[The London’s Journal] The Last – Final Edition

THE LAST OF THE LONDON’S JOURNAL

tlj-8

starring miss A Bae Suzy, All Staff of Arsenal, and Special Guest(s) | AU, Little bit Angst,  Family, Friendship, Hurt/Comfort, Life, Semi-Supernatural and Sureallism, Sport,  No Romance! at all | general | 2,890 words-count | disclaimer beside the poster and story-line, i own nothing!

September, 2015©

.

The London’s Journal finally is going to begin, right now.

.

before reading this final edition, better please check them out first, here!

.

Please have a plenty time in reading!

Sekumpulan awan-awan tipis merangkak di atas cakrawala. Burung raksasa yang mengangkut seratus limapuluh penumpang dari Glasgow menuju Bandar Udara Incheon melaju dalam kecepatan yang tak dapat diukur dengan tangan kosong. Lautan lepas yang dilintasi pesawat armada Asiana Air seolah siap menjadi tempat peristirahatan terakhir gadis itu kalau–uh, jangan sampai terjadi–sayap pesawat lepas satu atau mesin pada baling-baling tidak berfungsi.  

Kedua matanya nampak sembab, kentara habis menangis semalaman tanpa henti. Hidungnya memerah seperti tomat, diikuti dengan kulit wajahnya yang sepucat gelembung kapas di angkasa. Berantakan, sekiranya dapat disematkan pada penampilan gadis itu sekarang.

“Nona, apakah Anda mau menambah kopi lagi?” ucap seorang pramugari, membuyarkan lamunan si Gadis Korea.

Sambil menggeleng dan tersenyum tipis, Suzy menolak. “Tidak, terimakasih.”

“Baik. Selamat menikmati perjalanan Anda, Nona.”

Helaan napas kini kembali terdengar. Udara di sekitar seakan-akan langka hingga membuat Suzy kesulitan bernapas. Organ respirasi dalam tubuhnya seolah ikut mengalami malfungsi, tidak mampu meraup sejumput oksigen dan mengeluarkan karbondioksida seperti biasa. Ternyata, penyesalan itu seperti ini, ya? Untuk bernapas saja sakit sekali rasanya.

Setelah mendapatkan kabar dukacita melalui sambungan telepon dari Sungjae tempo hari, Suzy lekas memesan tiket penerbangan tercepat menuju Seoul. Agoni yang membeku macam fosil ratusan juta tahun yang lalu itu telah mencair hingga membuat Suzy melupakan segala rasa sakit hati yang dahulu diterimanya dari sang eomma. Sang eomma yang kini telah menghadap keharibaan Sang Kuasa.

Airmata sulit untuk diajak kompromi. Tetes demi tetes tanpa henti dan dengan sukarela membanjiri pelupuknya. Namun, lekas-lekas punggung tangannya menyapu habis cairan itu. Suzy tidak boleh berlaku seperti ini. Menyesal toh tidak akan menyelesaikan apa-apa.

Momen demi momen bersama sang eomma bak gulungan benang yang kusut, mulai terurai dengan sendirinya hingga menjadi seutas benang yang panjang. Dan tak berujung. Entah, bagaimana gambaran perasaan gadis itu sesungguhnya. Hancur dan sakit. Merasa bersalah dan kehilangan tapi tak tahu harus berbuat apa. Oh, baiklah. Jika memang ini karma atas sikap konyol Suzy di masa lalu, mengapa harus sekejam ini?

***

Menjelang petang, ketika sang surya semakin condong ke ufuk barat, Suzy telah tiba di areal pemakaman umum kota Seoul. Sepi dan sunyi namun terasa damai. Jejak langkahnya sejenak terdiam, kemudian kembali berbicara melalui rerumputan yang dipangkas tipis menuju salah satu memorial yang baru dimuat sepekan yang lalu.

