[Ficlet-Mix] Morning Glory

morning-glory

[Ficlet-Mix] Morning Glory

With Bae Suzy, f(x) Park Sunyoung/Luna, EXO Kim Junmyeon/Suho, Kim Jongdae/Chen, Oh Sehun, BTS Min Yoongi/Suga, Red Velvet Bae Joohyun/Irene, Seventeen Lee Jihoon/Woozi, and NCT U Kim Doyoung

.

AU!, Canon, Comedy, Drama, Family, Fluff, Hurt/Comfort, Marriage-life, slight of Romance | Ficlet per story | PG 15 |

.

…Lee Jihoon selalu tahu Yoongi yang dilanda rindu setiap pagi. Rindu yang dianggap selalu menggaung tanpa jawaban. Meski kenyataan rindu yang sama juga ditanggung oleh sepasang persona di ujung jalan sana.

.

.

Enjoy reading!

#1: Berjanjilah kepadanya bahwa dalam kesulitan itu ada kemudahan dan ingatlah pula bahwa kesulitan berada dalam kemudahan.

(Jongdae x Sunyoung)

.

.

Ketika pagi masih buta, Kim Jongdae sudah wara-wiri mengantar berpuluh-puluh kontainer ikan laut segar di pasar ikan Noryangjin. Tanpa kenal lelah meski keringat dan tenaga terperangah oleh pekerjaan serabutan yang harus Jongdae ambil, tak pernah sekalipun ia mengeluh. Toh, semua kerja keras, usaha, keringat, serta doa-doa terindah yang telah Jongdae lakukan akan Tuhan balas dengan cara-Nya sendiri.

Seperti saat ini, pada pukul setengah enam pagi, Jongdae sudah berpindah posisi ke kawasan tinggal elit kota Seoul. Sebagai seorang bocah koran, ia meliuk-liukkan sepeda dortrap miliknya dengan kecepatan penuh. Sekali lagi, ia tidak pernah mengeluh. Sambil bersenandung riang, satu persatu koran terbitan ibukota dikirim oleh angin menuju depan gerbang atau Jongdae sorong di sela-sela pintu.

Hidup seorang pemuda Kim memang sudah sulit semenjak ia bisa memaknai kehadiran dirinya dan sang nenek di sisi. Tiada orangtua semenjak dilahirkan, hidup serba kekurangan dengan sang nenek tak pelak membuat mental Jongdae menjadi sekuat baja dan seringan kapas. Rahmat Tuhan yang berlimpah di pagi hari sungguh takkan mampu Jongdae lewatkan. Meski ia harus lima kali lebih susah dari kondisi hakikinya saat ini, ia rela lahir dan batin.

Karena…

Dari seluruh pekerjaan serabutan pagi-pagi yang Jongdae lakoni, lewat tangan ajaib-Nya, oleh Tuhan Jongdae dihadiahi eksistensi seorang hawa yang menjadi landasan semangat paginya selama hampir tiga tahun. Melalui sepasang kardus berisi puluhan kotak susu sapi segar olahan pabrik rumahan di Cheongju, seorang Park Sunyoung menghidupkan lantunan syair musim panas di hati Jongdae. Dia cantik sekali melebihi bidadari. Perawakan mungil dan tak ketinggalan suara merdu yang menjadi buah bibir para penikmat drama musikal kalangan atas.

Jongdae takkan segan untuk mewangikan diri setiap pagi demi sekedar bertatap muka barang seperempat menit dengan gadis Park itu. Memakai setelan terbaik yang ia punya. Kalau perlu berdandan senecis mungkin. Opsi yang ketiga sayangnya tak pernah berhasil. Intinya, ia harus menginggalkan impresi berkesan untuk Sunyoung setiap harinya dan harus berbeda.

Dua kotak susu kedelai berukuran sedang terlampir dengan erat dalam dekapan Jongdae. Sekali lagi, dan ini khusus untuk Sunyoung, Jongdae sendiri menyajikan pelayanan khusus langsung antar sampai ke tangan si gadis. Sudi sekali Jongdae repot-repot memarkirkan sepedanya dan memasang senyum tinggi vitamin seraya memberikan dua kotak susu setiap dua hari sekali kepada Sunyoung.

Lagipula, memang ini momen yang selalu Jongdae rekam oleh alat perekam abadi dalam hatinya, yakni ketika Sunyoung menarik lawangnya, tersenyum dengan wajah khas bangun tidur dan suara seindah nyanyian surga saat ia mengobrol fatis dengan Jongdae.

