[IF’s Side Story] Impression

IM

from Indiscreetly, Fondly‘s story:

Impression

.

.

Sepulang acara bedah buku kemarin, Oh Sehun menyesal sudah mengikuti ajakan teman-teman penulisnya untuk mampir sebentar ke kedai makgeoli-1 di sebuah sudut Myeongdong. Rasanya pun sangat tidak sopan apabila ia menolak ajakan minuman dari penulis senior di sana. Alhasil, sehabis bangun tidur tadi pagi, kepalanya pun terasa dipukuli godam besar berkali-kali.

Oleh sebab itu untuk ukuran lambung yang hanya bisa menampung cairan soda dari cola, Sehun bertahan mati-matian menahan rasa mual yang menjadi-jadi saat minuman alkohol yang terbuat dari beras itu mengalir dalam tenggorokan. Mendadak ia pun merutuki kebodohannya yang tidak mampu meminum setenggak alkohol.

Sebotol Bacchus-2 yang barusan ia beli di minimarket tadi pun sudah habis isinya. Sensasi hangover setelah meminum minuman itu pun berangsur menghilang.

Bukan hanya gara-gara mabuk berat yang membuat kepala Sehun mendadak rasanya pusing tujuh keliling. Pasalnya pada kisaran pukul tujuh pagi tadi, seseorang tanpa henti memborbardir ponselnya. Dan orang yang berani berbuat seperti itu, tidak peduli dengan situasi dan kondisi apapun, tentu hanyalah editor novel yang sudah bekerja dengannya selama empat tahun.

Ketika suara serak yang hampir tidak ada bunyinya itu menjemput panggilan si editor, Sehun pun segera terlonjak dari ranjang dengan kedua matanya yang memerah. Sepintas ia tidak dapat berkata apa-apa. Dan tanpa berpikir pula, ia mengiakan ajakan yang disuarakan oleh orang di seberang telepon itu.

 “Baiklah, kita bisa bertemu di Dunkin’s Donnut dekat Universitas Hongik pukul sepuluh pagi.”

.

.

.

Dalam perjalanan menuju mobil yang terpakir di pinggir jalan, Sehun yang sudah tersadar 100% kembali memikirkan keputusannya kali ini.

Empat tahun sudah ia melanglang buana sebagai seorang penulis. Dalam kurun waktu segitu, tiga novel berstatus mega best-seller telah tersebar luas di sudut-sudut toko buku berkat bantuan penerbit yang menjadi platform debut-nya sebagai penulis; Penerbit Seungri.

Pada masa debut, ia mendapatkan seorang penyunting yang pada masa itu masih magang. Awalnya ia pun tidak memusingkan status dari penyunting yang akan bekerja dengannya. Akan tetapi, seiring dengan berjalannya waktu, Sehun pun dibuat terkesima oleh etos kerja penyunting yang diketahui sepantaran dengannya; baru tamat kuliah pada tahun itu.

Argumen antar penyunting dengan penulis tentu sudah lumrah. Namun sebagai orang yang biasanya menjadi dominan dalam kelas debat waktu menjadi mahasiswa dulu, Sehun mendadak dibuat tidak berkutik. Pernah suatu ketika, sang penyunting menyarankan untuk menghapus satu bab dalam novelnya kemudian ia pun mendiskusikan hal tersebut dengan Sehun melalui telepon ataupun chat.

Sebagai penulis, wajar saja kalau Sehun merasa tidak enak hati dengan keputusan yang coba diambil oleh penyuntingnya. Maka pada malam musim semi di tahun 2013 –Sehun masih ingat betul kapan itu, ternyata –terjadi perdebatan hebat di antara keduanya. Baik melalui sambungan telepon ataupun chat room yang biasa dipakai oleh mereka berdua.

Sang penyunting yang nyatanya lebih ‘batu’ daripada Sehun tetap pada keputusannya untuk menghilangkan satu bab yang bersangkutan. Dengan berbagai alasan yang ia ungkapkan beserta rinciannya, Sehun tetap tidak menerima.