Seikat bunga mawar putih diletakkan oleh Suzy di atas pusara berukirkan nama Choi Jiwoo. Lambaian angin musim semi meniup beberapa helai anak-anak rambut Suzy yang lolos dari ikatan rambut. Cahaya matahari senja tak ubahnya  kelambu yang menyelimuti setiap lekuk wajah sembab sang gadis. Seperti efek dramatis dari betapa sedih dan hancurnya Suzy.

Suzy memilih untuk bungkam. Menyalurkan segala duka beserta luka terdalam melalui tatapan mata. Tangannya yang pucat dan kurus meremas kemeja hitam yang dipakai. Duka yang dirasakan seolah menjelma menjadi tiap helai dalam jahitan benang kemeja hitamnya. Memori dan kenangan bersama sang ibu ibarat baterai yang berusaha diisi daya; berusaha untuk memenuhi relung hatinya.

Sentuhan lembut pun menyambar pundak Suzy, bertepatan dengan abbeoji dan Sungjae yang ikut duduk di pinggir batu nisan.

Eomma menitipkan surat untukmu, “ tutur abbeoji. Lantas mengeluarkan sepucuk surat beramplop biru tua yang masih tersegel. “dan sekarang adalah waktu yang tepat untuk kauterima dan baca. Ambillah.”

Abbeoji, “ katanya sembari menerima amplop. Lantas memindahkan pandang secara bergantian dari abbeoji, amplop, dan Sungjae. “maaf, aku – “

“Sudah, tidak apa, Nak. Kau adalah gadis kuat, kau harus bisa segera bangkit dari keterpurukan ini. Jangan biarkan kesalahan masa lalu terlalu lama bersandar di pundakmu. Bebaskanlah, lepaskanlah kelak kau akan merasa lebih baik.”

Sungjae menambahkan, “hanya ingin mengingatkan bahwa kau tidak pernah sendiri. Ada aku dan abbeoji yang pasti akan selalu ada untukmu.”

Cicit burung gereja yang bertengger di salah satu dahan kamboja menghablurkan akustis. Menyembunyikan isak tangis Suzy yang tertahan di balik pelukan ayah dan adiknya. Hingga melarutkan segala duka hingga tak berbekas lagi.

***

***

***

40 days later.

London, a couple day before Community Shield Cup 2015,

Sosok pria jangkung asal Cekoslovakia berdiri di hadapan Suzy. Tanganya yang panjang terjulur ke depan, menggapai tangan mungil miliknya dan menjabatnya.

“Senang bertemu langsung denganmu, Nona Bae. Soojung sudah banyak bercerita tentangmu kepadaku.” aku Petr sambil menampakkan deretan gigi miliknya yang begitu rapi.

Sementara Suzy hanya dibuat agak terperangah mengingat sifat keramahtamahan seorang pemain sepakbola macam penjaga gawang anyar yang dibeli Arsenal pada bursa transfer musim panas kali ini, yang jarang ditemukan olehnya. Wait, apa barusan Petr bilang kalau Soojung bercerita banyak tentangnya? Tentang apa lebih tepatnya? Well, ingatkan Suzy nanti untuk segera melabrak karib bermulut ember itu.

“Oh, benarkah? Apa yang diceritakan olehnya? Apa itu sesuatu yang baik untuk didengar atau sebaliknya?” Suzy bertanya sambil menapaki jejak menuji ruang pertemuan di lantai tiga yang terletak di dalam Emirates Stadium.

Agenda Suzy hari ini adalah mengikuti rapat direksi Arsenal untuk membahas musim liga 2015/2016 yang sudah di depan mata. Dan persiapan untuk melawan The Blues Chelsea dalam laga pra-musim Community Shield tahun 2015, yang mempertemukan jawara liga dengan jawara Piala FA.

“Well, tentu saja sesuatu yang baik dan patut untuk ditiru. Kalau tidak seperti itu, aku tidak akan senang bertemu denganmu langsung di sini, omong-omong, “ tuturnya yang diakhiri kekehan kecil.

