[Final] DAY6 – Colors

day6

The Day-Series

FINAL EDITION

DAY6 – Colors

A song-based story with DAY6 Yoon Dowoon and OC Fed

AU!Childhood, Fluff, Friendship, Hurt/Comfort, Romance, slight!Europa Background Historical | vignette, song-fict | PG 13

October, 2015©

.

But your touch is like the sweet rain
It colors my heart
– Colors

.

part of this

Pertama kali aku melihatnya, aku kira Dowoon itu seorang tunarungu.

Saat itu, di siang yang teriknya melebihi neraka yang bocor (anggap saja aku tahu seperti apa neraka itu dari Bapa yang sering menceramahiku), dari arah utara muncul sebuah bendi dengan kecepatan bak joki kuda di pacuan; melaju dengan kesetanan. Seorang Yoon Dowoon, entah dia bodoh atau memang tuli superior; aku berteriak kepadanya, menyuruh agar ia cepat menyingkir dari tengah jalan. Geming yang malah kutangkap. Dia masih di sana; berpolah layaknya orang-orangan sawah yang kedua lengannya terbang di bawa angin.

Beberapa puluh meter menjelang kepala kuda menyeruduk bokong Yoon Dowoon, aku semakin gemas. Seikat bunga dandelion yang mesti aku antar ke toko Madam Amalia terpaksa kuletakkan secara sembarangan. Menyokongkan alas kasut lusuh yang setia kukenakan menuju tengah jalan raya.

Orang-orang yang melihat bertingkah masa bodoh. Egoisme yang dibawa nenek moyang mereka begitu memuakkan. Bahkan empati pun mereka tidak punya.

Lengan pemuda Yoon itu segera kutarik hingga kami berdua benar-benar menepi di pinggir jalan. Beberapa detik kemudian, bendi berisi hasil bumi itu melintasi kami. Rasa-rasanya seperti ada mesin rangkaian Jerman yang dipasang di keempat kaki hewan mamalia terangkuh itu. Sang kusir yang merasa geram pun mengumpat dengan bahasa Belanda kepada Dowoon dan aku.

Belakangan kuketahui kalau pemuda bertampang pongah dengan sepasang mata yang selalu terlihat mengantuk itu bernama Yoon Dowoon. Tentu saja dari nemteg jumbo yang dia kalungkan.

Aku berpikir kalau pertemuan pertamaku dengan Dowoon itu seperti adegan konyol pada roman karangan Jean Marais yang sering kucuri-curi baca di kios buku Meg.

Lagi, belakangan kuketahui kalau Dowoon dapat mendengar dengan baik. Tidak, dia bukanlah seorang tunarungu. Sayangnya, pemuda yang lebih tua beberapa bulan dariku adalah seorang penderita tunanetra.

Aku mendengarnya sendiri dari mulut ikan koi Dowoon. Di pertengahan masa saat aku sedang menyiangi ladang perkebunan bunga milik Tuan Rod, dia bercerita sendiri mengenai kehidupannya. Dia berkeluhkesah kepadaku. Dengan bebas dan santai, ia mengeluarkan segala unek-unek yang terpaksa ia pendam seorang diri semenjak menjadi yatim-piatu.

“Sejak lahir, aku tidak bisa melihat. Warna monokrom apa itu, aku tidak tahu. Matahari itu seperti apa, aku tidak tahu. Noktah pun aku tidak lihat. Rasanya seperti tinggal di dalam gua yang gelap gulita.”

Sebagai pendengar yang baik–aku sedang mengusahakannya–aku memilih menyimak dalam diam. Sesekali menanggapi curahan hati Dowoon.

“Segala cara untuk menyerah sudah kulakukan. Namun sialnya, semua tak  ada yang berhasil. Aku selalu gagal menyerah, Fed. Konyol sekali bukan. Bahkan kegagalan dan bangsanya pun tidak sudi menerimaku.”

