[Ori-fict] Man’s Problem Nowadays

man

November 2015©

an original fiction by xianara

.

.

.

Aroma espresso yang berpendar melalui pendingin udara mampir sebentar di penghidu milik Angin. Ia menengok ke sampingnya. Kemudian secarik senyuman berperisa cokelat pahit Belgia hinggap di atas bibirnya. Kepada seorang gadis bersurai cokelat brunette semi panjang yang sedang mematukkan jemarinya pada keyboard laptop, Angin mematri pandangan. Lelaki itu pun lekas mencibir karena kembali kalah tampan dengan ultrabook keluaran HP di atas meja kayu kafe ini.

Setengah jam lagi menuju pukul dua siang. Itu pun menandakan 3600 detik sudah terlewat dengan Angin yang menjelma sebagai patung kucing di toko-toko emas milik engkoh dan cici di Glodok.

“Tau gini mah mending ngga usah jalan. Di rumah aja main sama Redo udah hepi.” Angin berceracau dengan nada yang dibuat sesantai mungkin, menyebutkan nama kucing anggora Persia miliknya.

 Sebanyak mungkin ia pun berharap agar Arin, gadis mungil di sampinya, mau berhenti mengedit naskah non fiksi-oleh-oleh dari kepala editor di tempat kerja, katanya– barang lima menit saja.

Gubrisan berbentuk keluhan dari pria di sebelahnya, tidak diindahkan oleh Arin. Sepasang netra yang dilindungi oleh kacamata minus dengan frame berwarna biru donker transparan itu terus saja menilik naskah buku pelajaran SD yang kini menjadi momongan-nya sebagai salah satu anggota tim penyunting di suatu penerbitan ternama Jakarta.

“Bisa ngga sih, kerjaan kamu ditinggal di kantor? Ini weekend lho, Rin. Waktu di mana kita mestinya spending a quality time together.

Tidak tahan dengan pemberian abai kekasihnya, Angin jadi ambek. Sampai-sampai lelaki yang masih memiliki darah bangsawan Turki dari garis keturunan neneknya itu pun menyerah dengan berkata seperti itu.

Cewek penyuka nachos itu pun tiba-tiba menghentikan kegiatan menyuntingnya. Kemudian ia pun mengunci matanya kepada Angin yang menunduk dalam dan sibuk dengan Samsung Galaxy 6S yang sudah retak LCD-nya.

Agak rancu memang, menurut Angin. Kekasihnya itu profesional tapi kelewat profesional mendekati fanatik. Di tengah deadline menyunting naskah, Arin masih sudi untuk menghabiskan akhir pekan bersama dengan Angin. Meskipun itu cuma mampir di Coffee War dengan nasib Angin yang seperti angin duduk; mampir sebentar tanpa disadari kehadirannya.

Di satu sisi, rasa ego seorang pria milik Angin menekan kuat-kuat kealpaan yang telah ia perbuat. Sebagai seorang pria, Angin terlalu banyak menuntut. Arin harus ini dan harus itu. Arin mestinya ngga boleh berbuat begitu dan begini. Sementara, di balik semua tuntutan ia kepada Arin, gadis itu justru tidak pernah menuntut apa pun dari pria penyuka makanan kepiting asam manis itu.

Yang paling buruk, ya sekarang ini. Di tengah kesibukan seorang tenaga penyunting seperti Arin, masih sempat-sempatnya pula Angin meminta jatah perhatian yang seharusnya dicurahkan oleh gadis itu pada naskah yang menjadi ladang rupiah bagi Arin untuk saat ini.

“Maaf ya kamu jadi aku diemin gini.”Arin mencetus sambil mengusap pergelangan tangan Angin yang dua kali lebih besar daripada tangannya. “tapi aku udah deket deadline dan kamu tahu sendiri ‘kan kalau kepala editorku galaknya udah kaya tukang jagal.”

