[Ori-fict] Hello, shooting star!

hello

October 2016©

an original-fiction with OC Hazuno Kyousuke

Hei, bintang jatuh, aku selalu menantikanmu. Jadi, janganlah berhenti bermimpi meskipun dirimu menangis ataupun tersenyum, — Hello, shooting-star (Assassination Classroom ED Single) by moumoon.

.

.


Adakah yang lebih indah dari membolos pendalaman materi dan menikmati suasana malam musim panas yang hanya tersisa beberapa hari lagi sebelum dimakan gigilnya malam musim gugur?

Tidak ada, ‘kan. Ya, kecuali kalau kalian sudah punya rencana sebagai siswa SMU tingkat akhir yang peduli akan masa depan yang cerah. Seperti ingin lulus ujian dengan nilai setinggi Dewa dan diterima di universitas negeri terbaik se-Jepang. Aku sarankan agar kalian tidak mengikuti murid—ini kata orang-orang, lho—pembelot seperti diriku. Soalnya aku yakin kalau yang para guru lakukan demi kebaikan murid itu bukan pendalaman materi tetapi pendalaman siksaan. Belajar lebih dari sepuluh jam? Ya ampun, waktu tidurku saja kalah!

Ya, mari tinggalkan saja urusan sekolah-disekolahkan-menyekolahkan itu di belakang. Supaya dihempas oleh asap yang meletus dari cerobong asap kapal-kapal ekspedisi yang berlabuh di pinggir dermaga.

Angkasa gulita yang menaungi kota Yokohama nyatanya tidak sendirian. Sejauh mata memandang aku dibuat takjub oleh hamparan bintang yang bertaburan. Tak ubahnya pasir yang mengendap di dasar lautan.

Konyol dan norak boleh kalian sematkan setelah nama keluargaku. Bintang-bintang yang di langit sana, ya, yang di langit itu, entah mengapa selalu membuatku merasa kalau pada setiap malam mereka menunggu kehadiranku.

Hanya dengan menatapnya, aku akan merasa seperti ditarik untuk mendekat kepadanya. Terbang menuju ke arahnya. Dan jika benar aku bisa berbuat seperti itu, memeluk antariksa gelap berbintang justru bukan yang akan selanjutnya terjadi melainkan terbitnya koran dengan judul besar ‘Murid Laki-laki SMU Kuguha Tewas Terjun dari Atas Kontainer’ di kolom kriminal. Tenang saja, akalku masih waras, kok. Untuk saat ini saja, sih. Ke depannya, aku sendiri juga tidak tahu.

 Aku berdiri di atas pinggiran kontainer berwarna merah yang sebagian sisinya mulai berkarat. Lampu-lampu gedung pencakar langit seperti senter raksasa yang bersinar angkuh menerangi kota. Samar-samar aku juga dapat mendengar gelak tawa dan ceracau para kelasi atau awak pelabuhan yang dimabukkan sake. Aroma khas laut pun menjadi tamu yang sering berkunjung ke indera penciuman bagi siapa saja yang tinggal di pinggir laut atau kota pelabuhan. Termasuk diriku.

Pernah aku merasa muak akan kota ini. Rasanya aku ingin melarikan diri saja. Namun entah mengapa aku malah tidak tahu harus ke mana. Di Tokyo langitnya tidak sebersih Yokohama atau Yamanashi, kampung halaman ibu. Lagipula bintang-bintang di langit ibukota itu juga kalah banyak dengan di sini. Sehingga sudah jelas, sekeras apapun aku berusaha untuk kabur dari kota ini, pada akhirnya aku akan ditarik kembali lagi ke sini.

Orang pernah bilang kalau sesuatu yang membuatmu tidak bisa melangkah maju itu adalah kenangan. Bisa jadi aku percaya apa yang orang pernah bilang itu, sekalipun orang itu tidak aku kenal.

Tas selempang yang tergeletak di atas kotak kayu aku pandangi sejenak. Di dalamnya tidak ada buku pelajaran sudah jelas. Hanya ada sebilah pulpen yang tutupnya hilang sehingga tintanya mengotori kain bagian dalam tas, pensil mekanik, penghapus yang tinggal sebelah dan buku sketsa. Sebut saja keempatnya adalah kotak yang memuat kenangan milikku.

“Ah!! Cowok mesum!”

“Semuanya buatanmu? Hahaha, hidungmu memanjang tuh. Jangan bohong, deh!”

