia pun berdiri sambil menunjuk pintu, “Bae Suzy, keluar!!!!

Semua mata terbelalak kecuali Suzy yang nampak tersenyum. Untuk akhiran yang satu ini, gadis itu juga sudah memperkirakan hal tersebut bakalan terjadi, yakni eomma yang bakalan mengusirnya.

“Choi Jiwoo, apa yang kaulakukan!?!!!” seru abeoji sambil menahan lengan eomma.

Sungjae sontak ikut beranjak dan menahan nuna-nya yang sudah siap angkat kaki dari rumah itu.

“Nuna, jangan..” pinta Sungjae dengan nada memohon.

Senyuman itu masih terpampang di bibir Suzy, “tidak apa-apa, Sungjae-ya.”

“Suzy-a, jangan turuti eomma-mu. Dia sedang ngelaba!”

“Abeoji, jangan kuatir.

Jangan pernah kembali ke sini!!!!

Beku menjalar ke seluruh syaraf yang ada di dalam tubuh Suzy. Gadis itu tahu betul, ultimatum eomma tidak pernah berbuah canda ataupun pura-pura. Terlebih yang satu ini.

Semua mata pun kin menubruk Suzy yang terdiam di tempatnya. Dia pun mengangguk. Dengan langkah yang tegar dia pun meninggalkan ruang tamu sebelum melepas tangan Sungje yang menahannya.

Airmata tahu-tahu luluh dari pelupuk gadis itu, turun dan membasahi wajahnya. Suzy menatap satu persatu wajah yang berada di dalam ruang keluarga itu: wajah kuyu abeoji, paras linglung dan imut Sungjae, serta amarah dan benci yang kentara pada paras sang eomma.

Abeoji menatap punggung putrinya yang menjauh itu dengan tatapan penuh luka. Terlebih kepada kertas pemberitahuan diterimanya Suzy sebagai mahasiswi ilmu fisioterapi di Reed College, eomma meremasnya kuat-kuat lalu membantingnya ke atas lantai.

***

Selama ini Suzy memang tidak memberitahukan apa keinginannya kepada eomma melainkan kepada abeoji. Beruntung, abeoji sangat mendukung keinginan putrinya dan diam-diam mencari warta ke sana-sini mengenai sekolah tinggi yang memiliki jurusan ilmu fisioterapi.

Untuk saat ini di Korea belum ada satu perguruan tinggi yang dikira abbeoji sudah memenuhi klasifikasi abeoji. Hingga, suatu hari, kolega abeoji yang bermukim di Oregon memberitahu bahwa ada satu sekolah tinggi terbaik yang memenuhi kriteria yang diinginkan abeoji. Yakni, Reed College di Portland, Oregon.

***

Ponsel genggam pabrikan Korea selatan yang tergenggam pun ditatap dengan tatapan sendu. Tangannya tergerak, di atas keyboard QWERTY yang menyembul pada layar ponsel yang peka terhadap rangsangan tersebut.

Nuna, apa kau sedang sibuk? Kami semua merindukanmu. Kapan kau akan kembali dan menengok kami di sini? Nuna, masih marah pada eomma?

Suzy tersenyum kecut. Pesan dari Sungjae – adik laki-lakinya yang kini sudah menapaki semester satu di bangku perkuliahan – pun urung untuk dibalas. Gadis itu membiarkan pesan itu memenuhi kotak masuk ponselnya beserta ratusan pesan bernada serupa lainnya yang hanya sesekali dibalas oleh Suzy.

Nuna, masih marah pada eomma?

Bagaimana dengan sekarang? Apa Suzy masih marah dengan eomma yang melahirkannya itu? Apa rasa yang menggerogoti feeling hingga ke tulang-tulang itu sudah menghilang?

Suzy enggan untuk menjawabnya. Rasa itu masih ada. Rasa marah, tidak suka, kesal, dan beribu-ribu perasaan kecewa lainnya. Meski begitu, jauh di lubuk hatinya, sesungguhnya masih ada secuil perasaan yang masih dapat mengolengkan haluan kapal gadis itu ke arah yang lain.

Perasaan apa itu?

***

Picadilly Circus nampak ramai oleh turis maupun warga lokal yang sekedar berjalan-jalan. Persimpangan tersebut merupakan salah satu landmark di London. Keberadaannya pun sering disamakan dengan persimpangan terkenal lain di dunia seperti Shibuya di Jepang dan Times Square di New York.

