[Ori-Fict] Dia yang Berceloteh

dyb

an original fiction by xianara

Surrealism, Fabel.

July, 2015©


Kutemukan secarik kertas lusuh dan agak lepek di pinggir selokan tempat biasa ku bernaung. Ternyata itu merupakan sebuah surat anonim. Lantas dengan kapasitas membaca yang pas-pasan, kuberanikan diri untuk mengeja kata pada tulisan ceker itik tersebut.

.

Surat untuk siapa saja yang membacanya,

Pada dasarnya saya hanyalah seorang kecebong amatir yang belum sampai pada fase katak dewasa. Saya hanyalah sepercik mikroorganisme dari populasi yang bisa dibilang teramat besar. Kendati demikian, untuk mencoba memasuki sebuah komunitas yang apik bukanlah suatu keharusan karena itu hanya dapat menimbulkan kemaslahatan antar sesama.

Kira-kira itulah yang dapat saya tangkap tatkala saya melihat beberapa pejuang katak yang gagal di comberan perang karena berusaha melindungi pasukan kecebong dari sergapan sekutu manusia yang tanpa ampun. Berangkat dari situ pun, saya memutuskan untuk menjadi kecebong nomaden dan independen. Tak berserikat dan agak anti-sosial.

Menjadi kecebong amatir yang gemar bertamasya dari satu selokan ke selokan yang lain memang menyenangkan namun jangan menganggap remeh kami. Di satu sisi, kami juga memerlukan effort yang pantang mundur. Saya harus ekstra sigap ketika muncul serangan dari sekutu, khususnya tangan-tangan bocah yang mengubek-ubek selokan dengan lincahnya, memborbardir kami yang tengah melancarkan aktifitas sehari-hari. Sejujurnya, berdiam diri di dalam comberan yang berwarna dan berbau jauh seribu kali lebih aman ketimbang terperangkap di dalam gelas plastik bekas air mineral oleh para sekutu.

Jujur, hal itu bukanlah sesuatu yang bisa dikatakan mengasyikkan. Terlebih, bagi spesies kecebong yang tidak populer seperti saya. Tolong, untuk hal yang satu itu jangan pernah disyukuri.

Selama ini pun, saya hanya hidup sebatang korek api, tak ada yang menemani karena memang tidak ada yang sudi. Kesendirian adalah teman. Namun meski begitu saya tidak merasa kesepian karena saya masih memiliki Dia. KepadaNya-lah, saya selalu berkeluh kesah, meminta doa, memohon ampunan atas kekhilafan saya sebagai kecebong yang agak culas di tempo dulu.

Hingga, pada akhirnya, saya bernazar untuk mengingatkan kepada siapapun supaya tidak mengasingkan diri dari komunitasnya seperti saya. Nazar yang baik itu berwujud untuk mengingatkan kaum kecebong, katak, dan sederajat agar tidak menjadi kecebong egois seperti saya.

Melalui surat anonim ini pula, saya berusaha untuk mewujudkan kaul saya.

Semoga dengan adanya surat ini, kalian, para kaum kecebong pemula, untuk tidak melihat segala hal dari satu sudut pandang saja. Supaya kalian tetap melihat peluang di balik ketidakmungkinan. Supaya kalian, para kaum yang saya banggakan eksistensinya agar selalu kokoh, saling menyayangi sesama untuk suatu bangsa yang maju.

Tanpa bermaksud untuk menggurui, berkenaan dengan surat ini, siapapun yang telah membacanya, jangan sungkan untuk memanggil saya…

KECE…boong.

Sekian dan terimakasih.

.

.

Satu tetes, dua tetes, perlahan namun kongkrit, airmata membasahi kulitku yang licin. Hatiku merasa terenyuh setelah membaca tulisan tersebut. Dalam hati, aku mengamini segala perkataannya mengenai kaum kami yang kadang suka menyendiri dan enggan berbaur. Aku pun menjadi salah satu dari mereka.

Sampai aku menginjak fase katak dewasa seperti ini, comberanku pun tidak diisi presensi lain kecuali aku sendiri. Aku terlalu malas untuk peduli untuk orang lain: begitulah alibi pamungkasku kala aku menolak untuk menjalin relasi.

Tetapi setelah membaca surat tersebut, hatiku lagi-lagi mencelos dan memberontak. Seolah berkata, tidak seharusnya aku melakukan itu!

Yah, demi kemajuan bangsa kecebong, katak, dan kodok, kami memang harus bersatu. Tidak boleh ada saling tumpang tindih kekuasaan, tidak boleh ada satu pihak yang menjadi superior sehingga menciptakan tirani. Tidak, kuyakin maksud KECE..boong itu tidak seperti itu.

“Yang harus kulakukan sekarang adalah, berniat, menjalankannya, berusaha, tetap konsisten, dan berdoa.”

Demi kemajuan dan cita-cita bangsa kecebong, katak, dan kodok di negeri selokan ini.

TAMAT


sebenernya ini tuh curhatan personal cuma kasih alterasi di mana saya menganalogikan diri saya sebagai kecebong..

maaf ya kalau aneh.ngekkk.

maaf juga kalau sering nyepam beranda kalian dengan coretan asal jadi saya soalnya sekarang saya lagi libur luama /gada yang nanya, sih../

okay, wasalam.

Advertisements

4 comments

  1. Sebenernya baca kata kecebong dijadikan “Kece..boong” itu cukup menarik, seperti salah satu puisi yg pernah aku baca, ada kata kecubung dijadikan “kecup-Bung”.

    Haha tapi sebenernya aku ngga paham, kalo ini curhat…apa kakak trmasuk orang yang suka menyendiri, enggan bergabung dengan koloni?
    ah maaf aku trlalu pengen tau. Tapi surealnya cukup dapet kok. Keep writing!

    Liked by 1 person

    1. halo lagi, Niswa 🙂 wah terimakasih banyak lho sudah sempetin mampir di gubuk ini hehe. 😀
      wah, serius?? ih kalau boleh tau judul puisinya apa tuh?
      eh, haha, bisa dibilang begitu 😀 *doh*
      wah, makasih atas reviewnya, Nis 🙂 kalau sempat aku akan mampir ke lapakmu, tunggu ya 🙂
      sekali lg, thanks 🙂

      Liked by 1 person

      1. Itu aku baca di aplikasi wattpad kak, sejenis cerbung gitu lah, atau novel ya hehe. Jadi di dalam novel itu tokohnya ada yang bikin sajak itu buat cewek yg dia sukain, hahaha. Aku juga ga gitu paham soalnya puitis banget huhu

        Liked by 1 person

Escape your thoughts!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s