***

Rapat direksi dihadiri oleh para petinggi Arsenal, kapten utama Arsenal asal Negeri Matador–Santi Cazorla, beberapa pemain inti dan pemain baru dari transfer musim panas beserta petinggi dari staf teknis; termasuk Suzy sendiri.

Bahasan rapat sendiri berkisar di antara evaluasi dan target tim secara internal. Beberapa dari para anggota Arsenal Holdings plc. pun sempat menyinggung cedera yang kerap menimpa para pemain saat di laga krusial.

“Kami sudah bekerja keras dan mengerahkan kemampuan terbaik kami dalam mengatur jadwal para pemain untuk meningkatkan kebugaran ataupun mengobati cedera. Tentu saja, hal tersebut tidak bisa dibilang mudah mengingat risiko besar yang mengintai para pemain.” simpul Suzy dengan intonasi suara yang tenang.

“Namun aku juga tidak mengelak kalau kinerja wanita cantik kita yang satu ini sangat luar biasa. Dua tahun semenjak ia bergabung dengan kami, progress kebugaran pemain yang mengalami cedera mengalami surplus yang menakjubkan. Aku harap, kita tidak melupakan hal tersebut.” tutur Tony Colbert, pelatih kebugaraan asal Britania dalam menutup sesi presentasi.

Suzy mengantarkan pandangan berterimakasih kepada seniornya tersebut. Evaluasi kinerja staf teknis selama setahun ke belakang beserta target musim baru pun akhirnya selesai. Ia mengira kalau rapat direksi yang sudah berjalan selama hampir empat puluh lima menit sudah mencapai pada sesi akhir. Namun perkiraanya meleset. Ketua dari Arsenal Holdings plc., Sir Chips Keswick lantas mengumumkan bahwa pada rapat kali ini, mereka juga akan memperkenalkan para sponsor baru musim ini.

“Musim kali ini, kita melibatkan salah satu sponsor eksklusif dari salah satu yayasan yang bergerak di bidang pendidikan dan anak-anak. Dan kita telah setuju bahwa kerja sama ini bersifat non-profit, setiap tiket yang terjual dalam laga home di Emirates Stadium, 20%-nya akan disumbangkan pada yayasan asal Korea selatan tersebut.”

Tepat setelah mengatakannya, sang ketua lantas memandang sejenak ke arah Suzy, yang duduk berjarak sebanyak enam bangku di sebelah kanan.

“Mari kita sambut, Seoul Dreams Foundation!”

Selanjutnya, pintu berukuran 2 x 2 meter di ruangan tersebut terbuka dengan lebar. Menampilkan tiga sosok pemuda berpakaian klinis dengan warna jas yang berbeda. Anehnya, Suzy justru merasa bahwa wajah mereka nampak familier di matanya.

“Selamat sore, saya Kim Myungsoo.” terang si pemuda berjas biru tua dengan kemeja putih polos di dalam. Saat matanya bertemu pandang dengan Suzy, ia pun segera mengenalinya. Yap, dia adalah orang asing yang ia temui di pinggir jalan. Dia juga orang asing yang menemukan brosur yang menempel pada punggungnya.

“Senang bertemu dengan kalian, nama sayaa Kim Jongin atau kalian juga bisa memanggil saya dengan Kai.” ucapnya sembari memarkan senyuman. Barusan, pemuda berjas hitam dengan kemeja berwarna senada gantian yang memperkenalkan diri. Senyumannya sontak mengantarkan Suzy pada ingatan saat di Picaddily Circus beberapa bulan yang lalu ketika memberikan keping recehan kepada seorang yang ia kira seniman jalanan. Dan ternyata seniman jalanan itu adalah seorang founder?!

“Baik sebelumnya kedua adik saya sudah memperkenalkan diri dengan baik, rupanya, “ tutur si pemuda berjas abu-abu dengan dasi hitam yang dililit di atas kemeja berwarna putih. “Nama saya Kim Suho, saya adalah salah satu founder dari Seoul Dream Foundation. Semoga kita bisa bekerja sama dengan baik, terimakasih.”

