[1/2] I’m Just Different

ijd
Just because I’m not clever, it doesn’t mean I’m stupid. I’m just different.

by xianara

WINNER Nam Taehyun, 15& Baek Yerin, and others. | AU, School-life, Fluff, Friendship (I warn u, there is no romance!!) | Oneshoot | General | Disclaimer beside the poster and story I own nothing!

June, 2015©

W A R N I N G! this fiction may contains some ina slangs and crack-plot! sorry for the common topics, cliché issues, or inappropriate grammars and mainstream cast that been used! This is just for fun. Not to abuse anyone for anything.

Special for a friend that dragged me into WINNER’s temptation of spreading happiness like a child, Nam Taehyun. And for every one of you who have ever been thru this kind of situation.

Yo, when studying is the hardest part for student like me!

Yerin kebosanan karena menekuri kertas berwarna vanilla di hadapannya yang disesaki coretan rumus-rumus singkat logaritma.

Memang dasarnya dia bolot pelajaran matematika, rumus hasil otak-atik Taehyun pun pasti akan terbuang sia-sia. Sampai personel TVXQ pun kembali ke formasi awal pun, sepertinya gadis berambut panjang yang sering kusut masai itu tidak akan bisa mengerjakan soal termudah dari angka-angka yang berakar tersebut tanpa menyontek ke catatan rumusnya. Yerin pun dengan ogah-ogahan menyalin itu semua ke dalam buku catatan.

“Demi tambang emas Suho Sunbae! Kenapa kau itu keras sekali kepadaku, sih?” protes Yerin mendapati sepuluh butir soal yang disajikan oleh Taehyun setelah ia selesai menyalin rumus-rumus keriting tersebut.

Pria dengan gaya rambut poni lempar yang dibelah tengah itu hanya mengangkat bahunya tak acuh. Taehyun pun kembali mengawasi Yerin yang mulai mengerjakan soal di hadapannya.

“Supaya kamu bisa mengerjakan soal-soal itu sendiri. Lagipula sebentar lagi UAS, Non. Mau kamu dapat nilai matematika di bawah kriteria minimal lagi? Terus nih ya, eommonim akan benar-benar melarangmu menonton The Vampire Diaries selama setengah semester. Mau seperti itu?”

Yerin mengerut ditempatnya. Mendapati ceramah dari seorang yang alim macam Taehyun membuat gadis itu mengusir pikiran negatif tentang larangan menonton The Vampire Diaries dari eomma-nya. Dia pun hanya bisa mingkem mendapat wejangan dari Taehyun; tetangga, teman sekelas, hingga tutor sebaya yang merangkap sebagai sahabat sejak kecilnya tersebut. Terlebih ia menyinggung soal hobinya melahap roman berseri karangan L.J. Smith tersebut.

Okay, I got it, Sir!

“Nah begitu! Fighting! Palliwa!”

“Kau ingin aku cepat selesai? Sini, aku gundulin dulu rambutmu!” ucap Yerin tak suka. “Coba, kalau soalnya itu cerita kembalinya Elena dari spirit world ke dunia fana pada seri The Return – Midnight, atau teka-teki Itsune atau Shadow Soul yang sangat kompleks, dan, ah, peristiwa yang paling memilukan hati! Saat jantung Damon tertusuk akar pohon besar untuk mengambil snowglobe itu! Wah, tanpa bernapas sekalipun, aku bisa! Ah, bagain favoritku itu sih saat Bonnie dan Damon…. ” cerocos Yerin dengan sangat antusias sejenak melupakan soal latihannya.

Taehyun memejamkan kedua matanya. Kenapa harus menyerempet soal The Vampire Diaries lagi, sih? Alih-alih merespon celoteh Yerin, lelaki itu beranjak dari duduknya. Ternyata lelaki itu pindah tempat duduk. Sekarang, ia sudah berada di samping gadis itu yang sejenak mulai fokus memecahkan soal di kertas latihannya.

Sesekali, bocah lelaki itu membantu Yerin yang selalu saja salah perhitungan. Jawaban gadis itu pun jadi terlihat acak-acakan. Namun, Taehyun tidak mempermasalahkan hal tersebut, dia justru merasa senang. Karena pada akhirnya gadis itu berusaha. Ya, walaupun hasilnya tidak muluk-muluk amat. Dari sepuluh soal yang diberikan pun, Yerin hanya mampu menjawab dua soal dengan jawaban yang benar. Sisanya jangan ditanya.

“Belajar eksakta itu penting.” ucap Taehyun.

