[RECTO-VERSO Challenge] Paragraf tentang Tidur

PTG

bersinergi dengan ori-fict  College’s Life: of Turning Task

January 2016©

an original fiction by xianara

Wajah sedikit pucat nan kuyu itu tertangkup dua lembar tangan yang menggigil lantaran serbuan pendingin udara yang disetel dalam mode super dingin oleh office boy pengelola gedung Ilmu Sosial dan Humaniora. Si pemilik wajah oval beralis tidak terlalu tebal pula terlalu tipis, Avira, menguap untuk ketiga kalinya dalam kurun waktu kurang dari dua menit.

Baru setengah jalan mata kuliah Retorika berjalan, kantuk hebat menyerang perempuan yang mengambil alas duduk tepat di samping birai jendela yang terbuat dari baja ringan. Meskipun sang waktu baru menapaki jam kedua perkuliahan di hari Senin, iming-iming tidur lelap gencar menghantui.

Alih-alih menopang kepala yang sudah mulai loyo lantaran suplai oksigen yang menyusut dalam rongga kepala, tangan yang sedari tadi mengabaikan ajakan bolpoin bertinta biru untuk melengkapi diktat kelompok presentasi yang mengulas tentang preseance dalam kajian Protokol Kehumasan itu justru menyetrum kedua pipi Avira. Secara tidak langsung, menyuntikkan stimulan agar raut kantuk tak tertahankan itu lenyap atau paling tidak berkurang.

Dalam ruangan kelas berukuran 20×25 meter tersebut; kursi yang terpaku tepat di sebelah jendela di undakan ketiga dari bawah; hotspot terbaik untuk mengeksploitasi presensi yang tergabung dalam populasi mahasiswa semester tiga, komunitas kelas 3 Sastra Indonesia Pagi A.

Meskipun hanya memandang lurus ke papan tulis berwarna putih tulang yang ditinggali oleh bercak-bercak hitam bekas jajahan spidol, sejoli kelereng berwarna cokelat gelap itu mampu menyebar fokus hingga ke radius dekat pintu kelas.

Dari posisi ini, ia bisa melihat dengan jelas Sitta, perempuan berpipi bulat yang menenggelamkan diri dalam lautan bernama chat room dengan kekasihnya yang bertitel mahasiswa semester 6. Ogi, si pria sapu lidi yang tidak lepas dari pensil mekanik dan berlembar-lembar materi photocopy-an pemakalah dengan berpuluh-puluh sketsa di lahan yang kosong. Kristal, kakak-kakak clothing online shop yang sibuk men-copy catatan milik Martha, pria bersurai gondrong dan bertubuh jangkung ke samping penggila permen karet.

 “Baik, grup selanjutnya! Yuk, buruan.”

Seruan Bunda Sugi menggema yang diikuti oleh bangkitnya kuartet pria dari bangku di undakan tertinggi. Alih-alih membentuk kurva, punggung si perempuan kelahiran tahun 1996 justru menciptakan persamaan garis linier, tidak termasuk rumus substitusi dan eliminasi. Mendadak rasa kantuk yang menggelayut lenyap. Penyebabnya bisa dikatakan akibat dari tepukan ringan hinggap di atas bahu kirinya.

“Tidur aja. Bunda ngga akan ngeh sama posisi lo, Non.”

Seolah-olah ribuan kunang-kunang sedang menari disko dan gangnam style dalam perut Avira, padahal tidak. Sebelah tangan terurulur untuk meredam tawa yang tak bersuara. Pikirannya berkata konyol. Sangat konyol. Mengingat oknum yang barusan menyuruh dirinya menghentikan kesadaran di tengah kelas adalah Dharma. Pria berdarah Sastrotomo pendiri Serdadu Rimba—komunitas pecinta alam dan pendaki gunung di luar kampus.

Sesepuh di kelas yang kebetulan satu kelompok Jurnalistik dengan dirinya. Pria yang pernah berdomisili di kota Denpasar dan yang menemaninya terjaga hingga dinihari tadi demi penyuntingan video liputan dalam kurun waktu seharmal-1. Meninggalkan oleh-oleh kantung osmofilter setengah lingkaran di bawah mata.

