[Playlist-fict] #23: Autumn Sleeves

23

xianara presents

#23: Autumn Sleeves

A song-based story from KBS Drama 2016 함부로애틋하게–Uncontrollably Fondly

Noeul (Bae Suzy) and Shin Joonyoung (Kim Woobin)

Alternate Universe, College’s Life, Comfort/Hurt, Fluff, Friendship, slice of Life | Ficlet, Song-fiction | Teen and Up

picture credit goes to Pcapture941010

.

.

Harapanku perlahan menghilang, melayang mengikutimu. –Autumn Sleeves by Kyuhyun of Super Junior

.

.

.

part of Playlist-fict

.

Dedaunan pohon maple menggugur tak beraturan di atas undakan tempat aku duduk. Angin musim gugur di akhir September memboikot serat-serat bulu domba jaket hoodie merah muda berkantung depan yang membungkus tubuh ringkuh milikku. Selepas dibagikan kartu hasil studi semester dua tadi, hatiku amblas ke dalam palung laut terdalam. Dua rentet nilai akumulasi bertitel B memangkas harapan besarku untuk meraih beasiswa semester depan.

‘Pluk’

Mendadak Shin Joonyoung–pemuda tiang dengan setelan jaket berwarna cokelat cerah–duduk di sampingku. Sekaleng kopi dingin yang tidak cocok diminum dalam cuaca seperti ini pun dia lempar ke atas pangkuanku.

“Mendapatkan satu-dua nilai B bukan akhir dunia.” tukas Joonyoung dengan pandangan menjelajah terhadap lapangan di depan undakan tempat kami duduk.

“Mudah sekali bagi peringkat ke-195 dari 200 berkata seperti itu ya, “ cibirku.

Shin Joonyoung menoleh dengan ekspresi datar. Jemarinya menarik tuas kaleng kopi dengan mulut yang sibuk menceramahiku agar bersikap legowo. Lantas menyerahkan kembali kaleng kopi yang berdesis akibat ditarik tuasnya kepadaku.

“Masih banyak bukan, beasiswa yang ditawarkan pihak swata ke kampus tahun ini?” Joonyoung mengoceh tak acuh atas sindiranku barusan.

“Aku tidak tahu, ah!” jeritku seraya mengusak kedua bagian kepalaku.

Situasiku sekarang mirip orang yang tenggelam di dasar laut. Oksigen yang menipis membuatku kehilangan fokus untuk berpikir sehingga merelakan agoni menjadi diktator dalam otak besar. Seraya berenang ke atas permukaan, pasokan oksigen yang tersisa kugunakan seirit mungkin. Berharap bahwa setelah aku tenggelam akan ada regu penyelamat yang meraih tanganku dan mengangkatku ke daratan.

Pandanganku tertunduk. Seketika aku merasakan hempasan hulu seseorang menjerat pangkuanku. Sambil melipat kedua tangan di depan dada, Joonyoung mencari posisi ternyaman di atas pangkuanku dengan mata terpejam.

“Oh, ngapain sih?” cicitku agak risih.

“Sebentar saja, Noeul-a.” ceracap pemuda bermata segaris itu kelewat pelan.

Ekspresi kalemnya pun menandakan kalau sebentar lagi ia akan berpetualang di alam mimpi dengan pangkal pahaku sebagai bantalan tidurnya. Menyebalkan.

“Lupakan saja kenangan buruk soal nilai B itu sejenak. Berpura-pura seolah tak perhatian dan baik-baik saja. Oke?”

Perkataan singkat yang lolos dari bibir tipis Joonyoung seketika membungkamku. Berpura-pura seolah tak perhatian, dan baik baik saja? Sayangnya aku tidak bisa melakukannya.

“Sudah jangan terlalu banyak berpikir. Nikmati saja semilir angin musim gugur yang berhembus. Biarkan kesejukan yang dibawa menghilangkan ketidakpastian dalam hatimu. Hidup cuma satu kali, Noeul-a.”

Selesai berkata seperti itu, pasukan tak kasat mata bernama pawana menyerbu dedaunan jingga kekuningan yang berguguran. Sebagian dari mereka berterbangan dan hinggap tak berstruktural di mana-mana. Mendadak derai tawa tanpa sadar membius hening di antara kami. Lantaran wajah kegelian Joonyoung yang ditimpa dedaunan yang berterbangan, aku tak bisa terlalu lama memberengut.[]

Advertisements

2 comments

Escape your thoughts!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s