[Playlist-Fict] #41: LOVE LOST

41

September 2016©

PLAYLIST-FICT #41: LOVE LOST

Dan jika kau memberikan hatimu, takkan aku salah gunakan. Aku berjanji. Love Lost by The Tempertrap

Morning Glory #1: Jongdae x Luna

.

.

Part of PLAYLIST-FICT

.

.

Senja memeluk hari Selasa dengan erat. Mengiringi tiap langkah para pejalan kaki di pedestrian distrik paling sibuk di timur kota Seoul. Bagi metropolis yang menawarkan kreativitas tanpa batas jelasnya gurat lelah senantiasa menghantui tiap lekuk wajah yang didominasi oleh mereka, para eksekutif muda ataupun penggiat karya. Peranjakan artifisial tersebut malah cenderung menciptakan hari-hari yang melelahkan. Hari esok nyatanya akan tetap sama saja, tegas mereka.

Akan tetapi hal itu musykil jadinya bagi seorang Kim Jongdae. Hari-hari yang akan datang adalah misteri. Setiap hari adalah petualangan. Petualangan yang kudu dijalani bagaimana jadinya nanti.

Sebut saja musim panas yang telah menyinggung bagian akhir melatari momentum di mana si maniak pekerja sambilan—Kim Jongdae memang baru menyelesaikan pekerjaan sambilan nomor empatnya, pelayan paruh waktu di kafetaria kampus KNU—mengambil langkah yang seratus delapanpuluh derajat berbeda dengan orang-orang berpakaian kasual nan trendi di sekitar.

Langkah kaki yang selebar senyumnya tidak lelah Jongdae suguhkan menuju salah satu gedung bertingkat yang terletak di sudut distrik Gangnam barat. Lantunan lagu musim panas ala idol-idol cantik yang liriknya sudah dilanturkan sedemikian rupa sejak kepergian dari rumah seperti piringan hitam yang diputar di gramofon ajaib bertajuk tembang lawas yang tak kenal masa. Orang-orang sekitar memandang heran tapi ada juga yang memilih tidak menghiraukan kelakuan norak Jongdae saat bergoyang asal bertumbuk dengan kaca etalase toko-toko baju. Pria itu juga masa bodoh. Yang jelas kembang api tahun baru di dalam hatiku ini takkan pernah padam.

Sukacita macam disatroni Santa dengan segudang kado natal memang tengah dirasakan oleh Jongdae lantaran satu pesan yang masuk ke ponsel bututnya dari aktris musikal bernama Park Soonyoung tidak kurang dari setengah jam yang lalu.

 ***

Lima belas menit yang lalu,

Untuk beberapa waktu sindrom Aphasia menerjang kesadaran Jongdae ketika menerima pesan dari Soonyoung. Baru saja hendak rehat, ponsel di saku hoodie usangnya bergetar. Notifikasi katalk menyempil. Membawa pesan ajakan Soonyoung yang hampir membuat urat-urat mata Jongdae menjuntai keluar seperti sebaskom kecambah yang sedang dicabuti sang nenek di ruang tengah.

Soonyoung:

Mari bertemu selesai kau kerja sambilan, Jongdae-ya!

Tunggu aku di depan The Scene Building pukul setengah lima sore, ok~

Aku akan menunggu di sana.

Saat membaca dan melihat nama si pengirim sesungguhnya Jongdae tidak berharap apa-apa. Sungguh, kok. Untuk dia, aku tidak berharap apa-apa kecuali kebahagiannya. Karena yang tengah Jongdae hadapi secara definit bukan sekedar tembok pagar rumah-rumah tradisional di kampung halaman yang bisa diloncati dalam kondisi tutup mata sekali pun. Bukan juga saluran irigasi pertanian di desa Cheongju yang dahulu Jondae cilik lintasi sembari berfantasi menjadi prajurit Joseon berperang dengan Jepun. Tembok yang satu ini tidak terlihat dan sulit ditaklukan. Terlalu dingin untuk disentuh. Terlampau tinggi bahkan untuk didaki penakluk tebing di seluruh dunia sekalipun.

Ya, ya, ya. Park Soonyoung, si aktris musikal rupawan itu; sang tembok tinggi yang bersukma surgawi.

 “Tidak bisa dipercaya?! Ini ajakan kencan, ya?”