Tidak ada yang lebih indah dibandingkan kembali bertukar pandang dengan Park Sunyoung meski oleh sang masa bisa dihitung singkat. Namun oleh pengukur tempo kalbu Jongdae, takkan ada satuan masa yang mampu melatarbelakangi kisah antara mereka berdua.

“Sunyoung-a, selamat pagi! Dua kotak susu kedelai spesial untukmu sedang menanti!”

Tanpa mengetuk pintu bercat arang itu, Jongdae mengandalkan bel natural, vois delapan oktaf miliknya. Decit lawang yang tertolak ke belakang berseru seiring dengan kemunculan Park Sunyoung dalam balutan busana formal. Senyum tiga jari itu tersisir rapi melalui bibir asimetris Sunyoung. Beruntung karena pompaan darah ke seluruh tubuh Jongdae tidak pernah berhenti meskipun jantungnya sudah menggelinding ke sana-ke mari tiap Sunyoung senyumi dirinya seperti itu.

“Oh, pagi Jongdae-ya!” Sunyoung menengadahkan kedua tangan ke hadapan Jongdae. Susu kedelai bukan dari protein sapi itu Jongdae beri dengan gerakan yang super pelan. Tawa tak berbuncah itu pun Sunyoung tahan agar tak berbuah menjadi aksi nyata berupa dekapan gemas terhadap Jongdae yang sampai hati membuat dirinya merajinkan diri untuk bangun lebih pagi.

 “Terimaksih selalu untukmu.” Sunyoung tak lekas menyembunyikan presensi. Seperti biasa, ia mengawali bincang-bincang singkat namun melekat dengan Jongdae.

“Hei, bukan apa-apa, kok.” ujar Jongdae seraya mengibaskan tangan dengan kikuk. “Oh ya, tumben sekali pagi-pagi sudah berpakaian rapi. Ada jadwal pagi?”

“Ya, begitu. Bangun pagi sebenarnya bukan gayaku, kautahu ‘kan. Tapi berhubung ini sangat mendesak dan super penting,” timpal Sunyoung dengan eskpresi agak muram. Namun detik selanjutnya binar ceria penuh semangat kembali menembus cakrawala abu-abu di sepasang matanya. “Pukul delapan nanti, aku ada audisi untuk peran drama musikal musim semi. Dan, itu untuk peran utama. Jongdae-ya, aku senang sekali! Anu, aku kau doakan, ya, supaya aku lolos!”

“Benarkah? Whoaaa, itu kabar baik! Tentu saja! Tanpa kaupinta, aku akan selalu mendoakan yang terbaik untukmu.” Jongdae merasa keceplosan terkait kalimat yang terakhir. Ekspresi kaku macam robot kehabisan baterai pun berpaya pada wajah Jongdae, sedangkan tanya juga bermuara pada ranah wajah si aktris musikal. Buru-buru, Jongdae meralat, “Maksudku, aku pasti akan mendoakanmu. Sunyoung-a, lakukan yang terbaik!”

Menukar semangat pagi Jongdae yang dikhususkan untuknya, Sunyoung tinggalkan jejak ekspresif pada bibirnya. Ia menepuk kecil pundak Jongdae. Lalu seperti disengat oleh jutaan energi potensial listrik yang mampu mencukupi kebutuhan maksimal pemukiman padat penduduk di kampung halamannya, Jongdae merasa tulang keringnya berubah jadi agar-agar. Senyum seringan lambaian angin musim panas itu, tatapan seterang rangkaian Orion di mata Sunyoung, serta eksistensi anti-utopis Sunyoung saat ini; belas kasih paling hakiki dari Tuhan yang mustahil untuk Jongdae ingkari.[]

.

.

*****

#2: Jiwa yang tidak pernah melihat sesuatu sebagai keindahan, tak akan pernah tahu apa itu keindahan.

(Yoongi x Jihoon)

.

.

Pukul lima pagi lewat limas belas menit, Yoongi beranjak menduduki kursi panas studio musik miliknya. Hampir duabelas jam lamanya Yoongi berkontemplasi menggodok lagu dan mematangkan aransemen sebelum masa rekaman dua minggu ke depan. Berpendirian setinggi puncak Himalaya, itu yang Min Yoongi butuhkan untuk menjadi musisi paling berpengaruh di masa sekarang. Bersama dengan sang sepupu muda, Lee Jihoon, jatuh bangun mereka bangun kerajaan musik mereka agar bisa menaklukan hati para penikmat musik seantero jagad.