Tetapi ini bukan soal Dharma yang menepuk bahunya tanpa alasan. Bukan juga soal tugas Jurnalistik yang mereka kerjakan hingga membuatnya mengantuk di kelas. Tetapi ini hanya soal, bisakah Avira tidur sebentar saja di kelas? Apalagi rasa kantuk yang sempat lenyap itu lantas muncul kembali dan lebih kuat.

Kalau mau, Avira mungkin sudah memacu imajerinya dengan bebas di alam mimpi. Meninabobokan kesadaran yang coba dipertahankan sejak 3600 detik yang lalu. Solah dan tingkah berbumbu kantuk ini memang menyebalkan. Terkadang, perempuan itu gagal mengerti dengan bawaan kuap dan kantuk yang sudah menjerang sejak ia duduk di bangku kelas dua SMA. Namun algoritma berpikir gadis kelahiran kota kembang itu tidak sedangkal mata kaki ataupun secetek kolam renang balita di kompleks rumahnya.

Perkara itu sekiranya terlaksana kalau Avira mau tidur.  Maka pertanyaannya bukan apakah ia mau tetapi apakah ia bisa tidur di kelas Dosen Retorika yang terkenal baik hati dan tidak sombong itu?

Adapun hikayat mengenai olah perisitiwa yang dialami Avira pada akhir Januari ini memang minim gimmick. Cenderung datar dan tidak melebihi garis edar realita yang memang mengepung perempuan penderita silinder itu. Dan tanpa ia sadari, dalam rumah kalbu yang terlepas dari sergapan rasionalitas, terlalu banyak rentetan kesatuan ujar yang memangku suatu konsep bersyarat yang ia layangkan terhadap garis faktual di kehidupannya; metafora kehidupan sok ritmis Avira yang meletup-letup.

***

Sinar mentari kisaran pukul sembilan kurang seperempat jam memayungi bangunan yang berdiri di penjuru timur. Radiasinya sukses menembus kaca-kaca jendela yang berdiam diri tak pakai kaki di sebelah kiri. Rentetan warna kontinu dari matahari pagi menyoroti seperdua rongga yang terlikung oleh bidang pada haluan kiri kelas, mirip cahaya yang terpancar dari surga. Seperti efek dramatis datangnya ibunda Dulce Maria dalam telenovela Carita de ángel yang menjadi bulan-bulanan ibu-ibu dan bocah perempuan setiap pukul dua siang di stasiun televisi swasta pada awal tahun 2000-an silam.

Pemuda berkemeja katun krem cerah dengan celana dril yang robek di lutut dan sepasang sepatu gunung keluaran Caterpillar mencoba memasang atensi terhadap kelompok pemakalah di depan. Raut kebosanan menaungi hampir seluruh wajah Dharma. Kesadaran yang terkuras hingga pukul empat dinihari untuk menyunting video liputan menghasutnya untuk menempelkan kepala di atas meja panjang, balas dendam terhadap jatah tidurnya yang dirampas oleh Mandrielus sphinx-2 berwujud tugas.

Selain kewajiban sebagai seorang pencari nafkah untuk iuran SPP sebulan juga nasi rames warteg setiap hari kerja, Dharma memang memangku tungku jabatan sebagai Mahasiswa Sastra semester tiga. Di luar dari kenyataan kalau ia juga pernah mengenyam bangku perkuliahan sebelumnya dengan jurusan berbeda—kita tidak akan membahas luas dan keliling persegi dari hal ini— dan gugur di atas pangung semester ketiga juga.

Initensitas tugas individu dan kelompok dalam candradimuka semester ini justru lebih banyak dari tawaran yang ia garap sebagai seorang desainer grafis di percetakan milik Mas Suga, tempat di mana pundi-pundi rezekinya bermata air.

Seperti robot bernyawa—toh, robot memang hidup—ia bekerja. Tidak kenal waktu, membuatnya mesti menunjuk satu prioritas dari kuliah dan kerja. Dan kerap berujung pada absen yang menjamur pada beberapa mata kuliah di semester ganjil ini.

