[Playlist-Fict] #44: Nocturne

44

sesudah ini dan ini

October 2016©

PLAYLIST-FICT NO. #44: Nocturne

PG 17

.

Kata-kata manis tersembunyi yang ada di bibirmu seperti sebuah mimpi yang akan menghilang ketika aku membuka mata… Nocturne by Junggigo

.

.

Part of Playlist-Fict

.

.

Terkadang apa yang berada di dalam pikiranmu selalu tidak sejalan dengan apa yang kau katakan. Yang lebih parahnya lagi bilamana kau mengatakan sesuatu juga tidak sejalan dengan apa yang sudah kau perbuat. Ironis tingkat tinggi itu namanya.

Seharusnya kalau Dia ingin manusia-Nya jadi baik ya tuangkan saja yang baik, kalau jadi jahat ya jahat sekalian. Tuhan tidak bisa berbuat yang tanggung-tanggung ‘kan. Lalu soal penciptaan manusia oleh-Nya, pencampuran tanah dan api itu, di mana letak Yang Maha Pemurah itu?

Di sisi lain, ingin sekali rasanya mengambing-hitamkan Tuhan atas penciptaan-Nya terhadap manusia. Tetapi itu tidak mungkin. Takut dilaknat Tuhan, eh? Tidak juga. Orang, ia sendiri juga masih di awang-awang keyakinannya soal apa Tuhan itu benar-benar ada. Ya, masih mencari ia sepertinya.

November akhir yang menaungi lelangit pagi kota Seoul menyemburkan gurat kelabu dengan lukisan gerimis rintik-rintik. Penghuni aparte bernomor pintu 608, Bae Sooji, sedang menghabiskan sarapan pagi ala kadarnya. Secangkir kopi hitam dan sepiring roti bakar selai kacang. Selagi itu ia juga bersiap-siap untuk pergi ke kantor barunya.

Aroma kopi hitam adalah pewangi ruangan alami yang memenuhi konter dapur. Kemeja kotak-kotak hijau tentara yang sudah disetrika Sooji selipkan ke dalam celana bahan warna hitam yang ia pakai. Rambut sebahu hitamnya diikat kuda.

Pada kaca jendela aparte yang memuat panorama pagi ibukota yang mendung, Sooji melihat bayangan seorang gadis seperempat abad lewat yang berusaha terlihat rapi sebagai pegawai magang di Kantor Pusat Bahasa. Hembusan napas yang keluar dari hidungnya terasa seperti menanggung beban yang berat.

Asal dilanda oleh cuaca yang mendung dirinya selalu ingat akan kota dermaga beserta kenangan yang mengimbangi. Sebut saja kenangan itu disesaki oleh deretan penjual fish chips langganannya, taman publik yang terasa beku di musim dingin, deadline menyunting yang buatnya mati rasa, kursi kayu pinggir dermaga tempat mengasingkan diri favoritnya, dan teman pria satu-satunya yang ia punya.

Rasanya masih seperti mimpi. Dan aku ingin cepat-cepat bangun dari mimpi ini saja.

Hari ini terhitung sebulan lewat beberapa hari sudah ia kembali tinggal di kota kelahirannya. Lebih tepatnya, sih, kembali pulang ke rumah.

Lima tahun merantau di negeri orang, berjuang hidup seorang diri tanpa bantuan dari keluarga di Korea, membuat gadis itu yakin kalau ia takkan pernah kembali lagi ke sini. Bayang-bayang masa lalu memang berhak untuk mengikuti. Tetapi kalau dipenuhi oleh angkasa yang murka, lebih baik dihabisi saja.

“Nona Bae Sooji, kami harap Anda lekas pulang ke Korea secepatnya. Ini darurat.”

“Maaf, ini siapa?”

“Kepala dokter lembaga pemasyarakatan Gyeongju.”

“Maaf, saya bukan Bae Sooji. Anda salah sambung!”

“Nona Sooji, ibu Anda, —“

“Sudah saya bilang saya bukan Bae Soooji! Lagipula ibu saya sudah—“

“Ibu Anda,

 sedang dalam masa kritis. Jadi, kami sangat berharap kehadiran Anda di sini secepatnya.”

‘Tut’

‘Tut’

‘Tut’

Alam bawah sadarnya macam zona merah yang tidak bisa diatur oleh alat kendali paling canggih sekalipun. Tak terhitung kapan dan berapa banyak sudah lintasan memorinya dilalui oleh percakapan telepon yang membangunkannya dari tidur pada pukul dua dinihari itu. Berisi perkataan dalam bahasa Korea yang sukses meraibkan rasa kantuk hebat yang melanda.

Sulit rasanya bagi Sooji untuk menghindari takdir bahwa rumah itu nyatanya belum ambruk juga. Namun ketika ia sudah diberi asisten seorang Malaikat Maut untuk membantu melewati perlintasan takdir yang kejam, sang Asisten malah menunjukkan jalur yang berliku, lebih rumit, bahkan lebih kejam daripada takdir itu sendiri.

Lha, memang bukan ini yang selalu Sooji nanti-nanti kehadirannya? Mengharapkan kematian ibu kandungnya sendiri. Disertai jawaban yang sudah Tuhan sediakan pula. Lantas selama ini apa lagi alasan yang buat gadis itu memilih untuk menjadi abu kremasi yang seolah-olah hidup atas nama Bae Sooji yang lain di Vancouver?

Tidak ada jawabannya. Tidak ada titik terangnya.

Namun rasanya ini malah seperti hukuman. Ini hukuman yang sudah Ibu berikan kepadaku.

