DAY3 – Congratulations

day3

The Day-Series

DAY3 – Congratulations

A song-based story with, DAY6 YoungK / Brian Kang and Twice Im Nayeon

| AU!Canon, Friendship, slice of Life, slight!Fluff | teen and up | ficlet, song-fict |

September 2015©

.

Congratulations, how could you be so fine? – Congratulations

.

part of this

.

Brian paling benci bila mendengar kata -untung dari mulut mereka yang mengalami sebuah musibah. Sungguh, tidak ada satu pun hal yang sekiranya termasuk ke dalam hakikat untung di tengah-tengah malapetaka yang sedang menerpa.

“Beruntung kakiku hanya terkilir dan tidak patah.” tukas Nayeon.

Dengan gemas, pria Kang itu memandang gadis yang tengah berbaring di bangsal rumah sakit. Ia tidak bisa melihat kondisi Nayeon yang menurutnya pribadi tidak bisa dikatakan baik-baik saja.

Kaki yang dibebat oleh perban dan wajah sepucat batu granit dengan raut kelelahan cukup membuat Brian ketar-ketir. Memaksanya untuk meninggalkan studio latihan setelah mendapat telepon dri gadis itu sendiri. Meskipun ekspresi ceria yang menghiasi paras oval Nayeon menjelma sebagai penanda kalau ia baik-baik saja.

“Kamu bilang hanya terkilir? Tidak ada yang bisa diuntungkan dari kakimu yang terkilir, Nayeon.”

Brian menarik tirai yang memisahkan antar ranjang yang satu dengan yang lain dalam ruang rawat umum rumahsakit itu, agar menutup. Membiarkan privasi yang mereka punya tetap terjaga. Menutup berbagai celah yang bisa dimanfaatkan oleh media nantinya untuk memutarbalikkan fakta menjadi asal-muasal tuduhan sebelum skandal. Hal kesekian kalinya yang menjadi virus mematikan bagi seorang pekerja seni berlabel idol setelah penguntit.

“Aku masih mampu berjalan, kok. Lagipula aku mesti mengikuti latihan menjelang debut. Tidak tahukah kamu betapa teman-temanku yang lain sangat menantikan momen ini?” ujar Nayeon sedikit kekeuh.

Gelengan tidak percaya meluncur dari kepala Brian. Pria 180 senti itu menggubris pernyataan sang junior yang terkenal memiliki tekad sekuat baja. Tatapan penuh optimisme yang merekah dari obsidian Nayeon sontak melunturkan kekhawatiran yang bersarang pada hati Brian Kang. Gadisnya ini memang gadis yang kelewat tangguh, tidak salah kalau Produser Park memilihnya sebagai leader saat ia mengikuti program survival Mnet Sixteen. Juga masuk sebagai salah satu member grup wanita yang akan memulai debut di bawah agensi yang juga menaunginya, akhir Oktober ini.

“Kamu tidak boleh memaksakan diri. Yang ada nanti justru cederamu semakin parah dan apa kamu yakin kalau nantinya hal tersebut tidak akan menajdi beban bagi teman-temanmu? Kuharap kamu berhenti untuk menjadi egois.”

“Aku tidak egois dan aku tidak ingin menjadi beban bagi Twice!”

Dalam sikap duduknya, Brian termangu. Tidak ingin menanggapi ledakan gadis yang hatinya agak tercucuh mengenai egoisme yang disinggungnya. Letak topi baseball yang membungkis surai blonde yang hampir menutupi seluruh dahi, pun hanya dibenarkan letaknya oleh Brian.

“Im Nayeon, dengar ya, “ pinta Brian sambil memajukan tubuh ke arah sang pemudi, “aku mengerti kalau debut ini adalah hal yang sangat berharga bagimu dan Twice. Tetapi, kesehatanmu adalah yang terutama untuk saat ini, untukku pun begitu.”

“Aku tahu tapi – “

“ – tapi kamu tidak mengerti. Buktinya, kamu malah memaksakan kondisimu yang nantinya akan berujung sangat fatal, Nayeon-a.”

Bagi seorang trainee yang sudah menjalani masa pelatihan selama bertahun-tahun, debut adalah buah dari penantian mereka. Jawaban atas doa mereka. Hasil manis dari keringat serta luka yang mesti mereka tahan selama pelatihan yang tidak hanya menguras tenaga namun juga emosi. Debut adalah harga mahal dari pengorbanan yang mereka berikan; waktu, usaha, bahkan sampai keluarga sekalipun.

Brian tahu betul hal-hal tersebut karena untuk mencapai kata debut, ia juga berangkat dari masa-masa sebagai trainee.

Namun bagi seorang trainee yang mengalami cedera saat latihan intensif menjelang debut, adalah hal yang lebih menakutkan ketimbang gagal debut. Terlebih saat mengetahui kalau sahabatnya, Im Nayeon, yang mesti mengalami hal yang tidak beruntung itu.

Detik-detik yang terbuang dalam hening dimanfaatkan oleh Nayeon sebagai masa untuk berkelana di dalam pikiran terdalamnya. Perkataan Brian tidak ada yang salah, sepenuhnya benar. Ia yang bersikap keras kepala seperti ini malah akan menjadi penghalang bagi Twice nantinya.

“Maafkan aku.”

“Nayeon-a, “ Telapak tangan pucat Nayeon yang memerah diusap dengan lembut oleh Brian. Matanya yang cokelat mengunci sepasang bola mata legam milik Nayeon yang balas mengamatinya. “ini bukan gayaku, mengucapkan selamat di atas penderitaan orang lain, tetapi selamat kamu bisa bertahan sampai saat ini.”

“Brian, “

“Tadinya kupikir tidak ada yang bisa disyukuri dari adanya sebuah musibah. Namun semuanya tiba-tiba berubah. Kamu tahu? Dengan melihatmu yang mampu tersenyum di atas lukamu, aku sadar bahwa dalam keadaan apapun, kita patut bersyukur.”

Ucapan barusan dari sahabat yang usianya di atas tiga tahun darinya, menjadi titik balik yang makin mengukuhkan tekad yang dipupuk dengan usaha dan kerja keras dalam diri seorang Im Nayeon. Hatinya pun berdesir karena penguatan yang disalurkan oleh Brian untuknya. Menyusul genggaman pada jemari pucatnya, Nayeon pun menerima sebuah dekapan sahabat yang selalu menghangatkan tiap inci dari hati kecilnya.[]

Advertisements

2 comments

Escape your thoughts!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s