[Ficlet-Mix] Exasperation

exasperation-ff

(n.) a feeling of intense irritation or annoyance.

Kamu hanya perlu duduk manis dan lihat apa yang akan terjadi. –prompt by IFK’s 4th Fanfiction Contest

Composed by xianara

featuring Wu Yifan, Hwang Zitao, EXO Kim Junmyeon and Kim Minseok, Red Velvet Bae Joohyun and Actress Kim Yoojung | AU!Dystopian, Dark-Fict, Family, Fluff, Friendship,  Humanistic Issue, Marriage-life, Romance, Sci-Fi | ficlet per fiction | PG-15 | disclaimer beside the poster and storyline, I own nothing!

August, 2015©

.

.

Past

25 April 1986, Jumat sore, awak reaktor di Chernobyl-4.

“Setidaknya bersenggama dengan Yuri jauh lebih mengasyikkan ketimbang duduk-duduk manis di balkon rumah, tidak melakukan apa-apa.”

Kris, pria berjas putih dengan surai cepak berkata sambil lalu. Kemudian, memeriksa laporan terkait pengujian turbin yang akan dilaksanakan malam ini. Pengujian pun bermaksud untuk mengecek seberapa sanggup turbin berputar dan menghasilkan tenaga apabila suplai tenaga listrik tiba-tiba padam.

“Kau gila, Prof.” balas Tao, sang asisten bermata sipit yang sedari tadi mengontrol ratusan tuas pengendali.

Sedangkan yang dimaksud Yuri sendiri bukanlah seorang perempuan. Melainkan panggilan untuk reaktor nuklir unit empat, yang berdiri di atas lahan Chernobyl, bagian dari sebuah proyek ilmiah pengembangan nuklir prakarsa Soviet.

“Yuri adalah mahakarya negeri ini, kau harusnya berbangga hati.” balas Kris.

“Tidak ada yang bisa dibanggakan dari bibit peperangan ciptaan Einstein ini, omong-omong.”

Kris mendengus. Pekerja paruh waktu yang satu itu memang sarkastik. Tak heran, banyak professor ataupun ilmuwan lain yang segan dibantu olehnya selain Kris sendiri. Selain harus bisa menahan kesal, kau juga harus ekstra sabar.

“Pantas ya, Dokter Andre sering mengeluh pening jika mengevaluasi jejak rekam grafit denganmu.”

***

Pukul dua belas malam, masih di Chernobyl.

Pengujian ini merupakan tindak uji yang cukup berbahaya namun pernah dilakukan sebelumnya. Sebagai bagian besar dari persiapan, mereka mematikan beberapa sistem krusial, termasuk mekanisme penutup keselamatan otomatis. Divisi pimpinan Kris pun meyakini bahwa tes uji kali ini akan berjalan dengan lancar.

Pekerja yang terdiri dari satu kepala divisi, satu asisten dan empat teknisi tengah berjaga-jaga. Tao sebagai asisten kepercayaan Kris, memegang penuh kendali ruang kontrol bersama satu teknisi.

Sedang, kepala divisi – Kris sendiri, bersama teknisi lainnya berdiri tidak jauh dari tong besar yang menampung ratusan ton Uranium dan satu ton Plutonium. Mengenakan pakaian pelindung radiasi, lengkap dengan tutup kepala yang diberi selang oksigen, mereka tidak jemu mengontrol pergerakan grafik yang menancap di dinding tong.

“Prof, persiapan sudah beres.” ucap Tao melalui pengeras suara yang sengaja dipasang di dekat kaca pembatas. Kris mengangguk lalu segera menghimbau para teknisi agar kembali ke dalam ruang kontrol.

Para ilmuwan dan ahli nuklir yang diundang oleh divisi empat belum menampakkan batang hidung. Tao justru memilih untuk membahas mengenai program diet dengan salah satu teknisi yang seumuran dengannya, tentu karena bosan menunggu.

