[Playlist-Fict] #45: Thursday Night

45

November 2016©

PLAYLIST-FICT NO. #45: Thursday Night

Pada Kamis malam yang biasa ini, aku akan membawamu pergi ke manapun,

Ke mana pun yang kau inginkanThursday Night (feat. Beenzino) by URBAN ZAKAPA

.

.

.

Part of Playlist-Fict

.

.

// Nocturne // Golden Sky  //

..

..

Langit yang bermuram durja itu akhirnya berhenti meruntuhkan bulir-bulir H2O tepat pukul tujuh malam. Walaupun gerombolan angin menggigil yang kencang masih menyertai. Dan disusul oleh sesengukan ban mobil yang bergesekan dengan lantai aspal di depan lobby gedung milik lembaga pemerintahan itu. Mau tak mau menyurutkan langkah Bae Sooji, mendahulukan para eksekutif yang pulangnya dijemput pakai sedan mewah. Tidak pula seperti dirinya yang harus berjibaku dengan ribuan penduduk Seoul menaiki kapsul cepat yang berlari di bawah tanah.

Syal merah marun yang melingkar di leher Sooji eratkan sampai menutupi mulut. November memang masih di pertengahan namun rasanya seperti pengantar musim dingin. Dan gadis itu sungguh tidak menyukai itu. Walaupun memasuki musim dingin jam kerja di kantor mendapat kelonggaran, pulang dua jam lebih awal, fakta jalan yang licin, udara dingin yang mengamuk, dan bisa saja salju yang menutupi jalan adalah sekelumit hal yang rentan buat kepala gadis itu pening memikirkannya.

Agak aneh memang ketika dahulu ia memilih hijrah ke Vancouver. Yang mana merupakan salah satu kota pelabuhan paling dingin di Kanada pada setiap musim. Anehnya dingin yang Sooji dapati di sana bukan yang menggigil atau menggelugut sampai ke tulang melainkan dingin yang menyamankan, melembutkan, bahkan menghangatkan.

“Nona, jemputan Anda sudah menunggu.”

Seruan seorang petugas valet parking meruntuhkan kehangantan Vancouver yang beberapa hari ini meliputi angkasa hati gadis itu. Sooji tentu saja mendadak bingung. Siapa pula yang mau menjemptunya? Supir pengganti? Hei, ia bahkan tidak men-download aplikasi supir pengganti atau mobil rental—penting, ia juga tidak punya mobil—yang biasa tersemat di ponsel pintar rekan sekantornya. Ibarat sedia payung sebelum hujan dalam ranah sedia supir pengganti sebelum mabuk.

“Tapi, saya, “

Belum sempat Sooji melanjutkan, kaca pengemudi mobil sport keluaran Amerika berwarna midnight black metallic itu meluncur sehingga menampilkan wajah samping si pengemudi. Sumpah demi apapun, Sooji ingin memuntahkan sundubu, menu makan siang tadi sekarang juga.

Pasalnya, si pengemudi dengan Rayban segelap angkasa yang bertengger di tulang hidung yang mancung itu Sooji kenal benar dan rasanya masih sulit untuk dipercaya lagi.

“Oi, cepat naik!” si pengemudi, Kris Wu, menengok ke sudut di mana gadis itu masih terpaku.

Lagipula, bombardir klakson yang mengantri di belakang mobil Kris seperti genderang perang. Mau tak mau Sooji pun menuruti arahan mantan bos penerbitan Vancouver itu.

‘Bugh’

Pintu mobil tertutup. Sooji duduk anteng di kursi penumpang. Sabuk pengaman juga sudah terpasang. Jadi, sekarang tinggal beberapa kata atau kalimat yang Sooji harus tembakkan kepada teman Vancouver yang main menjemput tanpa seizinnya.

Kris seolah bisa membaca pikiran Sooji. Tanpa meneloh ke samping, dia pun berkata dengan nada yang final.

“No, no, don’t say a thing about picking you up from the office.”

”Ugh, your lame personality. Bossy.” timpal Sooji sekiranya.

