[Ficlet] An Aide-mémoire

aem

August 2016©

An Aide-mémoire

EXO Kim Junmyeon/Suho with slight appearance from Red Velvet Bae Joohyun/Irene and miss A Bae Suzy | AU!Siblings, College-life, Drama, Family, Hurt/Comfort, Sad-romance | Ficlet, Stand-alone | beside the poster and story-line I own nothing! |

All For You Togeher

.

.

… Bagi Kim Junmyeon seorang hanya Bae Joohyun-lah satu arti hakiki dari kesempurnaan.

.

.

Bagi Kim Junmyeon seumur hidup hari ini adalah yang terburuk dari yang paling terburuk.

Kamar tidur persegi empunya Junmyeon tak pernah sebegitu kacau balau layaknya kapal pecah. Tak seperti hari ini. Ketika akhir musim semi beranjak ke awal musim panas. Batas waktu paling toleran bagi angkatan 2012 melewati batas peraduan alias masa bakti sebagai mahasiswa untuk diwisuda.

“Ah, sial! Di mana teks pidato itu aku simpan, sih?”

Mengikuti arah pandang hazel pria itu, tumpukan diktat kuliah dibuat berserakan tak karuan. Disusul dengan modul-modul Manajemen Pemasaran yang terbuka halaman demi halaman, serta belantara fotokopi materi semasa kuliah S-1 Manajemen Bisnis yang sebentar lagi akan dimusiumkan. Junmyeon kewalahan bukan main. Dan, tentu saja perkara itu bukanlah sesuatu yang baik untuk mengawali si wisudawan S-1 terbaik seangkatan itu.

Faktanya pula, pada saat sesi sambutan nanti, Junmyeon didaulat sebagai perwakilan mahasiswa untuk menyiarkan satu dua patah kata. Namun bagi Kim Junmyeon, kali ini hal itu tentu bukan lagi sebuah kehormatan melainkan bencana. Perkara itu tentu muncul dari teks pidato olahannya yang raib begitu saja. Perihal raibnya teks pidato pun otomatis berimbas pada titel mahasiswa terbaik yang ia raih. Seperti, bagaimana mungkin seorang wisudawan terbaik menghilangkan teks pidatonya? Tidak dapat dipercaya.

“Ayolah, jangan seperti ini Kim Junmyeon! Coba kauingat di mana semalam kau menyimpannya, huh!” omel Junmyeon terhadap dirinya sendiri.

Di atas bantalan matras samping meja belajarnya Junmyeon hempaskan tubuh yang sudah dibuat lelah sedari subuh. Napasnya pun dibuang pelan seiring dengan keluhan dari bibirnya. Dasi bergaris abu-abu simetris yang berdiam pada kerah kemeja biru muda Junmyeon merdekakan dengan kasar. Masih menggegamnya erat, Junmyeon tentu selalu ingat akan Joohyun karena dia yang memberikannya sebagai kado natal tahun lalu. Kado favorit dari sekian hal-hal terfavoritnya bersama Bae Joohyun.

Hal-hal terfavorit bagi Junmyeon ialah gadis itu. Gadis itu ialah Bae Joohun-nya. Terompet sangkakala yang mengakhiri masa-masa sendu Junmyeon, selalu. Ketika ada satu dua hal yang membuat Junmyeon gelisah Joohyun-lah yang senantiasa mengakhiri. Lebih dari sekedar teman, sahabat, kekasih, kakak. Bagi Kim Junmyeon seorang hanya Bae Joohyun-lah satu arti hakiki dari kesempurnaan.

Uh, Junmyeon lagi-lagi jadi ingat Bae Joohyun. Andai saja Joohyun mengetahui kisah pagi-pagi suntuk ini, habislah ia dengan kata-kata setajam suntikan rumahsakit milik Joohyun soal sifat pelupa yang Joonmyeon kantungi. Namun ujung-ujungnya pun selalu Joohyun yang bisa berlapang dada dan menerima kekurangannya. Dan, dengan sihirnya hanya Joohyun yang mampu mengonversikan titik-titik hitam Junmyeon menjadi serbuan cahaya yang berbinar.

Senyum dengan sedikit jarak pun sejenak Junmyeon buat. Ia mengayunkan jemari untuk menyisir ke belakang anak-anak rambut yang berjatuhan menutupi dahi. Mengatupkan sepasang bola mata hazel-nya sejenak.

