[Playlist-Fict] #34: Falling

34

July 2016©

xianara presents

#34: Falling

A song-based story with Soloist BoA and TVXQ Jung Yunho/U-know Yunho | AU!Canon, Drama, Little bit Fluff, Friendship, slice of Life | Ficlet, Song-fiction | PG 15 |

.

.

Tidak, aku takkan menyerah dan melihat ke belakang

Tetap tegakkan kepalamu!

Dan jika ini malah menjadi buruk maka inilah saatnya untuk itu. — FALLING by HAIM

.

.

Part of Playlist-Fict

.

.

‘BUGH!’

.

.

Pintu yang dibiarkan terbuka itu tiba-tiba ditutup oleh hentakan siku Kwon Boa. Memastikan agar tidak ada satupun orang bisa memasuki ruang latihan yang hanya diisi oleh presensi dirinya saja.

Perempuan mungil itu lalu memijat dengan asal betis dan pergelangan kakinya. Lebam yang berbentuk garis panjang menguar dari mata kaki sampai ke betis perempuan itu. Seruan udara kesal Boa tiupkan ketika menyadari jika luka tersebut merupakan rangkaian dari cedera kedua latihan hari ini. Latihan koreografi seorang diri yang diperkirakan berujung absen pada konser tur SM Town di Osaka pekan depan. Uh, membayangkannya saja gadis Kwon itu sudah kesal.

Saat mencoba untuk berjalan, dipastikan kaki kanan perempuan itu terseok-seok parah. Seperti cumi-cumi yang memberontak dijadikan cumi kering oleh nelayan, semakin memaksa mengukuhkan diri, cumi-cumi itu, toh, tetap menjadi cumi kering. Dan, perempuan itu tidak ingin kakinya menjadi seperti cumi-cumi kering yang dijadikan teman minum soju. Tetapi, ia juga tidak ingin melewatkan pekan konser minggu depan bersama keluarga besar SM Town yang rutin diadakan setiap tahun itu.

Handuk basah yang menyerap keringat kerja keras itu Boa hempaskan ke kaki yang cedera. Frustasi akibat terluka saat berlatih lagi-lagi mendera. Sungguh, bukan ini sebenarnya yang ia inginkan dari kerja kerasnya selama ini.

Teriakan untuk namanya, dukungan untuk dirinya, cinta para penggemarnya, demi membalas semua itulah yang Boa ingin hasilkan dari usaha serta kerja kerasnya selama ini. Namun ternyata tak selamanya keinginan gadis Kwon itu berlabuh pada sebuah kenyataan.

“Oh, Kwon Boa kaukah itu?”

Seruan suara berat lelaki yang Boa kenal pasti tiba-tiba menebas sunyi studio latihan. Uh, harusnya pintu itu dikunci juga agar si pemilik suara bass itu tidak bisa menyelonong masuk. Karena, Boa tidak suka terhadap penampilan dirinya saat ini yang dapat disaksikan oleh laki-laki itu. Terdesak di sudut studio menari dengan kaki yang terkilir dan lebam di depan Jung Yunho itu tidak keren sama sekali.

“Ah, benar itu kau. Dan, yaaaaa!” Laki-laki itu sekonyong-konyong berteriak lalu berjongkok di hadapan gadis itu. Tampang garangnya yang dikenal sebagai pemimpin pasukan itu makin mengeras tatkala mendapati lebam di sekujur kaki Boa. “Ya ampun, mengapa kau melukai dirimu sendiri?”

“Hm, ini bukan apa-apa, kok. Sebentar lagi nyerinya akan hilang. Tak usah kuatir, Yunho-ya.”

“Tak usah kuatir bagaimana ceritanya, huh?” Pria berkepala agak plontos itu lalu mengambil-alih ruang kosong di sebelah Boa. Mengabaikan tampang sedikit tak suka Boa, Yunho lantas segera menarik kaki Boa yang terluka ke atas pangkuannya dan memijatnya pelan-pelan.

Argh, pelan-pelan! Sakit tahu!” Tangan gadis itu meremas jaket yang Yunho pakai. Ekspresi kesakitan yang dipancarkan wajah Boa serta reaksinya justru semakin meningkatkan intensitas Yunho meredakan nyeri yang dirasakan oleh kaki rekan seagensinya itu.

“Hei, hentikan-hentikan!” pinta Boa sungguh-sungguh dengan seberkas airmata yang mendesak-desak ingin keluar dari pelupuk mata. Efeknya sungguh drastis, lelaki itu pun merasa tidak enak sehingga menuruti. “Memangnya sejak kapan kau bisa memijat? Huh?”