Angin membisu. Untuk ukuran laki-laki yang tergerus sebuah virus kekinian; bawa perasaan; Angin terlalu individualis dan cenderung egois terhadap hubungan yang telah mereka bina sejak awal pacaran tanpa acara putus nyambung di awal Semester 3, waktu mereka masih menjadi mahasiswa.

Lengan kurus yang membelai jemarinya, Angin genggam dengan erat. Pria itu kemudian membawa kedua jemari Arin ke dalam kecupan. Tidak peduli dengan reaksi pelayan kafe yang curi-curi pandang ke arah mereka berdua.

“Maaf. That’s what I have supposed to say to you, first. Maaf karena aku terlalu egois.”

Perkataan yang barusan meluncur dari bibir Angin membiaskan sederet tawa kecil pada bibir Arin. Gadis itu pun lekas memukul pelan bahu bidang kekasihnya itu. Kemudian dengan nada bercanda namun terdengar serius bagi Angin, ia pun berkata:

“Nyesel ya pacaran sama aku yang kerja jadi budak deadline naskah gini?”

“Daripada nyesel aku lebih bersyukur karena aku punya kamu yang bisa dan mau nerima aku yang kurang dari apa adanya. You make me complete, indeed.”

Lagi-lagi, Arin tertawa lepas sembari mencubit hidung milik Angin. Dibanding merasa seperti terbang ke langit ketujuh, Arin pikir cairan asam lambung di dalam lambungnya itu meningkat. Angin itu payah banget kalau menggombal. Dan selain cowok baper, Angin itu ambekan. Arin sungguh menyadari dan memahami semuanya. Namun di balik itu semua, sejenak beban pekerjaan yang sudah menemplok di punggung Arin selama kurang lebih sebulan ini terangkat.

“Aduh, kamu abis makan apaan sih? Kata-katamu itu kok kaya fuyunghai ngga diangetin. Asem tahu, ngga.” ringis Arin dengan nada jenaka.

“Ya kalau udah ngga bisa diangetin, bikin baru aja lagi.” tukas Angin cepat.

“Ngomongin soal fuyunghai aku jadi laper.”

‘Puk!’

Pria itu pun menutup paksa layar laptop milik Arin. Kemudian memasukkan sabak digital persegi tersebut ke dalam rumahnya. Angin tidak peduli dengan keheranan dan sedikit raa kesal yang ditawarkan oleh wajah Arin. Karena pada akhirnya, sebuah senyuman yang menjadi episentrum kekuatan Angin selama ini nyata terlukis di atas wajah gadisnya itu.

“Kerjanya bisa dilanjut lagi nanti. Fuyunghai dari warung seafood langganan kita udah manggil-manggil tuh. Yuk, ke sana!”[]

Advertisements

4 comments

  1. Ini mirip2 sama ff kamu yg sweet talk, bedanya yg ini pekerjaan si arin lebih umum hihihihi
    Dan yeahh ini si angin yang rada2 spoiled jadi angin segar buat aku yg lagi suntuk hari ini,nice lah pokoke

    Like

  2. Tadi udah baca beberapa fic kakak dan aku cuma komen di sini. ((Maaf ya kak)) Dan sama kayak opini aku ttg fiksi kakak yg udah kubaca sebelumnya, gils keren banget! Ini tuh rapi, gak berbelit, pun diksinya awesome ((bahasa lu plis)) Aku ga bisa komen apa lagi sekaligus keren kak sumpah deh udah berasa baca cerpen terjemahan(?) Anw salam kenal 😊

    Liked by 1 person

    1. hehe, ngga apa-apa, santai ajaa 🙂
      pliss, reaksi kamu berlebihan terhadap ficts2-ku yang abal-abal semuaa T_T ahhhh, i cant. (pliss, cerpen terjemahaan 😀 )
      but makasih sudah sempetin mampir dan berkomentar^^
      salam kenal jugaa

      Like

Escape your thoughts!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s