***

Pukul satu, dini hari. Masih di awak reaktor Chernobyl-4.

Hell, yeah, ke mana para ahli nuklir itu, sih?” keluh Tao, yang tidak lepas kontrol pada pergerakan radioaktif tenaga yang dihasilkan.

Kris mendongak lalu mengangkat bahu, “Mungkin masih dalam perjalanan. Petang tadi, mereka dipanggil oleh pemerintah pusat untuk membahas alokasi biaya tambahan.”

“Mengapa kau tidak ikut?” cecar Tao, mengambil kursi kosong di dekat Kris.

“Ck, pertemuan yang membosankan, kupikir. Lagipula, dua hari yang lalu kita juga baru saja dari sana. Dan, wacana pembaharuan teknologi yang akan diberikan oleh Jerman kemarin, justru menganggu pikiranku.” terang Kris. Gelisah muncul di atas paras Kaukasoid milik sang profesor.

“Apa ada sesuatu yang kautakutkan?”

“Sejujurnya, ada.” jawab Kris sambil bangkit dan berjalan menuju kaca pembatas. “Aku takut kalau aku tidak mampu menggunakan teknologi modern yang diwacanakan pada proyek ilmiah ini. Aku takut aku akan gagal.”

“Semua orang takut untuk gagal namun tidak pernah lelah untuk terus mencoba. Yakin sajalah, Prof.”

Kata-kata penyemangat yang timbul dari pita suara seorang Tao sontak membuat adrenalin sang profesor yang tadinya merosot, kini naik kembali. Wajahnya sudah tidak semendung awan pembawa hujan di Kiev lagi.

“Ya, aku tahu dan terimakasih.”

“Bukan masalah.”

“Omong-omong, para teknisi mengapa belum kembali?”

Belum terjawab pertanyaan tersebut, tiba-tiba mereka berdua dikejutkan oleh desis dari bunyi mesin yang tiba-tiba mati.

“Apa yang terjadi?”

“Gawat!” seru Tao saat melihat grafik jarum yang tiba-tiba anjlok. “No, aliran pendingin tiba-tiba menyusut dan parahnya lagi, tenaga mulai meningkat!!”

Peningkatan tenaga pada reaktor melonjak drastis. Udara pun jadi semakin panas. Desing di dalam tong raksasa terdengar makin kencang. Begitu juga dengan beberapa tuas yang mulai serat untuk ditarik.

“Sial, sial, sial! Alarm kita mati karena sistem keselamatan otomatis yang tidak dihidupkan!” maki Tao.

Dentuman semakin jelas terdengar. Jarum grafik pada dinding pengontrol mencapai batas maksimum. Hawa panas di ruang kontrol reaktor unit 4 semakin meningkat. Tao masih berkutat pada ratusan tuas pengontrol yang lain.

Berpikir dengan cepat, Kris! Seketika, dia menatap tuas besar berwarna merah terang yang berada di atas meja utama.

Tao menggeleng dengan cepat.

“Jangan gila, Prof!”

“Tidak ada pilihan lain, kita harus mematikan reaktor atau tong berisi ribuan ton Plutonium itu meledak!”

***

Pukul satu lewat dua puluh tiga, dini hari, Chernobyl.

Kris mematikan reaktor dalam kondisi tenaga lemah. Tao tidak dapat mencegah. Seketika, sirine penanda bahaya yang bisu kini nyaring terdengar. Sistem keselamatan penutup otomatis yang disetel mati kini menyala. Efek domino dari kesalahan sebelumnya, justru menyebabkan peningkatan gelombang secara tajam hingga tinggal menanti sebuah –

“Tao, cepat kaupergi dari sini!”

“Tidak akan kalau bukan denganmu!”

“Berhenti berpolah mengesalkan seperti ini, Tao!”

– ledakan maha dahsyat. Lonjakan tenaga uap yang begitu besar menghancurkan tutup tong berisikan nuklir seberat 1000 ton menjadi pecahan-pecahan besi.