Soft skill lebih penting,” Yerin balik menjawab.

“Keduanya sama-sama penting.”

Yerin mengejek komentar Taehyun dalam hati. Hah, dia mengalah kepadaku. Pasti karena ia tidak ingin berdebat denganku. Dasar Namtae!

# # #

Baek Yerin.

Gadis dengan perawakan yang bisa dibilang cukup proporsional. Bersurai hitam panjang namun lebih sering diikat satu tanpa dibuat gaya yang nyeleneh. Warna kulitnya cenderung pucat karena sepulang sekolah dia pasti akan mendekam di kamar. Seterusnya pun, Yerin hanya sekedar mengecek laman klub baca sekolahnya, mengerjakan PR (kalau mudah dikerjakan, kalau susah ditinggalkan) dan membaca roman populer karangan L.J. Smith apalagi kalau bukan The Vampire Diaries.

Fyi saja, Yerin dan kakak sepupunya, Suzy merupakan Damon-centric. Yah, tidak heran kalau gadis yang belum genap 17 tahun itu sangat menggilai roman ataupun serialnya.

Penampilan gadis itu sebenarnya cukup oke. Hanya saja kalau Yerin pernah merasa bosan dan ingin membuang koleksi kemeja flannel-nya itu benar terjadi. Pasalnya, gadis itu sangat anti terhadap mode yang biasa digandrungi anak remaja perempuan kebanyakan. Ya, dia sangat old fashioned. Koleksi busananya saja hanya berkisar di antara kemeja, sweter, tshirt, dan denim. Jangan singgung Yerin dengan kata ‘dress’.

Intinya, gadis yang lebih senang menguncir rambut daripada menggerainya itu adalah tipikal gadis yang normal. Dan hanya sedikit berbeda.

# # #

“Yerin-a!! Yerin-a!”

Yang dipanggil menghentikan langkahnya. Yerin pun menengok ke belakang. Matanya menangkap sesosok gadis imut dengan bodi yang tumbuh ke samping berlari mendekatinya. Jimin melambaikan sekantong kertas berwarna cokelat pekat yang diketahui bernama amplop.

Napas Jimin mendadak terputus-putus. Berlari dengan bobot tubuh yang tidak bisa dibilang enteng sambil berteriak itu, wah, it’s not a joke! Jimin pun memberikan jeda sebentar sebelum mengangsurkan amplop cokelat yang ada di tangannya. Sebelum gadis berponi itu menyerahkan amplop kepadanya, Yerin pun berinisiatif mengangsurkan sebotol air mineral dingin miliknya kepada Jimin.

“Minumlah,”

“Ah, thanks Yerin!” Jimin menerima botol minuman itu.

Selanjutnya, tidak ada semenit, air di dalamnya ditandaskan oleh Jimin dalam sekali tenggak. Rasa haus Jimin pun sekarang sudah tiada. Wajahnya menjadi sumringah lagi. Dia pun segera memberikan amplop itu kepada Yerin.

“Ini hasil dokumentasi acara Readirity kemarin. Sebagian sudah kuseleksi dan diserahkan ke redaksi MADING. Dan ini sisanya, untukmu.”

“Kenapa tidak soft copy-nya saja? Kalau begini ‘kan ribet, buang-buang dana,” ucap Yerin sedikit tak suka.

Ya, dana operasional untuk klub baca yang diketuai Yerin memang sangat dibatasi. Berbeda sekali dengan kucuran dana yang sekolah berikan pada klub tari yang memang selalu mengharumkan nama sekolah di berbagai ajang tari. Uh, memikirkannya saja sudah membuat Yerin keki setengah mati.

“Eh, tidak usah khawatir begitu. Ini free! Alias gratis lho!”

“Kok bisa?”

“Kim Taehyung, kau tahu dia, ‘kan?  Keluarganya ‘kan punya studio photo di Gaepo-dong. Singkat cerita macam gratifikasi begitu.”

“Benar begitu? Syukurlah!”

Yerin sedikit menyunggingkan senyum di bibirnya. Ternyata, Tuhan masih berpihak padanya. Refleks, Yerin menjawil gemas pipi tembam milik Jimin. Sementara si empunya pipi meringis karena perlakuan Yerin sambil berusaha melepaskannya.

Tetapi senyuman Yerin perlahan memudar, seperti lemak yang buyar pada lapisan piring yang diusap dengan Sunlight. Tepat saat Jimin dengan santai menyinggung soal kuis kimia di kelasnya pada jam pertama tadi.