Ia pun mengenali pria paling akhir yang memperkenalkan diri sebagai Finance Accounting yang dahulu dompetnya sempat terjatuh dan ia kembalikan. Tidak habis pikir, batinnya. Dan yang lebih mengherankannya lagi adalah mereka bertiga bersaudara. Mengapa pula ia bisa kembali bertemu dengan orang-orang yang pernah ditemuinya tanpa kesengajaan di jalan. Ini bukan takdir tetapi sebuah kebetulan. Benar-benar kebetulan yang tidak terduga bagi gadis itu sendiri.

Ketiga pria tampan tersebut pun berkenalan dan sedikit berbasa-basi kepada para staf dan petinggi Arsenal yang menghadiri rapat. Tidak terkecuali menyapa kembali Suzy yang agak tidak percaya terhadap skenario hidupnya yang dipertemukan oleh ketiga rekan yang berasal dari satu ranah yang sama. sebetulnya hal ini bukan sesuatu yang bisa menjadi masalah. Hanya saja coba kalian perhatikan. Apa hal ini terlalu mungkin untuk terjadi?

“Senang bertemu lagi denganmu, Suzy.” ucap ketiganya secara bergantian dengan senyuman yang bertengger di atas wajah. Berusaha terlihat seramah mungkin kepada Suzy yang bersikap terlalu kaku kepada mereka sebagai sesama rekan setanah air.

“Ada apa dengan wajahmu?” tanya Suho sebelum menyesap sedikit wine yang ada di genggamannya.

“Tidak apa-apa, “ jawabnya sembari menggeleng. Matanya pun menangkap ekspresi Kai dan Myungsoo yang sedari tadi tidak berhenti tersenyum menatap diri mereka sendiri tanpa henti.

“Apa kau tidak berpikir bahwa ini adalah takdir kita untuk kembali bertemu?”

Suzy pun menoleh pada Myungsoo yang barusan bertanya. “Tidak, menurutku ini hanya kebetulan semata.”

“Lalu bagaimana bisa kau menjelaskan kebetulan yang terjadi padamu juga terjadi pada kami, Nona?” Kai dengan santai pun menukas.

“Aku juga tidak tahu.”

Suzy ingin menjawab seperti itu namun ia urungkan. Sejujurnya, ia juga tidak tahu mengapa skenario hidupnya di London menjadi seperti ini?

London adalah tempat di mana impiannya bermuara dan menjadi kenyataan. London, ibukota Britania Raya yang menjadi selter pelarian ternyaman yang pernah ia punya. London, alasan yang selalu ia ungkap kepada keluarganya ketika dirinya diminta untuk kembali. Lagi-lagi masih di London, sebuah kota yang mampu menjungkirbalikan kehidupan seorang Bae Suzy selama hampir dua tahun.

Skenario yang Tuhan berikan kepadanya tidak pernah ia bayangkan akan menjadi seperti ini. Pelajaran dalam hidup yang tidak pernah ia temukan saat berada di SMA ataupun perguruan tinggi justru ditemukan dan dialami olehnya sendiri di London. Bersatunya dua sahabat, rasanya dihormati dan dihargai oleh seseorang, bagaimana suatu hubungan pertemanan bisa terjalin dan bertahan, mimpi yang menjadi kenyataan, serta kehilangan yang musti dirasakan kala London telah menjadi sejarah dalam kehidupan seorang Bae Suzy.

