[Ori-Fict] #Day1 ㅡ Selagi Menunggu

July 2017©

xianara

Terduduk di beton penyangga, Seno menunggu lawatan kapsul cepat yang tak kunjung datang. Sudah lewat dari limabelas menit dari jadwal kedatangan tetapi ka-er-el yang akan membawanya dan ratusan penumpang lainnya masih terbenam di ujung cakrawala. Ingin mengutuk pula rasanya sebab batuk-batuk kecil bahkan besar tak kunjung angkat kaki. Diseminasi obat batuk terbaik dan termahal di apotek justru angkat tangan terhadap serangan si batuk. Pria berkepala kacang atom itu lantas meyakini bahwa sesak-sesak di dadanya bukanlah asthma. Tak ada riwayat ashtma dalam keluarganya pula.

Mungkin saja pemicu batuk seratus hari Seno adalah kehendak perempuan yang sebulan terakhir tak berjeda menyinggung soal ekspansi besar-besaran perusahaan tempatnya bekerja. Ia bilang bahwa ia diikutkan ke dalam proyek akbar tersebut. Dan Jepang menjadi muara di mana perbincangan selama ini berlayar. Ketika Arin menyiarkan kabar tersebut wajahnya mengukuhkan buncah kegembiraan yang tak putus-putus. Binar matanya menbentangkan seutas cahaya mentari sore yang menelusup liar melalui sela-sela tembus pandang air terjun di perbukitan. Tak pernah Arin merasa antipati dengan pekerjaannya itulah sebabnya.

Kemudian pria itu pastilah mencium niatan Arin yang ingin meminta restu darinya. Seno pada awalnya merasa jumawa akan pemikiran di atas. Siapa dirimu wahai bocah gemblung sampai Arin harus segala meminta restumu? Seno tentu saja menjawab pacar. Namun ia langsung merasa geli sendiri. Di umur seperlima abad lewat dua tahun masih bolehkah hubungan antar cucu Adam dan Hawa berbatas sekedar pacaran? Atau ekstrimnya sebut saja calon suami Arin.

Seno terkikik geli tanpa suara menyikapi lajur pikirannya barusan.  Arin lagi Arin lagi. Dinamika kepala kacang atomnya yang dari kanan ke kiri mengawali lintasan pemikiran dalam benaknya bahwa ia sudah sebegitu terikat dengan perempuan itu. Semua kronik lugunya mendadak berakhir pada label nama cucu perempuan Hawa tersebut. Seno sakit karena Arin. Seno jadi lebih giat bekerja karena Arin. Seno tak lagi suka terlambat karena Arin. Dan bahkan Seno memilih untuk menyerah pada selusin tembakau; semuanya demi Arin.

Katakanlah seperangkat nilakanda Seno telah tunduk di bawah kaki langit kerajaan yang Arin pimpin. Lagi pemuda gundul terkikik geli atas suara dalam hatinya yang terlalu imajiner, seperti mengenal batas kosong. Namun ya katakan saja ia memang sudah tunduk pada perempuan mungil itu. Bahkan kecupan-kecupan singkat yang kadang ia berhasil curi mengakhiri wai katastrofe yang paling ia hindari ketika menonton drama teater di Cikini.

Lagi mesem kuda bertengger di wajah Seno. Perempuan itu tentu saja pemicunya. Arin tentu saja yang hanya bisa membuatnya tak berkutik. Sesak kecil di dalam dada kembali dirasa tetapi Seno tak ambil pusing. Ia kembali bergelak sederhana lalu bangkit dari singgasana beton mini yang terasa hangat permukaannya. Hujan rintik-rintik mewarnai ketibaan kereta listrik yang terlambat duapuluh menit. Namun lagi-lagi Seno tak mau ambil pusing. Jelas ia hanya mau ambil bulan dan bintang hanya karena Arin yang meminta.[]

#tunduk  #dailychallenge  #peramukata


HAIHAI SEMUANYA. SAYA BALIK LAGI NIH hehehe.ngga ada yabg nanya juga hahaha. Omong-omong walaupun telat, MINAL AIDZINWAL FAIDZIN SEMUANYA YA.

OHYA TULISAN DI ATAS ADALAH CHALLENGE DARI Peramu Kata di Line Square. Yang ingin ikutan boleh banget! Klik

https://line.me/ti/g2/HTSLVDODS8

Karya sastra (Sajak, Puisi, Prosa, dll.)

 

TERIMA KASIH 🙂

Advertisements

4 comments

  1. Waaah kak xian kembaliii!! Welcome back kakakkk. Jujur kok aku sampe kudu otw buka kbbi dg beberapa diksinya, huhu nggak ngeh :(( sedi akutu sama bahasa ilmiahnya kakak yang top markotop :’)

    Trus itu asthma emang begitu tulisannya? Atau itu juga bahasa ilmiahnya? Let me know ya kaaak huhu. Kusangat miskin ilmu hiks.

    Oh ya oh ya ceritanya menariik, narasi doang tapi engga membosankan. Dan di ending aku malah inget lagu “Ambilkan Bulan” ((abaikan kerandoman aku)). Okelah segitu aja kayanya udaah mau muntah kak xian bacanya, maafin aku rusuh begini kak :”) last, keep writing ya!

    Like

    1. NISWAAAAAAAAA
      Apa kabarmuu?
      Kangennnnnnn

      Huhu bahasa ilmiah dari mana, Nis. Tulisanku makin kaku tau karena udah lama ngga nulis. Aku kangen kamu, kangen tulisanmuuu!!! Izinkan aku untuk kkembali bertualang di Senjamu juga ya hehehe

      Like

Escape your thoughts!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s