Kris tersenyum sebaris. Kata-kata tajam yang selalu keluar dari mulut Sooji, oh, betapa sangat dia rindukan kehadirannya. Lalu saat dapat mendengarnya kembali, oh, betapa senangnya tidak dapat Kris lukiskan dengan kata-kata.

***

“Mau makan fish chips ala Korea? Your favourite one,

Kris menunjuk sebuah warung tenda yang berlindung di bawah pohon berlampu. Sooji sendiri tidak tahu harus bereaksi bagaimana.

Kemudian Kris menepikan kendaraan. Ia berpesan agar Sooji tidak kabur seperti penculik yang mengancam sanderanya, bergegas keluar dari mobil dan masuk ke warung tenda. Banner yang dasarnya putih itu dibubuhi oleh tulisan warna-warni yang mewakili tiap makanan yang dijual seperti odeng, sundae, tangsuyuk, dan jajanan khas pojamangcha yang lain.

Lima menit kemudian, Kris kembali dengan bungkusan plastik di tangan. Cengiran asal pun dia berikan kepada gadis yang terlihat bosan di kursi penumpang.

Your favourite one as I said, odeng. Ayo dimakan.”

Tanpa sempat membalas ucapan dan aksi Kris barusan, Sooji pun sudah disuap paksa dengan satu tusuk odeng yang masih mengepulkan asap oleh Kris. Gadis itu tentu tidak dapat menolak selain mengunyah jajanan favorit masa kecilnya dengan pandangan sengit terhadap pria yang suka berbuat seenak jidat di sebelahnya. Lebih lahap pula Kris memakan odeng dibanding Sooji sendiri.

“Langsung saja, deh. Ada apa, sih, pakai menjemputku segala?” Sooji melirik sekilas kepada Kris lalu memalingkan pandangannya terhadap sorot lampu-lampu gedung yang terlihat dari jembatan yang menghubungkan utara dengan selatan kota Seoul.

“Memangnya harus pakai berita acara kalau ingin menjemputmu?”

“Terserah kau.”

“Ya, aku ingin saja. Tidak boleh, ya?”

Sooji mendesah di tempat duduknya. Fakta bahwa teman Vancouver-nya, Kris, kini juga berada di tanah yang sama dengannya saja masih belum Sooji percayai seratus persen. Rasanya seperti mimpi kebanyakan. Kris yang sedang mengemudi di sampingnya ini akan menghilang seperti debu yang dibawa terbang oleh angin saat Sooji membuka matanya.

Akan tetapi berkali-kali sudah ia menutup dan membuka mata, Kris tak kunjung menghilang. Jadi, ini bukan mimpi ‘kan?

“Sebagai teman, “ Kris membenamkan pandangan sejenak terhadap gadis yang berpaling darinya yang sedang menatap lautan cahaya malam Seoul. “memberikan tumpangan gratis itu wajar. Dan anggap saja aku sedang memberikan tumpangan gratis terhadap teman lama yang sangat tidak suka udara dingin dan keraimaian sepertimu, oke.”

“Tetapi berada di dalam subway dengan orang-orang asing itu lebih baik ketimbang duduk dengan manis dengan orang cerewet sepertimu. Kris, you know what? You have changed, a lot.

Pria itu kembali tersenyum. Tidak mau kalah dengan sarkasme Sooji, Kris lantas menimpali.

“Well, seasons change, prices change also, “ tawa pria itu pun melebar seiring dengan pandangan malas Sooji.

Dasar laki-laki Tiongkok, mindset dagang memang tak pernah putus, ya.

Kris pun kembali melanjutkan perkataanya, “Heart changes, so why don’t people?

Perubahan. Ya, hidup itu bukan sekedar pilihan tapi juga perubahan. Sejauh mana manusia dapat berjalan di atas perubahan yang ada adalah mereka yang dapat menerima perubahan itu sendiri. Atau karena mereka yang sudah mau berubah.

I couldn’t and I knew it well. Because it was like the pain of being too realistic. You couldn’t do anything anymore. Even for the good’s sake or not.

Hell ya. You did it again, Sue. Knocked a blame upon your shoulder. Assumed that whole world was against you.

Kris memandang gadis di sebelahnya. Wajah Sooji terlihat lelah. Satu tangannya bersandar di dashboard jendela dengan mata yang terpejam.