Kalau dilihat dari kacamata orang awam, kehidupan seorang Dharma Putra dicap begitu menyenangkan ala-ala penggagas perjalanku petualanganku. Setiap tahun ia selalu memiliki agenda tersendiri bertajuk piknik atau naik gunung. Soal profesi yang ia geluti dengan serius dari dua tahun yang lalu pun tidak membatasi ruang gerak pria itu. Lantaran profesi itu berkaitan dengan hobinya yang gemar menggunakan peralatan mejik Photoshop. Pertemanan? Di kelas ini, Dharma memang memiliki sekawanan manusia yang sudah saling mengenal sejak semester satu hingga sekarang. Kemudian soal percintaan? Dharma beranggapan bahwa folder yang satu itu masih aman alias tidak perlu di-encrypt; folder itu memang kosong.

“Makin ke sini gue seperti lembaran makalah yang di-photocopy; hitam dan putih. Lama-lama gue beli mesin photocopy berwarna juga.” Dharma mengeluh kepada Bari, pria bertubuh tidak lebih gempal dari Boboho yang bekerja di salah satu toko buku terbesar di Indonesia.

Oon lu.”

“Bosan gue, “ ulang Dharma dengan sebuah frasa. “Gue mulai jenuh kali. Ini pertanda banget, Man. Gunung sudah memanggil, the mountain is calling, Bar!

“Sebelum hiduplu jadi lebih berwarna, lu kudu masuk ke fase abu-abu dulu, Dhar.” balas Bari tak acuh sembari menggeser copy-an materi presentasi tugas ke Dharma.

Haha, abu-abu ya. Lagi-lagi gue melupakan fase peralihan itu.” Dharma mengusap tulang pipinya yang terasa gatal kemudian segera beranjak dari sitje kayu lazim bukan rotan, tatkala giliran kelompoknya untuk maju tiba.

“Terserah lu.”

Waktu yang dipakai Dharma untuk menyembur kejutekan balasan Bari lantaran ia mesti absen lagi untuk mata kuliah terakhir hari ini, tersita oleh pemandangan punggung melengkung gadis yang ujung surainya disemir warna hijau muda. Gadis itu memakai setelan kaus katun berlengan panjang warna hitam dan celana sepan berwarna biru pudar. Setengah semester sudah sekelas dengan Avira, Dharma pun hapal betul dengan gaya berpakaian Avira dan bisa mengenali dari kejauhan—terbilang ajaib untuk ukuran yang susah menghapal wajah dan nama orang.

Dharma sadar betul kalau gadis itu mungkin juga bernasib sama sepertinya; mengantuk hebat. Dan sama-sama ingin balas dendam pada jatah tidur yang raib ditelan tugas.

Namun dibandingkan kasihan, pria itu justru menyelaraskan rasa empati dengan keinginan untuk membuat gadis itu tetap terjaga di mata kuliah khusus ini. Tanpa alasan, ia hanya ingin menyemangati gadis yang lebih muda darinya. Alih-alih melewati bangku Avira tanpa meletupkan satu solah tingkah tak berarti, tangannya terayun menuju pundak mungil itu. Kemudian, berbisik pelan seraya menambatkan langkah dalam tempo yang tidak cepat dari andante.

“Tidur aja. Bunda ngga akan ngeh sama posisi lo, Non.”

Selesai berucap, Dharma tetap melanjutkan langkah seiring dengan cuat bibirnya yang mengembangkan layar. Tanpa menoleh ke Avira, pria itu terkikik cukup geli. Merasa konyol akan tingkah lakunya sendiri. Mengingat perihal ingin pergi tidur di pagi hari yang tidak hanya dirasakan seorang diri.[]

Dibuat untuk mengikuti RECTOVERSO Challenge berdasarkan prompt nomor 2 dan 9 di Sayap-Sayap Senja.

seharmal-1: sehari-semalam.