Bunyi plak bermuara di atas dahi seluas lapangan sepak bola itu. Menggeleng kencang bak gerombolan angin yang menampar jemuran pakaian di balkon, alih-alih menurunkan kesadaran yang sudah menukik tajam ke atas langit ketujuh.

Jangan berharap banyak, Jongdae-ya! Ingat itu. Bisa saja Soonyoung memang sedang butuh bantuanmu.

Dagu mulusnya Jongdae usap, tanda ia ingin membenarkan ucapan Jongdae bersayap barusan. Namun lain halnya dengan Jongdae lain bertanduk merah, senyum congkaknya terarah kepada Jongdae asli.

“Kalau memang ingin minta bantuan ‘kan bisa sama teman yang ada di sana. Masa aktris musikal berbakat macam dia tidak punya teman. Coba pikirkan sekali lagi. Soonyoung, jika benar ia butuh bantuan, mengapa ia menghubungimu bukan orang lain. Mengapa itu harus dirimu, Kim Jongdae?

Mengangguk tanda idem, Jongdae lalu dibuat berpaling oleh ucapan Jongdae putih. “Itu karena dia lebih percaya sama kau dibanding orang lain. Tanpa maksud apa-apa. Tulus. Tidak mengharap balasan. Kau tahu juga dengan benar.”

“Tidak mungkin! Jaman sekarang mana ada orang berlaku baik tanpa mengharapkan imbalan? Kalian itu hanya manusia. Malaikat saja yang sebegitu lebih agung daripada manusia bisa dibuang ke bumi lantaran juga mampu berbuat kesalahan. Nah, apalagi kalian?”

“Bekal kodrati seorang manusia itu namanya. Ketika lahir manusia pada dasarnya adalah baik, putih, bersih.”

“Dasar pembual! Tidak benar, Jongdae-ya. Justru kali ini adalah kesempatan yang selama ini kau nanti-nantikan. Apa lagi yang sedang kautunggu?”

Jongdae-ya, berharap jangan melebihi kenyataan dan usaha. Usaha tidak akan pernah membohongi hasil. Jadi, apa memang kau sudah berusaha untuk Park Soonyoung? Apa yang sudah dia lakukan untukmu? Atau apa yang sudah kaulakukan untuknya selama ini?”

Kalimat terakhir yang dilontarkan oleh Jongdae putih efeknya sungguh dahsyat. Kira-kira sekuat Muhammad Ali menjotos ulu hati Jongdae telak. Perdebatan kedua Jongdae itu pasti akan berakhir tanpa berhenti. Sinar yang sempat menerangi binar mata cokelat pemuda itu meredup perlahan. Kedua Jongdae yang banyak bicara pun menguap ke udara seiring dengan ambruk kembali si pemuda Kim ke lantai yang menjalarkan kehangatan mesin pemanas buatan walaupun sering angot-angotan.

Senyum lemah juga nyinyir Jongdae didapati oleh sang nenek. Tidak terlalu heran juga, sih, beliau terhadap tingkah laku cucu lelaki satu-satunya itu.

“Hei, ada apa? Kelakuanmu tadi sudah melebihi atlet Korea selatan yang dapat emas di Brazil. Nah, sekarang kok jadi kaya kurang gizi begini?” Nenek berkata tanpa menatap langsung Jongdae.

“Tidak ada apa-apa. Nenek tahulah, aku orangnya ‘kan memang begini. Hehe.” Tawa terpaksa Jongdae kukuhkan. Ya, tanpa ia beritahu, neneknya juga tahu kalau ada yang tidak beres dengan Jongdae. Namun, pria itu tidak ingin masalah tidak penting, sebenarnya tidak pantas disebut sebagai masalah juga, ikut dirasakan neneknya. Sakitnya—ya, nyatanya sesak dan nyeri dirasakan hatinya—cukup hanya di sini, di hati Jongdae saja.

Tck, dasar anak jaman sekarang.” ceplos Nenek. “Jadi manusia tidak baik terlalu banyak berpikir. Ketika ada keadaan yang mengharuskan kau loncat dari atas jurang tetapi kau tidak bisa, justru pada saat itulah kau memang harus melakukannya. Atau kau malah akan terlalu banyak berpikir dan berakhir tanpa melakukan apa-apa. Tidak ada yang bisa kaudapat juga. Akhirnya malah menyesal,”

Jongdae mengekor pandangan sang nenek yang jatuh pada lantai tegel kayu rumah yang sudah terasa tipis. Adalah jelas tanda-tanda harus segera diganti. Atau saat musim dingin tiba nanti bisa dipastikan Jongdae dan sang nenek akan bertransformasi menjadi zombie kulkas gara-gara suhu dingin yang mencekik. Separuh napas ia hembuskan dengan sungkan. Pikirannya sibuk menyelisik arti dari perkataan sang nenek.