Tak pelak, konsekuensi pulang pagi atau tak pulang sama sekali, kekurangan gizi lantaran menu makanan serba instan, serta bonus kantung mata menjadi camilan Yoongi yang berjalan bersisian dengan keputusan yang ia ambil selepas lulus sekolah menengah.

Hyeong, istirahat dulu. Penampilanmu tidak ada bedanya dengan vampir yang begadang, tahu.” Jihoon menerobos studio dengan bungkusan merah yang berada di dekapan. Yoongi melekatkan pandang pada bungkusan yang oleh Jihoon ditempatkan di atas meja yang kosong. “Uh-oh, sarapan untuk hari ini. Seokjin Hyeong menitipkannya untukmu.”

Di sela-sela kuap yang menggunung, Yoongi mengangguk acuh. Headphone yang membuat bisu dari bising dunia luar Yoongi lepas kelekatannya. Sekedar merehatkan kedua telinga dari gempuran audio artifisial.

“Tanggung, tinggal me-review track terakhir lalu semuanya selesai.”tukas Yoongi dengan cepat. “Pekerjaan tidak boleh dikerjakan setengah-setengah. Lagipula sore nanti, tim vocal grupmu akan mulai reading.” Yoongi menyinggung tim yang diangootai Jihoon dalam grup yang menaunginya.

“Tahu, kok, tapi Hyeong—“

“Diam saja dan makan saja kimbab sana. Kalau kau terus berbicara, pekerjaannya tidak akan selesai. Jangan ganggu.”

“—aku bisa membantumu seperti biasanya.” lanjut Jihoon meski oleh kakak sepupunya ditatap tak acuh. “Kau juga harus istirahat, Hyeong. Memaksakan diri juga tidak keren. Kalau nanti jatuh sakit banyak orang yang akan repot.”

Menganggap alpa perkataan si sepupu muda, Yoongi menyuluh musik untuk bergema melalui jaringan tembaga yang bersemayam di balik busa halus headphone kesayangan. Bersikap angkuh dan sok kuat nyatanya Yoongi pilih untuk menghianati kegigihan yang tak tertata dalam mengarungi keputusan yang ia jalani. Yoongi hanya tidak mau kembali ragu-ragu dalam melihat permasalahan yang sering melanda dulu.

Serat-serat jingga menghiasi lelangit kota Seoul, tergambar jelas melalui jendela yang bertelanjang dada. Terhitung ketika pagi hari mulai merambat dalam detik-detik yang terlewat, menemani sang surya menaikki peraduan. Terhitung pula bagi Yoongi untuk melewati awalan hari dalam kecemasan berbentuk bisikan hati. Ia dilanda rindu.

Wajah sendu menghiasi layar komputer bertera aplikasi pengolah musik canggih yang memantulkan ekpresi belenggu Yoongi terhadap kerinduannya. Kerinduan yang merajalela ketika pagi hari menjelma. Maka cepat-cepat ia sudahi review track terakhir, memastikan hasil karya seni emosif dan berirama ini terwujud dengan apik dan sesuai harapan. Lalu tanpa menggubris ocehan Jihoon, Yoongi merebahkan tepukan tanda pengertian di atas bahu Jihoon.

I’m done, make sure you do the same.”

Tidak bisa melawan perintah si abang tua, Jihoon tergugu. Mengamati lekat Yoongi yang beranjak dari singgasana menuju sofa serbaguna. Selalu menepati keputusan yang dibuat, kerjaan selesai Yoongi lekas rehat.

Lee Jihoon selalu tahu Yoongi yang dilanda rindu setiap pagi. Rindu yang dianggap selalu menggaung tanpa jawaban. Meski kenyataanya rindu yang sama juga ditanggung oleh sepasang persona di ujung jalan sana. []

.

.

*****

#3: Nikmatilah cuaca selagi masih pagi, jangan takut pergi, sebab dia akan pergi dengan sendirinya.

(Junmyeon x Joohyun x Doyoung)

.

.

Kebahagiaan akan terasa sempurna ketika kita sudah menunaikan semua kewajiban kepada Zat Pencipta, dan kepada semua makhluk ciptaannya.

Namun, bagi Bae Joohyun justru hal itu berbalik ricuh ketika musti disandingkan dengan suami di luar jangkauan macam Kim Junmyeon. Lebih dari sekedar berucap menarik tentang hal-hal di luar batas imajinsi manusia pada umumnya, perilaku praktis yang mencerminkan betapa absurd Junmyeon kepada khalayak berhasil membuat kegigihan Joohyun jadi tak tertata.

