[2/2] I’m Just Different

ijd

Just because I’m not clever, it doesn’t mean I’m stupid. I’m just different.

by xianara

WINNER Nam Taehyun, 15& Baek Yerin, and others. | AU, School-life, Fluff, Friendship (I warn u, there is no romance!!) | Oneshoot | General | Disclaimer beside the poster and story I own nothing!

June, 2015©

Tiga hari yang lalu, di perpustakaan,

“Tapi tetap saja aku merasa tidak enak. Sungguh,” Yerin memohon kepada Jiyeon Eonni – ketua klub tari – dengan suara yang pelan karena mereka sedang di perpustakaan. “bisa-bisa nanti Wendy dan kelompoknya malah menyerang kami. Kami tidak ingin punya masalah dengan siapapun terlebih jika itu menyangkut dengan kepentingan kelompok kami sendiri. Kuharap Eonni mengerti.” sambung Yerin.

“Hei tidak usah cemas seperti itu, Yerin-a. Percayakan semuanya padaku. Kujamin Wendy dan kawanannya tidak akan berkutik. Ancaman aku tidak akan mencalonkan dirinya sebagai ketua tunggal klub tari itu berhasil. Buktinya ia tidak protes apa-apa saat aku memutuskan untuk memajukan jadwal gathering klub.” jelas Jiyeon dengan senyuman yang menenangkan.

Yerin mengangguk mengerti. Di satu sisi, masalah dana ekskursi bisa teratasi karena berbarengan dengan klub tari sehingga penghematan pun bisa terlaksana. Tapi di sisi lainnya ada kubu Wendy yang pasti menentang habis-habisan mengenai rencana gathering mereka yang berbarengan dengan ekskursi klub baca Yerin. Taehyun yang sedari tadi menenggelamkan diri pada modul akutansi juga kelihatan mendukung putusan Jiyeon untuk membantu Yerin.

“Yang penting sekarang urusan danamu itu ‘kan sudah teratasi. Jiyeon Nuna sendiri juga tak keberatan. Sudahlah lebih baik sekarang kau fokus pada ekskursi nanti, hal-hal yang lain tidak perlu dipikirkan lagi,”

“Tapi tetap saja, aku merasa tidak enak. Nanti aku dicap sebagai ketua klub yang tidak bersih. Karena melakukan KKN dengan eonni. Ah tidak-tidak…” Yerin menggelengkan kepalanya membayangi julukan itu.

Jiyeon yang melihatnya hanya bisa menyunggingkan senyum kecil. Sedangkan Taehyun, dia hanya melayangkan pandangan sedatar triplek pada gadis di sebelahnya. Hiperbolis sekali si Yerin.

“Aku ini sepupunya Nam Taehyun, yang tahu itu ‘kan hanya kamu saja di sekolah ini.” Jiyeon berusaha membuyarkan sugesti berlebihan Yerin dengan mengingatkan statusnya yang rahasia di sekolah ini.

“Aku tahu, Eonni-ya. Tetapi masih ada sesuatu yang mengganjal hatiku,” tutur gadis itu sembari menggaruk kulit kepalanya yang tak gatal.

Eung, apa itu?” balas Jiyeon. Taehyun yang menangkap roma aneh pun segera memasang telinganya baik-baik.

Yerin menatap keduanya secara bergantian. Ia pun melekatkan kepalanya pada buku yang terbuka dan berbisik di depan wajah gadis yang dua tahun usianya di atas dia.

“Kenapa, Eonni melakukan ini?”

Ne?

“Itu karena nuna berbeda. Dia baik, dan kau pun tahu.”

# # #

Yerin menatap lembar transkrip nilai hasil ulangan semesterannya dengan pandangan yang kosong. Pekan ujian akhir semester telah usai. Dan selama hampir dua pekan pula dia sampai absent membaca novel di rumahnya. Kegiatan klub bacanya pun sementara mengenal kata vakum. Ilmu-ilmu pasti nan abstrak yang berasosiasi dalam union eksakta itulah penyebabnya.

