[Ficlet] Stomachache

stomachache

a debut-fiction as an author

by xianara

miss A Bae Suzy and INFINITE Kim Myungsoo|| AU, Drama, Friendship, Fluff, School-life, || Ficlet  || General || disclaimer beside the poster and story I own nothing.

A call for a friend, when she is having a stomachache.

.

.

Perut mulas di waktu genting itu tidak keren. Sama sekali.

Malangnya, seorang gadis dengan balutan sweter rajut berwarna biru benhur itu tengah mengalami ketidak-kerenan itu. Yaitu di saat ia sedang dalam garis mati atau bahasa Gwangju-nya deadline, untuk mengedit naskah cerpen teman-teman sekelasnya. Penyakit udik-nya kala ia diterjang udara dingin pun menyapa dirinya. Perut mulas karena masuk angin.

Jemari kanannya yang bertengger di atas keyboard kompi agak lapuknya pun kini beralih memijat perut tidak buncitnya itu. Keringat dingin pun mengucur sehingga membasahi beberapa helai surainya itu.

Ini tidak bisa dibiarkan! Batinnya berseru seperti itu.

Ia sudah bolak-balik ke kamar mandi untuk menandaskan hasrat buang hajatnya selama sepuluh kali. Hanya dalam kurun waktu dua jam. Mengerikan!

Rasa sesal pun menggerayangi bagian terdalam relung hati gadis itu. Ia menyesal karena tidak mengindahkan titah eommanya untuk meminum Immodium. Karena sikap etnosentris si anak yang memandang sebelah mata mulas yang dialaminya, inilah akibatnya. Perut mulas tiada tara.

Tok! Tok! Tok!

Bunyi ketukan teratur pun terdengar. Disusul oleh bunyi decitan lawang yang beradu dengan lantai yang terbuat dari kayu. Menampilkan bocah laki-laki dengan perawakan jangkung yang dibungkus rapi dengan setelan preepy look ala anak sekolahan zaman imperialisme Amerika di Korea. Cengiran masal pun bertengger manis di bibir bocah lelaki itu.

“Kenapa cengar cengir seperti keledai begitu? Cepat bantu aku! Akh!” usut si gadis diakhiri dengan erangan kecil.

Dalam sekejap si bocah lelaki itu menggaibkan cengiran konyolnya. Yang langsung ditukar dengan ekspresi khawatir lengkap dengan sorot mata yang simpatik.

Omo! Sooji-ya! Apa kau sakit?”

Gadis yang diketahui bernama Sooji itu pun mengangguk pilu. Kendati demikian wajahnya mengisyaratkan ia masih baik-baik saja. Ia pun memegang ujung kursi jatinya sebagai tumpuan untuk berdiri.

“Kau tidak usah khawatir. Lebih baik cepat kaududuk di sini. Bantu aku selesaikan tugas ini. Okay?”

“Baiklah, “ ucap Myungsoo dengan nada yang menggantung sambil mengusap tengkuknya.

But are you sure? Kau tidak ingin aku ambilkan Immodium di kotak P3K milik eomma-mu?” tegas bocah itu. Ia pun menghempaskan bokongnya di atas kursi cokelat kehitaman yang didiami Sooji sebelumnya.

Yeah, I’m okay Kim Myungsoo! You don’t have to be worry. Just do it and make it fast. You know that I’m a ‘Cannot Wait’ person right?” cicit Sooji sembari menarik kurva tipis di atas labium mungilnya.

Eo, I know.

Myungsoo mengerti. Ia pun langsung berjengit menghadap layar kompi yang memamerkan deretan laman kerja dalam program pengolahan kata prakarsa Bill Gates tersebut. Kesepuluh jemarinya pun mulai meliuk di atas keyboard hitam itu.

“Gomawo.” tutur Sooji dengan lokusioner dalam fonem yang terdengar pelan.

“Hm. Hanya ‘gomawo’ saja?” gurau Myungsoo.

Sepasang netranya masih setia menekuri setiap baris worksheet di kompi. Namun senyum yang menceruk di bibirnya, mengisyaratkan ia juga menaruh atensi kepada gadis di sebelahnya.

“Aisshh!” desis Sooji sambil menempeleng pelan bagian belakang batok kepala bocah lelaki itu. “Ha! Aku hanya ada id line dan nomor ponsel Joohyun-sunbae tahu.”

That’s it!” seru Myungsoo. Ia pun membalikan badannya ke hadapan Sooji. “Itu lebih dari cukup, kok! Gomawo too!”

Mwohae? Ckckck. Sungguh sial sekali Joohyun-sunbae jikalau dia menjadi kekasihmu nanti.”

He he he.” Myungsoo terkekeh dalam suku kata.

Tetapi, (there’s always a but)

Perasaan sejuk seketika mengambil alih seluruh ruang dalam lubuk hati gadis itu.

Itu semua karena Myungsoo yang nyatanya dengan baik hati mau meringankan pekerjaannya sebagai editor amatiran di kelasnya. Padahal gadis itu juga tahu kalau seorang Kim Myungsoo itu bukan seorang commoner di sekolahnya. Dia adalah wakil ketua OSIS di SMA Gongyeo. Kesibukan bocah itu tentu lebih tinggi beberapa level dibandingkan Sooji.

Waktu akhir pekan yang biasanya dihabiskan dengan bersantai malah ia gunakan untuk mengencani tugas Sooji. Myungsoo yang notabenenya adalah sahabat gadis itu sejak SMP tidak merasa dirugikan sama sekali. Lagipula gadis itu juga tidak terlalu sering meminta bantuan kepadanya. Sungguh tipikal Friend In Need versi masa kinilah.

Ajaibnya rasa mulas dan tergilas yang Sooji rasakan pun berangsur menghilang. Gadis itu kini bisa tersenyum lega. Pun nyeri di perutnya yang digantikan dengan secercah perasaan plong berkepanjangan.

A call for a friend, when she is having a stomachache.

TAMAT

Advertisements

2 comments

Escape your thoughts!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s