“Sejak aku masuk wajib militer.” pungkas Yunho santai.

Tck, pantas saja. Omong-omong, kenapa kau ada di sini?”

Jam analog yang melingkar di pergelangan tangan kiri Boa menunjukkan pukul sebelas malam. Bukan masalah waktu yang sudah menggelap, ataupun presensi yang hanya digenapi oleh mereka berdua saja melainkan kewajiban setiap warga negara pria Korea selatan yang saat ini tengah diemban oleh Yunho sebagai seorang tentara. Kenapa seorang tentara aktif bisa berkeliaran di tengah gedung malam-malam begini?

“Tiga hari ini pasukan tempat aku bermarkas sedang cuti. Ya, jadi, —“

“—jadi kau menyelinap masuk ke SM Building, ingin mengambil alih ruang studio dance untuk dirimu sendiri lalu—“ sambar Boa tak acuh.

Lelaki itu pun tak mau kalah dan balas memapas perkataan gadis itu dengan, “—menyadari jika aku sudah kedahuluan oleh kentang rebus yang tergelepar di lantai. Karena kebodohannya sendiri, ia sampai cedera dua kali dalam satu waktu.”

Yunho pun segera mematahkan balasan gadis itu dengan tatapan yang datar. Cukup lama mereka terdiam sampai-sampai yang terdengar hanya tiupan pendingin udara yang disetel cukup rendah. Menyiangi udara malam musim panas yang semakin menghebat.

Boa rasanya ingin berteriak di depan muka Yunho namun urung melakukannya. Ketika seseorang yang kita kenal dekat tapi dengan santainya malah menghakimi langsung diri kita sendiri. Tapi, bukankah itu lebih baik dibandingkan mereka yang menusuk dari belakang. Lagipula, apa yang Yunho bilang juga ada benarnya, kebodohan yang menghadiahkan cedera sampai dua kali parahnya itu memang ia sendiri yang buat.

Tiba-tiba, Yunho menyapukan sentuhan hangat di atas puncak kepala gadis itu. “Ada-ada saja kau ini, pakai cedera segala. Padahal aku ingin ajak kau keluar selagi aku sedang off.”

“Hei, memangnya aku yang merencanakan ini?”

Yunho yang cerewetnya sama dengan penjual sayur di pasar memang akan selalu begitu terhadap Boa yang gemar mencederakan diri kala waktu latihan. Di balik sifat kokoh dan dinginnya, Yunho juga dijuluki sebagai ‘ayahnya anak-anak’ lantaran sebagaimana ia peduli terhadap rekan satu label agensi dan adik-adiknya. Terlebih kepada mereka yang kedapatan selalu berakhir melukai diri sendiri saat latihan demi tuntutan para petinggi perusahaan yang tinggal ongkang-angkeng kaki saja.

Satu dua waktu, Yunho lekas melempar senyuman lugu terhadap perempuan di sisinya.

Aigoo, tersenyum sedikit dong. Kau pikir aku ke mari hanya untuk menikmati wajahmu yang cemberut? Lagipula, tidak perlu kau merasa bersalah atas dirimu sendiri.”

“Ah aku tidak tahu!” Boa mengacak-acak rambutnya sendiri. Ia lantas melirik Yunho dengan pandangan yang sayu, “ayo kita keluar saja. Traktir aku minum, Yunho-ya!”

Dan, tanpa berpikir panjang Yunho pun mengiakan ajakan frustasi rekan seagensinya. Minum-minum memang jalan keluar tercepat kala stress datang. Tak lupa pekerjaan rumah selanjutnya bagi Yunho yakni memastikan agar Boa untuk segera mendapatkan perawatan.

Terjatuh bukan berarti kalah atau lemah. Waktu yang tidak bagus datang menerpa lantas tak harus disalahkan. Demikian bagi Boa yang bangkit kembali demi mengembalikan cinta para Jumping BoA seratus kali lipat. Sehabis terjatuh, bangkit dan menjadi lebih kuatlah yang harusnya menimpa kita.[]


a/n:

balik lagi dengan new pairing fenomenal (The King and Queen of KPOP Kingdom Former) yang debut di Classic Dream…semoga ceritanya tak terkesan maksa T_T soalnya saya sempat pusying di bagian ending-nya. huhu. 

but still, thanks for your adolescent presence and have a nice day^^~

Advertisements

Escape your thoughts!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s