Hari ini tepat 40 hari peringatan kematian eomma. Dalam hati, sepanjang rapat antar direksi berlangsung, Suzy tiada henti meanjatkan pujian serta doa terindah kepada Sang Pencipta. Ia pun meyakinkan Tuhan atas kebahagian eomma yang pantas ia dapatkan di surga. Memohon ampun atas segala kesalahannya kepada sang eomma tanpa ia sadari. Jauh di dalam lubuk hatinya, ia tetaplah seorang anak yang tidak bisa hidup tanpa curahan kasih dan sayang seorang ibu. Kepahitan meski itu setitik takkan bisa menghapus kebaikan yang pernah dilakukan eomma karena sudah melahirkannya ke dunia. Seorang ibu tetaplah seorang ibu yang selalu menyayangi anaknya tanpa memerlukan satu alasan.

Begitu juga dengan segala peristiwa yang melintasi ruang dan waktunya selama ini. Semuanya sudah dicatatkan oleh Tuhan untuknya. Sudah kubilang, ‘kan? Penulis Tuhan itu selalu menuliskan naskah kehidupan hamba-Nya dengan tidak terduga. Di setiap derita yang Dia sematkan setitik dalam kehidupan seseorang, selalu tersimpan berjuta-juta cinta di dalamnya. Tuhan selalu menyiapkan ujian dengan solusinya dalam satu paket.

Suzy pun mengiakan. Dalam jurnal harian kehidupannya di London, banyak hal yang sudah diarunginya dalam kurun waktu selama dua tahun. Baik itu sesuatu yang menyenangkan, mengharukan, menyebalkan, dan menyakitkan sekali pun, selalu ada hikmah yang bisa diambil. Dengan begitu, ia pun bisa berubah menjadi pribadi yang lebih baik; seorang Bae Suzy edisi upragaded yang lebih baik.

“Aku tidak percaya pada sebuah takdir. Sudah kubilang ‘kan sebelumnya, jikalau kita memang bertemu kembali toh itu sebuah kebetulan yang tidak direncanakan. Ada baiknya kau mengecek jurnal kehidupanmu dulu, Bung. Seperti diriku.” tukas Suzy seraya memamerkan sebuah jurnal bersampul cokelat berukuran 6 x 6 inci yang bersemayam di dalam kantong mantelnya.

“Tuhan yang memberikan itu kepadamu, ya.” lirih Myungsoo yang diimbuhi dengan kekehan kecil oleh ketiganya.

“Menurutmu?” Suzy balas bertanya kemudian memasukkan kembali jurnal tersebut. “Ya kukira jurnal kehidupanku di London yang sebenarnya akan dimulai dari saat ini.”

Baik itu Suho, Myungsoo maupun Kai sontak menghentikan tawa dan langsung memusatkan pandang kepada gadis fisioterapis tangguh di hadapan mereka.  

The London’s Journal finally is going to begin, right now.

***

***

Untuk Suzy,

Putriku Tersayang

Aku bingung kau harus menulis apa. Apakah aku harus menulis prolog klasik seperti ‘Bae Suzy, apa kabarmu? Apa kau baik-baik saja?’ tetapi aku urungkan. Karena aku yakin kau baik-baik saja di London.

Ketika kau telah menerima surat ini, aku yakin bahwa saat itu aku sudah terbaring di dalam peti yang ditimbun oleh tanah merah. Entahlah kaumau membaca surat dariku atau tidak. Aku sendiri tidak yakin apa kaumau barang menyentuh amplopnya saja. Karena aku tahu kau masih membenciku, ah tidak, tapi sangat membenciku. Kukira aku memang pantas mendapatkan itu karena semua kesalahanku kepadamu di masa lalu.

Suzy-a, kau pasti tahu bahwa aku adalah seorang ibu yang bodoh dan egois. Itu pernyataan yang benar. Aku terlalu bodoh karena mengabaikan kebahagiaanmu. Kebahagiaan bagimu adalah mewujudkan cita-citamu sebagai seorang fisioterapis namun aku terlalu bodoh untuk tidak menyadarinya. Aku terlalu egois, memaksakan kehendak yang tidak kauinginkan; karena aku hanya memikirkan diriku sendiri. Aku melupakan kebahagiaan yang sesungguhnya sudah ada di depan mataku sejak bertahun-tahun yang lalu. Tiga kebahagian terindah yang Tuhan berikan kepadaku; ayahmu, Sungjae dan kau.