Di dekat bangunan kokoh dengan aksen gothic yang khas, berdiri seorang seniman jalanan. Gitar akustik lapuk yang berada di sandarannya melantunkan melodi indah yang memangku lirik gubahan Paul McCartney. Setiap dentingan koin, sumbangan dari para pengguna jalan, yang menubruk sarung gitarnya pun dibalas oleh senyuman klasik pemuda itu sambil menyingsing ujung topi fedora miliknya.

Gitar itu kini mengeluarkan malai nada dari intro lagu milik The Script, band asal Irlandia, bertajuk The Man Who Can’t Be Moved.

“Jangan mengonsumsi ikan dan ayam. Luka sobekmu itu rentan terhadap makanan yang berlemak. Ya, jaga dirimu, Tuan Arteta. Bye.”

Suzy memutuskan panggilannya kepada kapten nomor satu Arsenal yang tengah memikul cedera akibat jatuh dari sepeda dua hari yang lalu. Kemudian melanjutkan perjalanan menuju stasiun tube terdekat untuk kembali ke camp pelatihan Arsenal di Shinley.

Alunan lirik ciptaan Danny O’Donoghue itu pun mampir di pendengaran Suzy. Sekilas, dia pun menjengitkan kepala. Dia tahu lagu ini. Kepada kantung jaket wolnya, yang dirogoh oleh telapak tangan gadis itu, Suzy bermaksud mencari beberapa keeping receh mata uang Poundsterling.

Setelah menemukannya, ia pun meletakkan keping koin tersebut di atas peti gitar sang pemuda yang kemudian dibalas oleh senyuman manis si pemuda.

“Terimakasih, Nona.”

“Kembali kasih, lanjutkan bermusiknya. Aku menyukainya.” balas Suzy tak acuh sebelum meninggalkan sang seniman jalanan dalam ketersimaan.

Lama, pemuda itu berada dalam mode sunyi dan memilih menyanyikan nada melalui dawai gitarnya. Sebelum ia sempat bersuara kembali, terdengar panggilan yang diarahkan kepadanya.

“Kai!! Ayo, cepat masuk ke dalam café! Saatnya pertunjukan!”

“Ah, baik, Matt!”

Kai – pemuda bertopi fedora dan setelan kasual – itu menatap punggung Suzy yang ditelan pejalan kaki warga kota London. Pujian gadis itu yang masih terngiang di gorong-gorong telinga Kai adalah alasan kenapa ia tidak bisa tersenyum. Pada dasarnya, ada juga yang mampu mengapreasiasi selera bermusiknya.

***

Dan pada dasarnya, bagaimana dengan keadaan sekarang seorang Bae Suzy, dia juga menaruh harapan kepada eomma-nya yang masih menganggap remeh keinginannya. Seorang Bae Suzy yang hanya rindu pada apresiasi eomma-nya terhadap kebahagiaan yang direngkuhnya.[]

6/29/2015 10:47 PM

Advertisements

17 comments

  1. Aigoo, kira2 apa yang terjadi jika omma suzy tau jika suzy sudah sukses menjadi fisioterapi disana, akankah ommah suzy luluh, huft
    fighting ne thor:*

    Like

  2. oke, pertama aku kaget/? sama special guestnya. dari choi jiwoo, trus sungjae itu sungjae btob bukan? sama yang terakhir kai XD
    bayangan pertama waktu liat pemusik jalanan itu orang tua gitu yang punya jenggot trus pake kacamata item haha. tapi waktu tahu dia itu bang-kai, duh ngakak kak 😀

    tolong abaikan random diatas. oh ini toh alasan kenapa mba suzy ga pengen balik ke koria. susah sih ya kalo orang tua udah nentuin masa depan kita tapi kita punya cita-cita sendiri. dan ini kasusnya mba suzy lumayan parah, sampe diusir segala.
    oiya, part ini juga impressive kaya part sebelumnya. apalagi itu soal lagu-lagu barat /yang mana aku nggak ngerti satu pun XD / seru aja bacanya. berasa kaya novel terjemahan 😀
    dapet darimana sih ide kayak gini kak?

    Like

    1. yesyesyesss, entah kenapa, aku emg seneng bgt jadiin choi jiwoo sbg ibunya suzy di setiap ff,hhe.iyaaa, itu si sungjaee!!mas-mas koplak yang unyu itchuu~hehe. sebenernya, special guest di bagian ini tuh Kai aja 😉 haa, sengaja gamau detil2 amat ngegambarin Kai di sini supaya jd misterius gitu eh ini malah dikira kakek2 lagi.hehe, salah kaprah akunya 😀
      yeah, akhirnya isu ortu yang belum bisa mengerti keinginan dan mendukung cita2 anaknya sendiri ini ditangkep juga..beruntung, deh keluargaku di rumah modelnya ga kaya choi jiwoo yg begitu :/
      aduh, terimakasih sudah dibilang impressive, padahal aku sendiri ga sampe berpikir kaya gitu lho,aku seriusss 🙂
      soal lagu2 barat, sebenernya aku jg ga update2 bgt 😉 tp khusus untuk lgu yang di atas itu emg top bgt, heart-break song-nya bagi para kaum adam! coba deh kamu denger, pasti ketagihan(?)
      hehe, sebenernya idenya berasal dri cita-citaku yang ga kesampaian~hehe