BLARR!!!

BOOM!!

Sekitar 211 tuas pengontrol meleleh hingga menimbulkan ledakan kedua yang lebih dahsyat. Pecahan-pecahan inti minyak yang terbakar yang mengandung radiokatif mendesaki udara. Pemadatan blok-blok grafit pun terjadi, siap memuntahkan ledakan yang lebih keji.

Kaca-kaca pembatas hancur lebur. Begitu juga dengan Kris dan Tao yang terpental beberapa meter dari ruang kontrol. Luka bakar di sekujur tubuh tidak terelakkan. Serpihan beling banyak menancap di sekujur lengan pria berahang tegas tersebut.

Sang profesor rupanya masih setengah sadar namun tidak mampu bangkit. Dia melihat Tao yang terbujur dengan penuh luka di dada serta darah yang berlumuran di ujung pelipis.

“Profesor, “

Awan-awan yang membumbung di atas reaktor unit 4 sontak menebal. Api semakin berkobar. Asap dan zat radioaktif makin mencemari udara. Membuat mereka berdua kekurangan asupan oksigen.

“Tao, jangan, “ Kris mengerang, darah semakin deras mengucur dari lengan. Begitu juga dengan asap radioaktif yang memenuhi sepasang paru-parunya. “bicara dulu.“

“Benar, seharusnya kaududuk saja dengan manis di balkon rumahmu sore tadi,” guyonnya. “bukan terbakar di sini, bersamaku.”

Tao mengernyit. Menahan sejuta perih hingga jadi mati rasa terhadap luka yang melukis tubuh. Sedetik kemudian, sembilu itu merampas kesadaran Tao selama-lamanya.[]

***

***

Present

Menjelang senja di kala hujan adalah waktu favorit Joohyun. Namun ketika rintik hujan turun dengan eloknya dan membasahi jalanan beraspal ibukota Irlandia, sang gadis justru terlihat tidak menikmati.

Rinai hujan yang berlabuh di sepanjang Grafton Street pun ditatap jemu. Suasana homey dan hangat dari restoran yang berdiri di salah satu sudut kota paling terkenal seantero Dublin, juga tidak mampu mencairkan kebekuan yang menjalar di dalam hati si gadis bersurai cokelat.

Kim Junmyeon, sang suami yang sedari tadi nampak antusias bercerita mengenai salah satu proses kreatif pembuatan novel kelimanya pun hanya ditanggapi sekilas. Bukan maksud sang gadis jemu dengan celotehan riang sang penawan hati, bukan. Hanya saja, ketetapan sang kepala rumah tangga mengenai kebijakan yang akan dijalankan mulai lusa adalah perkaranya.

Aku akan memutuskan koneksi internet di tempat tinggal kita.

Alasannya? Karena hal itu justru yang selama ini mengganggu pekerjaan Junmyeon sebagai full-time writer.

Mendengarnya sontak membuat Joohyun keki bukan main. Pasalnya, sebagai orang yang tidak bisa hidup sedetik pun tanpa internet, dia jadi merasa tertekan. Ya, memang ini demi kelangsungan perjalanan karir kepenulisan Junmyeon. Akan tetapi bagaimana dengan kelangsungan Joohyun sendiri?

“Hm, aku sungguh tidak sabar untuk perilisan novel kelima kali ini. Rasanya seperti baru saja melakukan persalinan; di mana anakku telah lahir! Meski begitu, pastinya hanya kaulah yang akan melahirkan putera-puteri kita.”

Joohyun bergeming, irisnya hanya fokus menatap potongan udang dan paprika yang tersisa di atas pinggan. Hatinya masih dongkol. Gelisah itu tidak dapat ditahan.