Dahi Yerin berkerut untuk yang kesekian kalinya. Fokus matanya jatuh pada kolom nilai bertitel Matematika. Kepalanya digerakkan ke depan dan ke belakang secara bergantian. Selembar kertas di genggamannya pun diamati jelas-jelas dalam jarak yang tidak wajar. Yerin mengucek kedua matanya. Takut kalau ternyata korneanya bergeser atau salah mengartikan lambang.

72!

Nilai matematika gadis itu melebihi kriteria kelulusan minimal! Ini adalah keajaiban dunia kedelapan!!

Taehyun berusaha menyembunyikan efek sukacita tertahan pada wajahnya. Sahabatnya mendapatkan nilai bagus untuk pelajaran yang satu itu tidak bisa diabaikan begitu saja. Senyum dari bibirnya tak pernah lepas melihat angka yang tercetak di lembar jawaban Yerin.

Namun hal tersebut berbeda 270° dengan ekspresi yang terpancar di paras ayu Yerin. Gadis itu seperti tidak menikmatinya. Hidungnya dibuat kempas-kempis. Pipinya digembungkan entah apa maksudnya.

“Ini tanda-tanda kiamat kecil atau besar?”

“Maksudmu?”

“Nilai 72 ini terasa janggal.”

Taehyun mengerti. Gadis itu sebenarnya shock luar biasa. Sepanjang hidupnya, dari masa sekolah dasar, sekolah menengah pertama, hingga sekarang, nilai matematika di raport Yerin tak pernah menyentuh poin 70. Paling besar itu 66,6 – raport sekolah Yerin tidak mengenal pembulatan angka.

Tapi sekarang keadaan berbalik. Di tingkat sebelas SMA, Yerin berhasil memecahkan kutukan matematika 666. See? Ia berhasil mendapatkan nilai 72.

“Coba kamu flashback dulu ke belakang sebelum pekan ujian ini. Kamu sudah melakukan apa saja? Hm?”

Memori masa-masa yang lalu pun berputar dengan sendirinya di dalam otak gadis itu. Merapikan susunan acara ekskursi bersama Jimin. Bukan yang itu! Memborong novel berlabel diskon di Nongdaemun bersama Suzy eonni pada hari minggu. Ah itu juga bukan! Menghujani Wendy, Hyeri, dan Mina dengan sumpah serapah setara tentara Korea Utara. Ups, maaf, itu rahasia Yerin seorang! Aha!

Belajar. Berusaha. Fokus. Bingo! Itu baru benar.

Selama seminggu penuh Yerin dan Taehyun belajar bersama. Yerin Si Tidak Pintar belajar dengan Taehyun Si Sangat Pintar.

Pihak sekolah Yerin memang menyediakan minggu tenang sebelum pekan ujian. Kegiatan belajar di sekolah disubstitusikan dengan kegiatan belajar di rumah. Banyak yang beranggapan aksi ini kurang efektif. Namun, pihak sekolah dengan gamblang menepis anggapan itu semua dengan pernyataan: “Yang ulangan ‘kan mereka. Jadi, nanti mereka harus bisa menerima konsekuensi mereka sendiri dong. Di sini selain pembelajaran secara materil kami juga mengajarkan mereka untuk bisa lebih tanggung jawab dan disiplin terhadap diri sendiri!”

Pada periode itu baik Yerin maupun Taehyun – ujian tidak ujian, bocah ini memang selalu studying – dimanfaatkan oleh mereka dengan sebaik-baiknya. Yerin mencoba untuk legowo terhadap gelontoran formula yang mampu membuat hidungnya mimisan dalam penerapannya pada soal matematika.

Tidak cuma matematika saja. Pada pelajaran biologi, gadis itu pun dengan gigih menghapal deret kingdom dan familia serta glosarium lainnya menggunakan gaya yang tidak biasa. Biasanya orang kalau menghapal, tubuhnya diam saja ‘kan. Tapi tidak bagi Yerin. Ia menghapal itu semua sambil mengangkat barbel milik Nam Woohyun, abang kandung Taehyun yang gemar pergi ke Gym.