Pada saat itu, Sehun merasa kalau penyunting yang ternyata adalah seorang wanita ini terlalu semena-mena kepadanya. Menulis satu bab tentu bukan hal yang mudah bagi sekaliber penulis yang sudah terkenal sekalipun. Dan kini, dia ingin menghapus satu bab dari novel keduanya –namun pada akhirnya, novel tersebut tetap dirilis dengan satu bab yang dihilangkan pada musim gugur 2013 –tentu hal itu tidak dapat diterima oleh ego seorang Oh Sehun.

Dua malam rasanya menjadi masa pertempuran terlama bagi keduanya. Meski perdebatan itu sangat alot seperti daging steak yang dimasak raw, pada akhirnya superego dan ego Oh Sehun tunduk pada id dari penyuntingnya.

“Bukannya saya tidak menghargai karya Anda sebagai seorang penulis. Saya hanya menjalankan kewajiban saya sebagai seorang penyunting. Tidak bermaksud untuk menyalahi kehendak Anda sebagai pemegang hak cipta di sini, hanya saja bisakah Anda tidak bersikap egois seperti sekarang?” pungkas si penyunting melalui sambungan telepon kala itu.

“Andaikan aku bisa mengerti tetapi apa yang akan kaulakuan –menghapus satu bab yang menurutku adalah salah satu fondasi penting dari ceritaku –bukanlah hal yang bisa aku terima dengan mudah.” balas Sehun tidak mau kalah.

“Maaf tapi Kira-ssi, “

“Editor Bae, dengarkan aku – ”

“Tidak tapi seharunya kaulah yang mendengarkanku, Kira-ssi!” bentaknya kepada Sehun, dan tanpa sadar bercampur kode dengan tuturan tidak formal. “Kalau aku mau bersiakp egois kepadamu, aku mungkin sudah melakukannya sejak aku diberikan amanat untuk mengerjakan naskahmu. Sayangnya, aku tidak mau melakukan itu karena aku tahu itu merepotkan. Tetapi tolong kali ini saja kau mendengarkanku. Tidak tetapi mempertimbangkan saran dariku. Anggap saja aku bukan penyuntingmu melainkan temanmu.”

Yaa, – “

“Kira-ya, apa kau mendengarku?” potong Editor Bae langsung dengan memanggil nama pena Sehun ke dalam tuturan yang lebih bersahabat. “Tolong pertimbangkan kembali saranku barusan. Dihapusnya satu bab tidak akan membuat rakyat Korea selatan kelaparan, kok. Lagipula ‘kan masih ada yang namanya revisi. Aku pikir kau juga bisa memilih opsi yang satu itu. Bagaimana?”

“Mengapa mendadak kau bertingkah seolah kau itu temanku?” Sehun mengernyitkan dahi sembari menatap nama Editor Bae pada layar ponselnya.

“Ya? Anu. Karena. Hanya Saja,” sahutnya secara terputus-putus, di seberang telepon. “Yah, habisnya aku tidak pernah menemukan ‘teman-teman’ di dalam ucapan terimakasih novelmu. Ya itu saja.”

.

Berangkat dari situ, seharusnya Sehun pun juga sadar akan satu hal bahwa tanpa adanya dorongan, saran, serta kritik membangun dari penyunting yang berhasil membawanya sampai ke pijakan sekarang tentu ia tidak boleh bersikap selayaknya anak kecil yang balonnya pecah. Katakanlah, pada saat itu kondisi pikiran Sehun sedang kacau; deadline yang menghimptinya datang di waktu yang tidak tepat. Pada akhirnya, ia menyalahkan eksistensi Sang Waktu.

Dan sampai pada saat ini, di mana novel keempatnya sudah akan siap cetak, lagi-lagi ada ada saja halang yang merintang. Kali ini, Sehun ingin mencoba untuk menyikapinya dengan dewasa. Pertama-tama, ia tidak akan menyalahkan siapa-siapa dahulu atas musibah file yang mendadak tidak bisa dibuka dan naskah yang hilang.