“Aku tahu ini sangat sulit bagimu tapi kalau begitu terus, berhenti menyerah saja.” Lambat aku mengucapkannya, dengan nada hati-hati pula. Aku takut menyinggungnya.

“Kamu benar, Fed. Tetapi bagaimana ya? Aku sudah lupa cara untuk tidak menyerah; setiap hari aku terlalu banyak pasrah, menyerahkan diri pada hidupku yang penuh nestapa begini. Sakit memang, lelah sangat. Tidak bisa melihat, tidak punya teman. Tunawisma yang ogah ditanggung oleh negeri. Ah nasibku.”

Aku biarkan Dowoon meracau. Supaya lega hatinya kalau sudah begitu, pikirku. Biar dia berceracau sampai puas. Aku, meskipun baru sekelebat kenal dengannya, entah mengapa hatiku ini terikat dengan setiap kisah Yoon Dowoon. Maksudku, aku bisa merasakan apa yang dia rasakan.

“Dowoon, dengar ya.” Rangkain mawar kuning yang siap panen kutempatkan di dalam keranjang dengan hati-hati. Mataku kemudian mengunci paras pemuda yang lebih mulus dariku itu. Iri aku melihatnya. “Sekarang coba kaukatakan kepadaku; apa yang kaurasakan, saat ini?”

“Saat ini?”

“Ya, pada momen yang telah kaujalani. Sekarang.”

“Hm, aku merasa baik. Denganmu, aku merasa baik dan tenang. Ada apa, Fed?”

“Apa kau benar tidak merasakan ketakutanmu itu?”

“Jujur, tidak sih.”

“Nah!”

Dowoon terperanjat gara-gara aku berseru kelewat nyaring. Nyaris memecahkan gendang telinganya mungkin.

“Itu artinya kau pelan-pelan mulai lepas dari ketakutanmu. Kau tidak menyerah. Perlahan tapi pasti, hatimu itu bangkit. Mengumpulkan kepingan keberanian untukmu. Dowoon, jika ketakutan yang selama ini kautakutkan berhenti menggetarkan hatimu; kau sudah menang, Dowoon!”

“Maksudmu, Fed?”

Aku menggengam jemari Dowoon yang besar-besar. Kemudian meremasnya.

“Kau memiliki aku sebagai temanmu, mulai sekarang hingga nanti. Kau jangan pernah takut untuk kesepian. Juga takut ataupun benci akan dirimu sendiri. Melihat ‘kan bukan hanya pakai mata. Mulai sekarang, gunakan hatimu untuk melihat segalanya.”

Uh, kata-kataku sudah seperti yang terpelajar. Sedikit tidak percaya, luapan sugesti ternyata mampu kuberikan kepada Yoon Dowoon. Pemuda yang tiba-tiba menjadi pelakon di dalam hidup seorang Fed.

Dowoon tersipu; kedua pipi gembilnya merona mirip daging delima. Ia kemudian balas meremas lenganku. Ia pun menuntun jemarinya menuju puncak kepalaku. Usapannya kentara mengusak puncak surai pirangku yang jarang kukeramas.

“Fed, te-ri-ma-ka-sih.”

Aku mengangguk. Meski kutahu Dowoon takkan melihatnya, aku tersenyum bak Ratu negeri ini yang baru dilantik pekan lalu.

“Uluran tanganmu kepadaku adalah penuntun terbaik setelah firman Tuhan pada al-kitab. Terimakasih atas uluran tanganmu, Fed. Terimakasih sudah menyelamatkanku. Kuharap, suatu saat nanti aku bisa gantian yang begitu kepadamu.”

Lupakan saja. Apa dia pikir dia punya belasan ribu kantung gulden untuk memindahkan kornea apa? Aku tahu, karena para dokter di kota yang kembali dari Cordoba menggembar-gemborkan ilmu yang mereka peroleh. Ilmu pembedahan dari Avicena, pamer mereka.

