[Playlist-Fict] #40: IGNITE

40

September 2016©

xianara presents

playlist-fict #40: IGNITE

song-based story with Red Velvet Bae Irene and EXO Kim Suho

.

AU, Angst, Drama, Family, Hurt/Comfort, Marriage-Life, Romance, Sad, Semi-Supernatural, Semi-Surrealism, Tragedy | PG 17 | Ficlet, Song-fict |

.

Dalam kehangatan airmata yang jatuh, aku pikir aku mengerti apa itu kebaikan.
Tapi mengapa ada rasa sakit lagi yang melahirkan sebuah kebencian. —IGNITE (Sword Art Online OST) by Eir Aoi
.

.

.

part of Playlist-Fict

Mungkin hati itu terlanjur mengeras (itu yang orang-orang bilang) mengingat konflik yang ditanggung seorang diri, dihadapi terlalu dini. Terlalu banyak posisi yang ditempati, terlalu banyak hati yang musti dijaga, dimengerti, hingga dia tidak lagi sempat memahami dirinya sendiri. Terpaksa melupakan identitas diri sendiri. Padahal tidak seharusnya keterpaksaan itu muncul atas nama pengorbanan. Terlebih ketika pengorbanan itu terusut atas nama cinta.

‘Sampai kapan aku harus mengalah?’ bisik Irene dalam hati.

Wanita berbadan mungil itu terduduk di atas amben berkelambu. Memangku kesepian yang menjengah tatkala kesendirian telah bosan menemani. Cangkir kopinya setengah isi. Kafein Arabica favoritnya mendingin tapi tak sedingin hati Irene. Sinar rembulan di tengah malam mengamati dari atas kegelapan antariksa.

Untuk yang terakhir, kopi dingin itu Irene sesap sebelum ditinggalkan bersama tatakan yang ujungnya soak. Setelan baju tidur nan tipis itu meminta agar tubuhnya dihangatkan. Entah siapa saja yang rela menghangatkan atau bisa mengalahkan sentuhan sentral milik prianya.

Kedua bola mata warna musim gugur itu bergetar seiring dengan sesak yang menggerogoti rongga dada. Malam ini akan selalu menjadi malam-malam yang biasa Irene lalui. Malam yang dingin. Malam yang pergi.

‘Mengapa sering sekali bongkahan batu es di dalam hatiku ini enggan mencair? Padahal—‘

“Aku selalu di sisimu. Tidak pernah meninggalkanmu.”

“—SUHO?!”

Prianya Irene. Suho. Meniadakan jengkal dengan sang wanita melalui dekapan erat. Irene membenamkan wajah di atas dada Suho, membiarkan segala biru yang dirasa hatinya luruh tak bercela. Begitupula dengan Suho yang mengecup halus dan berulang pada puncak kepala Irene.

Ugh, mengapa—“

Sst. Bicaranya nanti saja.” ujar Suho telak.

Ia merenggangkan sedikit pelukan lalu mengangkat wajah rupawan Irene yang basah lantaran luapan emosi yang tak terbendung. Tersenyum tanpa cela, Suho lalu meraih dagu Irene dan mendaratkan kecupan hangat di atas bibir Irene. Bibirnya menekan lembut bibir Irene yang sangat ia rindu sebegitu lama. Kecupan itu singkat namun memikat.

Akan tetapi, lepasnya kontak bibir itu tak berarti berakhir pula interaksi. Tanpa dikomando, Irene menarik leher pria itu lalu melumat bibir lembut Suho yang tidak pernah sekali waktu tidak pernah sekalipun tidak bisa tidak mendigdayakan raganya yang rapuh.

Protokol dalam berciuman tidak berlaku bagi Suho atau Irene ketika Suho membalas erupsi Irene tidak kalah hebat. Tangannya yang kekar memeluk Irene rekat. Spasi di antara mereka seolah bersinergi agar keduanya saling bertarikan. Dalam cinta, bahasa yang terbaik adalah bahasa kalbu. Tanpa perlu aksara Irene berinteraksi dengan Suho. Jari-jari mereka pun saling bertaut dan melahap kekosongan yang ada secara inheren.

Kembali ke awal kisah ini ditutukan tadi, konflik yang ditanggung seorang, dihadapi terlalu dini, memicu sang gadis jadi bersahabat dengan rasa sakit. Usia awal duapuluhan, menjanda dengan cara yang Irene sama sekali tidak akan pernah bayangkan. Pertanyaan tentang keadilan dan nurani itu selalu Irene cari tanpa pernah mendapati.

“Kamu di sini harus baik-baik saja, ya. Aku hanya ingin liat semuanya bahagia, semuanya damai, meskipun tanpa aku di sini.” pesan Suho dengan lembut. “Tidak apa-apa kalau kalian sejenak lupa sama aku karena yang terpenting buat aku saat ini adalah anak-anak kita. Doyoung dan Yerim, aku ingin mereka menjadi pria dan wanita yang pintar memaknai hidup, sayang selalu sama kamu, dan jadi sosok yang membanggakan minimal buat diri sendiri.”