“Kuis kimia bukan main-main! Kenapa Mr. Lee suka sekali menyiksa muridnya, ya? Kalau di Harry Potter, ia seperti Profesor Snape. Menyebalkan!”

Yerin membeku di tempat.

Bodoh!

Semalam ia hanya me-review materi bahasa inggris minggu lalu dan mengabaikan sepasang pelajaran eksakta untuk hari ini –  kimia dan akutansi. Khusus untuk pelajaran kimia, ia hanya menyentuh bagian sampulnya saja. Berlakon layaknya ia memiliki kekuatan Touche. Dengan hanya menyentuhnya saja, Yerin sudah bisa hafal luar dalam catatan tulisan keritingnya tentang rumus redoks dan yang aneh-aneh lainnya. Mustahil. Kekuatan seperti itu hanya ada pada di novel yang pernah ia baca.

“Jimin…. “

“Ya?”

“ . . . Kau harusnya tidak usah bilang soal kuis kimia kepadaku!!!!”

“Eh, waeyeo? Kau belum belajar? Ya sudah sekarang kau belajar! Mumpung waktu break masih tersisa, ”

Jimin mengecek arloji yang melingkar di pergelan tangan kanannya. Sontak melihat koordinat jarum panjang yang ada di angka 11 dan jarum pendek hampir mendekati angka 12, Jimin membulatkan matanya yang sudah bulat.

“lima menit lagi!!!! Astaga!!! Yaa! Yerin-a, kau harus belajar sekarangg!!!!”

Ck, pantas saja Taehyun tidak beranjak dari singgasananya dan sibuk mencumbui buku catatan bersampul cokelat rapi yang diketahui catatan kimia miliknya sedari tadi. Yerin pun hanya bisa meloloskan napas berbau kepasarahan. Jimin yang histeris sontak membuat Yerin makin miris. Nasib, ya nasib.

# # #

Prediksi gadis itu memang selalu tepat. Yerin tidak dapat berkutik saat soal kuis mulai dibagikan. Belum selesai gadis itu membaca keseluruhan soal, ia sudah dilanda mental breakdown. Yerin sangat menyesal karena semalam ia tidak belajar dan lebih mementingkan bahasa inggris yang jelas-jelas ia bisa tanpa perlu belajar.

Dan hasilnya, ia pun jadi lupa soal kuis itu. Akibatnya, Yerin mengerjakan kuis Mr. Lee 90% secara asal-asalan dan sisanya diisi dengan doa dan ingatan super payahnya mengenai materi redoks yang mampu menjulingkan matanya.

“Sudahlah, ini ‘kan hanya kuis.” Taehyun berusaha menyemangati Yerin yang berjalan lesu. “Nanti saat UAS berlangsung kamu harus belajar. Oke?”

Yerin mendongakkan kepala ke arah Taehyun yang sedari tadi tertunduk. “Iya aku tahu,”

“Seharusnya kamu jangan cuma fokus pada satu titik aja. Bahasa inggris? Okelah kamu jago soal itu. Tapi kalau sampai hal itu membuat pelajaran yang lain jadi tertinggal itu tidak bagus juga.”

“Iya, cerewet.” balas Yerin sedikit kesal.

Dikritik orang lain apalagi oleh Taehyun membuat Yerin menjadi menbung kembali.

Yerin pun mempercepat langkah. Meninggalkan teman sekelasnya yang terlihat santai itu. Pulang bersama adalah hal nomor sekian setelah belajar terpaksa bersama yang mereka lakukan serta hal-hal lainnya.

Yerin dan Taehyun.

Ah, dua sejoli itu sebenarnya terlihat seperti couple. Ke mana-mana selalu berdua. Tapi keduanya justru mengelak dengan seribu alasan jika ada orang yang mengomentarinya seperti itu.

Yerin menyetop langkahnya. Ia pun membalikkan tubuhnya sehingga bisa melihat Taehyun berjalan dengan tempo yang lambat di belakang. Kekesalan kepada bocah itu masih menjalar di dadanya. Yerin tahu ia tidak pintar tapi setidaknya Taehyun minimal memaklumi. Atau sekalian membantunya supaya jadi sepintar dirinya!

“Hei, Nam Taehyun!! Cepat sedikit jalannya! Kamu pikir dirimu itu diva Korea? Katanya mau belajar bersama lagi?!”

Gadis itu berkacak pinggang di tempatnya. Yerin memandang Taehyun dengan sorot mata sebal sementara bocah jangkung itu malah menampakkan cengiran tak bersalahnya. Taehyun pun merespon dengan mempercepat langkahnya. Jadinya sekarang mereka berdua sudah berjalan beriringan lagi.