.

***

.

Yoon Dowoon pula, kupikir ia akan melupakanku segera ia tiba di kota penuh cahaya di selatan Eropa barat sana. Kakeknya adalah Tuan Rod, ternyata. Dia pun dikirim ke sana untuk berguru. Sebelumnya ia menolak untuk dikirim ke Kalkuta karena pada saat itu kolera sedang mewabah di sana.

Pada dasawarsa yang sudah tak mampu kuingat lagi, awan senja dengan semburat violet menghiasi langit kota yang sudah kutinggali semenjak aku dikandung hayat. Suasana tidak begitu sama kala aku menyelamatkan Yoon Dowoon dari terjangan bendi.

Sedikit banyak, bermunculan lokomotif tanpa tarikan kuda atau lembu. Rumah modis perlahan menggantikan kios rempah-rempah yang dikelola oleh pemerintah dahulu. Virus modern entah yang dari mana awalnya berasal, merebak dengan cepat. Seketika membuat aku yang tidak terpelajar matikutu.

Tidak kuharapkan Yoon Dowoon kembali ke kota ini. Demikian pula dengan impian dan perasaanku yang berkembang jadi tak karuan. Yoon Dowoon, bocah itu apa kabarnya memang?

Langkah dari kasut kulit lembu kualitas Napoli kian mendekatiku. Kumatikan indera penglihatanku. Fokusnya kualihkan pada derap yang tanpa kusadari sudah kuhapal secara alamiah. Aku tahu siapa pemilik derap yang dulunya terseok ini. Meskipun sekarang tergantikan menjadi langkah penuh kepastiaan.

“Warnamu yang mengisi kehidupan hitam-putihku pada akhirnya selalu menuntunku kembali untukmu. Warnamu tidak mewaktu; berhasil membangkitkanku dari keterpurukan. Izinkan aku untuk memelukmu, aku merindukanmu, Fed.”

Sengaja aku tidak menoleh. Vois baritone dari Yoon Dowoon seperti bisikan elegi. Ilusi di siang bolong ini namanya. Seiring dengan kebungkaman, dekapan lengan kekar Dowoon mengukuhkanku dari belakang. Hembusan karbondioksida Yoon Dowoon menjelma hantu yang membuat bulu kuduk di leherku berdiri.

“Fed, tak bisakah kau berbicara sepatah kata? Jangan diam saja.”

“Ini benar atau ilusi? Yoon Dowoon?”

“Kamu cantik, Fed. Hatimu sungguh cantik. Aku bisa melihatnya,” balasnya. Abai terhadap ilusi yang kurasakan.

Berbalik badan kemudian aku meletakkan kedua tanganku di atas dada Dowoon. Dia memakai jas berwarna putih dari atas ke bawah. Kuamati parasnya. Puji Tuhan, yang membawaku pada pusat kehangatannya ini memang benar Yoon Dowoon; pemuda berwajah oval dengan rahang yang tegas; hidung bangir; mata sayu yang kini lebih terlihat ceria; dan senyuman bak dewa.

Berani, dia mengecup pipiku. Aku terkejut. Airmata yang tidak bisa kukontrol, luruh dengan sendirinya. Terlalu bahagia hatiku. Akhirnya, setelah penantian tak berharap yang diam-diam kulakukan, jutaan doa yang selalu kupanjatkan beserta nama Yoon Dowoon, dan ribuan meter kubik rasa terbelengu rindu yang kutahan untuknya kali ini terlunasi sudah.

Biarkan saja seperti ini, aku tidak ingin mencecar hatiku sendiri. Tentang Yoon Dowoon.

.

.

TAMAT

A/N:

alhamdulillah, akhirnya bisa kelar juga series day6 ini-meski harus molor juga, huhuhu. thank you for supporting this series and see u in the next project 😀

Advertisements

Escape your thoughts!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s