DAY4 – Habbit

day4

The Day-Series

DAY4 – Habbit

A song-based story with DAY6 Im Junhyeok and OC Kwon Misun and slight appearance from 2PM Lee Junho

AU!Crime, little bit Hurt/Comfort, Romance, slice of Life, slight!Angst | general | vignette, song-fict |

October 2015©

.

I guess this is what breaking up is
As if nothing happened
I’m getting used to being alone again –
Habbit.

.

part of this

.

Empat pekan sudah Misun meninggalkanku dan aku tidak bisa lepas dari hal-hal yang tanpa sadar kulakukan hanya ketika bersamanya.

Awalnya aku tidak menyadarinya. Semuanya berjalan secara alamiah. Seperti kami yang selalu bersama menyusuri jalan sehabis pulang kuliah. Aku yang secara sengaja menyelipkan tangan ke dalam kantong dengan jemari kami yang saling terjalin dengan erat. Ekspresi malu-malu yang sering Misun tampilkan secara gamblang melalui ekspresi wajahnya.

Setiap hari aku selalu memiliki Misun di sisiku namun sekarang tidak lagi. Klise dan picisan bisa kalian sematkan pada nama di belakang Im Junhyeok. Kalian boleh menilaiku sebagai pria lemah yang tidak punya kekuatan untuk bangkit. Namun jika kalian mengalami hal yang juga kualami, apa kalian tidak akan berpolah seperti diriku?

“Misun-a, boleh pinjam tanganmu?”

“Untuk apa?”

“Ulurkan saja tanganmu dulu, nanti baru kuberi tahu.”

Misun lantas tidak serta merta mengulurkan jemari mungilnya. Obsidian miliknya yang dihiasi kacamata silinder berbingkai mengamatiku lurus-lurus. Aku tersenyum singkat, meyakininya secara non verbal kalau aku tidak akan berpolah yang macam-macam.

“Jujur saja, akhir-akhir ini kamu terlihat mencurigakan, Junhyeok. Kamu sering mengabaikanku, ketika kita sedang berjalan bersama, kamu juga tidak terlalu sering menggenggam jemariku. Apa kamu menyadarinya?”

Setelah beberapa waktu aku menjalin kasih dengan Misun, ini adalah celotehan paling panjang yang pernah Misun lontarkan. Misun terkenal sebagai gadis yang irit berbicara dan minim reaksi namun mendapatinya yang seperti tadi tentu membuatku agak tersentak. Sedikit, perkataan gadis itu benar. aku memang sedikit mengabaikannya namun bukan berarti aku sudah bosan dengannya. Demi Tuhan, bukan itu maksudku.

“Ya, aku menyadarinya.” jawabku tanpa berpikir panjang.

Gadis bersurai panjang yang senang diikat satu itu lantas termangu. Sengaja aku memberikannya balasan yang singkat dan cenderung tidak jelas. Ungkapan yang tercetak di atas wajah Misun secara implisit selanjutnya adalah kebimbangan. Ya, wajar saja kalau dia merasa bimbang akan sikap ganjilku yang bertendensi sebagai gejala-gejala ingin putus darinya. Tapi, sungguh Demi Tuhan, aku tidak ada sebersit niat untuk berpisah dari Misun.

Kupikir waktu bermain-mainnya sudah cukup. Ekspresi mendung yang tak terucap dari gadis itu, aku tidak bisa menahannya terlalu lama.

Di bawah lindungan dahan pohon ceri yang tertanam di pelataran taman kota dekat Sungai Han, aku akan mengukir sejarah. Im Junhyeok akan melamar Kwon Misun, di sini.

Aku menggelung tangan kanan Misun di atas dadaku kemudian membawanya ke atas kecupanku. Diperlakukan secara tiba-tiba olehku, terlebih di depan umum, sontak membuat Misun jadi agak salah tingkah dan kikuk. Wajahnya saja sudah memerah seperti kulit apel Washington D.C. di supermarket.

“Jun, a-apa yang sedang kamu lakukan, sih?” tanya Misun dengan tergagap.

“Boleh ‘kan aku meminjam tanganmu? Sebentar saja.” pintaku, menggubris kuesionernya.

Aku mengulurkan jemari kananku yang kosong di atas paras cantiknya. Pipinya yang bersemu merah kuusap perlahan. Sebuah cincin perak berdesain sederhana dengan satu permata di tengahnya tahu-tahu mengisi lingkar jari manisku. Senyum Misun pun merekah bak buah persik yang siap panen.

Tanpa ragu sedikit pun, aku menempatkan cincin itu pada jari manis Misun. Matanya kutatap lebih dalam. Kusalurkan segala ketegasanku, ketulusanku, kekuatanku untuk meyakinkan Misun bahwa aku memang serius.

“Kwon Misun, sudikah dirimu menghabiskan sisa hidupmu bersama diriku?”

