[Playlist-Fict] #43: Golden Sky

43

bisa jadi sesudah ini

October 2016©

PLAYLIST-FICT NO. #43: Golden Sky
.

.

Setiap menit, detik, selamanya
Mari kita berjalan bersama hingga akhir waktu
Golden Sky by Jessica

.

.

part of Playlist-Fict

.

.

Semburat jingga dan violet di langit Vancouver menunggu agar senja segera memeluknya erat. Sepucuk surat yang Kris genggam erat masih harum wanginya. Harum khas tinta bolpoin sponsor kantornya dan kertas berbahan dasar kayu karet di utara Kanada. Yang tertinggal harumnya itu masih melekat meskipun sudah menemani satu bulan lamanya.

Matanya yang runcing menelisik gerombolan burung transmigran yang terbang rendah di pinggir dermaga. Pemandangan pinggir laut yang tersedia dengan gratis dari ruang kerjanya.

Interupsi berupa gedoran di pintu terdengar. Lalu disusul oleh kehadiran Keith, sang asisten, sambil membenarkan letak kacamatanya. Mengharuskan kursi nyaman yang diduduki si direktur berotasi setengah putaran.

“Pak, rapat direksinya akan dimulai sebentar lagi. Apakah Anda sudah siap?”

“Lima menit lagi saya akan turun.”

“Siap, Pak.”

Napas itu pun keluar dengan sendirinya tanpa diperintah. Senyum yang Kris patenkan terlanjur tua renta. Ketidaksetaraan antara perempuan dan laki-laki itu omong kosong. Nyatanya semua manusia itu sama saja. Laki-laki tidak harus selalu memalsukan ketegaran dengan sikapnya yang dingin. Perempuan juga tidak selamanya harus dimarjinalkan karena hanya bekal kodrati yang dimiliki. Kalau sedang sedih, menangis tidak akan menambah dosa ini. Mau itu laki-laki atau perempuan.

Entah mengapa orang-orang selalu menganggap Kris begitu dingin. Tidakkah mereka merasakan gunung es artifisial yang mencair perlahan itu? Peduli setan dengan omongan orang lain. Terang saja saat ini Kris sedang tidak baik-baik saja. Siapa pula yang bisa baik-baik saat ditinggal pergi orang yang paling penting dalam hidup? Tanpa diberi kesempatan untuk membuatnya bertahan pula.

Tangannya pun sudah gatal ingin memencet nomor yang ada di buku kontak ponselnya ke mode menghubungi. Menunggu sambungan interlokal itu dijawab dengan sapaan yang sudah tak kuat lagi diampu kerinduannya. Namun pesan yang menjurus peringatan darinya kepada Kris itu menjelma sebagai alarm kebakaran otomatis yang mengentak-entak.

.

.

.

“Berjanjilah untuk tidak jadi yang pertama meneleponku saat aku tiba di Seoul.”

“Kau gila, ya?”

“Iya sedikit. Kenapa, huh?”

“Salah besar kalau kau merasa aku terbebani untuk menelepon meski itu harus di saat bekerja. Please, jangan beranggapan begitu, “

Nope. Aku malah takut kau akan meminta ganti rugi pulsa telepon internasional kepadaku nanti.”

“Kau memang gila.”

“Kris, “

“Hm?”

“Aku akan selalu jadi yang pertama untuk meneleponmu. Aku akan selalu jadi yang pertama untuk merindukanmu, Teman. Jadi, tak usah cemas, oke?”

“…”

“Ralat, ng, aku orang pertama setelah ibu dan Kak Jia yang rindu padamu.”

.

.

.

Padahal aku tidak sekedar kangen padamu, Teman.

Akan tetapi ketika kata-kata saja masih belum cukup untuk menuntaskan sesak di dada, bijak rasanya untuk langsung turun ke dalam sebuah tindakan yang sudah seharusnya masak-masak diperhitungkan. Seharusnya begitu ‘kan.