.

.

.

“Apa kau ingat bagaimana saat pertama kali kita bertemu?”

“Hm, itu..”

“Tck, ‘kan, lagi-lagi lupa. Kapan bisa ingat dengan benar, sih?”

“Ih siapa bilang tidak ingat, huh? Dasar Nona Tuukang Suka Ambil Simpulan Seenaknya.”

“Hei, seharusnya kau berkaca di atas air mineral dulu, Tuan Pelupa dan Ceroboh,”

“Desember 2010, pukul tiga lewat sepuluh sore hari, ruang kelas 1-F, Bae Joohyun, aku, kacamata. Aku ingat semuanya.”

“Ah, tidak juga tuh. Kau melewatkan satu hal yang, hm, penting.”

“Tidak mungkin,”

.

.

.

“Hatiku yang langsung kaucuri pada saat itu juga.”

“Dan, hatiku yang belum pernah kaukembalikan sejak saat itu juga..”

.

.

.

‘Drrrt!’

Dan, vibrasi yang berasal dari ponsel Junmyeon kembali menghempaskannya ke dalam dunia nyata yang untuk saat ini begitu kontras dengan imajinya. Perkara hilangnya teks pidato sialan itu. Nama pemanggil yang tertera pada layar membawa tanda tanya sekaligus cengiran sederhana pada kanvas wajah Junmyeon. Segera ia angkat panggilan pagi-pagi dari itu dan berkata,

“Selamat pagi, Nona Bae!  Kau pasti da—“

Sejurus kemudian air muka Kim Junmyeon memucat seperti batu gipsum yang diratakan dengan tanah.. Lafal empunya suara dari seberang telepon pun seketika tak digubris lagi oleh Junmyeon. Ia tersenyum sendu.

“Tidak, dia pasti tahu. Ah, syukurlah. Kalau begitu sampai bertemu di hall kampus, Sooji-ya!”

.

.

.

“Sedang kelabakan mencari teks pidato ‘kan? Kak Junmyeon semalam meninggalkannya di kamar Kak Joohyun. Jika kakakku tahu kau masih ceroboh seperti ini, ia takkan menyukainya.”[]

.

.

.


a/n:

ada yang bisa sulap saya supaya bisa mengisahkan Surene dengan lebih bahagia dan bergelora? Huhu, entah kenapa bawaan perasaan setiap menulis Surene ujung-ujungnya selalu angst dan sad……padahal kan juga pengen atuh buat versi happy mereka berdua yang unyu-unyu itu.. huhu…

Advertisements

6 comments

  1. Ahh eonnie… Suka tiap baca ficlet surene lanjutan ini walaupun ini fic genrenya angst and sad..
    Tiap baca bener2 kerasa sedihnya… Ahh kisah cinta surene yg tragis dan persaudaraan surene (suzy-irene) yg manis…

    Like

    1. Aku kira Surene yang kamu maksud itu (suhoxirene) tapi ternyata bisa untuk (suzyxirene) juga yah. haha..
      ya aku juga gatau kenapa tiap nulis dua surene ini gabisa jauh2 dari sad, kan pengin juga buat yang hepi-hepi. huhu/
      anyway makasih ya sudah sempatin baca dan komen ^^

      Liked by 1 person

  2. Surene gueee kenapa jadi angst ?
    *tenang Liana ini hanya masalah AU
    Jadi, entah kenapa aku merasa ficmu yg ini terasa light, mgkin Krn pilihan bahasanya juga ya. Dan sesungguhnya ini juga ga angst bgt juga. Cuma sedikit sedih, tapi ttp ada lucu2nya.
    Kelemahannya palingan cuma summary yg menurutku krg masuk sama isinya hehe.
    Keep writing xian!

    Like

    1. Surene angst hits me hardT_T hehe
      ah baik2, kukira yang satu ini sudah termasuk angst ya tapi ternyata masih kurang ngena.
      dan, sesungguhnya, setelah kutilik kembali, bener banget summary yang aku buat sedikit hubungannya dengan isi ternyata T_T
      ah terimakasih kak review-nya kak!
      semangat menulis juga kakli~

      Like

Escape your thoughts!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s