“Lalu bagaimana dengan mereka? Kamu ngga ingin aku melakukan sesuatu agar rasa sakitku ini minimal juga sedikit terobati?” Irene berkata tanpa mampu membendung isak tangis yang selama ini ia sembunyikan demi memberi rasa jengah pada duka yang menyelimuti. Masa berkabung yang sebenarnya setengah hidup ia lawan. Demi kedua putera-puterinya yang tidak boleh melihat ibunya bersedih di atas kemenangan rasa kehilangan.

Ngga perlu untuk balas mereka, Irene.”

Jika sampai saat ini puja-puji lantang terdengar serta ketangguhan masih sanggup Irene perankan, sungguh semua hanyalah karena kemurahan Sang Maha Pemurah. Dia terlalu sayang pada Irene, orang-orang meyakinkannya begitu. Sebagai wanita independen, ibu tunggal bagi anak-anaknya sekarang, anak wayang, bidak catur, dan perumpamaan-perumpamaan lainnya menarik satu garis lurus bahwa Irene memang ada sesuai dengan khasanah di mana Irene berada.

Suho adalah satu-satunya pria sekaligus tempat yang menjadi landasan di mana Irene selalu berada. Irene selalu mengisi ruang di dalam diri Suho dengan terintegrasi. Sampai kapanpun itu.[]


.

.

.

a/n:

AKU JUGA NGGA TAU KENAPA AKU NULIS SURENE JADINYA MACAM INI!!!??/? 

plis, maafkan saya karena telah menodai fantasi indah SURENE sekali lagi di ficts iniT_T ya ya saya memang terlalu sering mengacaukan mereka berdua padahal tak maksud kaya gitu, huh. setelah Mbak Joohyun yang aku ‘tiadakan’ sekarang giliran Mas Junmen :”( plisss maafkeun sayaaa~~~~ (segera ndusel-ndusel Naejaem/gabangethikss/)

(anyway congrats untuk Playlist-Fict yg udah masuk ke seri yang ke-empatpuluh-nya T_T ayo ditunggu seri ke-limapuluh, seratus, duaratus, dan seribunyaT_T!!! terimakasih juga atas cinta (yeay sarangiya) teman-teman Dreamers atas seri ini<3 i will work harder even to the fullest to repay your unconditionally love and support^^~)

last, thanks for reading!

Advertisements

6 comments

  1. alamakjang!!
    pertama kegirangan sendiri karena ini SuRene!
    trus smpe ke obrolan merka, jadi tmbah teriak gaje (pdhal ni baca pas di kerjaan lho) ketika tau anak mereka Dooyoung sama Yerim!!
    awkawkawk.
    Xian! kau tega membunuh bapak dari dua anak ini. kesian juga bu irene kan jd janda. tp gpp,, ntr ada pak xiumin yg bersedia jd sandaran bu irene

    Like

  2. Eonnie… Awal baca tanpa liat genre… Udah happy aja pas baca sampai bagian tengah tumben surene keknya happy life… Eee… Ternyata sepertiga bagian terakhir langsung bikin down… Karena nyesek lg…. Sekarang mas junmyeon yg ga ada… Sabar ya mb irene… Fighting… Kekeke…. 😂😂😂😂😂😂

    Like

  3. Jjang~~~ Ih tiap aku mampir ke sini mesti ketepatan ada SuRene, dan yang awalnya ga gitu suka sama mereka udah lumayan bisa menerima (?) karena kak liana juga pakenya pasangan ini sih heuu. Jadi aku baca mulu wkwk XD

    Kembali ke cerita. Aku suka banget penggambarannya, meski pengen tau sisi life-nya juga sih pas era joonma meninggal itu kenapa, trus reaksi keluarga sama anak2nya gimana hmm ((banyak mau)).

    Anyway mau koreksi dikit kak:
    – …tidak pernah sekalipun tidak bisa tidak mendigdayakan… << ini apa ngga terlalu banyak 'tidak'? menurutku kalimat itu bisa lebih disederhanakan lagi hehe.
    – liat << nggak baku, kak, harusnya lihat.
    – Kata 'ngga' ini agak mengganggu karena dari awal konsepnya adalah formal. Dan 'ngga' itu menurutku kurang formal, cmiiw :3

    Udah deh itu aja. Selebihnya, masihlah kakak selalu pakai kosakata ilmiah ((dan aku baru sadar itu ciri khas!! hihi)) semangat berkarya ya, dan maafkan aku baru nongol sekarang 😦 keep writing!

    Like

    1. Surene is shipping further assa~~
      wah terimakasih review-nya Nis! daku pikir penggambaran minim ini takkan sampai ke pembaca karena efek length-nya ini wkwk.
      ahh makasih banyak koreksinya T_T setelah aku baca ulang dan ricek lagi artinya jadi njlimet gitu ya. kkk. anyway makasih sudah berkunjung Niswa~

      Liked by 1 person

Escape your thoughts!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s