[Ori-Fict] College’s Life: Tugas yang Melelahkan

College-Quotes-43

an original-fiction by xianara

August, 2015©

.

I’m done with this shit!

Laptop berisi lembar tugas kampus cowok itu pun segera ditutup dengan kencang. Lantas, Rei – cowok yang nampak putus asa tersebut, menghela napas dengan kasar. Masa bodoh dengan tugasnya, ia tak peduli. Mau itu tersimpan atau terhapus sekali pun, he doesn’t give a damn.

I’m too tired for this shit!

Rei mengumpat  untuk yang kesekian kalinya. Nyatanya memang begitu, toh? Dia tidak akan pernah lepas dari bayang-bayang tugas selama ia masih berstatus mahasiswa. Mengesalkan!

Lampu kamar yang redup, dingin suasana dari pendingin udara yang berhembus tak mampu untuk meredam kekesalan pria yang sudah menapaki semester 6 kuliah tekniknya itu. Tinggal dua semester atau kurang, masa yang tersisa sebagai seorang mahasiswa teknik kimia. Sehabis ini, ia ingin segera lekas menyelesaikan proposal dengan baik hingga lanjut menuai skripsi.

Cowok kelahiran Semarang itu ingin cepat-cepat menuai gelar sarjana di belakang nama dan terjun ke dunia kerja atau pun membuka usaha. Pokoknya apa pun itu asalkan ia tidak harus menempuh pendidikan lagi selama hampir kurang lebih 16 tahun selama hidupnya.

Setelah selesai berkesal ria dengan laporan penelitiannya, cowok itu pun memutuskan untuk rehat sejenak. Pilihan untuk menyeduh secangkir kopi pun segera dilakukannya. Alasannnya, apalagi kalau bukan untuk menelan bulat-bulat kekesalan yang sudah menjalar di kerongkongannya sedari tadi?

.

.

Seduhan kopi instan itu mulai mengeluarkan aroma khas moka yang menggoda. Rei menghirup bau kafein itu sejenak, sebelum menyeruputnya guna menghangatkan tenggorokannya. Sontak, cowok berwajah Kaukasoid itu tersenyum ketika likuid hangat mengaliri batang kerongkongannya hingga menuju dinding lambungnya.

Hangat, memang itulah yang dirasakan.

Kopi berperisa moka itu pun tandas dalam waktu yang relatif singkat. Setelah meletakkan cangkir berwarna bening dengan lukisan bunga teratai berwarna biru di tengahnya, ia pun memilih untuk berbaring di atas karpet kamar. Mengabaikan keadaan laptop yang ditutup paksa olehnya.

Kelopak matanya pun dibiarkan menutup dengan sendirinya. Kali ini, cowok itu pun tengah menjelajahi imajinya, seorang diri.

.

Rei menemukan dirinya tengah tertidur sambil menggunakan lengannya sebagai bantalan. Rerumputan yang hijau beserta koloni dandelion yang tumbuh secuil menjadi alas kasurnya. Semilir angin gunung yang menerbangkan anak-anak rambutnya sontak membawa kesan menenangkan. Sentuhan dewa bayu yang menggelitik permukaan kulitnya juga terasa seperti pijatan yang merelaksasi otot-ototnya yang sudah terlalu lama bekerja dengan keras.

Surga, pikirnya.

Ya, Rei merasa kalau nikmat surga tengah dirasakannya, di tempat yang tak diketahui keberadaannya itu.

Tidak ada tekanan dari dosen, tidak ada ajakan untuk madol mata kuliah. Tidak ada pula gerombolan cewek-cewek tukang gosip di kelasnya ataupun suasana gaduh kelas yang terkenal seantero jurusan teknik kimia.

Tidak ada bunyi gesekan mesin pengeras karet. Tidak ada deru mesin pemindah container sebesar gajah. Tidak ada perintah ini dan itu dari seorang manajer lapangan kepada dirinya.  Pokoknya semua terasa damai.

Inikah yang dinanti-nanti oleh cowok itu selama ini?

Menemukan dirinya yang terbebas dari segala letih dan penat jabatan yang dipangkunya sebagai seorang mahasiswa sekaligus karyawan pabrik paruh waktu dalam kurun tempo yang bersamaan?