Di jaman yang sudah modern seperti ini, mana mungkin ia bisa hidup tanpa koneksi internet? Ouch, rasanya pasti memilukan. Seperti hidup di jaman pra-histori, melakukan komunikasi melalui seonggok kerang yang bisa berbicara. Mirip yang dilakukan oleh Spongebob saat tersesat di belantara, pada salah satu episode kartun spons kuning favoritnya itu.

“Sayang?”

Junmyeon memanggil Joohyun namun sang isteri tidak menyahut sama sekali. Ia pun mengamati Joohyun yang sedari tadi memang nampak tidak bersemangat. Sejujurnya, ia juga tidak tahu apa yang membuat keceriaan kesayangannya itu hilang. Apa mungkin, ini karena…

“Joohyun-ku, apa kau mendengarkanku?”

Ambang batas kesadaran Joohyun sudah tersesat di tempat yang tidak terdeteksi lantaran lamunan si gadis mungil semakin parah.

Joohyun menemukan visualisasi dirinya hidup di zaman Megalitikum. Dengan berbagai macam perabot rumah tangga yang terbuat dari batu. Busana yang dikenakan pun sungguh menyakitkan mata untuk dilihat. Sepotong kain berwarna krem tanpa desain yang fantastis melilit tubuh rampingnya. Plus, potongan rambut yang dibuat pendek dengan pita berwarna biru sebagai aksesori pengganti bandana. Joohyun mendesah. Apakah ia akan bernasib seperti orang-orang yang berlakon di serial Flintstone?

“Kim Joohyun?!”

“Tidak! Aku tidak mau hidup seperti Flinstone!!”

Arah pandang para pengunjung restoran sontak tertuju kepada sosok Joohyun yang membeku. Wajah yang sudah semerah tomat itu pun ditutup dengan kedua telapak tangan. Sejurus kemudian, si gadis berangsur meminta maaf.

Sang pria yang melihat justru tidak dapat menahan gelak tawa. Huh, suami macam apa kau, Kim Junmyeon? Bukannya membela martabat isterimu di depan umum, kau malah menertawakannya.

Lantaran diperlakukan seperti itu, Joohyun kesal bukan main lalu mengentakkan serbet ke arah Junmyeon. Efeknya, Junmyeon pun segera mengehentikan tawa. Segelas air mineral yang terisi setengah pun langsung ditandaskan oleh sang pria dalam sekali teguk.

“Apa kau puas? Kau senang ‘kan karena aku sukses mempermalukan diriku sendiri?” cecar Joohyun sembari mengeratkan kedua tangan di atas dada.

“Tidak-tidak, bukan seperti itu.”

“Lalu apa?!”

Merah padam yang mirip dengan corak buah apel Washington D.C. semakin pekat warnanya di atas wajah Joohyun. Sedikit banyak, sang pria jadi mengetahui apa hal yang selama ini mengganjal hati sang isteri. Rupanya, kebijakan memutuskan jaringan internet yang ditentang oleh Joohyun semenjak dua pekan yang lalu adalah penyebabnya.

“Bukankah kita sudah mendiskusikan hal ini sebelumnya? Kukira kau sudah menyetujui dan mengerti bahwa keputusanku bersifat final dan tidak bisa diganggu gugat.”

“Kau egois, Kim Junmyeon!” tegas Joohyun sambil memukul permukaan meja hingga menimbulkan bedebam, yang lagi-lagi, membuat mata para pengunjung tertuju pada mereka.

“Sayang, pelankan ucapanmu dan jangan memukul meja seperti itu. Kalau meja ini sampai retak, nanti aku akan diminta ganti rugi.”

Junmyeon ikut-ikut menganggukan kepala seraya meminta maaf kepada para pengunjung. Beberapa pelayan pun menatap mereka dengan pandangan aneh. Salah satu manajer restoran juga terlihat seolah ingin segera mengusir mereka berdua.

Tengkuk yang tidak gatal, digaruk sesekali oleh Junmyeon. Kalau sang isteri sudah merajuk, mau tak mau Junmyeon harus melakukan apapun supaya Joohyun bisa menoleh barang seinci kepadanya.

