[Ori-Fict] Punggung

images (17)

an original fiction by xianara


Shalat tarawih malam ketiga adalah kesempatan bagi Zani untuk kembali memandangi punggung seorang cowok yang berdiri di shaf belakang pria, dekat dengan shaf perempuan terdepan.

Aneh memang, cewek itu lebih suka memandang punggung ketimbang wajah dengan aksen Timur tengah si cowok yang kelihatan lumayan manis itu. Entahlah asalkan hal yang dilakukan olehnya itu tidak mengurangi esensi dari ibadah yang dijalankan, itu sah-sah saja.

Beruntung bagi Zani malam ini karena dia berada di posisi strategis untuk kembali menikmati punggung sang cowok, yang memilih tempat di barisan belakang. Jadinya, cewek itu pun bebas untuk melotot kepada punggung, yang menurutnya, indah itu sampai shalat witir berakhir.

Pernah suatu kali, dia hampir ketahuan sedang mengamati punggung sang cowok tersebut oleh adiknya. Namun jangan panggil Zani kalau dia tidak bisa mengelak dengan pintar.

Kak, lagi ngapain?

Kepada jendela kaca riben yang menjadi perantara Zani dengan si punggung karismatik cowok itu, Zani mengutuk pelan tapi di dalam hati dan segera menoleh ke asal suara. Dina, adik sepupunya yang kebetulan shalat tepat di sampingnya barusan melihat kakak sepupunya itu senyam-senyum menghadap jendela kaca mushalla.

“Oh, i-itu, aku lagi, –

“ – Kakak lagi ngaca, ya?” tebak Dina sambil tersenyum jahil.

Ah, leganya. Zani menghembuskan napas dengan lega, dia kira Dina mengetahui kegiatan ilegal yang selama ini dia lakukan secara diam-diam.

Senyum kikuk terpeta di atas wajah Zani. Dia pun mengiakan tebakan Dina barusan, “iya, aku lagi ngaca. Kayanya aku makin cakep aja, ya.”

Cakep apaan? Orang dari dulu jelek juga.

Setelah mengatakan itu, Dina membuat tanda peace melalui jemarinya yang dibalas tawa hambar oleh Zani. Ah, biarin dibilang jelek, daripada dibilang kurang cakep! Dan di sini, Zani bukan mengelak dengan pintar melainkan mencelakan diri sendiri.

Seusai salam pada setiap rakaat kedua shalat tarawih, gadis bermukenah putih polos dengan bordiran bunga berwarna oranye itu akan segera berdiri, bahkan menyamai sang imam. Ya, dia melakukan itu karena dia tidak ingin melewati momen barang seujung upil pun, untuk menelaah punggung karismatik cowok tersebut.

Ketika dirinya dan si cowok berdiri pada waktu yang bersamaan, Zani akan bersorak dalam hati dengan cengiran di bibir. Senyum itu tidak pernah absen dari bibir cewek itu ketika dirinya bisa melihat punggung favoritnya lagi di setiap kesempatan tarawih. Dan, ramadhan kali ini adalah masa ketiga di mana ia selalu menyandarkan pandangan pada punggung, yang lagi-lagi hanya menurutnya, lucu dan manis itu.

Belum reda soal kesukaannya mengamati punggung si cowok tersebut.

Ternyata ada hal yang lebih aneh lagi yakni, dia sendiri tidak mengetahui identitas punggung – eh, maksudnya, si cowok tersebut. Siapa namanya, rumahnya di mana, dia masih bersekolah atau sudah kuliah, dia tidak tahu dan tidak mau mencari tahu. Lihat, itu adalah salah satu bukti dari kelakukan abnormal Zani yang benar-benar di luar ke-abnormalan itu sendiri. Tetapi Zani berani menebak kalau cowok tersebut belum bekerja, secara dilihat dari tampangnya yang masih ada sisa-sia pubertas alias belum dewasa-dewasa banget, Zani menyimpulkan kalau si cowok tersebut masih bersekolah.

Lagipula, dia ‘kan hanya senang melihat punggungnya bukan orangnya. Well, dia memang mengakui kalau si cowok tersebut lumayan manis akan tetapi pacu jantung gadis itu masih dalam taraf normal kala dirinya tanpa sengaja bersobok pandang dengannya. Namun tetap saja, namanya juga perempuan, kala bersua pandang dengan manik cowok tersebut, dia akan membuang muka – padahal Zani hanya punya satu wajah – ke arah lain atau langsung menarik ujung mukenah untuk menutupi sebagian wajahnya.

Kendati demikian, Zani hanya mengagumi punggung yang menurutnya indah itu, bukan orangnya. Sekali lagi, punggungnya!