“Tuh, kau masih saja berpikir. Tck, tck, benar-benar tidak ada harapan.” Nenek berkata dengan pelan namun tiap kata-katanya justru adalah jarum-jarum kecil yang menusuk-nusuk punggung Jongdae dengan lantang. “Tunjukkan perasaanmu dengan benar dan tulus. Benar saja tidak cukup kalau tidak ada ketulusan di dalamnya.”

“Eh?? Haha, “ Jongdae merespon asal. Netra karamel dijunjung agar tidak mengarah kepada sang nenek yang sudah menghentikan kegiatan menyiangi kecambah dan memberi atensi penuh kepada cucu semata wayang. “Nenek ngomong apa, sih? Ya ampun, Nenek harus mengurangi menonton drama yang tayang Rabu-Kamis itu. Ah, atau Nenek ingin makan kue beras lagi?? Baik-baik akan aku belikan selepas kerja.” Jongdae mengiming-iming lalu tersenyum lemah. Lagi-lagi selalu dilumpuhkan oleh hatinya sendiri.

Nenek tidak langsung membalas iming-iming rasa pengalihan topik barusan. Terang saja ia memang sedang ingin makan kue favoritnya tetapi pudarnya senyuman pada wajah cucunya tentu yang paling ingin lekas beliau singkirkan untuk saat ini.

Aksara diam dituturkan sejenak. Tidak seharusnya hati atau pikiran dangkal ini melambatkan rasa yang sudah tumbuh sekian besar dan lama untuk Soonyoung seorang. Yang ada seharusnya penguatan tak bercela, rasa suka yang makin dalam, serta keberanian untuk menaklukkan tembok tinggi itu. Agak lama baginya untuk memahami bahwa harapan adalah kekuatan yang selama ini buat Jongdae mampu bertahan. Sangat tolol ketika Jongdae percaya pada keyakinan kosong yang dibangun oleh egoisme dalam dirinya sendiri ketika tidak boleh berharap lebih. Jelas sekali bukan? Segala usaha yang selama ini dikerahkan selalu tidak maksimal, setengah-setengah, kental akan keragu-raguan.

Karena itu, sudah seharusnya pula bagi manusia untuk tidak berhenti berharap.

Kipas angin dinding yang berputar lemah mengusir titik-titik panas yang hendak mendiami ruang televisi. Manjur pula untuk menghalau gerakan kosmik dari keraguan untuk tidak sekali lagi mengibar panji kolonialisme di sudut hati terdalam Jongdae.

Awan kelabu yang sempat menaungi antariksa pria Kim berganti menjadi langit biru tak berujung beserta sekumpulan burung kolbi yang bermigrasi. Pelangi terlihat dalam kedua mata Soonyoung. Memutarkan sinema dalam gulungan film tentang Soonyoung yang selalu menerima kehadiran Jongdae dengan tangan terbuka setiap pagi kala ia mengantar susu kedelai. Tawa manis juga suara emas Soonyoung dalam tiap lakon musikal yang haram hukumnya untuk Jongdae hadiri pertunjukannya. Tukar obrolan pagi ala kadar dengan Soonyoung. Semuanya bagaikan mozaik-mozaik mimpi yang menggiatkan bahwa kesempatan itu selalu ada bagi siapa saja yang mengharapkannya. Dan, bijak menggunakannya.

Senyuman legi yang terasa terakhir kali bisa dilakukan oleh Jongdae limapuluh tahun yang lalu pun manisnya terukir kembali oleh keajaiban Soonyoung. Dan untuk si pelukis agung pelangi sehabis hujan, Jongdae lantas menghamburkan pelukan erat kepada sang nenek. Yang tentu saja dibalas tepukan keras serta teriakan ‘aduh’ lantaran kelakuan si cucu invalid yang menggelikan. Ya, kelakuan Kim Jongdae ‘kan memang begitu.