Pasalnya, sudah hampir lima menit ini, Joohyun bungkam sambil membuang pandang ke jendela yang mengembun. Menyajikan pemandangan lalu-lalang para warga Dublin yang menembus rinai hujan tanpa teduhan payung.

“Joohyun-a, “ panggil Junmyeon, kali ini dengan nada yang sangat lembut sambil menggengam jemari mungil milik Joohyun. “sudah ya, merajuknya. Ayo, dibuang dulu rasa kesalnya. Nanti kalau ingin kesal lagi, baru kauambil kembali. Ya?”

“Tidak lucu.”

Bagus. Ucapan ketus sekarang juga mulai dilontarkan oleh bibir tipis Joohyun. Aroma kayu manis yang menguar dan seporsi fruit pancake terlezat santero Dublin yang tersaji di hadapan sang gadis pun ikut gagal meluluhkan hatinya.

“Baik-baik, aku akan melakukan apa saja supaya kau berhenti merasa kesal kepadaku.”

“Apa saja?” tergelitik, Joohyun menandaskan aksi bungkam lantaran persuasi Junmyeon.

Ia mengangguk.

“Batalkan acaramu untuk memutuskan koneksi internet. Itu yang kuinginkan. Bagaimana?”

Tanpa berpikir lama, sang pria berjengit. Menyetujui permintaan sang isteri. Sejurus kemudian, awan kelabu yang menggelayuti langit wajah bundar Joohyun menghilang. Lekuk berperisa super manis hadir menghiasi bibir tipis Joohyun. Manik yang sedari tadi memicing pun ikut tersenyum.

Setidaknya, wajah berseri Johyun seribu kali lebih baik ketimbang writer-block yang kerap mendera, pikir Junmyeon. Jadi, menuruti keinginan Joohyun meski konyol sekali pun bukan masalah. Benar?

“Nah, begitu. Itu baru namanya Junmyeon-ku. So, what are you waiting for, let’s go!

“Hei, tunggu! Duduklah dengan manis dahulu,” tahan Junmyeon seraya bangkit dari kursi dan memanggil pelayan wanita yang sedari tadi mengamati mereka sambil geleng-geleng kepala.

“Ada apa, Sayang?”

Anu, aku tidak membawa uang kertas jadi makan malam kali ini kau yang bayar, ya!”[]

***

***

Future

Lelah merayapi sebagian punggung dan leher milik Yoojung. Lantaran baru selesai membersihkan sisa minyak radioaktif pada jeram dari anak-anak Amazon seharian bersama dengan Minseok hingga saat matahari kembali ke peraduan. Limbah cair yang mencemari aliran sungai terpanjang se-Amerika Latin pun sudah terlampau banyak hingga Yoojung sendiri tidak yakin apakah kondisi air sudah benar-benar steril setelah dibersihkan olehnya secara mati-matian.

“Yoojung-a, “ seru Minseok di balik masker oksigen sebelum melepas pakaian pelindung radiasi. “apa kaupikir kegiatan yang sudah kita lakukan selama ini sudah benar?”

Sang gadis sontak menjawab dengan gestur tidak mengerti. Menuntut sang kakak agar melanjutkan.

“Maksudku, apa benar hal yang kita lakukan selama ini tidak akan berakhir sia-sia?” lanjutnya. Minseok menunjuk menara berbentuk kerucut dengan tiga kaki yang menopang, di tengah belantara Amazon. “Kalau mereka masih tetap melakukan kegiatan penelitian bodoh yang tidak ada hasilnya dan malah semakin membahayakan bumi, bukankah semua usaha kita akan jadi sia-sia?”

Yang dimaksud mereka oleh Minseok adalah para ilmuwan TRAN; sekumpulan profesor dan para ahli di berbagai bidang yang bertugas untuk menyelamatkan bumi dari anomali yang tidak dapat dipahami oleh manusia berintelektual sekali pun.