Bak menjelma asap, kenangan bersama Misun menyesakkan saluran pernapasanku. Begitu banyak hal yang telah kami lalui bersama-sama hingga rasanya sangat tidak mungkin bagiku untuk menjadi aktual terhadap fakta yang menampar wajahku; presensi Misun yang kabur dariku. Meskipun begitu, anehnya tubuhku masih bereaksi seakan Misun masih berada di sisiku. Memaksaku untuk selalu merogoh saku celanaku. Memastikan kalau cincin lamaran itu tidak akan lari ke mana-mana.

Berkas laporan perkara kasus suap komisi 4 harus sudah berada di mejaku pukul dua siang, nanti. Satu lagi, jangan sampai telat menghadiri konferensi pers sore ini. – Pimpinan Seo.

Memo dari ketua tim tiba-tiba menyeretku kembali pada sebuah realita yang mesti kujalani. Ruang kerja tak bersekat yang menampung kehadiranku sekonyong-konyong nampak sepi. Semua rekan kerjaku ternyata sudah memanfaatkan waktu makan siang yang sudah berjalan selama sepuluh menit ke belakang.

Sial. Di saat seperti ini aku masih sempat membuang waktu dengan memikirkan gadis itu. Pikiranku macam anak remaja labil saja, terlampau mudah dibawa oleh perasaan. Kesadaranku sebagai pria berusia 25 tahun yang bekerja sebagai staf komisi pemberantasan korupsi di negeri ini masih saja tertuju kepada oknum intelijen bernama Kwon Misun yang nyatanya sudah kukenal semenjak masa kuliah.

“Oh, kamu masih berada di sini? Tidak istirahat?”

Itu suara Lee Junho, rekan sesama penyidik di komisi. Dia menghampiri meja di sebelah punyaku, mengambil satu botol minum yang kuyakini berisi sari buah, buatan istrinya. Matanya yang segaris pun memandangiku sekilas.

“Aku masih harus merapikan laporan ini sebelum kuberikan kepada pimpinan.” tukasku, dengan mata yang menyucuh sejenak layar kompi yang menampilkan laman kerja pengolah kata berisi data-data penting terkait kasus suap yang terjadi di dewan perwakilan rakyat Korea.

“Kamu sudah bekerja sangat keras, Junhyeok-a. Segeralah selesaikan pekerjaanmu, aku tahu ini juga membebanimu. Aku bisa maklum.”

“Terimakasih, Hyeong.”

Junho menjengit sebelum segera mencecar langkah keluar dari ruangan kerja. Sebelum itu, dia tiba-tiba berbalik dan terlihat akan mengatakan sesuatu.

“Aku hanya ingin mengatakan ini saja tapi aku tidak tahu apa kamu ingin mengetahuinya. Entahlah. Tetapi aku melihat Misun di pintu masuk tadi saat aku kembali ke sini. Pengawalan yang diberikan kepadanya cukup ketat, jadi kurasa para media dan beberapa aktivis tidak ada yang bisa menyentuhnya.”

Terenyak aku di tempat. Namun kucoba untuk mengatur ekspresiku agar tetap tenang, mengelabui seniorku dengan raut yang tidak menunjukkan ekspresi apapun.

“Benarkah? Para tersangka yang memasuki gedung ini ‘kan memang selalu diberikan pengawalan.” pungkasku.

“Junhyeok-a, “ panggil Junho kemudian maju selangkah ke arahku. “maaf bukannya aku lancang hanya saja aku ingin mengingatkan kalau hari ini adalah kesempatan terakhir. Besok dia akan diberangkatkan untuk ditempatkan di lapas provinsi Gyeongsangnam.”

Aku tahu itu benar. Laman kerja pada komputer kututup dengan menekan simbol x di ujung kanan layar sebelum datanya kusimpan terlebih dahulu. Aku berdiri menyusul Junho. Kemudian menunduk dengan santun di depannya.

“Semuanya sudah berjalan sebagaimana mestinya. Aku sudah mengerjakan tugasku dengan baik jadi kurasa hal ini bukan masalah bagi kita atau diriku ‘kan. Lagipula, aku tidak punya perasaan apa-apa kepadanya, Hyeong. Aku serius.”

“Im Junhyeok, – “

“Makan apa kita siang kali ini, Hyeong?”

“Donkatsu, yya, dengar – “

Call! Ayo lekas kembali ke kantin sebelum kehabisan!”

Aku ini profesional. Tugasku adalah mengeruk segala data rahasia dan penting dari para saksi ataupun terdakwa kasus korupsi sekali pun. Aku bekerja tanpa pandang bulu. Lagipula ini juga bukanlah kebiasaanku. Membiarkan diri terlarut di dalam ketidakpastian. Kupikir aku memang mengalami patah hati namun semuanya malah terasa seakan tidak terjadi apa-apa. Seolah-olah aku semakin terbiasa untuk menjadi sendiri lagi.[]

Advertisements

One comment

Escape your thoughts!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s