 “Karena Kazuo sedang ada turnamen regional, kau yang gantiin dia, oke!”

“Kyousuke-kun, jago menggambar, ya. Mengapa tidak jadi manga artist saja?”

“Manisnya gula tebu tidak sebanding dengan senyumanku, tahu.”

“Cerita ini hanya kau yang boleh gunakan. Jadi, tolong jadikan aku partner-mu, Kyousuke! Aku mohon!”

Suara ceria gadis itu pun terdengar dengan jelas. Seperti terdengar kembali dengan jelas, sih, lebih tepatnya.

Lelah terlalu lama berdiri, aku memilih untuk duduk di pinggiran kontainer dengan kaki yang mengawang di atas dek pelabuhan. Seragam yang didesain untuk musim panas tak mampu membendung gempuran angin darat yang walaupun jalannya tertatih-tatih—tidak ada bulan, jadinya mereka pun begitu— rasanya tetap seperti suhu di dalam kulkas. Jaket merah marun yang melingkar di punggung dan selalu aku bawa tak peduli cuaca apa pun menghangatkanku. Hangatnya sama seperti sinar matahari pagi. Juga senyumannya yang menjadi bayang-bayang di saat kelopak mataku terpejam.

Sebelum aku duduk, tas yang tadinya berjarak dengan diriku kini sudah berada di pangkuan. Aku mengambil pensil mekanik dan buku sketsa yang menjadi rumah berjalanku. Kebanyakan gambar sketsa yang aku buat tidak berwarna. Mentok di monokrom saja. Bagaimanapun kerasnya aku memikirkan warna apa yang bagus untuk semua gambar-gambar itu, tetap saja tidak dapat aku temukan jawabannya.

Orang lain berpikir mungkin itu karena gambar yang tidak terlihat bagus. Gambarnya mati. Tidak mungkin. Aku akan menuntut orang lain yang bilang gambarku kurang bagus itu!

“Kyousuke-kun tidak mau menyerah ‘kan?”

“….”

“Diam berarti ‘iya’ lho.”

“….”

“Mengatakan ‘Berusahalah’ kepada orang yang jelas-jelas sudah berusaha sekuat tenaga itu sama saja bunuh diri. Tetapi ada pengecualian untuk Kyousuke. Aku tahu Kyousuke-kun sudah berusaha sekuat tenaga dalam kompetisi yang mungkin tak pernah terbayang akan mengikutinya lagi.”

“Kau ngomong apa, sih?”

“Menjadi juara Harapan 1 juga baik. Terimakasih sudah berusaha kembali sampai saat ini.”

“Mengapa kau berterimakasih? Bukan kau yang memintaku untuk jadi juara pertama juga.”

“Tentu saja, bukan.”

“Lalu?”

“Terimakasih. Terimakasih untuk tidak menyerah pada mimpi-mimpimu itu. Berusahalah agar tidak sampai menyerah kembali. Tetap berjuang, ya, Hazuno Kyousuke!”

Diam-diam aku menatap kedua matanya yang terlampau besar bagi orang Jepang. Mata itu mencerminkan dunia yang transparan. Dari sana aku seolah diajaknya menatap ke atas langit biru yang memantulkan lautan. Dan aku pun menemukan warna yang selama ini aku cari.

Pada saat itu aku tidak dapat berkata-kata. Bahkan tidak ada kata-kata yang dapat mengungkapkannya. Dialah warna yang aku suka. Karena memang tidak ada warna yang lebih indah daripada dirinya.

“Yosh, sudah aku duga kau ada di sini, Kyou-chan!

“Jangan panggil aku dengan nama itu, Kazumi!

“Oi, jangan panggil aku dengan nama itu juga, dong!”

Si pemilik suara berat yang tidak terima aku panggil namanya ke dalam versi perempuan ialah Kazuo. Teman sejak sekolah dasar, si siswa populer di SMU Kuguha. Sisi kosong yang ada di sebelah kanan lalu dipakai oleh Kazuo untuk duduk. Ia sendiri lantas tidak berbicara apa-apa lagi selain sodoran amplop putih yang masih ada segelnya.

“Bisa juga ya ternyata kau, “ucap Kazuo selagi lautan lepas yang terbentang itu terkurung di hitam matanya. “berusaha untuk tidak menyerah lagi, huh?”