Namun ketika itu semua mengharuskannya untuk bertatap langsung dengan sang editor, Sehun tidak punya banyak pilihan; ia akan melakukannya. Untuk pertama kalinya, ia akan menunjukkan eksistensinya sebagai Kira kepada orang lain –bukan orang lain juga, sih.

Sebab mengapa Oh Sehun berkomunikasi dengan penyuntingnya hanya melalui sambungan telepon dan chat room tidak lain dan tidak bukan karena ia merahasiakan identitas Kira. Dan mengapa ia merahasiakan identitasnya?

“Biar terlihat keren saja. Kautahu ‘kan kalau terkesan misterius biasanya akan banyak menarik perhatian.”

Berjalan sambil berpikir nyatanya membuat Oh Sehun tidak merasa kalau beban yang selama ini ditanggungnya ikut terkikis; sembari berjalan, beban yang dipikulnya tidak ada yang berjatuhan sama sekali meski ia sudah berusaha berjalan sedikit lambat dan sempoyongan. Beban itu pun (sebagai penulis dan reporter stasiun radio nasional) secara instan mampu membuatnya mengalami penuaan dini. Dan bagi seorang pria, merenung terlalu lama tentu bukanlah pemandangan yang sedap untuk dilihat.

Maka dari itu, ia pun mencoba mengusir renungan itu dengan menarik satu napas dan menghembuskannya dengan lambat.

Sekitar limabelas meter menuju mobilnya yang terparkir, Sehun termenung sejenak. Bukan karena ia terkena kutukan menjadi patung, melainkan sebuah pemandangan yang sedikit menggelitik hati kecilnya. Tanpa berpikir panjang, ia pun segera menghampiri seorang wanita yang sedang terduduk di tengah jalan.

Dengan hati-hati, Sehun pun berkata keapda wanita tersebut, “Nona! Apa kau baik-baik saja?”[]

.

.

.

bersambung ke sini.

.


makgeoli-1: salah satu minuman alkohol khas Korea yang terbuat dari beras.

Bachus-2: minuman berenergi yang biasa diminum untuk menghilangkan hangover/mabuk.


Advertisements

6 comments

  1. aigooo ternyata ini side story sehun seblm ketemu sm suzy, hubungan mereka lucu ..dan suka berhubungan melalui chat dan tlp sling bedebat,, sampi akhrnya brtmu.. ahh manisnya.. thanks ya Na buat storynya,.
    tetap semangattt.. hwaiting ,,, ditunggu FF lainnya 🙂

    Like

  2. “Biar terlihat keren saja. Kautahu ‘kan kalau terkesan misterius biasanya akan banyak menarik perhatian.”
    wanjirrrrr ini nih yang namanya crack, demi apapaun si sehun ternyata ngga se cool yang gue duga sebelum baca sside story ini, dia bener2 ihhhhh XD/cubit pipinya yang ngga tembem sama sekali/

    dan disini karakter suzy yang meski awkward tapi jago debat klo lewat telepon itu gemesin banget,
    dan debat yg suruh hapus satu bab, bener2 ngajarin aku klo jadi orang harus open minded, pasti kesel lah udah bikin satu bab yang biasanya 15 halaman A4 terus suruh dihapus gitu aja, tapi dari penjelasan suzy itu aku jadi kut merenung hahahaha

    thank for nice story, sistaaaa 😀

    Liked by 1 person

    1. yesssss,manusia tak ada yang sempurnaa 🙂 haha
      aww, thankyou sekali atas review-nya dan 🙂 ditunggu juga lanjutan wonderwall-nya lhoo, in mestii 🙂 😀
      you’re welcome my lavsss

      Like

  3. eehhh.. ini side story dari segi pandang sehun y author.. waahh menarik bgt.. klo gni kan jdi nya ga aneh klo sehun tiba” suka sma sooji, soalnya emg dr awal wlopun ga prnah nktmu sehun jga mrasa nyaman sma sooji. hehe #soktau

    Like

  4. ternyata ini ceritanya sebelum sehun ketemu sm sooji…
    aigoo gumawo eonnie…hunzy shipper like it kekeke…ditunggu ff exozy lainnya eon…especiallly hunzy kekeke

    Liked by 1 person

Escape your thoughts!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s