[Playlist-Fict] #2: Flower

flower

xianara presents

#2: Flower

a song-based story, with EXO Oh Sehun and OC Suzuya Touka | AU, Family, Fluff,  slight!Sad, School-Life | vignette/song-fict | general | beside the poster and story-line i own nothing!

July, 2015©

Like a flower

Flowers bloom in sunlight, and I live close to you – Flower by L`Arc`En`Ciel

part of Playlist-Fict

Dia menatap ke selokan besar yang terletak di sebelah kirinya. Sehun – dia, mengamati aliran air pada selokan yang menjadi pembuangan limbah cair dari perumahan dengan tatapan sendu.

Sinar dari sang surya yang membubuhi surai legamnya pun tak dihiraukan. Meski tempo telah memasuki fase musim panas, mentari senja masih tidak terlalu terik. Hingga lambaian nyiur dari angin senja yang menyejukkan langsung menerpa wajah kuyu pemuda itu.

Di pinggir selokan besar tersebut, tertanam beberapa pohon sakura. Aneh memang, mengapa pula pohon dengan kembang yang cantik itu ditanam di dekat selokan? Sementara itu, mengapa pula tidak ditanam di dekat undakan tempat duduk di lapangan kompleks biasa Sehun bermain basket? Dia sendiri pun tidak tahu dan enggan untuk ambil pusing.

Sehun berjalan dalam ritme yang sedang. Dengan ransel yang disandang di punggung, pemuda itu pun terhenti di dekat dahan sakura yang melengkung ke trotoar jalan dan kebetulan sedang berkembang.

Kepada kelopak berwarna merah muda yang berguguran ke atas tanah dan ke dalam selokan yang lumayan jernih, Sehun menitikberatkan pusat perhatiannya. Kelihatan bahwa dia menarik kedua ujung bibirnya untuk membentuk senyuman.

Kelopak kembang sakura yang berguguran seolah membawanya ke dalam masa nostalgia bersama Touka. Siswi pindahan asal Tokyo yang baru-baru ini menarik perhatiannya.

***

“Selamat pagi! Aku Suzuya Touka, kalian bisa memanggilku Touka. Aku berasal dari SMU Nagasai di Tokyo. Semoga kita dapat berteman dengan baik! Terimakasih!”

Sehun ingat bagaimana Gadis Tokyo itu memperkenalkan dirinya dengan Bahasa Korea yang lumayan faseh. Awalnya, Sehun tidak begitu peduli dengan gadis mungil itu. Namun saat pembagian tempat duduk, mau tak mau, Sehun tidak jadi tidak peduli karena wali kelasnya menyuruh Touka untuk menempati bangku kosong yang sudah lama tak terisi di sebelahnya.

Sudah kubilang, awalnya Sehun tak mau peduli dengan eksistensi gadis itu sampai saat di mana lagi-lagi, dia dipasangkan dengan gadis berambut sebahu itu dalam praktikum biologi.

“Sehun-kun, bisakah kau mengambil contoh daun yang ada di atas sana?”

Touka menunjuk dahan dari akar pohon saga yang merambat di tembok. Letaknya memang cukup tinggi sehingga sulit diraih oleh Touka yang hanya memiliki tinggi kurang lebih 160 senti itu.

Tanpa berkata-kata, Sehun segera memetik beberapa lembar daun dan menyerahkannya kepada Touka. Pandangan gadis itu pun nampak berbinar ketika menerimanya.

“Terimakasih, Sehun-kun. Beruntungnya dirimu memiliki tubuh yang tinggi.” ceplos Touka seraya tersenyum lebar.

Sehun memilih untuk mengangkat bahunya sambil lalu dan meneruskan langkah, mencari objek penelitian yang lain. Dia pun meninggalkan Touka yang kesusahan dengan berbagai macam jenis daun beserta lembar penelitian di tangannya.

Baru seminggu Touka bersekolah di SMU Hwayoung tetapi dia sudah bisa beradaptasi dengan lingkungan dan budaya kelasnya dengan baik.

Seperti, Touka yang sudah tidak begitu canggung ketika berbicara dengan segelintir teman sekelasnya yang penasaran tentang Jepang ataupun para siswinya yang sibuk menanyakan apakah pemuda di Tokyo itu tampan atau imut, dan hal-hal lainnya.

Sehun yang merasa kebisingan mendengar celotehan riang Touka dan siswa di kelasnya pun melipir meninggalkan meja dan bangkunya. Dia pun bergegas keluar dari kelasnya dan segera menapaki anak tangga menuju atap sekolahnya.

Di atap sekolah, Sehun memiliki spot favoritnya, yakni sebuah undakan yang belum jadi, di mana sebelahnya terdapat sebatang pohon sakura yang kembangnya sedang bermekaran. Biasanya, di saat jam-jam kosong atau sedang ingin bolos pelajaran, Sehun akan escape ke sini dan bersandar atau tiduran di atas undakan tersebut.