***

Pukul lima sore lewat lima menit,

Kolar kemeja putih kekecilan itu mencekik leher namun tidak mendapat perhatian berarti dari Jongdae yang kesulitan mengatur mimik wajah saat akan bertemu Soonyoung. Senyum yang dijunjung itu terlalu tinggi, hampir-hampir menyamai kedudukan kantung mata. Siapa saja yang melihat Jongdae saat ini pasti mengira jika ia terkena malpraktik operasi wajah pada tulang pipi. Menepukkan telapak tangan di sisi muka, melipat bibir agar sejenak rehat, sampai-sampai melakukan gerakan pemanasan, semuanya Jongdae lakukan. Tetapi gempa tremor dalam hatinya malah tak kunjung reda.

Orang-orang kasak-kusuk melihatnya. Yang dengan frontal menunjukkan jari ke Jongdae juga ada tetapi lagi tidak dipusingkan oleh Jongdae. Jelas yang melihatnya akan langsung berpandangan aneh ketika mendapati pria salah kostum—musim panas memang mau habis tapi hanya Deadpool  (Jongdae tidak pakai topeng, kok) yang akan memakai coat musim dingin dan kemeja licin lengan panjang—bersenam ria di lobi gedung milik salah satu agensi yang menaungi aktris dan aktor musikal top Korea selatan.

“Oh, Jongdae-ya!! Aku di sini!”

“Soonyoung-a, “

Aktris musikal itu berlarian kecil menghampiri Jongdae. Melihat penampilan teman prianya, Soonyoung jelas menahan tawa dengan sangat keras. Gempa tremor yang ada di dalam diri pria itu memang mereda namun digantikan dengan sesuatu yang lebih dahsyat, erupsi yang siap menumpahkan magma dari perut bumi dengan hebat.

“Wah, sekarang kau juga kerja sambilan jadi model pakaian. Aku iri padamu, Jongdae­-ya­!”

“Ada yang salah dengan penampilanku?”

Soonyoung menggeleng. Senyum yang manisnya tidak pernah berkurang bertengger di atas wajahnya.

“Kalau berpenampilan seperti ini aku malah tidak mengenalimu sebagai Kim Jongdae Si Pengantar Susu. Kau seperti orang lain.”

Jelas saja tidak ada tukang susu yang memakai setelan orang yang mau pergi pesta seperti yang aku pakai saat ini. Sebenarnya, aku juga lebih suka memakai sweter atau hoodie kesukaanku. Tapi ini demi kau Soonyoung-a! Puas bermonolog dalam hati, pria itu lalu melirik penampilan wanita mungil yang bersedekap di depan mukanya. Meski hanya memakai kemeja putih kebesaran yang dimasukkan ke dalam rok landung berwarna arang, Soonyoung tetap rupawan dan cantik. Tidak ada make-up yang mewarnai wajah nyatanya tetap membuat Soonyoung cantik dan sedap dipandang di mata Jongdae.

“Sekali-sekali tidak apa-apa, toh.” Jongdae berucap sekenanya. “Ah, jadi ada acara apa kau pakai memintaku datang ke sini? Apa ada yang bisa aku bantu?”

Mimik wajah Soonyoung mengeras sesaat setelah diingatkan maksud dan tujuan mengapa Jongdae datang ke gedung ini. Ekspresi kelam juga dibaca oleh Jongdae. Perasaannya berubah menjadi tidak enak. Ini pertama kali bagi Jongdae melihat wajah bersedih Soonyoung dalam jarak sedekat ini selain dalam adegan musikal yang khatam Jongdae tonton.

“Hei, ada apa ini? Wajahmu kok sedih begitu?”

“Jongdae-ya. Begini, aku, “ Soonyoung lambat-lambat dalam berucap. Jemarinya ia angkat untuk mengusap tengkuk yang terasa berat lantaran pekerjaan yang  meningkat frekuensinya akhir-akhir ini. “Ah, aku tidak enak ngomong-nya ini.”

“Katakan saja, apa yang bisa aku bantu?”

“Tapi, .”

“Katakan saja, apa yang bisa aku bantu?”

Anu, itu, janji ya kau ngga akan marah nanti.”

“Astaga, jangan buat aku jadi penasaran.”

“Dompetku ketinggalan. Boleh pinjam uangmu?”

Lewat dari sudut mata ilusi sendu itu berubah menjadi tawa kecil yang tidak terhitung berapa kali banyaknya membuat selalu Jongdae terperangah. Tanda damai salam dua jari Soonyoung lambaikan. Barusan gadis itu berakting?