“Ayah sedang apa?” Kim Doyoung mengusapkan punggung tangan pada kedua matanya yang tertutup debu kosmik sisa pertempuran semalam.

Ia pun mendekati Jumnyeon yang tengkurap di lantai balkon pekarangan rumah. Bahkan akal seorang bocah macam Kim Doyoung mengartikan posisi aneh ayahnya berada satu level di atas hierarki imajinatif karakter spons kuning pada kartun favoritnya.

Selanjutnya oleh si ayah muda, bokong diangkat tinggi-tinggi mirip gerakan push up. Lalu ia pun menarik napas super panjang sebelum menatap putera sulungnya dengan wajah yang memerah dan bercucuran keringat.

“Oh, Doyoung-a, pagi! Mau ikut senam dengan Ayah?” tawar Junmyeon dengan suara agak tertahan.

“Senam apa?”

Bocah sepuluh tahun itu lantas berjongkok tepat di samping Junmyeon. Bertanya-tanya mengenai posisi absurd yang sejak seminggu ini selalu Junmyeon praktikan ketika pagi meyapa. Ekspresi penasaran sekaligus ingin mencoba tercetak dengan terang di atas wajah Doyoung.

Dari balik konter dapur, Joohyun mengurut dada dengan pasrah. Mempelajari kenyataan yang ada di depan mata selama lebih dari satu dekade tetap tidak kuasa merasionalkan pemahaman Joohyun terhadap tingkah lintas imaji Kim Junmyeon. Namun selalu saja ada cara bagi Tuhan untuk membukakan hati Joohyun untuk terus bersabar tanpa secuil keraguan dan itu terbukti dengan pemicu rasa cinta untuk Junmyeon yang semakin menggeliat di hatinya.

Rona merah mendalami kanvas si ayah yang belum kunjung menampakkan jawaban atas kuriositas si putera sulung. Keringat pun makin deras mengalir dari kening. Junmyeon lantas memejam dengan kuat seiring dengan jarak antara bokongnya dengan lantai semakin jauh. Hingga, sampai akhirnya…

Pesssss!

Tuuuttt!

“Ini namanya senam kentut, Nak.”

ucap Junmyeon dengan ekspresi lega penuh makna.

Ekspresi wajah sang anak lantas tergugu karena tidak tahu harus merespon apa. Junmyeon lantas bangkit dari posisi senam kentutnya, mengusap kepala Doyoung dengan sayang.

“Ayah, “ Doyoung pun menengadah kepada Junmyeon.

“Hm?”

“Aku ingin senam kentut juga.”

Junmyeon gantian tergugu mendengar perkataan Kim Doyoung. Karena setahu dirnya, sifat dan kepribadian Doyoung lebih bertolak kepada sang isteri yang begitu rasional. Namun, mau bagaimanapun Kim Doyoung ialah darah dagingnya juga. Jadi, bukan masalah jika ia juga mewarisi beberapa sifat eksentrik Junmyeon.

Sambil tersenyum, Junmyeon pun berkata, “besok pagi akan Ayah ajarkan.”

“Ajak ibu boleh ngga, Yah?”

“Hm,” tampang pura-pura berpikir keras Junmyeon hadirkan. “Boleh saja, mari kita tanya ibumu.”

“Sayang, besok mau ikut senam bersama kami?”

Dari seberang meja makan, perut Joohyun mulas tak terkira menangkap percakapan yang menurutnya konyol antara anak dan ayah. Ayolah, perbandingannya hanya satu dari seratus keluarga di Seoul yang pagi hari akan dimulai dengan kegiatan lintas pikiran dan perasaan yang oleh kenormalan manusia tak pernah dimiliki.

“Oh, terimakasih sekali atas ajakannya tapi seperi yang kalian lihat, setiap pagi aku selalu sibuk menyiapkan sarapan. Jadi, maaf ya?”

“Ayolah, Ibu harus ikut! Akan lebih baik jika kita dapat senam bertiga. “ rengek Doyoung.

Kadang, dunia sungguh lebih mengherankan dibanding diri kita sendiri. Kita mengingingkan orang lain menjadi apa yang kita inginkan, tapi kita sendiri malah tidak pernah melakukannya. Joohyun berkutik dalam hati, aku ingin Junmyeon sekali saja menjadi normal dan tidak ada cela tapi adakah kayu yang berbau semerbak tanpa asap?

