[Ori-Fict] The Lost Muse

wm-writers-evening

an original-fiction by xianara

September, 2015©

.

Sebelum malam makin buta, aku memantapkan niatku untuk menulis. Setelah sekian bulan aku mengambil hiatus menulis alih-alih memasung diri dalam hegemoni jalan-jalan ala backpacker.

Tiga hari yang lalu aku baru pulang dari Tanah Sumba. Menyingkap berbagai tabir alam yang dulu hanya bisa kukagumi melalui layar ponsel sebesar 5 inci. Awalnya aku ingin bergaya mengikuti gaya kekinian; travelling menggunakan jasa perjalanan. Aku menelusuri apdet terbaru dari berbagai agensi perjalanan; menemukan paket jalan-jalan termurah yang ujung-ujungnya tetap tidak aku ambil. Lantaran bajet yang tidak sesuai dengan penawaran yang diberikan. Pada akhirnya aku kembali pada jalur backpacker; jalur alami sebagai pelancong gembel yang belum dilirik para sponsor travelling.

Layar laptop 16 inci yang telah menemaniku selama hampir lima tahun masih terlihat putih bersih. Belum tersimbahi kata-kata yang muncul secara otomatis ketika papan alphabet berwarna hitam yang tersebar secara acak ditekan.

Niatku rupanya tidak berjalan sebagaimana mestinya, otakku kembali mandet. Berbagai kisah perjalananku selama di Pulau Sumba beberapa tempo yang lalu urung kujadikan ide. Berbagai catatan yang tumpah ruah dengan tulisan ceker ayam punyaku masih terasingi di notes biru langit yang setia kubawa ke mana-mana. Di dalam notes itu, aku menyimpan segala detil dan pernak-pernik kemasyhuran alam Sumbawa yang pertama kali kujejaki kala itu.

Saat aku untuk pertama kali tiba di pulau paling terisolir dari 34 provinsi se-Indonesia, gersangnya alam Sumbawa membawaku berdimensi ke Benua Hitam dengan kontur alam serupa. Tanah tandus, minim pepohonan, suhu udara yang bisa mematangkan telur. Hamparan padang savana, banteng liar dan kuda-kuda Sumbawa yang gagah berani yang digembalakan di alam bebas.  Namun jangan juga kita melupakan betapa ramah dan bersahaja orang-orang asli Sumbawa yang bersedia menampungku selama aku berlibur di sana.

Bang Ilham adalah penduduk lokal yang menunjukkanku keindahan surga duniawi selama aku menjalankan ritual jalan-jalan di sini. Beliau adalah seorang pemuda Sumbawa asli berkulit sawo matang dengan rambut agak ikal. Alis matanya lumayan tebal dan jika ia tersenyum, kamu bisa melihat senyum iklan pasta gigi andalan negeri ini di wajahnya.  Ah, aku juga ingin meralat sesuatu, aku ke Nusa Tenggara bukan untuk berlibur melainkan mencari muse yang sempat hilang. Muse di sini memiliki definisi dalam konteks yang luas.

Ketukan pintu memecahkan lamunan saat aku sedang menapaki Bukit Persaudaraan di kala petang bersama Bang Ilham dan salah satu rekan dari fotografer yang bersekolah di SMA yang sama denganku dulu, Rama. Kubiarkan si pengetuk menggeser lawang berukuran sedang bercat putih tulang. Menampilkan sesosok wanita berbadan dua yang tengah hamil muda berjalan menghampiriku.

“Gimana?” tanyanya, menaruh secangkir chamomile tea yang sejujurnya aku kurang suka karena rasanya seperti air perasan daun kelor.  Ia mengernyitkan dahi lantaran mendapati lembar kerjaku yang hanya diisi oleh strip berpendar.

“Gimana apanya, Mbak?” mukaku kubawa setenang mungkin, “oh ya, Mbak aku udah bilang ‘kan kalau aku ngga begitu suka teh, jadi – “

Mbak Feli, kakak sulungku yang kebetulan sedang menginap di rumah orangtua kami karena suaminya sedang dinas ke Palangkaraya, mengamatiku sekilas kemudian mengambil space kosong di atas ranjang.

“Coba kamu minum sekali-sekali. memang selama di Sumbawa kemarin kamu ngga nyicipin teh?” tukasnya, memotong ucapanku.

“Di Sumbawa minuman yang paling terkenal itu kopi.” tukasku seraya menyingkirkan barang seinci cangkir tersebut. “Ini udah malam, kenapa belum tidur?”

Seiko di dinding putih membawa jarum pendek ke angka duabelas lewat sedikit dengan jarum panjang yang bertengger ria di angka tiga. Pukul duabelas lewat limabelas menit, tengah malam, dan kami pun msih terjaga.

“Belum ngantuk aja, “ pungkasnya; menaikkan kedua kaki ke atas ranjang lantas menyenderkan punggung di kepala ranjang milikku. “Kamu masih belum nulis, emang muse kamu itu kenapa, sih? Sampe kamu jadinya mati kutu di depan layar.” celetuknya mengenai muse-ku yang hilang. Alih-alih menanyakan ke mana perginya sang muse, dia justru bertanya mengapa.