Sama halnya dengan sekarang, di mana ia jengah terhadap presensi seorang gadis yang membawa kebisingan di tempat duduknya.

Sehun pun terlentang di atas papan kayu yang cukup bersih sambil menjadikan lengan kanannya sebagai bantalan. Baru beberapa sekon ia memejamkan kedua matanya, tahu-tahu indera pendengarannya mendengar seruan agak cempreng yang memanggil namanya.

“Sehun-kun?”

Sehun membuka kedua matanya. Dia pun mendapati Touka yang sedang menatapnya sambil tersenyum.

Kaget, Sehun pun lantas segera terbangun dan menatap gadis asal Tokyo itu dengan rikuh.

“Maaf aku menganggu waktu tidurmu.”

“Kenapa kau bisa ada di sini?”

“Ya?”

“Aku bertanya, kenapa kau bisa ada di sini? Apa kau mengikutiku?”

Touka mengangkat telapak tangannya dan melambaikannya, membuat gestur ‘tidak’ dengan ekspresi kikuk di atas wajahnya.

“Tidak-tidak, kok. Aku tidak mengikutimu, hee.”

“Lalu?”

“Anu, itu aku hanya ingin, “

Sehun mendelik kepada Touka yang dibalas gadis itu dengan memundurkan langkah sambil menggaruk tengkuk.

“Ingin apa?”

“Ingin melihat bunga sakura!”

Touka menunjuk pohon sakura yang kembangnya sedang bermekaran. Gadis itu pun mengambil kelopak sakura yang berguguran karena dikelitik angin melalui telapak tangannya lalu menyebarkannya di udara di hadapan Sehun dengan ceria. Sementara pemuda itu hanya menatapnya dengan datar.

“A-aku rindu dengan Jepang jadi aku ingin melihat bunga sakura yang sedang bermekaran. Mengingatkanku dengan Sakura Festival di Tokyo.”

Sehun hanya ber-oh ria sebelum kembali ke posisi sebelumnya namun kini ia memilih untuk duduk di atas papan kayu tersebut. Pemuda itu pun menunjuk papan kayu yang kosong di sebelahnya kepada Touka.

“Aku boleh duduk di situ?”

Sehun mengangguk, “apa aku terlihat seperti melarangmu?”

“Sedikit, sih.”

Mata Sehun disipitkan sebelum kembali seperti semula ketika mendapati Touka yang mengangsurkan tanda damai melalui jemarinya.

Keduanya pun terdiam. Mungkin lebih tepatnya hanya Sehun seorang karena sedari tadi Touka mengoceh sendirian mengenai bunga sakura yang memenuhi pelataran atap sekolahnya.

“Touka-ssi, “

“Ya?”

“Apa kau suka dengan kembang sakura?”

Touka terdiam sebelum mengangguk dengan penuh semangat dan ekspresi ceria di atas wajahnya.

“Sangat. Aku sangat menyukainya. Kau?”

“Aku?”

Sehun menyandarkan telapak tangannya sebagai tumpuan lalu menengadah, menatap cakrawala biru yang diisi oleh awan sirokumulus dan beberapa koloni burung. Lalu menaruh tatap pada kelopak sakura yang berterbangan dan hinggap di atas celana seragamnya.

“Tidak tahu.”

“Apa kau alergi dengan bunga?” cecar Touka.

“Bukan seperti itu.”

“Lalu?”

“Hanya saja, bunga sakura yang bermekaran seperti itu mengingatkanku kepada seseorang yang juga menyukai sakura sama sepertimu.”

“Oh ya? Kalau boleh tahu, siapa dia?”

“Ibuku..”

“Eh?”

Sehun tercengang. Rupanya ia keceplosan bercerita mengenai ibunya kepada orang asing yang baru seminggu duduk di sebelahnya.

“Maaf aku tidak – “

“Tidak apa, Sehun-kun. Harusnya aku yang meminta maaf karena sudah lancang.”

Sehun menggeleng.

***

Ibu dan sakura adalah dua hal yang saling berkaitan dan menjadi candu bagi Oh Sehun. Terhitung, sudah satu dekade dia berpisah dengan ibunya yang juga sama seperti Touka, orang Jepang asli.

Bedanya, beliau berasal dari salah satu kota di Jepang yang terletak di bagian selatan Gunung Fuji, kota Yamanashi. Sehun sendiri sering mengembarakan pikirannya mengenai apa yang sekarang dilakukan oleh ibunya di sana. Apakah dia juga sama dengan Sehun yang selalu merindukannya?

Kedua mata pemuda itu terpejam. Memori mengenai kebersamaannya dengan sang ibu  sontak terputar bak gulungan film yang siap cetak. Film itu berisi skenario tentang dia dan sang ibu yang setiap pagi pergi ke kuil, melakukan sembahyang, dan mampir sebentar ke atas bukit dekat rumahnya. Di mana di puncak sana tumbuh satu pohon sakura yang menjadi spot favorit mereka berdua kala melepas penat atau ingin bermain sejenak.