Selama seminggu itu pula, Taehyun dibuat kagum oleh sahabatnya itu. Yerin memang tidak pintar. Namun ketidakpintarannya itu justru dikalahkan oleh semangat gadis itu yang membara. Tapi bocah bermata sipit itu kembali dibuat terperangah oleh alasan dibalik aksi heroik memompa nilai yang digencarkan Yerin.

“Wejanganmu soal larangan menonton DVD itu benar tahu! Eomma benar-benar akan memboikot semua novel-novel dan koleksi DVD-ku kalau aku kembali mendapatkan nilai di bawah standar untuk pelajaran eksakta! Oh well! Bagaimana bisa aku hidup tanpa Stefan dan Damon?!! Taehyun-goon kau harus membantuku! Kumohon!!”

“Jadi kamu belajar hanya karena takut dilarang menonton DVD dan membaca novel? Baek Yerin……”

Waeyeo? Kamu sendiri yang bilang ‘kan? Kenapa sekarang kamu jadi kaya nggak suka gitu?”

Forget it,

Taehyun sempat kesal. Namun kekesalannya tidak bertahan lama. Karena pada akhirnya ia tetap membantu Yerin. Dan voila! Tiga baris pelajaran eksakta di raport yerin mendapatkan nilai akumulatif B. Tertinggi sepanjang sejarah perapotan Yerin!

Terangnya bulan seakan menyuruh gadis ber-hoodie abu-abu itu untuk tersenyum. Yerin menyunggingkan bibir ke atas membentuk seulas senyum yang manis. Liburan musim panas di depan mata. Tidak  ada kesedihan lagi kali ini. Tidak ada lagi ocehan sang ibu mengenai kegemaran melahap novel anak gadis semata wayangnya yang seolah membawa dampak buruk pada nilai-nilai pelajaran Yerin.

Melihat salinan transkrip raport Yerin yang doyan dibawa kemanapun ia pergi membuat Taehyun jadi geli sendiri. Katanya tidak peduli soal nilai, deesbre, deesbre, tapi ini buktinya apa? Ck, dasar perempuan.

Iseng, bocah lelaki dengan balutan kaos lengan panjang berleher kura-kura itu pun mengambil kertas yang menganggur di dekatnya. Jemarinya dengan lincah mengubahnya menjadi bentuk origami seekor angsa.

Taehyun pun menerbangkan si angsa tersebut ke hadapan Yerin. Tanpa melepaskan si angsa kertas tersebut Taehyun menghentikannya tepat di depan paras Yerin. Sepasang soca bening gadis itu pun memandang origami angsa di depannya dengan sorot mata kelabu.

“Kamu sedang mengejekku? Ya, aku tahu aku memang tidak bisa membuat origami seperti itu. Ck,”

“Siapa yang sedang mengejekmu?”

“Itu apa?” tunjuk Yerin dengan memonyongkan labiumnya ke si angsa tersebut.

“Ini angsa kertas,” Taehyun meraih salah satu telapak tangan Yerin yang sedang menopang tubuhnya. Yerin menoleh ke arah kanannya sambil memandang ambigu bocah itu. Origami angsa tersebut ia letakkan di sana. “Kamu seperti dia.”

Kedua alisnya terangkat. Yerin mengangkat telapak tangannya. Ia pun menilik si angsa kertas dengan keadaan yang tergolek ke samping itu. Lalu menatap Taehyun yang sudah kembali kepada posisi biasanya bila sedang bersantai bersama di balkon kamarnya. Bersender di birai jendela berwarna putih.

“Aku seperti transkrip nilai?”

“Bukan.”

“Lalu? Hei, jangan bermain teka-teki dengan si otak Pentium inilah!!”

Tanpa unjuk-unjuk, bocah lelaki itu melipir ke dalam kamar. Yerin yang melihat hanya bisa menatap punggung kurus Taehyun ketika berjongkok di depan kasur. Rupanya ia tengah merogoh sesuatu. Sebuah kotak bekas bungkus sepatu berwarna kuning kedaduan. Setelah kotak itu ada di genggaman Taehyun, ia pun segera kembali ke balkon.

“Apa itu?”