Sarkasme yang Kazuo lontarkan hanya pura-pura menjadi angin lalu. Dan kembali lagi menjadi sebuah jab keras yang bersarang di perut. Kemudian amplop putih tersebut aku buka segelnya. Setelah menemukan isinya, aku ragu untuk membacanya. Isi surat ini akan jadi apa buatku? Hukuman atau hadiahkah?

“Selamat ya, Kawan! Karyamu berhasil masuk ke babak final. Tinggal selangkah lagi untuk membuktikan kepadanya. Ah, kau bisa bertahan tidak, ya?”

Jadi apa ini hadiah?

“Tentu saja kau harus bisa bertahan. Kalau sampai tidak, awas saja,” Kazuo menurunkan nada suaranya. Tetapi detik berikutnya, Kazuo mengeluarkan udara dengan ringan dan berkata lirih.

“Apa aku berjanji kepadamu untuk tidak bisa bertahan? Tidak, ‘kan.” Aku menoleh ke samping, menemukan sisi wajah pemuda yang kulitnya agak kecokelatan karena terbakar sinar matahari lantaran kegemarannya bermain sepakbola. “Terimakasih, Oyama Kazuo.”

“Ya, ya, ya. Ganti saja terimakasihmu dengan nomor ponsel kakak perempuan di kafe tempat magangmu yang baru itu, ya?”

“Tidak jadi terimakasih, deh.”

“Bercanda, kok. Begitu saja marah. Ya sudah kalau begitu kenalkan aku lansung kepadanya saja, oke!”

“Mau terima kayu rotan mendarat di wajahmu saja, ngga?

Dan setelahnya, kami pun tertawa bersama dengan keras. Memecahkan kesunyian kota dermaga di Kamis malam. Sampai-sampai mengalahkan teriakan para awak pelabuhan yang sedang mabuk tadi. Tangan milik Kazuo yang bebas merangkul bahuku. Ya, tanpa dia bicara sekalipun aku tahu apa yang mau ia bicarakan.

“Dia selalu menantikanmu. Jadi jangan pernah berhenti bermimpi meskipun dirimu menangis atau tersenyum.”

Saat aku menatap jejeran api biru yang menggantung di langit malam itu aku dikejutkan oleh kehadiran sang rembulan. Sejak awal aku tiba di sini aku tidak merasakan keberadaannya di angkasa. Rupanya, sedari tadi dia bersembunyi di balik sekumpulan awan yang tipis. Lagi sepertinya aku juga melewatkan sesuatu yang paling penting dari semua ini. Warna yang aku sukai. Nama dari warna itu ialah Oyama Kazui.[]

.

.

.


credit picture from Your Name Movie

.

.

.

a/n:

  • Happy birthday Suzy!! *telattt* WISH YOU ALL THE BEST :* :o)
  • Why Yokohama? bikos BSD season II akhirnya mulai!!!! (#plakked)
  • tadinya mau dimasukin ke playlist-fict tapi ah ya gatau kenapa gajadi (ini fyi yang ga penting..)
  • last, terimakasih bagi yang sudah mampir^^ 
Advertisements

4 comments

  1. sisus xian, aq baca ini dua kali tau.
    sek sek sek, kazui tu cewek bukan? sodaranya kazuo yang ditaksir hazuno, tapi udah nggak ada a.k.a meninggal,
    *silahkan lempar panci klo salah*
    soalnya aq merujuk paragrafmu, ‘Suara ceria gadis itu pun terdengar dengan jelas. Seperti terdengar kembali dengan jelas, sih, lebih tepatnya.’

    hazuno bagaikan si bintang jatuh yang ngeliat kazui yang udah jadi bintang di langit, trus kazui kayak bilang ke hazuno gini, meskipun kmu jd bintang jatuh jangan menyerah utk bermimpi. gtu kah??

    sukaaa, xian.
    keep writing ya,,
    #btw aq nunggu komenan liana, dy juga bacanya msh kurang ngeh gtu kan? aq pengen tau penangkapan dy kayak apa,,

    Like

    1. /PELUK KAK FAFA ERAT ERAT/
      aku memang kurang cakap buat tulisan yang padat dan tak bercela ini, kak. hikss tapi aku seneng sekali soalnya apa yang kaka pikirkan itu teapt sekali! yey alhamdulillah akhirnya pesan nih cerita tersampaikan gitu jadinya 😉

      haha, iya aku juga nungguin, hee. moga kak liana tidak tambah pusing baca ini hehe.
      makasih banyak ya kak sudah mampir ^^

      Liked by 1 person

Escape your thoughts!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s