Suzy-a, aku tidak tahu apakah aku pantas untuk mendapatkan maaf darimu. Aku sadar bahwa aku telah melukai hatimu dengan perkataan kasarku. Apa rasanya sakit sekali? Sampai kau benar-benar meninggalkan ibu di Korea? Apa kau benar-benar tidak merindukan Ibu?

Untuk menyalurkan rasa rinduku kepadamu, aku hanya bisa memandang wajahmu dari layar kaca setiap akhir pekan saja. Itu juga kalau kau disorot oleh kamera. Asal kautahu, aku bahkan sampai berdoa kalau seluruh pemain Arsenal akan cedera saat bermain di lapangan sehingga akuu bisa melihatmu di layar. Namun ibu mengurungkan itu karena kau nanti pasti akan kesusahan juga.

Saat pertama kalinya aku melihatmu di TV, kau terlihat sangat keren, Suzy-a. Kau sungguh terlihat bahagia. Sebagai seorang ibu, aku sangat bangga kepadamu. Namun itu semua tidak dapat aku sampaikan langsung karena kau selalu menolak jika Sungjae meneleponmu untuk berbicara denganku. Awalnya aku sangat sedih saat mengetahuinya. Namun perlahan aku sadar bahwa aku memang pantas menerima ini. Mengingat luka yang telah kuberikan padamu.

Suzy-a, Ibu sudah terlalu banyak menulis hal yang tidak penting. Benar ‘kan? Sesungguhnya, surat yang kaubaca sekarang (jika iya) adalah surat ke-sepuluh yang aku tulis. Banyak sekali hal yang ingin aku sampaikan untukmu, Suzy-a.

Lalu apa bocah itu sudah memberitahumu? Bae Sungjae, anak itu rupanya mengambil dua program studi; satu manajemen dan satu desain grafis. Pada awalnyaaku tidak setuju, sungguh. Tetapi setelah kembali mengingat kejadian yang menimpamu, akhirnya aku bisa menerimanya. Ibu takut kalau Sungjae nanti akan meninggalkanku juga, sepertimu.

Ibu berharap bahwa kau tidak melupakan kodratku sebagai ibu yang akan terus menyayangimu hingga akhir hayat. Bahkan sampai maut menjemput pun rasa sayang dan cintaku kepadamu tidak pernah surut. Meski kau tidak melihatnya, kau pasti bisa merasakannya.

Aku tahu aku tidak pantas mengatakan ini sebagai orang yang sudah melukai perasaanmu namun sebagai seorang ibu, aku masih berhak ‘kan?

Sekarang kau sudah dewasa, Suzy-a. Otomatis kau sudah bisa menentukan mana jalan yang terbak untuk hidupmu. Aku yakin bahwa kau bahagia dengan jalan yang sudah kauambil dan kaujalani saat ini. Di mana pun, aku selalu mendoakan yang terbaik untukmu. Doaku akan selalu menerangimu di kala kegelapan datang. Cintaku akan selalu menghangatkanmu di kala musim dingin menerjang. Memori tentangku akan selalu menyejukkan hatimu di kala musim panas tak sampai hilang.

Suzy-a, aku tidak ingin kau menjadi terbebani karena diriku. Ibu harap kau tidak terlalu sedih karena kepergianku. Semoga kau selalu bahagia di mana pun kau berada. Dengan demikian, sekarang aku sudah tidak terlalu mempermasalahkan apa kau memaafkanku atau tidak. Yang terpenting adalah aku sudah mengakui kesalahanku dan berjanji tidak akan mengulanginya. Namun tidak ada kata terlambat untuk meminta maaf, ‘kan? Juga kata terlambat untuk,

Aku menyayangimu, Putri Kesayanganku,

Bae Suzy.