Taehyun mengabaikan keingintahuan Yerin. Taehyun pun membuka kotak tersebut. Ternyata, di sana tersimpan banyak sekali origami berbentuk angsa dengan berbagai warna. Yerin takjub sehabis mengetahui isi dari kotak tersebut. Taehyun memang jago membuat origami segala bentuk. Namun, yang menjadi favorit gadis itu adalah origami berbentuk angsa, yang sekarang berkoloni di dalam kotak tersebut.

“Wow! Cantik sekali! Origami ini jadi mengingatkan masa taman kanak-kanak kita, Namtae!”

Lantas, gadis itu pun mencomot satu angsa kertas itu. Dengan tatapan yang berbinar Yerin mengamati dengan lekat angsa kertas berwarna hijau pistachio tersebut. Mendengar ocehan yang terlontar dari bibir gadis itu mau tak mau membuat Taehyun menyunggingkan seulas senyum yang tipis.

Kemudian, lelaki itu mengambil angsa yang ada di tangan Yerin, membandingkannya dengan angsa putih yang sudah berada di telapak tangannya.

“Apa pendapatmu tentang angsa-angsa ini jika disandingkan dengan si putih ini?”

“Hm, “ Yerin menyipitkan kedua matanya. “si angsa putih terlihat berbeda. Karena warna spektrumnya.” lanjut gadis itu.

“Selain itu?”

“Uhm, hanya itu.”

“Benar? Tidak ada yang lain?”

Kedua alis gadis itu pun dibuat menyatu. Yerin tidak suka bermain teka-teki. Kenapa bocah itu harus bermain riddle dengan gadis dungu sepertiku sih? Aish!

“Hei, Nam Taehyun! To the point saja bicaranya! Tidak usah memakai kiasan-kiasan yang tidak kumengerti.”

Si angsa putih itu pun diletakkan kembali di atas telapak tangan pucat milik Yerin. Selanjutnya, lelaki itu tersenyum. Bukan senyuman datar seperti lembaran kertas ulangan sekolah yang biasa ia lukiskan di atas bibir tipisnya, melainkan sebuah senyuman yang bisa dibilang manis seperti brownies.

Bersahabat lama sejak kecil dengan Taehyun membuat gadis itu sadar. Taehyun kali ini bukan Taehyun yang sama dengan di sekolah. Ia adalah Nam Taehyun yang sesungguhnya. Lihat saja senyum manisnya yang bertengger itu.

“Eh, aku tidak salah lihat?” oceh Yerin sambil mengucek kedua matanya. “Kenapa senyumanmu jadi aneh begitu?”

Taehyun memasang senyum asam dan basanya kembali.

“Yerin, kau itu seperti si angsa putih ini,“ ucap lelaki itu sembari menatap lawan bicaranya yang menaruh atensi padanya. “karena apa?”

“Iya, karena apa?”

“Karena kamu itu berbeda. Kamu terlihat berbeda di antara yang lain. Kamu tidak perlu warna yang terang untuk tampil stand out. Warna putihmu itulah yang justru menjadikanmu istimewa. Namun, ketika kau mencoba untuk tampil lebih daripada yang lain dengan berusaha, kau akan jadi seperti pelangi. Warna dasar pelangi itu ‘kan putih.”

Karena kamu itu berbeda

Kamu terlihat berbeda di antara yang lain

Kau akan jadi seperti pelangi

Yerin seperti merasa diberikan anestesi dalam dosis yang tinggi. Demi rendaman kaus kaki Bambam, gadis itu sekali lagi dibuat takjub oleh penjelasan Taehyun. Prosesor dalam cerebrumnya yang semula Pentium 3 seolah-olah meningkat menjadi intel core.

Ucapan Taehyun barusan yang sebagian besar merupakan komplimen itulah penyebabnya. Tetapi sedetik setelah Taehyun mengatakan itu, wajahnya kini justru menjadi memerah. Terutama di bagian pipi.

“Nam Taehyun, kau sedang tidak di bawah pengaruh jus labu ‘kan?” canda Yerin. Ia sendiri sebenarnya berusaha menyangkal pujian bocah lelaki itu.