Kau sudah banyak menderita seorang sendiri. Terlalu lama menanggung kesedihan seorang diri. Sekarang izinkan aku untuk melenyapkan segala kesedihanmu, Teman. Begitu kata Kris dalam hati.

But I’m here for you. Can’t you see me?” ucap Kris sekenanya.

Jantung si gadis Bae tiba-tiba mau meloncat ke dalam sungai Han dan sumpah demi apapun ia tidak tahu mengapa bisa jadi begitu. Lidahnya kelu. Sungguh sulit untuk digerakkan. Dia di sini untukku, tidak bisakah aku melihatnya? Lalu?

Don’t think too much. It’s not okay for your heart though.” pungkas Kris dengan ringan dan tanpa beban di sela-sela keheningan yang menggurui teman perempuannya.

Ya, sunyi dan senyap memang menjadi roda kendaraan Sooji berkelana di dalam perasaannya sendiri. Ia juga tak mau lama-lama terjebak di dalam kesunyian yang maknanya tidak bisa diterka.

Alhasil, di ujung terowongan yang gelap tampak antariksa yang dipenuhi gugusan bintang warna-warni artifisial. Kilau cahayanya saling berahutan. Seperti terompet tahun baru yang ditiup tepat pukul 00.00 pada tanggal 1 Januari. Seperti pasar kaget yang tumpah ruah di pinggir jalan setiap hari Minggu di Harajuku. Atau lautan payung warna-warni yang dilihat dari atas jembatan pedestrian Shibuya setiap turun hujan. Adalah interpretasi dari perasaan gadis itu sendiri.

Pengakuan, ah entahlah apa namanya, yang jelas berhasil mengusir sesak yang bersarang di dalam hati Sooji. Ia pun mengamini perkataan Kris barusan. Tidak perlu berpikir terlalu banyak itu memang baik.

“Jadi mau ke mana kita di Kamis malam ini, Teman?” Sooji akhirnya bersuara. Sedikit terdengar bersemangat nadanya tentu langsung membuat angin musim panas menyebar kesejukan di hati Kris.

“Ke manapun yang kau inginkan, “ jawab Kris dengan ringan sembari membawa tangan Sooji ke dalam genggamannya dalam diam.[]

.

.

.


(tolong abaikan poster ala-ala moodboard yang amburegeulT_T)

HAIIIIII!!!! T_T

maaf sekali baru muncul lagi T_T munculnya dengan  yang ecek2 pula, huhuhu. anyway, kenapa saya tulis Kris x Suzy terus beberapa waktu ke belakang ini? soalnya, mereka itu pasangan favorit nomor satu saya dan karena rindu, ceilah, haha, ya jadi nulis lagiii :”””

kemudian, (SEMOGA NISWA BACA #PLAK) saya ingin minta maaf sekali karena lalai dalam bertugas, eh, maksudnya, melalaikan tanggung jawab, janji ikut event-nya Niswa tapi malah ga ikut 😦

sekali lagi, MOHON MAAF YANG SEBESARNYA, NISWA, atas kelalaian yang disebabkan oleh aku yang malas ini, huhuhu T_T

dan terakhir, buat yang sudah mampir, makasih :3

sehat selalu and jangan lupa bahagia 🙂

Advertisements

4 comments

  1. Ayyee kok suzy tsundere betul. Teman apa teman hayoo
    Btw yg di awal, beneran o2 bukan h20? Jujur sampai skrg aku masih krg nyaman baca narasimu yg njelimet tapi aku suka dialog2 santainya.
    Keep writing!

    Like

  2. Xia eonnie lanjutan kriszy nya akhirnya dipost…aduh ini kok masih di friendzone mulu sih kekeke….ga sabar nunggu kemajuan dihub mereka… kris udah kelihatan banget suka sm suzy cm dy masih bingung nyatainnya…aduh kris yang jelas donk kasih sinyalnya kekeke… biar suzy ga ragu lagi…hahaha kata TEMAN dalam setiap percakapan mereka yang sebenernya membuat mereka ragu2 pada perasaan mereka… ditunggu next nya eon…fighting

    Liked by 1 person

Escape your thoughts!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s