“Yerin-a, kau jadi kelihatan seperti sugarglide milik Jinwoo kalau cemberut seperti itu,” nilai Taehyun kepada gadis di sebelahnya yang tangannya sudah siap untuk menjawab penilaian Taehyun barusan.

Kyaaa! Adaww! Ampun Yerin!” teriak Taehyun sambil berusaha melepas jari-jari Yerin yang mencapit lengan atas bocah itu.

“Siapa suruh menyamakan diriku dengan seekor tikus? He!!”

Taehyun memilih untuk bungkam. Gadis itu pun melepaskan capitan mautnya dari lengan Taehyun. Bocah itu pun mengusap-usap lengannya yang dicubit gadis itu. Berusaha menghilangkan sensasi nyut-nyutan yang ditinggalkan. Taehyun menyesal telah mengejek gadis itu. Tapi, tetap saja ia mengulangi perbuatannya itu kembali. Dasar bocah!

# # #

Kenapa awan comolonimbus tidak beranjak dari kehidupan Yerin dua hari belakangan ini? Setelah kemarin dirundung urusan kuis dadakan yang meluluhlantahkan fantasinya, sekarang adapula gangguan yang datang kepadanya.

Yerin merasa dirinya seperti diobrak-abrik oleh badai dan petir di siang bolong. Perasaanya menjadi kacau balau. Kegalauan Yerin bermuara pada klub baca yang dipimpinnya. Yerin mendengus sebal jika harus mengingat peristiwa saat sepulang sekolah tadi.

“Kalian para book worm lebih baik berkumpul di gudang sekolah saja! Kesan usang dan lapuk itu ‘kan cocok sekali dengan imej kalian!”

“Lagipula ruangan ini ‘kan ada di bawah otoritas kami, klub tari! Kami lebih cocok di sini daripada kalian! Ya ‘kan  teman-teman?! Hahahahaha!!”

Ingin rasanya Yerin melakban mulut Wendy dan kawan-kawannya dengan lakban jumbo yang biasa dipakai Pak Jeon –  pegawai tampan di perpustakaan –  untuk mengepak buku-buku dalam kardus. Ingin sekali rasanya Yerin membungkam mulut mereka yang selalu merendahkan integritas klub baca di sekolahnya.

Ya memang, mayoritas member klub baca di sekolah diisi oleh mereka-mereka yang bertampang culun, tidak popular, dan bermata empat. Namun di balik itu semua, justru klub baca ini merupakan salah satu klub paling adem ayem di SMA Choigo. Dalam artian, setiap kegiatan yang dilangsungkan tidak pernah memberatkan pihak sekolah mengenai dana.

Tidak seperti klub tari. Setiap mengadakan kegiatan mereka pasti akan menyertakan lampiran dana yang nominalnya WOW. Hebatnya, pihak sekolah pasti akan selalu menyediakannya. Padahal prestasi mereka hanya sampai pada tingkat kota Seoul saja. Belum se-KOREA SELATAN!

Belum lagi para anggotanya yang terdiri dari gugusan cewek-cewek modernis. Melek fashion dan berlaber high society serta didominasi kaum borjuis yang tinggal di kawasan elit Seoul. Sayangnya, itu semua tidak dibarengi dengan kapasitas otak mereka yang setara dengan Pentium generasi pertama.

Sebagai ketua klub baca SMA Choigo yang tersohor karena kredibilitas dan kesabaran tingkat dewa, Yerin mencoba menahan amarah. Namun ia tidak mempunyai pilihan lain. Yerin yang kebetulan masih dapat berpikir waras pun mengalah dan membiarkan mereka memakai ruangan osis itu meskipun ia yang jelas-jelas lebih dulu sudah meminta izin kepada Jinwoo – si ketua osis – untuk meminjam ‘lapaknya’ sebentar.

Dan pada akhirnya klub baca pun memilih pinggir lapangan basket, berupa tempat duduk yang berundak-undak. Beruntung saat itu area tersebut sedang kosong. Biasanya tempat yang rindang dan teduh itu akan dipenuhi oleh para anggota klub basket untuk berkumpul dan berlatih bersama.

“Kita harusnya masuk nominasi KBS Year End Entertainment Award!” celetuk Yugyeom tidak memindahkan mata barang seinci pun dari novel misteri favoritnya karangan R.L.Stine di pangkuannya.