Keesokan paginya,

Adalah kebiasaan seorang Junmyeon yang menular pada Doyoung untuk menandaskan angin ke udara, tempat perasingannya. Baru kemudian, tiga jengkal di samping Doyoung, Joohyun yang dengan antusias turun tangan dalam fenomena pagi dengan pewatas yang terburai, menyedekahkan angin berbau untuk dikonsumsi karbon pagi hari. []

.

.

****

#4: Banyak hari yang diawali dengan kesuntukan, dan pada akhirnya menjadi keindahan dan ketentraman.

(Suzy x Sehun)

.

.

Hidup yang indah itu adalah ketika mampu mengucap dan mengungkap rasa syukur, serta mampu menjadi berkah bagi sesama. Kalimat paling ampuh yang mampu menyalakan api dalam hati Suzy. Aku harus melibatkan diri dalam pekerjaan yang bermanfaat. Aku tidak boleh jadi bagian orang-orang yang tidak memainkan peran yang seharusnya mereka perankan dalam kehidupan ini. Ini adalah hidupku. Ikuti aturanku.

Rahasia di balik kehidupannya sendiri seolah Suzy tahu. Maka, mulai dari pagi masih membiru takkan pernah ia menyia-nyiakan masa. Karena, dalam hidup Suzy, ia yakin jika detik-detik yang berharga akan selalu ada.

.

.

Tapi itu hanya mimpi. Ya, mimpi bukan kenyatannya.

Realitanya karangan di atas hanyalah karangan orang yang mendiami pikiran Suzy. Hanya karangan secara literer.

“Sehun-a, secangkir latte. Please.”

“Oh, pagi-pagi kenapa mukanya suntuk begitu?”

Please, jangan banyak tanya. Satu latte, gulanya setengah.”

Menelusup pandang ke wajah sahabatnya, Sehun dipertemukan dengan persoalan serius yang selalu Suzy alami semenjak memasuki tingkatan keempat dalam kuliahnya. Ia berempati terhadap hari-hari sang sahabat yang begitu berat.

Sehun pun menyiapkan secangkir latte kebahagiaan—menurut sang sahabat, penikmat latte akut—tanpa banyak bicara.

“Hei, “ tegur Sehun kepada gadis yang menelungkupkan kepala dengan loyo di atas meja barista. Antariksa gelap jelas mengusik wajahnya. “Suzy-a, mau dengar cerita tidak?”

“Tidak mau.”

Sehun paham betul jika kekecewaan sedang bersarang di dalam hati Suzy. Kekecewan itu bermuara pada ketiadaan kabar mengenai perusahaan-perusahaan yang Suzy datangi untuk magang. Ya, berhubung ia sudah berada di titik tengah perjalanan menuju gelar sarjana, ia pun diwajibkan untuk memilih satu instansi atau perusahaan sebagai tempat magang selama setengah semester.

Namun sampai sekarang, belum ada satu pun perusahaan yang memverifikasi kesediaan untuk menerimanya. Padahal, jelas sekali jika Suzy memiliki spesifikasi yang cukup, bisa dibilang sangat bagus. Meski terlihat begitu urakan dan kasar di luar, nilai seorang Bae Suzy justru tersembunyi di balik topeng kemaasa-bodohannya. Ia termasuk mahasiswi jajaran atas di angkatannya. Ia juga cukup manis—ini hanya Sehun yang bilang.

“Kau tahu perkataan apa yang memberikan banyak manfaat bagi seseorang yang sedang diuji?”

Suzy masih tidak menggubris usaha Sehun untuk meredakan gelisah dalam hatinya. Toh, ia mengakui jika ia memang tak bisa berbuat banyak selain berusaha dan berdoa agar semuanya menjadi lebih baik. Namun ini bukan berarti ia melemahkan eksistensi dirinya di hadapan Tuhan. Hanya saja, jika memang ini yang namanya kesakitan, maka mereka sesungguhnya pun menderita kesakitan sebagaimana Suzy menderita. Seperti berharap kepada Tuhan apa yang tidak kita harapkan.

“Kuatkan hatimu, kau dibuat menunggu karena kau memiliki spesifikasi yang luar biasa. Suzy-a, kau bersabarlah. Karena jika kau belum ditelepon oleh mereka kemarin, hari ini kau akan pasti.”Sehun lalu mengusap lembut puncak kepala Suzy.