      Like

      1. kalo inget choi jiwoo, mesti kebayang sama peran dia di suspicious housekeeper XD aduh itu ngena banget karakter park boknyeo haha
        sungjae-sungjae!! gong taegwang!! omomomo dia emang super unyu kak XD Oalah, aku kira tiga-tiganya itu special guest :v
        ortu yang kayak gitu emang repot ya. harus nurut, kalo gamau suruh angkat kaki. oiya, kalo mamanya choi jiwoo, bapaknya sapa coba? 😀
        Judulnya apaan kak? ntar coba aku dengerin. soalnya aku gatau apa-apa selain keipap XD
        Ooo kakak pengen jadi fisioterapis? uwaa, baru pertama denger. tapi keren banget cita-citanya 😀

        Like

      2. haha,iya emang :3 ada ya PRT yang kaku-nya melebihi robot kek gitu..disuruh apa aja pasti diturutin, kan rada serem.hehe…iyaa, aku baru tau kalau tuh bocah ternyata unyu jugaa 😀 *ketinggalanjamanabgts*
        nah, kalo emaknya choi jiwoo yang jadi bapaknya itu yg jd pasangan dia di winter sonata, duh, aku lupa siapa namanyaa /-\\\\
        judulnya the man who cant be moved by the script 😉
        haha, cita2 tp ga kesampaian itu :// hehehe

        Like

  3. Tunggu tunggu itu special guestnya kai? ITU KAI KIM???? ASTAGAA KAI BISA MAIN GITAR HATIKU BAKAL LULUH LANTAH PORAK PORANDAA ><ANAAAA TOLONGGGGGGG KAMU TANGGUNG JAWABB
    Cieeee yang dipuji mba suzy ya pasti rasanya udah pasti emang beda dehh XD
    oke balik ke persoalan pokok, aku liat subjudulnya malah kepikiran sama lagu westlife cobaa
    Emang berat sih ini masalah suzy, masalah yg kadang menimpa oleh anak, klo ngga nurut jadi durhaka tapi dia juga pengen ngebuktiin klo dia bisa dan disinilah suzy berada, di london. At least bapake support dia,
    family problem kyk gini aku malah clueless gimana solusinya ya apalagi klo bukan salah satu antara suzy dan ibunya yg ngalah, moga suzy pulang kampung utk memperbaiki hubungan mereka
    dan ohh ini sungjae yg jadi pasangan joy di WGM itu kan ye?? hahaha cocok lah mereka jadi bro-sis, sama2 charming hohoho

    Liked by 1 person

    1. YESSS! itu KIM JONGKAI!!! seniman london yang tampilannya kubuat semenarik mungkin!! muehehe…HA! keknya tanpa dia bisa main gitar, tuh pemuda hitamanis udah ngejumpalitin your kokoro, dan. haha 😀
      cant disagree with ya….but thanks for the advice, ardansay!salah satu memang harus ada yang ngalah, and we’ll see siapa yang bakalan ngalah..jengjeng….
      iyap, itu doi. haha ^^
      aniwei, thankschu for mampir~~~

      Like

  4. Aku Baca yang flip flop dulu baru yang ini … Duh Suzy unnie aku envy sama kamu karna berani tegas untuk mimpi kamu.
    Adeknya Sungjae Toh 😆 seserius apapun cerita nya kalau Ada dia pasti aku bawaannya pengen ngakak. Oh akhirnya aku tau apa sebab Suzy unnie agak sensitive dengan Hal yang berhubungan
    Ama eomma nya. Cie bang Kai Ada disini, lgi ngapain bang 😃 kekeke.

    Like

    1. hee, makasih sudah sempetin baca flip-flop-nya, Ain 🙂
      yap, adiknya suzy di sini sungjae, ceritanya..haha, sama kaya aku, dong. abis sikap si sungjae aslinya kan rada konyol dan pea gitu ya, jd bawaannya pengen mites kepala dia aja..hehe…
      🙂 yess, si kai nyamar jadi pengamen di london.haha

      aniwei, makasih banyak sudah nyempetin mampir en berkomentar, Ain 🙂 🙂

      Like

Escape your thoughts!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s