“Sebenarnya aku melepas dia untuk pergi, muse-ku.” aku mengubah posisi duduk, menyeret kursi hingga menghadap Mbak Feli, “aku melepasnya karena dia ingin bebas. Ya sudah deh, makanya aku biarin dia pergi. Biar dia seneng.”

“Mbak ngga ngerti sama kamu, Kian.”

Duh, aku keceplosan. Tidak seharusnya aku menceritakan dengan gamblang mengenai sesuatu yang mengganjal di hatiku kepada Mbak Feli. Namun terlambat untuk menyesal karena selanjutnya dia terus mendesakku dengan halus. Kuputuskan akhirnya untuk membeberkan segalanya. Cerita paling bodoh dalam kehidupanku sebagai seoran cowok bernama Kian pun menguar bersama derik pelan dari pintu pendingin udara yang berayun-ayun.

Tidak terasa, malam menjadi semakin buta. Kuap yang keluar dari bibirku menjarah fokusku pada wejangan Mbak Feli. Sekian menit aku menceritakan inti ke mana dan mengapa si muse pergi, Mbak Feli langsung mengetahui biduk permasalahanku. Macam dukun saja dia. Sebagai seorang wanita, wajar sih kalau ia bisa berbicara panjang lebar dan mewantiku untuk bergerak menghampirinya lagi. Meski menurutku, hal itu tidak wajar, mengingat aku seorang pria, yang lebih menggunakan rasio ketimbang intuisi. Dari buku-buku love-life yang pernah kubaca tanpa sengaja, memang dianjurkan bagi kami untuk mengalah. Tetapi kalau mengalah setiap waktu kepada mereka, tentu kamu tidak bisa bertahan melakukan hal tersebut dalam waktu yang lama. Bisa mati rasa kamu, nanti. 

Fokus tengah malam ini jadi ngalor-ngidur. Chamomile tea yang disuguhkan oleh Mbak Feli menjadi dingin tanpa kusentuh sama sekali. Setelah hampir seperempat jam Mbak Feli mengoceh tiada henti, pada kisaran pukul satu dini hari, ia pun merasakan kantuk mulai menyerang. Kemudian menyudahi kuliah hati kepadaku dan meninggalkan kamarku dengan lawang yang dibiarkan mengablak. Kebiasaan.

Layar laptop sudah mati. Jari telunjuk kuejejakkan di atas tombol space. Tampilan windows log-in kemudian menyapa. Setelah membubuhi kata kunci pada tempat yang disediakan, muncul laman pengolah kata Microsoft yang masih belum kuperawani.

Banyak pikiran yang berseliweran macam jaringan 4G LTE di dalam serebrum yang terpasang di batok kepalaku. Juga ide dan gagasan yang saling berdesakkan untuk mengirim sinyal pada otak, memerintahkan jemariku segera menari hingga mereka bisa berbicara. Kondisi ini sering melandaku di kala rasa malas terlalu lama menjadi Jin di dalam tubuhku. Aku tak bisa memutuskan untuk menulis apa yang benar-benar kupikirkan hingga berakhir dengan aplikasi word yang kumatikan.

Muse, bukan nama band asal Britania yang vokalnya digawangi Matthew Bellamy di sini yang kumaksud. Melainkan padanan bahasa asing yang diartikan ke dalam bahasa Indonesia menjadi sebuah objek utama penghasil karya. Sialnya, sekarang aku tidak punya muse lagi, baik itu benda bernyawa ataupun benda mati.[]

Advertisements

4 comments

  1. aku bingung pengen comment apa, tapi kayaknya pernah ngalamin hehehe. DAN KENAPA TULISANNYA MAKIN CANTIK AJA KAK? huhuhuhu..

    Dan tunggu nama aku di komentar selanjutnyaa~~ ^^

    Liked by 1 person

  2. Hai kak xian! Sebelumnya kenalkan, Vi dari garis sembilan-sembilan di sini. 😊

    Dan

    Duh

    Baru pertama baca tulisan kakak aku langsung jatuh cinta sama gaya penulisannya /tsaahh. Gimana ya, enak gitu ringan banget jadinya engga ngebosenin sama sekali, trus diksinya juga ga berat-berat amat jadi mudah dipahami.

    Lalu, daku tatau harus komen apalagi saking kerennya fic ini ehehe ada sedikit typo sih tadi … tapi overall bagus banget kok kak. Keep writing ya 😊

    Like

    1. Halo Vi, salam kenal yah ^^ aku xian yang segaris sama jungkuk cuma aku lahir 3 bulan lebih dulu dari doi~apaan, sih Na….~
      wah, serius kamu Vi? kk, makasih lho 🙂 jadi malu akunya ini,dan serius ga tau juga hrs bilang apa lagi ini, wkwk*tolong lempar saya ke pangkuan jungkuk*iyain aja*
      ah, terimakasih sudah mengoreksi, typo-nya sudah kuatasi 🙂
      sekali makasih ya, keep writing too 🙂

      Like

Escape your thoughts!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s