Katakanlah, itu memang benar keinginan pria berhidung bangir itu selama ini. Bebas dari segala beban.

Kembali pada imajeri dirinya yang tengah terbaring di atas tanah lapang. Matahari rupanya tega untuk menyinari tubuhnya dengan siraman ultraviolet yang gahar. Sang matahari justru meredam sedikit keganasannya. Sengaja, dia meredupkan cahaya ditambah dengan sekumpulan awan yang merangkak dan menaiki tapak langit. Mengisi kehampaan birunya langit kala itu.

Mulut cowok itu pun tidak berhenti bergumam pun kadang bersiul. Sebuah ceruk yang elok dipandang pun menepi cukup lama di atas bibirnya. Rei tersenyum cukup lebar dan manis.

Dan, sekiranya hal itu adalah sesuatu yang mampu membuat Nevi – sang adik – segera menyentil dahi sang kakak cukup keras.

Pletak!!

Sontak, cowok itu mengaduh kesakitan sambil membuka kelopak matanya. Saat mengantongi presensi sang adik yang tengah memandanginya sambil terkikik, khayalan bersantai di atas padang rumput barusan runtuh seketika. Tidak ada lagi santai dan sunyi yang bisa dinikmati oleh cowok itu – meski itu hanya sebuah angan.

Sementara itu, sang adik masih tetawa geli. Apalagi saat mendapati sang kakak yang cemberut sambil mengusap dahinya yang agak kemerahan. Wah, ternyata sentilan yang dia berikan cukup keras juga, ya.

“Kakak kenapa senyam-senyum sendiri sambil merem gitu? Kakak lagi mikirin apa?”

“Bukan apa-apa! Udah, ah, pergi sana! Ngapain sih, kamu ke kamar Kakak?” bentak Rei sembari bangkit dari posisi telentangnya.

“Ih, Kak Rei mikirin yang jorok-jorok ya? Awas lho, Nanti aku bilangin ibu!”

Rei melotot, “ngga! Sembarangan aja! Udah, ah, Nev kamu mending keluar. Kakak masih banyak tugas kuliah!”

Nevi pun balas menjulurkan lidahnya yang diakhiri oleh tawa renyah dan mengejek. Sementara itu, cowok itu pun membalas dengan mendengus sebal. Setelah meyakini, adik bungsunya itu sudah keluar dari kamarnya setelah meninggalakn sepotong martabak manis cokelat di atas meja belajar, Rei meraih laptop yang layarnya terbenam tersebut. Lalu mengaktifkannya kembali.

If you could be done by yourself, I would have not do this thing by myself.

Seperangkat pengolah kata berisi materi bahan presentasi Matematika Integral sontak menghablurkan pandangan Rei. Cowok itu kembali menghela karbondioksida dengan kasar. Ekspresinya mengeras. Diikuti dengan kepalan jemarinya.

“Tugas, lo kudu selesai hari ini juga!”

Dengusan sebal beserta bunyi tak tik tuk dari hantaman jemarinya kepada keyboard laptop kembali menguasai kamar beraksen minimalis cowok itu. AC kamar yang sepoi-sepoi bahkan jadi tak terasa sampai ke tulang. Begitu juga dengan dengung nyamuk yang asyik bersenandung ria. Semua detil tentang keadaan kamarnya diacuhkan. Fokus cowok itu pun rupanya terpaku kepada hamparan kata dan angka yang akan dipresentasikan olehnya sendiri saat hisab tugas menjelang UAS nanti.

.

.

Dari sela pintu kamar Rei yang agak melongo, Nevi mengintip sekilas lalu tersenyum. Akhirnya, kakak laki-lakinya itu kembali bersemangat untuk mengerjakan tugas.

Sebagai seorang adik, tentu ia juga ingin membantu untuk meringankan beban sang kakak. Akan tetapi, mengingat kapasitasnya yang hanya berstatus sebagai siswi SMP kelas 2 nyatanya tidak cukup membantu. Makanya, dia pun hanya bisa memberikan bantuan berupa semangat dan perhatian yang besar untuk kakak laki-laki satu-satunya itu.

“Kak Rei, semangat!!!!”

TAMAT.


a/n:

Rei and Nevi was taken from my JHS’ friends.

this is sad but true. happen to me, also.

Advertisements

2 comments

Escape your thoughts!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s