“Lalu Kakak ingin melakukan apa? Protes kepada mereka?” Yoojung mengambil Geiger counter yang selalu dijejalkan dalam saku, kemudian mengeluarkan sebatang jarum yang terhubung dengan sistem alat pengukur radiasi dan mencelupkannya ke dalam sungai kecil yang membelah Hutan Amazon. “Kak Minseok tidak lupa ‘kan kalau kita sudah mencobanya, dengan membawa masa hampir separuh penduduk kota plus warga etnis namun mereka tetap bersikap tidak acuh.”

Geiger counter menunjukkan ukuran sekitar 20 mili ronsen per jam. 1.000 mikro ronsen sendiri setara dengan satu mili ronsen dan 1.000 mili ronsen setara dengan 1 ronsen. Jadi, satu ronsen itu 100.000 kali rata-rata radiasi sebuah kota tertentu.

Namun setelah hampir separuh bumi terinfeksi ‘kaki gajah’ mematikan yang tiba-tiba menampakkan kaki di muka bumi setelah seratus abad Tragedi Chernobyl, tingkat ronsen di negara khususnya Eropa meningkat tajam. Satu dosis 500 ronsen dalam waktu 5 jam saja sangat mematikan bagi manusia.

“Memang kau tidak jenuh melakukan bersih-bersih seperti ini? Tidak takut terkena radiasi? Kita tidak bisa mandi dengan cairan kimia setiap hari.” keluh Minseok.

Memang kita harus berbuat hal apa lagi? Yoojung juga mempertanyakan hal tersebut. Sebagai generasi yang lahir di zaman setelah millennium, Yoojung dan Minseok memang menikmati teknologi yang jauh lebih canggih daripada sebelumnya. Sebagai manusia yang tinggal di abad ke 30, hanya mereka yang masih memiliki akal yang terintegrasi dengan intuisi. Dan sebagai makhluk hidup yang ber-nenekmoyang-kan generasi perusak bumi di abad ke 20, Yoojung dan Minseok-lah yang menanggung akibat buruknya. Hingga menyebabkan para generasi lini masa ke-30 tidak bisa menikmati alam sebagaimana mestinya.

”Lalu apa aku harus mengikuti perekrutan TRAN? Kemudian menjadi awak peneliti di sana dan diam-diam mengampanyekan untuk berhenti merusak lingkungan yang sudah bobrok, begitu?” tantang Yoojung dengan kuesioner sarkastik nan retorik.

Minseok menggaruk kepala pelontosnya kemudian berjengit. “Ya, kau memang cerdas dan intelektual, Yoojung-a, tapi tidak harus sampai seperti itu.”

Matahari terbenam lebih awal dari biasanya. Belantara Amazon yang semakin gundul lahan pun menjadi temaram. Jejeran lampu yang mengelilingi markas TRAN bersinar layaknya senter raksasa yang mempertegas teritori mereka sebagai prime building bertirani di Amazon.

Kunang-kunang yang kehilangan tempat tinggal pun keluar dari sarang, menghinggapi punggung Yoojung yang membelakangi Minseok. Cahaya kuning keemasan yang berpendar seolah menyiratkan bahwa hidup kunang-kunang jauh lebih menyenangkan ketimbang manusia di zaman sekarang.

“Para ilmuwan TRAN tidak memiliki nurani. Mereka bertindak tanpa pikiran dan perasaan seorang manusia. Mereka begitu kejam dan dingin. Aku sendiri tidak yakin apa benar mereka itu manusia atau robot. Yang jelas, polah tingkah mereka sudah di luar akal manusia itu sendiri.”

“Kalau sudah seperti itu, apa kita hanya duduk manis dan berdiam diri saja?” kembali, Yoojung melempar pertanyaan retorik kepada sang kakak.

Minseok memilih bungkam.