“Hahaha, tampangmu lucu sekali. Hahaha, “ Soonyoung berkata sambil cekikikkan dan memegang perut.

“Itu barusan apa?”

“Akting. Bercanda.” sahut Soonyoung dengan susah payah. “Maaf-maaf, habis mukamu itu minta dikerjain banget. Aku ngga tahan. Haha.”

Jongdae lantas tersenyum lega. Mendung yang tercetak di wajahnya lantaran jebakan Soonyoung sirna oleh bayang-bayang layangan musim panas yang saring talik ulur, di bawahnya dikuasai oleh mereka berdua.

***

Pukul enam sore lewat beberapa menit,

Tidak ada satupun nikmat Tuhan yang bisa Jongdae dustakan atas segala duka lara yang telah ia jalani sejak kecil. Makan sehari tiga kali dan tidak pilih-pilih makanan. Terlindung dari ekstrimnya musim panas basah di dalam rumah empat petak peninggalan almarhum kakeknya. Masih bisa sekolah sampai SMU dan memilih untuk mengambil kursus keahlian yang dibiayai Kementerian Kesejahteraan dan Ketenagakerjaan dibanding mengambil Suneung. Nenek, hartanya yang paling berharga, yang masih diberi oleh Yang Tak Terbatas kesehatan dan keselamatan selalu di sisinya. Serta, menemani makhluk ciptaan-Nya berkawan secangkir kopi hitam dari Negeri di Tenggara sana.

Akting Soonyoung—yang tidak pernah salah kaprah tentu—rupanya berbuntut pada ajakan mengantar senja di metropolis mengitari bagian dunia yang lain. Lembayung yang bermandikan sinar violet dan merah jingga beranjak di atas langit macam kantung teh yang larut dengan gula dan air panas. Aroma biji kopi Robusta bertebaran di seluruh ruangan kafe. Obrolan kedua manusia itu lantas mengalir begitu saja menyaingi riak di selatan sungai Nil dan anak-anaknya hingga ke Alesandria. Banyak berharap agar hari kedua dalam sepekan tidak akan pernah berakhir dalam kisaran enam jam ke depan.

Tukar obrolan mulai dari saling lempar ejekan dan berbagi senda gurau, Jongdae hampir melupakan konklusi yang dari sore dibawa-bawa. Atau sengaja ia untuk melupakannya. Pasalnya, saat sudah bersama Soonyoung ia lupa bahwa dunia ini bukan milik mereka berdua. Kemeja sempit yang ia pinjam dari Dokter Sehun. Kantong bolong dari mantel musim dingin yang dibeli di pasar kaget Nongdaemun. Serta yang paling penting, pukul setengah delapan malam nanti ia harus sudah stand by menjalankan shift malam di SPBU.

“Alasan mengapa aku ingin bertemu karena sebenarnya ada hal yang ingin kubagi denganmu.”

“Benarkah? Kenapa aku?”

Ketika kata-kata saja tidak cukup untuk dilontarkan, tersenyum menjadi pilihan gadis itu. Di seberang meja Jongdae sudah berspekulasi dalam hati mengenai hal yang ingin Soonyoung bagi untuknya. Pikiran-pikiran liar sebagai pria sudah menjurus ke mana-mana. Namun dengan tangkas segera Jongdae sergah segala macam akal-akalan busuk Romanitisisme yang sesekali ia tegup dari roman karangan Kahlil Gibran milik tetangga dokternya. Selain berharap, kau juga banyak bermimpi. Cih, makan tuh mimpi. Menguliti habis konklusi dalam hati nyatanya membawa kembali telapak sepatunya melekat di atas lantai karpet beledu kafe setelah berfantasi ke Negeri Antah-Berantah yang hanya dimiliki pria.

“Karena kau temanku.” Soonyoung akhirnya buka suara. Walaupun terdengar suaranya berbenturan dengan sekat-sekat yang tergamam. “Teman yang lebih dekat daripada kolega aktris dan aktor musikal yang lain. Mari anggap saja begitu untuk saat ini.”

“Oke-oke, aku memang temanmu. Jadi?”

“Aku akan ke London bulan depan.”

“London?”

“Ya, ibukota Britania raya di utara Eropa yang kemarin-kemarin mendeklarasikan diri untuk keluar dari Uni Eropa.”

“Ada apa dengan London? He, maksudku kenapa kau akan pergi ke sana?”