Seberkas sinar yang luruh dari matanya pun segera digulung kehadirannya oleh tangan yang semakin kurus itu. Dengan gerakan cepat, kedua tangan Sooji menghapus airmata yang jauh di pipi ke samping wajahnya. Menangis itu manusiawi, kok. Hanya saja kalau kau menangis atas sesuatu tak manusiawi yang telah kau lakukan kepada orang lain, itu namanya kurang ajar. Dan aku adalah si kurang ajar yang keparat itu.

Pukul setengah tujuh pagi lewat lima menit, sang fajar telah tiba di tempat penantiannya. Sudah saatnya pula bagi Sooji untuk segera menandaskan ritual pagi dan segera tancap gas menuju kantor.

Tiba-tiba, bel pintu aparte Sooji berdering tidak sabaran. Sooji mengerutkan dahi. Siapa yang bertamu pagi-pagi begini? Setahunya pula, belum ada satupun orang kantor yang tahu alamat tinggalnya.

‘Teeet’

‘Teeet’

‘Teeet’

‘Ceklek’

“Anda cari sia—“

.

.

“—pa? KRIS?”

.

.

.

Satu detik, dua detik, dan tiga detik. Keduanya saling tatap dalam kehampaan ruang. Namun tidak butuh waktu yang lama lagi bagi pria dengan setelan musim gugur dan korban jetlag itu untuk menyerbu Sooji dengan dekapan yang melekat. Sooji lantas membalas pelukannya tidak kalah erat.

Kris Wu, bos—mantan bos—nya itu ada di sini. Di Korea. Di depan pintu aparte Sooji. Dan membawa gadis itu ke dalam dekapannya.

Hangat. Nyaman. Kangen. Ketiga ruang yang rasa-rasanya hampa dan absen selama lebih dari sebulan dari keduanya itu akhirnya bisa mereka miliki kembali. Rasa-rasanya pula banyak sekali cerita yang harus Sooji sampaikan meski sudah ia tutupi rapat-rapat dari sahabat Vancouver-nya. Dan ia sendiri sampai tidak tahu harus mulai dari mana.

Kris memilih untuk menyalurkan rasa rindu yang melebihi penumpang maskapai penerbangan yang membawanya ke Seoul dengan mengeratkan pelukan, mendekatkan kepalanya pada wajah Sooji yang terbenam di atas dadanya. Sehingga ia pun bisa melihat dengan jelas bahwa gadis itu tengah terisak dalam diam.

Tanpa bicara apa-apa, Kris makin memperdalam dekapan pada gadis itu. Punggung Sooji terlihat bergetar dan langsung Kris usap dengan lembut agar frekuensi getaran itu berkurang. Ya, setidaknya ini yang bisa ialakukan untuk sahabatnya. Menjadi dinding hidup yang hangat untuk bersandar. Sandaran yang siap menerima tangis atau tawa. Sahabat yang tidak hanya memberi namun juga mau mengerti. Ya, setidaknya itu Kris sudah paham.

You are doing well, Sooji-ya. You cannot blame yourself anymore. Got it?”

 Sooji menganguk seolah ia bisa mengerti. Kecupan lalu Kris berikan pada puncak kepala gadis itu. Matanya mau tak mau jadi berkaca-kaca, rentan untuk dibobol oleh airmata. Pria itu lalu mengangkat pandangan Sooji yang selalu menunduk ke lantai. Setelah kedua mata yang rindu itu saling bertemu, pertama-tama Kris langsung tersenyum untuk Sooji. Senyuman yang sederhana namun mampu memeluk kesedihan Sooji itu hingga lenyap tak bersisa.[]

.

.

.


a/n:

  • saya bertanggung jawab atas cerita yang tiba2 muncul dari antah berantah yang katanya lanjutan dari ini oleh sebab itu jreng jrenggg muncullah cerita yang katanya juga sesudah ini 2.
  • ya sedikit spoiler saja, Kris fix nyusul Suzy ke Seoul dan TAHU semuanya. Seperti kenapa TIBA-TIBA mbak-mbak rantau ini ingin pulang kampung 🙂
  • dan kenapa di atas ada PG 17 ya karena ada kata2 yang tidak baik bila didengar oleh kaum minor ya meskipun nyatanya cuma seempret saya tulis, tapi tetep saya banned segitu rating-nya supaya saya tidak dituntut atas perbuatan yang melanggar martabat (ini apa…. martabak?!)
  • ya, itu aja sih.  haha (apasih..)
  • last, terimakasih sekali bagi yg sudah mampir dan baca^^
  • GBU alwayssss ❤
Advertisements

7 comments

  1. ahhh akhirnya kris sampe di korea…salut sm bang wu….keknya kris ini perfect man banget…sumpah bikin iri sm perlakuan dy ke suzy keknya kris itu tau banget soal suzy… hahaha rasa rindu bang kris rasanya berbalas coz suzy ternyata juga kangen sm kris…ahh ternyata itu alasan suzy tiba2 mendadak pulang kekorea….nyesek…but time has passed … regret will be useless, then we just have to learn so as not to regret for a second time..keren kak xia…ditunggu next playlist seriesnya…fighting

    Like

  2. enak banget gitu ya, sahabatan macem gini.
    kalo kata anak abege, mungkin mbak suzy bakal bilang, “kris adalah sahabat yang ngerti gue banget, yang selalu ada buat gue saat gue butuh”
    asek,,

    aihh, jadi pengen bikin persahabatan kek gini versi Wendy deh,, hahay

    Like

Escape your thoughts!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s