“Memangnya ada ya, nominasi untuk KLUB BACA SMA?” Yoojung menanggapi sambil membenarkan letak kaca mata yang melorot di hidungnya.

“Ada! Dan aku yakin kita pasti akan meraih daesang untuk nominasi itu! The Most Patient Entertainer!! Benar ‘kan?!” kali ini siswa dengan warna surai yang serupa permen kapas pindahan dari Bangkok yang menjawab, Bambam.

“Astaga! Kita ini cuma sekumpulan pelajar! Jangan sok tahu!” Jimin menjawab candaan Bambam dengn tampang yang kira-kira seperti ‘demi-sashimi-rebus-buatan-Jackson-Wang-kau-lebih-baik-diam’. Setelahnya dia pun kembali pada roman chick-lit karya Meg Cabot yang sebentar lagi akan tamat dibacanya.

“Lho itu ‘kan memang penghargaan tertinggi di KBS Year End Award, Jimin-a! Bambam tidak salah, kok.” bela Yoojung.

Bambam membenarkan kerah bajunya seakan berkata ‘Apa aku bilang?’ dengan ekspresi sok cool-nya. Diikuti dengan pokerface Jimin terhadap kepolosan Yoojung yang menjurus ke pembodohan Bambam.

Youngjae yang berada di situ pun menggeleng lemah. Kenapa sensi humor Bambam itu payah sekali? Lebih payah daripada dirinya. Yang lain juga bereaksi kurang lebih seperti itu. Youngjae pun dengan santai meluruskan slapstick comedy gagal Bambam dengan hipotesa yang benar sepenuhnya.

“Setahuku nominasinya bukan The Most patiENT Entertainer deh. Tapi The Most excellENT Entertainer! Kau pikir kita sedang membahas rima dalam sajak? Lalu, kita ini bukan penghibur, kita hanya sekumpulan pelajar, eo! Eh, Bambam sebaiknya kau segera mengunjungi dokter THT sekalian ahli neureologi. Siapa tahu kau itu mengidap penyakit yang kejiwaannya terguncang.”

“Hei, hei, sudah! Kita ‘kan di sini untuk rapat soal kegiatan ekskursi musim panas bukannya anomali Bambam!!” tukas Yerin seraya menghentikan Bambam yang memberengut mendapati dirinya dicap aneh secara aklamasi oleh sebagian anggota klub baca dan Yerin.

“Hm, baiklah langsung saja! Karena proposal kita sudah disetujui oleh pihak sekolah, ekskursi musim panas akan dilaksanakan liburan kali ini. Soal dana kita tidak perlu takut dibatasi lagi karena Jimin dan aku sudah mengatasinya. Jadi, kita tinggal menetapkan itinerary-nya saja. Ya walaupun anggota kita tidak terlalu banyak, aku harap kegiatan ekskursi kita kali ini akan berjalan dengan menyenangkan!”

“Dan bermanfaat bagi kita semua!” tambah Jimin.

Yang lainnya pun mengangguk tanda setuju. Namun Yoojung tidak ikut mengangguk. Gadis itu justru seperti tengah memikirkan sesuatu. Ia pun mengacungkan telunjuk. Yerin yang melihatnya, mempersilahkan Yoojung untuk berbicara.

“Ya, Kim Yoojung, ada sesuatu?”

“Begini,” gadis itu terlihat sedikit ragu. “Apa benar tidak masalah? Aku sendiri merasa agak sangsi. Kegiatan ekskursi kita ternyata berbarengan dengan gathering klub tari yang sama-sama diadakan di Incheon. Itu benar tidak apa-apa?”

Yang lain sontak terdiam. Dalam hati mereka juga mengatakan hal yang sama seperti Yoojung. Jelas sekali hubungan kedua klub ini tidak harmonis. Bisa diibaratkan kubu oposisi dan pemerintah.

Yerin menatap satu persatu kawan-kawannya. Ia pun melemparkan tatapan yang penuh dengan semangat dan optimisme yang tinggi untuk memperkuat mental mereka semua. Toh niat kita ‘kan baik, apa masalahnya?

“Kawan-kawanku, kalian tenang saja. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan, kali ini kartu As ada di tangan kita.”[]


sebenernya, ini project udah lama kelar cuma saya agak ragu awalnya untuk ngepost, alasannya saya juga gatau kenapa, heung T_T. kemudian, karena ini terlalu panjang untuk dijadikan oneshoot, saya pilih dibagi dua aja…haha.

 

Advertisements

Escape your thoughts!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s