Respon di luar dugaan yang dilihat sang gadis memberanikannya menghembuskan napas dengan lega. Lain halnya dengan Jongdae yang mengirit-irit buang napas. Bronkus-bronkus di pangkal paru-paru si pria tidak sanggup kembang-kempis seperti biasa meski yakin sang nenek bukan pengidap Ashtma. Walaupun begitu senyum pun diusahakan supaya tetap bisa ditorehkannya pakai hati.

“The Scene memberikanku beasiswa untuk belajar akting lebih dalam. Dan mereka memilih London. Di mana Hamlet dipentaskan di teater-teater dan ditonton oleh Anggota Kerajaan, Romeo dan Juliet lahir lewat tangan dingin Shakespeare.”

“Luar biasa.”

“Bukankah ini sangat luar biasa? Aku hebat ‘kan.”

“Ya, kau hebat. Selamat Park Soonyoung! Aku turut senang atas kepergianmu ke London.”

“Aku akan merindukan kota ini. Aku akan merindukanmu juga, Jongdae-ya.”

Tembok Berlin itu kini menyublim jadi lantunan kepedihan nan gagah Tembok Cina yang ujungnya hanya bisa dicapai dalam masa milyaran cahaya. Menunggu lagi, lagi menunggu. Sudah tahu, tahu sudah. Jongdae menyerah pada konklusi hatinya. Aku kira ini akhirnya yang bisa aku lakukan untukmu, Soonyoung-a. Membiarkan dirimu pergi bawa mimpimu juga harapan kita. Sehingga sudah seharusnya pula bagi Kim Jongdae untuk mematikan keraguan itu kembali. Karena akan ditemukan waktu yang tepat untuk mereka berdua untuk memadu kasih dalam pertalian benang rajut syal musim dingin yang terjalin erat, mengisi space tak bertuan yang dipertemukan oleh jarak itu sendiri. Berdesir dalam embun pagi kedua napas anak manusia yang saling menyusuri. Bayang-bayang berhak mengikuti dan mereka takkan mengingkari. Jongdae harus percaya itu.

Dalam keheningan yang sedemikian rupa itu rasanya tak pernah Jongdae tenggelam begitu dalam di lautan konklusi yang sudah entah seberapa banyak jeram yang dihasilkan juga di mana semua ini akan berakhir sehingga tidak mampu lagi kotak-kotak analisannya berteori dan memahami keteguhan sang gadis di hadapannya. Ia malah terjerembap pada wajah Soonyoung yang sejak bertukar obrolan tak pernah meredup sinarnya. Apakah gadis itu percaya bahwa dia akan baik-baik saja di London? Apakah jarak beribu-ribu kilometer jauhnya itu tidak lekas jadi sesuatu yang berbatas untuk Jongdae lewati agar bisa menghampirinya? Ya seandainya saja pada suatu hari nanti sayap-sayap itu patah dan jatuh berguguran tentu Jongdae akan mencegah bunyi gedebug itu mengotori lantai gedung opera jika ia nekat untuk terbang ke London menjemput Soonyoung.

Terdengar menggelikan bagi dirinya sendiri menyebut cinta terlalu dini meskipun Jongdae nyatanya mampu melakukan apa saja untuk Soonyoung meski akan kehilangan sekalipun. Tetapi, kesunyian itu tentu takkan membohongi usaha langit dan ketabahan harapan Jongdae di sudut terdalam pojok kesadarannya.[]

.

.


a/n:

please saya juga gatau kenapa bisa jadi sepanjang ini :”) ceritanya ngalor ngidul memang jadinya. haha. fyi saja, beberapa keadaan di fict ini sedikit terinspirasi dari Hujan Bulan Juni versi novel Prof. Sapardi Djoko Damono yang dengan gamblang mengisahkan kegundahan si tokoh utama cowo, dan yah begitu juga dengan fict ini. Jongdae galau itu sesuatu banget hahaha. dan untuk Kak Liana, maaf syekali daku suka sekali menodai bias utamamu yang satu  ini :”D

(btw besok saya sudah mulai nguli lagi setelah rehat sebulan jadi kalau misalnya blog ini sepi apdet macam relokasi pasar tanah abang blok F ya tolong dimaklumkan haha)

last, untuk yang sudah baca sampai pojok catetan ga penting ini, seribu kecup oppa untuk kalian 😀 

Advertisements

One comment

Escape your thoughts!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s