“Sehun-chan, “

“Ya, ada apa Okka-san?”

Saat itu, Sehun baru berumur enam tahun, dengan tampang yang polos dia pun mendekatkan wajah kepada sang ibu yang saat itu tengah tersenyum manis sembari membelai puncak kepala Sehun.

“Tidak ada apa-apa, kok.”

Okka-san..” rengek Sehun yang merasa dicandai oleh ibunya.

Wanita jelita itu tersenyum jenaka sembari mengecup puncak kepala Sehun dan membawa putranya itu ke dalam dekapannya.

“Aku hanya ingin bilang bahwa Okka-san sangat menyayangimu. Sehun-chan seperti bunga sakura. Bunga yang bersemi di bawah siraman sinar mentari dan hal itulah yang membuat Okka-san bisa hidup sampai saat ini.”

Sehun menatap sang ibu dengan pelupuk mata yang berkaca-kaca lantas tersenyum penuh arti.

***

“Sehun-kun? Hei!??”

Pemuda itu tersentak dari lamunannya, dia pun buru-buru menoleh ke sampingnya, di mana Touka sedari tadi mengguncangkan bahunya untuk menyadarkan Sehun yang terdiam selama dirinya bercerita mengenai bunga sakura.

“Maaf aku tidak mendengarmu, Touka-ssi.”

“Tidak apa.” tukasnya sembari tersenyum. “Satu lagi, cukup panggil ‘Touka’ atau ‘Touka-chan’ saja. Sekarang kita sudah berteman, ‘kan?”

Sehun kembali tersentak dan segera mengatur ekspresinya. Touka melebarkan senyumannya sembari menelengkan kepala. Pemuda itu pun menggaruk tengkuk serta mengalihkan tatapan dari Touka untuk kemudian tersenyum tipis.

“Baik, Touka-chan.”

***

Dia menatap ke selokan besar yang terletak di sebelah kirinya. Sehun – dia, mengamati aliran air pada selokan yang menjadi pembuangan limbah cair dari perumahan dengan tatapan sendu.

Sinar dari sang surya yang membubuhi surai legamnya pun tak dihiraukan. Meski tempo telah memasuki fase musim panas, mentari senja masih tidak terlalu terik. Hingga lambaian nyiur dari angin senja yang menyejukkan langsung menerpa wajah kuyu pemuda itu.

Di pinggir selokan besar tersebut, tertanam beberapa pohon sakura. Aneh memang, mengapa pula pohon dengan kembang yang cantik itu ditanam di dekat selokan? Sementara itu, mengapa pula tidak ditanam di dekat undakan tempat duduk di lapangan kompleks biasa Sehun bermain basket? Dia sendiri pun tidak tahu dan enggan untuk ambil pusing.

Sehun berjalan dalam ritme yang sedang. Dengan ransel yang disandang di punggung, pemuda itu pun terhenti di dekat dahan sakura yang melengkung ke trotoar jalan dan kebetulan sedang berkembang.

Kepada kelopak berwarna merah muda yang berguguran ke atas tanah dan ke dalam selokan yang lumayan jernih, Sehun menitikberatkan pusat perhatiannya. Kelihatan bahwa dia menarik kedua ujung bibirnya untuk membentuk senyuman.

Kelopak kembang sakura yang berguguran seolah membawanya ke dalam masa nostalgia bersama Touka. Siswi pindahan asal Tokyo yang baru-baru ini menarik perhatiannya.

Tangannya pun terulur untuk memerangkap kelopak sakura yang siap terjun ke atas tanah. Senyuman tipis itu pun kini bertengger di atas bibirnya.

“Sudah dari dulu aku juga menyukai bunga sakura sama sepertimu. Ternyata ada juga ya, yang sangat fanatik terhadap sakura, melebihimu. Okka-san, sudah sepuluh tahun, ya. Semoga kau bahagia di….

surga.”

***

Seperti bunga! Bunga sakura yang bersemi di bawah siraman cahaya mentari dan aku akan memilih untuk tinggal di dekatmu, sebagai teman.”[]


ff super spesial, dibuat teruntuk para dreamers yang sudah menyempatkan waktunya untuk membaca ff di sini 🙂 terimakasih banyak!

dan, teruntuk kepada Miss Of Beat R thankyousomacheee my lovely fellas atas hadiahnya 😉

last, selamat berbuka puasa ❤ 😀

Advertisements

2 comments

  1. Entah kenapa di kepalaku ekspektasi Touka jadi Suzuka Baby Metal. Bhaks,,

    ini unyu sangat. Sehun dimana2 jd cowok dingin ya. Hbs gmn, mukanya flat gtu sih.

    Dan aq jg suka bgt bunga sakura. Dicangkok dan ditanam di Indo bisa ga ya? #mikirkeras

    Liked by 1 person

Escape your thoughts!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s