Gemerisik daun yang tertiup angin mengisi kekosongan di antara keduanya. Setelah sekian lama terdiam, Minseok bangkit dari dahan yang diduduki dan beralih menyapukan bokong di atas rumput. Udara dingin yang meregas sontak membuatnya untuk mengeratkan mafela di sekujur tubuh sang adik.

“Yoojung-a, apa kau masih ingat cerita tentang ayah mengenai awal mula Bumi tercipta?” celetuk Minseok tanpa menoleh ke arah Yoojung.

Bumi sendirian. Dia tidak memiliki teman. Lalu dia mengambil sepotong pusat tubuhnya untuk menciptakan Matahari. Suatu waktu Matahari meninggalkan bumi di pekatnya malam dan Bumi kembali menjadi sendirian. Kemudian Bumi mengambil sepotong sisi tubuhnya dan menciptakan Bulan. Setelah beberapa saat, Bulan pun menghilang dari mata Bumi. Dia berjanji untuk menemani Bumi di malam hari namun janjinya justru berbuntut palsu. Dia hanya menemani selama beberapa saat saja dan terkadang dia lupa sama sekali. Karena Bulan yang lupa pada Bumi, ia pun menjadi sendirian kembali.”

“Selanjutnya, Bumi menghembuskan nafas ke angkasa hingga terciptalah Langit. Langit menyelimuti Bu –”

“Aku tahu kelanjutannya dan sekarang kau bisa berhenti.” potong Yoojung sedikit kasar. Alih-alih justru membuat Minseok mendengus sebal.

Dari tempat mereka bernaung, Galaksi Bimasakti dapat dilihat dengan mata telanjang. Hamparan Pleiades, Orion, trilyunan bintang biru dan planet kerdil bertebaran di gelapnya malam. Membentuk lajur cahaya di langit.

Dengan melihatnya saja, Yoojung merasa bahwa bumi yang mereka tinggali jadi kalah pamor. Apakah Bumi terlihat sebegitu indah jika dilihat dari jarak semilyar tahun? Akankah Bumi terlihat sedemikan mentereng seperti Matahari yang mampu beradiasi sampai ke Neptunus? Yoojung tidak tahu.

“Kau keterlaluan, Kim Yoojung. Susah-susah aku mengingat dan bercerita sementara kau langsung memotong begitu saja.”

Usia mereka terlampau begitu belia namun masalah yang musti dipikul begitu berat. Masalah kerusakan lingkungan yang tidak bisa dibilang sepele. Mengerak bagai jamur yang membandel sehingga terlanjur sulit untuk dihilangkan. Dan mencegah pun sudah sangat terlambat.

“Lagipula, selesai bercerita Kakak pasti akan menyalahkan manusia; produk ciptaan langit saat dia murka pada Bumi. ‘Bumi sudah memberikan pepohonan, air, api, benih-benih tanaman, dan segala isinya kepada manusia. Menciptakan hewan untuk dimakan namun mereka tidak bersyukur dan malah merusak alam. Bumi marah dan bergetar karena amarah.’ manusia yang menyebalkan.”

“Apa kita juga termasuk?”

Sang bungsu tertegun. Tidak ada jawaban yang keluar dari mulut Yoojung setelah itu. Biar Minseok yang menyimpulkan sendiri, pikirnya.

“Kak, saat aku bilang kita tidak bisa duduk manis dan berdiam diri di sini itu sungguhan, lho,” tukasnya “Ayo kita pulang!”[]

.

.

TAMAT


a/n:

setelah membaca berulang kali, simpulan dari fict ini adalah konfliknya kurang terfokus, cerita tidak terlalu padat serta plot yang teramat pasaran dan membingungkan. I’m still leraning anyway so its okay 🙂 masih butuh banyak latihan ya 😀

anyway, maaf kalau ceritanya aneh. Syukur-syukur kalau ada yang baca, huahaha… dan terimakasih!!

Advertisements

Escape your thoughts!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s