[Playlist-Fict] #42: WHAT’S SO GREAT ABOUT THAT

42

September 2016©

PLAYLIST-FICT #42: WHAT’S SO GREAT ABOUT THAT

Terkadang, aku merasa seperti perasaanku berada di ujung kesia-siaan…—What’s So Great About That by K.Will, Mad Clown

.

part of Playlist-Fict // Morning Glory #4: Suzy x Sehun

.

.

Katakanlah, gadis yang kepalanya berdekam di atas meja kayu pojok kafe itu sedang berada di garis akhir untuk berjuang melawan situasi menceku yang tidak pernah berhenti menghampiri. Tudung hoodie menutupi rambut kakao yang acak-acakkan. Berbekal pengetahuan yang didapat setelah menyantap tujuh seri Harry Potte,  ia berdoa dalam hati. Mulutnya berkomat-kamit jampi yang Severus Snape lontarkan agar Pelahap Maut enyah ataupun mantra kutukan yang Voldemort ucapkan selayaknya sapaan pagi. Pembiasan dari imajeri itu rupanya ditegakkan agar pekan-pekan melelahkan yang masih tersisa beberapa baginya lekas menyusul Si Bellatrix Lestrange piknik di Neraka.

Pelukan senja menembus beling jendela kayu yang birainya bercelup putih tulang. Udara hangat endapan musim panas berpadu dengan kering yang menggigil di awal musim gugur. Menjelang petang sebut saja latar waktunya begitu. Kafe pun makin ramai oleh para penyinggah yang ingin duduk santai bersama mocha brown coffee, espresso, matcha latte, caramel macchiato  atau sekedar memesan apa-apa yang paling murah demi fasilitas koneksi internet gratis.

Yang akan diceritakan selanjutnya, entahlah apa ini memang pantas diceritakan juga, oleh si bibir yang megap-megap seperti ikan yang dijemput paksa nelayan itu tentu tidak akan membuat si barista kopi di konter rela meninggalkan profesi sekaligus kecintaannya meracik kopi demi mendengar segunung keluhan yang akan keluar nantinya. Memangnya siapa Oh Sehun untuk Bae Suzy? Pengecualian untuk status teman barista yang suka menggratiskan kopi bagi si pecandu kafein itu pasti.

Setelah menyelesaikan dua pesanan frappucino dan segelas Americano, Sehun meninggalkan konter barista dengan segelas kopi racikannya menuju meja Suzy. Pemuda itu menghela napas dengan pelan melihat penampilan sang sahabat yang acak-acakkan. Dan kalau ditambah dengan tingkah yang uring-uringan seperti ini artinya sungguh tidak bagus. Sehun sendiri tidak mau pusing menebak-nebak masalah apa yang lagi merundung karibnya. Tugasnya teman jika melihat temannya sedang uring-uringan yakni menghiburnya, bukan?

“Kali ini apa lagi, he?

“Masih sama seperti yang sudah-sudah.” sahut Suzy tanpa memandang si interogator. Wajahnya masih menciumi muka meja besi yang dingin. “Mereka selalu seperti itu, berbuat sekena hati. Tck, semoga Budha sudi mengampuni mereka di akhirat nanti.”

“Memang semua dosenmu itu penganut Budha?”

Aroma cappuccino dengan gula hazelnut yang datang pun mengusir sejengkal distingsi keruh yang menutupi kolam jiwa si gadis semenjak menginjakkan kaki di kafe yang dikelola oleh kakak perempuan Oh Sehun. Untuk pertama kalinya dalam limabelas menit, Suzy mengangkat kepalanya dari atas meja dan menggeser tudung hoodie dari atas rambut. Diulurkannya tangan untuk memeluk pinggang mug dan menggesernya ke dalam pelukan lengannya. Setelah itu, cairan kafein yang dicampur susu kental itu Suzy tegup nikmatnya dan diakhiri dengan keluhan lidah yang serasa dialiri bara api neraka. Ya jelas reaksinya akan seperti itu, orang kopinya juga baru selesai diracik Sehun dengan air yang mendidih pula.

Tetapi reaksi yang bodoh sekalipun senantiasa mengembangkan senyum Sehun meski hanya setengah inci. Apalagi jika Suzy yang melakukannya. Namun itu bukan berarti Sehun senang berteman dengan orang bodoh. Hanya saja ketika teman kalian dengan masa bodoh bertingkah bodoh bahkan tanpa disadari jika bersama dengan kalian apa artinya ia tidak nyaman melakukan hal itu karena ya, kita kan teman, lalu masalahnya apa?

“Ah, di saat seperti ini kopi memang yang terbaik.”

“Kalau memang begitu senyum sedikitlah. Rasa gula hazelnut-nya tidak akan terasa kalau kau minum sambil cemberut.”