Mandrielus sphinx-2: kera besar, berupa buruk dan ganas, yang ditemukan di Afrika Barat bagian tengah

Advertisements

3 comments

  1. HAAAAAA AKU BELUM NEMU IDE BUAT RECTOVERSOOOO
    kamu udh bikin duluan. oke bagus. seperti biasa idenya ini simpel tapi memasyarakat (apa) dan disampaikan ala xian sekali. dan 2 POVnya juga kerasa bedanya
    mungkin satu2nya masalah buatku adalah deskripsi yg agak kepanjangan, ada beberapa bagian yg mungkin bisa dieliminasi krn kurang relevan dgn topik ceritanya, misal deskripsi ttg siang hari, ada satu paragraf khusus yg membahas cahaya pd siang hari yg aslinya ga berkaitan langsung sama dharma, kurasa.
    keep writing ya! XD

    Like

  2. Selamat sore menjelang malam, Kak Xian.
    Akhirnya aku datang untuk memberi sejumlah penilaian bagi fiksi kakak ini. Tapi, aku tidak menggunakan penilaian berdasarkan akurasi angka-angka, hanya memberi beberapa pembetulan dan pujian, mungkin.

    1. Kesesuaian prompt dan konsep rectoverso dengan tulisan.
    – Sudah sangat sesuai rectoverso-nya, tapi pemakaian prompt ganda agak kurang terlihat di alur. Hanya digunakan di dialog dan narasi Avira (monolog bagi dia) dan Dharma (dialog dengan temannya). Tapi, tidak apa-apa, karena aku tidak memberi syarat mutlak prompt harus terasa di dalam alur cerita.

    2. Karakterisasi
    – Kuat dan lengkap. Kelengkapan data mengenai Avira dan Dharma cukup berhasil membangun imaji ketika aku membaca setiap paragraf. Jadi, menurutku pembangunan karakter mereka sudah bagus dan saling melengkapi, meski ceritanya hanya teman biasa (serius, aku ngarep ada setitik romansa haha).

    3. EyD
    – Ada beberapa kesalahan berbahasa (dan ada kata-kata yang tidak kumengerti), sebagai berikut:
    a. men-copy -> meng-copy
    b. imajeri -> ini kalau boleh tahu apa ya, maknanya? kucari di KBBI nggak ada.
    c. Pangung -> typo, ya? harusnya panggung.
    d. hapal -> bakunya hafal.
    e. Setelah kata “namun” seharusnya ada tanda koma (,).

    Lalu, sedikit tambahan. Kalimat yang kakak gunakan menurutku banyak yang terlalu panjang. Jadi, semestinya satu kalimat tersebut bisa dipecah menjadi dua kalimat, tapi kakak gabungkan. Juga terlalu banyak koma maupun titik koma yang diberikan. Lebih baik dipisah menjadi dua kalimat untuk memberi knyamanan bagi yang membaca memahami konteks kalimatnya juga.

    Ada beberapa pembahasan yang kurang perlu juga, menurutku. Seperti tambahan soal “Dulce Maria” dan pengandaian / pengibaratan yang tidak diperlukan untuk melengkapi kalimat sebelumnya.

    Selebihnya, aku suka alurnya. Ceritanya sederhana namun bisa diceritakan menjadi bermakna. terus berkarya, ya, semoga sukses!

    Salam hangat,

    Jung Sangneul

    Liked by 1 person

    1. niswawwww 🙂 hailo 😀
      wah terimakasih atas review lengkapmu untuk fan-fict ‘ecek-ecek’ ini, muehehehe. aku ngga akan bermain lidah untuk hal-hal yang dikoreksi tapi justru berterimakasih. untuk tambahan aku setuju banget, Nis. soal kalimat yang terlalu panjang itu juga problem banget buatku karena sebelumnya juga ada teman yang me-review di sana dan udah di-review bukannya jadi lebih baik malah kacau. huhu, ke depannya aku pasti akan memperbaikinya 🙂
      sekali lagi terimakasih sudah mengadakan event ketje seperti Rectoverso, Nis ^^ (event lain ditunggu yeah :D) maaf juga sudah membuatmu kesulitan me-review fan-fict ecek-ecek ini. 🙂

      Liked by 1 person

Escape your thoughts!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s