Jika dirinya diberikan kesempatan untuk mengenal lebih dekat cowok tersebut, dia sendiri tentu tidak akan menolak karena nantinya, dia ‘kan bisa menikmati punggung menawan itu lebih seksama – lho, bukan itu!

Ya, pokoknya kalau kesempatan itu menghampirinya, dia enggan tuk menolaknya. Lagipula, dari situ ‘kan dia bisa menjalin hubungan sebagai teman, menambah relasi di lingkungan baru, yang baru ditempatinya selama kurang lebih tiga tahun itu. Hei, jangan berpikir kalau Zani akan mendekati sang cowok dengan maksud ingin menjadikannya pacar. Tidak, itu bukan gayanya Zani, sama sekali.

Meskipun saat itu udara terasa panas dan sebagian besar para jamaah perempuan mengeluh kepanasan dan mengalihfungsikan ujung mukenah sebagai kipas, justru Zani tidak merasa demikian. Malahan, cewek itu merasakan sensasi adem luar biasa, serasa berdiri di depan aliran air terjun bak iklan salah satu minuman pencegah panas dalam, bukan main.

Tentu saja hal itu hanya berasal dari pesona punggung si cowok yang bisa ditatapnya dengan leluasa meskipun sesekali ada interupsi dari punggung seorang nenek yang menghalangi. Matanya ikut tersenyum kala punggung cowok berparas Timur tengah itu terlihat tegap dan sesekali melengkung.

Zani memang sudah terserang maniak punggung kronis tingkat lanjut, stadium akhir! Sangat akut! Sampai-sampai membuat semua dokter akan geleng-geleng kepala ketika mendiagnosis sindrom apa yang diderita gadis itu.

Kepala si cowok tahu-tahu menoleh ke belakang dan mendapati tatapan Zani yang jelas-jelas tertuju padanya. Kemudian, cewek itu pun otomatis mengalihkan tatapan sembari memasang wajah sedatar mungkin. Guna menyembunyikan ekspresi ketangkap basah seperti maling karena ketahuan mengamati (punggung) cowok tersebut, dia pun langsung menyembunyikan wajah di balik telapak tangan, pura-pura membuang kuap.

Sesungguhnya ada satu hal yang lebih baik ketimbang punggung ringkih dan kurus yang menjadi favorit gadis itu kala menapaki mushalla untuk menunaikan shalat tarawih. Sayangnya hal tersebut malah dilewatkan atau sengaja diabaikan oleh cewek itu. Sayang sekali, pemirsa. Padahal cowok itu baru saja melukiskan goresan tipis berupa secercah senyum di atas bibir dan itu bukan ditujukan kepada seorang nenek muda yang ada di depan gadis itu melainkan kepada Zani sendiri.

***

***

Tahun ketiga ramadhan dan menjalankan shalat tarawih seperti biasa, dengan punggung yang dijadikan objek pelototan cewek itu bisa dibilang yah, keren. Meskipun yang eksis hanya punggung bukan orangnya.

Rasa gatal itu sudah tidak bisa dia abaikan ketika Zani diam-diam menghujani punggung kurusnya dengan tatapan yang lucu dan keluk yang mencuat ke atas di bibirnya. Gemas sekali rasanya. Dan, malam tarawih ketiga ini, dia akan mengakhiri sensasi menggelitik yang selama tiga tahun belakangan ini menggerogoti punggungnya setiap bulan puasa.

“Hai, lo Zani ‘kan? Kenalin, gue … “

TAMAT


wkwkwk, based on pengalaman pribadi (lagi)~hahaha….

 

Advertisements

10 comments

  1. Ih sukaa xia, eonni senyum2 sendiri tau baca ff ini hahaha macam org ga jelas
    Ga tau knp rasanya ikut kesengsem kyk yg zani rasain, blm ke suka sih cm gemes aja dan rasa itu smp ke eonni kkk…

    Ah eonni brasa menemukan air di pdg oase ceilah

    Liked by 1 person

    1. yahooo, ada kak rahamaaakoeeeee ❤ hailoooo, kangennnn nihhh ❤ ❤
      haha, awas jangan senyam senyum sendiri, ntar disangka….haha 😀
      kk, tau tuh si Zani, padahal cuma punggung yah..
      h4h4. tunggu saja, versi aslinya nanti,kk
      eniwei, makasih syudah mampir ke sini 😀 hehe

      Like

  2. Jadi ingat pas jaman sekolah madrasah dulu yang suka sama kakak kelas dan cuma berani liatin punggungnya pas Sholah dzuhur, hahahahah padahal namax aja ga tau… pun klo ketemu sekarang juga ga bakalan ngeh alias bodo amat wkwkwkwwk..

    Liked by 1 person

Escape your thoughts!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s