Sahutan tak beralasan pemuda jangkung dibalasnya dengan ekspresi mencela yang tak masuk akal. Tetapi sedetik kemudian mau tidak mau urat-urat halus yang mengatur syaraf untuk menggerakan senyuman gadis itu bekerja dengan normal lagi sehingga senyum yang tanggal lantaran tekanan di awal semester ganjil perkuliahan yang menggantung ubun-ubunnya di tiang jemuran.

“Kau pikir aku akan percya dengan bualanmu, Pak?”

“Silakan saja, Nona. Tetapi kopi yang kami buat memang mengandung chip mikro berbentuk bubuk yang bisa mendeteksi perasaan manusia. Chip mikro itu akan bekerja menghasilkan rasa yang dikondisikan dengan perasaan tiap orang yang minum.”

Chip mikro? Sial, apa kau ingin meracuni dan mengirim semua orang di kafe ini ke ruang operasi?!”

“Ya kalau semua pengunjungnya penggerutu kelas berat macam kau, apa boleh buat?”

Akhir percakapan konyol di atas pun diakhiri dengan tinju Suzy yang melayang di lengan atas Sehun. Yang setelahnya langsung Suzy sesali dalam hati karena nyut-nyutan akibat meninju terlalu keras tepat di otot bisep bentukan olahraga di gym setiap Sabtu si pria. Dan benar apa yang Sehun bilang barusan soal Suzy si penggerutu berat. Selesai ia menghukum si barista konyol, cerita beramunisi kata-kata yang meluncur dengan deras pun Suzy lesatkan macam anak panah tanpa sasaran. Pendengar yang baik juga benar Sehun perankan ketika sang karib bercerita segala keluh kesahnya tanpa mengenal tanda baca. Tidak ada jeda, koma, dan titik. Semuanya selalu ditemani oleh seribu tanda seru.

Namun apalah arti semua keluh kesah jika memang semua orang di dunia ini memilikinya dan terlatih sejak hayat masih di dalam kandungan untuk melewatinya? Mengutip satu dari teman baik yang pernah bilang, orang sering melupakan keindahan angkasa karena bintang, matahari, bulan tanpa mengetahui inti dari segala ruang tak berjarak yang menaungi itu semua; langit itu sendiri.  Awan saja bisa beranjak dari satu tempat ke tempat yang lain tanpa mengeluh. Begitu pula sang lazuardi di angkasa yang tak pernah memaksa si kapas putih untuk tinggal. Atau mencela sang awan kelabu yang menangis tersedu-sedan di jangkauannya. Begitu juga dengan sang halilintar yang suka melontarkan humor receh dan selalu berakhir dengan dirinya sendiri yang tertawa keras-keras dan menganggap guyonannya lucu. Karena nyatanya langit tidak pernah sendirian.

Demikian pula dengan Bae Suzy. Apa ada hal yang lebih hebat daripada kopi gratis dan teman seperti Sehun yang selalu siap sedia perasaan dan waktu untuk sejenak mengheningkan kegaduhan amarahnya? Tidak usah terlalu jauh-jauh melangkah, deh. Lihat saja ke belakang soal bagaimana Sehun selalu berhasil mengusir ‘Pelahap Maut’ dengan ‘sihir Patronous’ berupa kopi racikannya dan kesediaan menyimak dan syukur-syukur sealu bisa menguraikan benang-benang yang kusut itu.

Suzy tentu ingat semuanya tentang Sehun yang entah bagaimana selalu membuat hatinya geli sendiri jika menemukan kembali betapa konyol dan bodoh yang selalu ia tunjukkan kepada Sehun. Ia menyingsingkan luka di wajahnya dengan menggelar senyum di atas padang kebahagiaan yang sekonyong-konyong menjadi savana di perasaannya. Timbul keinginan yang tidak disangka-sangka begitu kuat untuk menjadi alasan bagi Sehun tersenyum—bukan karena lagi ia terlihat konyol di matanya pula. Suzy pun merasa sangat senang dengan perasaannya itu.[]

.

.


kutipan yang baik itu dari  Instastory teman saya yang baik pula.

Advertisements

2 comments

  1. Ahh kenapa persahabatan dua orang ini bikin iri..kekeke…sumpah cerita persahabatan sehun dan suzy itu sweet banget xia eonnie…jadi baper hahaha….suzy bener2 lucky girl…
    ditunggu ff lainnya eon…fighting

    Like

  2. Masih susah bayangin mbak suzy yg ngomel2 haha.
    Tapi baguslah, cerita dua org ini terasa persahabatannya biarpun mereka cowok cewek… Biasanya klo penulis mempertemukan cowok cewek itu, sekalipun sahabat jatuhnya ttp friendzone, ini nggak. Aku suka
    Keep writing!

    Liked by 1 person

Escape your thoughts!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s