***

***

Ruang rapat berdesain minimalis dengan aksen warna merah darah dan putih tulang di setiap sudut dipenuhi oleh para jajaran direksi tim sepakbola London Merah. Layar proyektor yang terpampang di depan menampilkan simpulan mengenai progress yang dihasilkan oleh unit kebugaran pemain.

Sesosok wanita yang memakai blouse terusan berwarna putih yang turut hadir dalam rapat, menyimak presentasi dengan tenang. Matanya sesekali menerawang raut serius sekaligus santai seorang fisioterapis wanita yang tanpa kendala menjabarkan secara rinci mengenai presentasi dari tim yang diketuai olehnya.

Kami sudah bekerja keras dan mengerahkan kemampuan terbaik kami dalam mengatur jadwal para pemain untuk meningkatkan kebugaran ataupun mengobati cedera. Tentu saja, hal tersebut tidak bisa dibilang mudah mengingat risiko besar yang mengintai para pemain.” simpul Suzy dengan intonasi suara yang tenang.

Senyum pun nampak melintang dengan elok di atas bibirnya. Terlebih saat seluruh peserta rapat memberikan applause terhadap presentasi sang fisioterapis. Dari tempatnya mengamati, di salah satu sudut ruangan yang tidak dilimpahi setitik cahaya, senyuman yang tiada lelah menemani sang puteri. Bahkan senyumannya melebihi terang LED lights yang melintang di langit-langit ruang rapat tersebut. Perasaan bangga nan haru bagaikan aliran listrik yang mengalir dengan deras dari ujung kaki sampai ujung kepalanya.

“Kau sudah bekerja dengan sangat keras, Putri Kesayanganku. Diberkatilah kau selalu dengan kebahagiaan yang berlimpah dan orang-orang yang mencintaimu selamanya, Bae Suzy.”

.

.

TAMAT


a/n:

firstly,   ALHAMDULILLAH!!! akhirnya TLJ series ini bisa rampung juga meski harus molor pengerjaannya selama dua bulan… terimakasih juga kepada Dreamers yang sudah setia dari awal ataupun ari pertengahan atau juga yang baru gabung dengan series abal ini, terimakasih sekali aw dan dukungannya kepada TLJ selama ini 😀 🙂 ❤

maafkan atas eksekusi final edition yang semisalnya kurang srek di hati kalian, sejujurnya saya sudah berusaha semaksimal mungkin; melebihi batasan saya sendiri malah. feel free to leave review or some critic, saya mah open orangnya 🙂

amanat sederhana dari series yang sejujurnya, dalam beberapa part khusus sungguh menguras emosi saya hanya satu sebenernya: sayangi ibu kalian! sebelum terlambat!!! 🙂 🙂

last, no other but THANK YOU SO MUCH for Suzy who has been my eternal personal  in every story i write 🙂 without you, this series wouldnt be impossible to be released!!!  thanks for always being my muse!! let’s make more beyond imagination together! 😀

also, all of Arsenal Teams and Special Guests yang sudah rela saya pinjam namanya untuk bergabung di serial ini ^^

terimakasih dan sampai jumpa di serial selanjutnya 😀

Advertisements

4 comments

  1. Wooaa.. Na’ This is Great..Emosi campur aduk Aku bacanya..
    Sungguh terharu, apalgi pas baca bagian surat buat Suzy dari eommanya.. bikin aku nangis..huhuhu.. kerenn Na’ Komawo sudah menghadirkan FF yg menggugah hati ..ditunggu Next FFnya yaa.. hwaiting

    Liked by 1 person

    1. terimakasih banyak kak dizty ^^ atas dukungannya dari awal sampai final edition ini 🙂 kalau ga ada pacuan semangat dari kak dizty ga yakin deh aku bisa nyelesaiin ini 🙂 sekali lg terimakasih 🙂
      fighting too 🙂

      Like

Escape your thoughts!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s