“Tidak.” jawab Taehyun dengan ekspresi wajah yang kembali normal. “Jadi bagaimana self-defense-mu, Nona Yerin?”

“Pembelaan? Memangnya aku sedang ikut persidangan!”

Taehyun melirik gemas Yerin. Sebersit perasaan yang identik pada kemunculannya di periode akhir seketika lahir. Penyesalan. Taehyun menyesal telah mengatakan hal-hal picisan dan klise kepada Yerin. Di balik itu semua, sebenarnya gadis itu merasa senang. Walaupun ia tidak memerlihatkannya secara langsung.

Yaa, Nam Taehyun, kau tahu? Just because I’m not clever, it doesn’t mean I’m stupid. I’m just different.” aku Yerin.

Dalam hati Taehyun membenarkan pengakuan gadis itu. Kini, semuanya menjadi jelas. Tidak ada lagi kemaslahatan di antara mereka. Yerin yang berbeda dengan Yerin yang tidak pintar sudah dwaesseo. Yerin itu spesial. Begitulah.

Nam Taehyun, now you know.

TAMAT


Epilog

Mino memandang dengan ragu seorang senior yang kini tengah berdiri di hadapannya. Kedua tangan yang sedari tadi berada di sakunya pun ia keluarkan.

“Jadi? Kau ingin aku meliburkan latihan basket kali ini?”

“Iya, hanya kali ini saja.” ucap Nam Taehyun dengan nada yang sungguh-sungguh.

Mino hanya bisa menggelengkan kepalanya. Kalau saja Taehyun bukan seniornya. Kalau saja orang yang membantunya kala ia kecopetan di Incheon pekan lalu itu bukan dia, tidak mungkin bagi presiden klub basket itu untuk meliburkan jadwal latihan basket kali ini.

“Baiklah. Hanya sekali ini saja, “ Mino pun merogoh saku blazernya. Dikeluarkan ponsel perseginya. Ia pun mengirim pesan broadcast kepada para anggota klub basket kalau hari ini latihan libur. “Latihan basket kali ini libur. Lapangan basket dan sekitarnya no reserved.”

Thanks!” ucap Taehyun seraya menepuk pelan pundak lelaki berkulit agak eksotis itu. “Aku tidak memaksamu. Bukankah, ini untuk memenuhi janjimu waktu itu?”

“Aku tahu, Sunbae.

 # # #

Majalah fashion ternama sibuk dibolak-balikan tanpa ada niatan untuk melihatnya secara eksplisit oleh Jiyeon. Ia pun berpura-pura menyibukkan dirinya tanpa merisaukan permohonan adik sepupunya itu.

“Kumohon, bantu aku kali ini saja. Ya, Nuna?”

Cukup. Jiyeon sudah tidak tahan. Kesabarannya kandas dalam masa kurang dari setengah jam. Ia pun melayangkan pandangannya ke arah Taehyun yang duduk di sampingnya sambil tak berhenti memohon untuk meloloskan permintaanya kali ini.

“Nam Taehyun, dengar ya, bukannya aku tidak ingin membantumu. Hanya saja kamu itu terlalu, terlalu – “ omongan Jiyeon pun terputus di tengah jalan.

“Terlalu lemah? Pengecut? Ya, ya, terserahlah kau mau bilang apa. Tapi aku tidak peduli. Yang kupedulikan saat ini hanya satu. Dia.” potong Taehyun. “Jadi?”

Radar sensitif yang dimilikinya sebagai seorang perempuan pun bergetar. Jiyeon pun memandang lekat adik sepupunya ini yang tidak lelah mengunjungi rumahnya setiap malam hanya untuk mendapatkan kalimat persetujuan “Iya aku bersedia” darinya.

“Baiklah. Iya, aku bersedia menolong Yerin.” Ucapan itu akhirnya lolos dari bibir gadis itu.

Pun Taehyun yang mendengarnya langsung merespon dengan bertepuk tangan. Entah, reaksi dari dunia bagian mana itu.

“Nah, begitu dong. Terima kasih, Jiyeon Nuna!”

Advertisements

Escape your thoughts!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s