Tekad pria Tiongkok itu sudah sebulat lingkaran halo yang baru-baru ini terlihat. Perhitungan yang masak-masak pun sudah dia lakukan. Jadi, tinggal menunggu bagaimana akhir yang akan Kris peroleh nantinya. Dari sebuah ekseskusi yang mempertaruhkan kehidupan ‘nyaman’ versinya di kota pelabuhan ini selama beberapa tahun ke belakang. Ah nyaman. Nyaris ia lupa bagaimana rasa dari kenyamanan itu selama empat pekan terakhir. Nyaman yang ditimbulkan, toh, juga impak presensinya. Kenyamananku ya dia.

“Yah, aku akan merindukan ruangan ini.” ucap pria itu selagi bangkit dari duduk. Mantel biru laut yang tersampir di kepala kursi pun ia ambil. Tak lupa juga dengan berkas-berkas yang sudah disusun apik oleh Keith di atas meja. “Tetapi yang paling aku rindukan saat ini tentu dia.”

Percayalah, Kris delapan tahun yang lalu takkan mampu mengobral kata rindu dengan gamblang seperti barusan. Atau lebih tepatnya ketika seorang gadis perantauan yang senasib dengannya datang dan ‘mengetuk pintu’ sebagai pelamar yang akan melakukan interviu. Dan berujung ajakan pertemanan kepada si gadis yang entah bisikan setan mana yang mampir di telinga pria itu.

“Siapa suruh datang ke Vancouver, eh?” Kris berkata kepada diri sendiri dan diakhiri dengan tawa kecil. “Aku bahkan belum sempat berterimakasih kepadanya padahal selama ini ia selalu di sisiku.”

Senja di kota pelabuhan yang menghiasi angkasa terlihat seperti disepuh oleh kuas emas. Bercahaya seperti sekelompok kunang-kunang yang takkan menelan kesendirian malam dalam gelap. Malah mereka menemani sang malam dan melindunginya. Langit emas dan kunang-kunang itu tak ubahnya kau bagiku.

.

.

.

“Tunggu aku di Seoul, ya. Bae Sooji.”[]

.

.

.


  • ini comeback nulis akang Yifan bareng Suz setelah terakhir nulis itu satu tahun lebih sekian bulan yang lalu T_T (this is my first pairing eaaaaa)
  • dan yang di ini adalah tulisan saya dua tahun yang lalu dan saya terlalu malas untuk merevisinya, jadi muhun ditahan ya mualnya jika kalian membaca lagi T_T
  • sok-sok-an buat lanjutan ini bermula karena kangen dengan Yifan saja #apaansih#
  • terlalu banyak catetan, hiks, intinya terimakasih selalu untuk Temen-temen yang baca^^
Advertisements

12 comments

  1. eak, mas kris mellow ya,,
    sek sek sek,, iki mas kris ditinggal mbak susi ceritane??

    aq belum baca yang sebelum ini sih Xian, tapi entah napa aq malah salpok sama latarnya. itu Vancouver emang dideket laut ya daerahnya. enak kali ya, pas jenuh sama kerjaan mandang dermaga gtu. wkwkwk

    btw kamu ada typo, ‘ekseskusi’. mungkin jarimu keseleo pas ngetik.
    sama itu kmu ngetiknya ‘interviu’,, bukannya ‘interview’ ya??

    so far aq suka. eh, jujur aq kira ini mas kris sama mbak jes,, aq sempet lupa kmu fans nya suzy. habisnya aq suka couple KrisSica sih. hahay,,

    Like

    1. hihi, tidak dibaca yg ssebelmunya juga gak masalahkak. itu tulisan dari abad kegelapan kak 😀
      ah iyaa typooo, terimakasih kak koreksinya. ah untuk interviu sendiri aku emg sengaja nulis kaya gitu hehe.
      ahh selain kriszy sebenarnya aku ini kristoria kak :p

      Like

    1. enda kok kak 😉 mas wutidak kabur tapi minta undur diri untuk dipindah kantor eh.
      aduh ashoy darimana kak :” masih belajar inii
      but terimakasih banyak kakli sudah mampir^^

      Like

  2. Aih bang kris.. Kl udah jatuh cinta mah… Apa aja bakal dilakuin… Termasuk nekat nyusul neng suzy kekeke… Hahaha ga krbayang reaksi suzy kl tau kris nusulin dy…. Kekeke…. Ditunggu ff lainnya eon…. Fighting….

    Like

Escape your thoughts!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s