“Sehun-a, “

Krinnggg!

Pukul delapan pagi, Sabtu pertama di bulan Juni. Untuk pertama kalinya, senyum apik itu kembali menyerasikan diri di atas wajah Suzy. Telepon barusan ternyata berasal dari salah satu stasiun radio yang Suzy datangi kurang lebih dua minggu yang lalu. Mulai minggu kedua di bulan keenam ini, Suzy akan magang sebagai penyiar di sana. Berjuta-juta terimakasih penuh ketulusan Suzy tujukan kepada Tuhan. Ia tahu jika ini takkan terjadi tanpa kehendak-Nya.

Dan, kepada seorang sahabat seperti Sehun, tak ragu jika Suzy segera berlari mengelilingi meja barista dan menangkup tangan Sehun. Mengajaknya berputar seperti peri angin yang menari di bawah mentari.

“Ya ampun, kau yang seperti ini benar-benar bukan seperti Suzy yang kukenal.” protes Sehun. Namun ia pun segera tersenyum kukuh ketika oleh Suzy dihadiahi tatapan sengit serta sikutan keras di perutnya. Oh, gadis kasar yang cuek itu sudah kembali ke teritorium aslinya.[]

.

.

TAMAT

(La Tahzan, 2007)


a/n:

  1. Chena is back! yes, setelah dapat protes keras dari Kak Liana tentang saya yang sering merusak OTP dengan sadden moment di setiap fict, kali ini saya buat genre romansa bukancintauttaran  dengan unsur fluffy. haha. ugh semoga tidak gagal </3
  2. Yoongi x Jihoon, selamat debut AU!Siblings abang-abang emesh </3
  3. Surene versi Marriage-life yang ehem-ehem. ahahaha. sedikit banyak terinspirasi dari bab 1 MMJ Raditya Dika :”)
  4. Sedikit banyak pula, apa yang dialami Suzy juga saya alami hahaha terinspirasi dari potonga kisah nyata di sekitar saya.
  5. poster resmi UF sudah keluar, idup saya kelar udah </3 eh jangan dulu ding.. ntar kaga bisa nonton dramanya. haha… anyway, jikalau Teman-teman menemukan keresahan selama membaca ficlet mix ini, salahkan saya its okay. tulisan emang makin nggak menjurus.
  6. SELAMAT BULAN RAMADHAN BAGI YANG MENJALANKAN ❤ mohon maaf lahir batin ya, Teman-teman. Yuk, semangat beribadahnya!! ❤
Advertisements

14 comments

  1. Wuah ceritanya ringan to menyenangkan.. Sehun sweet banget… Beruntung nya suzy punya sahabat kyk sehun… Berharap ada romansa diantara keduanya kekeke… Mix ficletnya keren eon… Ditunggu karya2 lainny…fighting… Dan selamat menjalankan ibadah puasa juga eon…

    Liked by 1 person

  2. baguus, kak xian. aku nyaman bacanya, cuman…masih ada banyak typo di sana-sini. huruf yang kebalik, kelebihan huruf, sampai salah cast. Jongdae keganti Jongin tuuh, aslinya Kaistal yah? wkwkwk ((ngarep))

    Suka banget sama yang Chena ihh, memberikan semangat baru di pagi pertama puasa ❤ anywayy keep writing yaaah!

    Like

    1. Niswa,hai! makasih atas riviewnya. typo dan beberapa EBI yang eror sudah dikoreksi 🙂 haha, itu typo asli soal Jongin.
      ahihihi, sekali lagi makasih Nis. semangat terus puasanya! Semoga berkah, aminn 🙂

      Liked by 1 person

  3. aaaaaah xian knp yg pertama harus jongdae XD iya yg pertama tuh manis buangetttt fix
    trs yg kedua galau, yg ketiga somplak tapi seru (ibu irene ga usah sok jaim napa, rileks buk org cantik juga butuh kentut kalik :p), yg keempat ngingetin aku sama sepupuku yg sedang mengalami problema sama. intinya seru semua dibacanya! pagiku jadi lebih semangat ^^
    tapi setuju sama niswa, banyak typo, harap dibetulin ya ^^
    keep writing!

    Like

    1. ahh syukur alhamdulillah Chena kali ini berakhir manis hahaha 🙂
      yupyup, typo everywhere-nya sudah dibenerin^^ hehe
      sip, makasih juga kakli! ditunggu juga free somebody versi ff kak liana hehe 😀

      Like

Escape your thoughts!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s